
Adlan yang memeluk sang ayah juga langsung mengarahkan pandangannya pada Shelin yang bersuara, lalu Adlan memperlihatkan kepalan tangannya pada Shelin tanda kalau dia siap menghadapi Shelin yang selalu usil padanya itu
Ayah dan ibu Sisil juga beranjak dari kursi mereka dan menghampiri Adlan dan sang ayah yang baru melepas perlukan hangat mereka
"Arman, memangnya putramu ini kabur dari mana?, aku jadi sedikit terharu melihat kalian yang seperti baru bertemu seperti ini" ucap Randi
"Oh, paman Randi" ucap Adlan langsung memeluk sahabat ayahnya itu sejenak
"Kau sudah besar sekarang, bahkan tinggi mu sudah melebihi paman,, apa kau suka keluyuran sekarang, hah??" ymtanya Randi
"Tidak juga paman, mereka memang terlalu berlebihan, aku hanya tidak pulang beberapa bulan saja, itu juga karena aku berkuliah, dan aku memang tinggal di asrama" ucap Adlan sedikit membual supaya suasana jug tidak terlalu kompleks
"Apanya yang beberapa bulan, kau sudah hampir dua tahun tidak pulang" ucap Shelin
"Bisakah kau diam?, ini obrolan orang dewasa, gadis kecil seperti mu tidak akan mengerti apa apa, kau hanya tau menghapus ingusmu saja kan" ucap Adlan
"Sialan kau" ucap Shelin ucap Selin membelalakkan matanya pada Adlan
"Apa benar kamu tidak pulang pulang Adlan?" tanya Sisil yang sekarang berada di samping Randi
"Kamu Tidak perlu dengarkan ucapan Shelin, dia memang pandai membuat orang kesal kan" ucap Adlan
"Oh, kupikir kau benar-benar minggat dari rumah" ucap Shelin
Arman kemudian menghampiri Adlan dan menepuk pundaknya "O ya Adlan, Ada yang ingin Ayah bicarakan dulu empat mata denganmu" ucap Arman
"Oh, Baiklah," ucap Adlan yang menebak ada hal serius yang akan ayahnya sampaikan padanya
Mereka pun segera beranjak meninggalkan ruangan itu dan berpindah ke ruang keluarga berdua saja, sementara yang lainnya kembali duduk di ruang tamu
Setelah Mereka duduk dengan nyaman, Adlan pun menoleh pada Sang ayah "Ada apa ayah mengajak ku bicara empat mata seperti ini, apa ada hal yang sangat serius?" tanya Adlan
"Tidak juga, ayah hanya mau meminta pendapat mu tentang Sisil, bagaimana menurut mu tentang Sisil?" tanya Arman
"Kupikir ada hal apa ayah mengajak ku kesini, hanya ingin bertanya tentang Sisil??," ucap Adlan
"Jawab saja" ucap Arman
"Ya menurut ku dia gadis yang baik, cantik, dan juga sopan, itu yang bisa kulihat darinya" ucap Adlan
__ADS_1
"Kalau begitu apa kau keberatan jika ayah menjodohkan mu dengannya?" tanya Arman
'Deg' Adlan sedikit tidak menyangka kalau pembicaraan nya akan mengarah ke sana
"Kalau soal jodoh, aku bisa mencari pasangan ku sendiri yah, Sisil memang gadis yang baik, tapi aku hanya menganggap nya hanya sebagai teman saja, aku sama sekali tidak menyimpan perasaan padanya" ucap Adlan
"Ayah tidak yakin kau bisa memilih gadis yang baik di luaran sana seperti Sisil" ucap Arman
"Maksud ayah?" tanya Adlan
"Kau menyukai seorang gadis di kampusmu kan?, apa kau yakin dia berasal dari keluarga baik-baik?" tanya Arman
Adlan langsung terdiam mendengar pertanyