
"Nak...!, sebenarnya sudah sebulan lebih ayah dan ibumu ini melakukan pertemuan dengan keluarga Conway, banyak hal yang sudah kami bicarakan terutama tentang rencana pertunangan antara kamu dan Lily kemudian berkembang sampa rencana pernikahan kalian, hal itu juga terjadi karena perbuatan kalian berdua yang telah melewati batas komitmen, nah...!, disela-sela pembicaraan itu masuk lagi satu persoalan yang tidak bisa dipisahkan sehingga mendapat perhatian khusus antara kami dan Jeff serta Anna, ibu rasa kamu juga sudah mengerti tentang masalah itu!" kata Bella memberikan penjelas awal dan bertanya apakah anaknya itu paham dengan maksud perkataan sang ibu.
"Maksud ibu kedua keluarga sudah mempersiapkan rencana pernikahan aku dan Lily?, itu sudah aku dengar dari Lily juga saat dia mengunjungi aku di Bronxvile, tapi apa masalah baru yang menjadi perhatian kalian?, apakah karena hubunganku dengan Lily yang sudah terlanjur dalam?, kalau karena itu, aku sekali lagi minta maaf Bu!, aku janji tidak akan lari dari tanggung jawabku!" kata Ray menegaskan.
"Hmm..., memang benar kamu belum mengerti!, ahh..., artinya akan panjang penjelasan ibu, sebaiknya kita duduk didalam saja sambil minum, ayo...!" kata Bella kemudian mengajak kedua anak muda itu masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
Saat akan beranjak dari bangku yang mereka duduki, Ray menahan tangan Mellisa dan memohon penjelasan tentang masalah baru yang barusan dikatakan ibunya karena sama sekali dia tidak paham tentang masalah tersebut.
Mellisa yang melihat Bella telah berjalan lebih dulu dan hampir sampai di pintu masuk rumah, dengan tanpa bicara langsung menarik lengan Ray dan membawanya melingkar di pinggangnya serta memeluk Ray dengan manja sambil sesenggukan di dada bidang cowok tampan tersebut.
"Ehh..., ada apa denganmu Mell...?, katakan apa yang bisa aku bantu, aku janji pasti akan membantumu semampuku, eennmm...?" kata Ray sambil tak sengaja mengelus rambut panjang Mellisa sampai ke punggungnya sementara tangan satunya lebih mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Mellisa.
Mellisa yang mendapat perlakuan mesra tersebut merasa sangat senang dan semakin menempelkan tubuhnya dan bergelayut manja di dada Ray, sementara itu disisi Ray darah laki-lakinya yang merasa kesepian selama 2 minggu setelah ditinggal Lily yang kembali ke kota ini, seketika gelora hasratnya bangkit karena ada dua buah benda kenyal favoritnya milik Mellisa sedang mengguncang dadanya dan membuat sesuatu dibawah perutnya bangun dan mengeras.
"Mell...!, bicaralah, apa yang bisa aku perbuat untuk membantumu?" katanya yang masih mengelus rambut Mellisa.
"A... a... aku sangat mencintaimu!" kata Mellisa sambil lebih mendekatkan wajahnya kearah wajah Ray untuk menatap reaksi apa yang akan diperlihatkan sosok yang sudah mencuri hatinya sejak mereka bersama dikelas 10.
__ADS_1
Dhhuuaarrr...
Bagai disambar petir di siang hari saat kata-kata itu sampai ditelinga Ray, dan seketika itu juga kesadaran sempurna Ray kembali dari khayalannya beberapa detik lalu. Dia segera memegang kedua bahu Mellisa dan menatap wajahnya dengan perasaan tidak percaya apa yang barusan didengarnya, disisi Mellisa yang tidak ingin melewatkan lagi kesempatan yang sudah lama ingin dia utarakan kepada sosok yang dicintainya itu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Ray.
"Sudah sejak lama aku merasakan akan hal ini, tapi tidak berani mengutarakannya kepadamu, sementara itu kamu selalu saja mengabaikan aku saat kita sedang bersama, baik disekolah, dijalan dan di rumahku saat kita sedang belajar bersama, apakah kamu tidak melihat dan merasakan kedekatanku denganmu Ray?, ini sudah sejak lama!, sejak kita sama-sama duduk di kelas 10!" kata Mellisa menjelaskan isi hatinya yang disimpan sejak lama.
"Ba... ba... bagaimana bisa Mell...?, Ya Tuhan..., ada apa denganku?, aduhh..., tolong aku Mell...!, katakan yang sebenarnya?, apakah ini yang dimaksudkan ibuku?" tanya Ray shock dengan situasi yang sedang dihadapinya ini.
"Iya..., karena masalah cintaku ini dan karena aku juga menginginkanmu menjadi pasangan hidupku!, supaya kamu tahu sejak aku menyukaimu, maka sejak itulah aku menjauhi semua cowok yang ingin mendekatiku, karena bagiku hatiku hanya akan kupersembahkan kepadamu, orang yang sangat kucintai dan ku dambakan selama ini!, dan sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi"
"Jadi..., hal ini sudah kedua belah pihak orang tua kita bicarakan?, aduh Mell...!, hubunganku dengan Lily sudah begitu mendalam dan kami sudah tidak bisa dipisahkan!, OMG..., please help me!"
"Siapa bilang aku tidak memiliki rasa itu Mell...?, aku bukan laki-laki munafik, kamu begitu cantik dan mempesona, saat melihatmu pertama kali waktu sekolah 3 tahun yang lalu kamu bagaikan dewi bagiku, hanya saja aku tahu diri karena tidak bisa menggapai Dewi tersebut yang berada jauh di kayangan sementara aku hanya berada di bumi ini!" kata Ray berargumentasi sambil menarik tubuh Mellisa membawanya kembali kedalam pelukannya yang hangat untuk meredakan tangisannya yang semakin menjadi.
"Apa benar kamu juga menyukaiku waktu itu?, jawab yang jujur dan tatap wajahku!" kata Mellisa yang menatap wajah Ray dengan dalam disela-sela wajah tangisan patah hatinya.
"Iya benar, dan waktu itu memang sangat menyukaimu dan sangat mengidolakan kamu, dan bahkan di bulan-bulan pertama saat bertemu denganmu, wajah cantikmu ini menemani setiap tidur malamku dan sering terbawa dalam mimpi-mimpiku!, chuupphh..., itu buktinya!" kata Ray menjelaskan keadaan yang sebenarnya dulu dia rasakan dan alami saat melihat Mellisa.
__ADS_1
"Benar?, mmm..., aku bahagia mendengarnya!, i love you Ray and wanna be your fiance! , tolong terima aku sebagaimana kamu memiliki kakakku Lily!... Chuupphh..." kata Mellisa frontal tanpa menahannya lagi sambil memberikan ciuman yang dalam dan tanpa diduganya Ray membalas ciumannya itu dengan lebih liar lagi.
"Tapi..., bagaimana bisa aku menduakan satu diantara kalian berdua Mell?, apalagi kalian berdua kakak beradik aku tidak bisa menyakiti perasaan salah seorang diantara kalian berdua, mmm..., baiklah, sementara ini kau sudah mengetahui isi hatiku dan begitu juga sebaliknya, jadi tolong beri aku waktu untuk memikirkannya! oke...?"
"Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, sekarang pergi temui ibumu dan dengarkan apa yang akan dikatakannya!, go inside, faster...!, aku akan menyusulmu!"
"No..., kita masuk bersama, tolong temani aku, karena aku masih belum bisa mencerna semua kejadian ini!"
"Hmm..., baiklah kalau itu keinginanmu, tapi berikan lagi aku ciumanmu yang hangat itu, sudah terlalu lama aku ingin merasakannya, pliisss...!"
Chuupphh...
Ray memberikannya yang terbaik sambil menekan kepala Mellisa agar lebih dalam dia memasuki rongga mulut Ray, sementara itu Mellisa melingkarkan kedua tangannya dileher sosok kekasih hati dambaan hatinya itu. 5 menit kemudian keduanya saling melepas pagutan sambil menarik nafas dalam-dalam karena keduanya hampir kehabisan oksigen yang berada didalam paru-paru mereka, dengan senyum yang merekah Mellisa dibawa masuk kedalam rumah oleh Ray dimana ibunya Bella telah menanti mereka berdua di ruangan keluarga.
"Hmm..., ibu melihat bibir Mellisa sepertinya kehilangan lipstiknya, siapa yang mengobrak-abrik bibirmu yang manis itu sayang...?" tanya Bella sambil tersenyum senang melihat ada cahaya kebahagiaan di wajah Mellisa pertanda misinya untuk meyakinkan sang putra tunggalnya itu tidak akan sesulit yang mereka bayangkan sebelumnya karena melihat pendirian Ray selama ini yang teguh dan tak tergoyahkan oleh segala bentuk keadaan serta sikapnya yang dingin bagai Es abadi terhadap lawan jenisnya sejak dia menginjak remaja.
"Emm..., itu Ray pelakunya ibu...!, katanya sudah sejak lama dia menginginkannya tapi tidak pernah kesampaian karena dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku apalagi melakukannya!" kata Mellisa yang blak-blakan dihadapan calon ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Hehehe..., apa juga yang ibu katakan ha...!, Ray itu type cowok yang suka memendam perasaannya sendiri, tapi pas meledak pasti tidak tertahankan, susah mendapat type manusia seperti anak ibu ini khan?" kata Bella memuji putra tunggalnya itu.
Sementara itu yang dipuji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena mendapat serangan dari 2 orang yang disayanginya, walaupun yang seorang masih membawa selimut kebingungan dan ketidakpastian baginya karena dalam hati kecilnya dia pasti akan disuruh memilih satu diantara kedua kakak beradik itu. Disisi lain hatinya mengatakan bahwa dia harus bertanggung jawab penuh sebagai seorang laki-laki atas hubungannya dengan Lily yang sudah begitu dalam. Disisi lain hatinya dia tidak rela membiarkan Mellisa larut dengan perasaan cintanya yang merasa terabaikan, perasaan kalut tersebut terus terngiang didalam pikirannya saat ini untuk itu dia membutuhkan bantuan dari seseorang yang mengerti tentang dirinya.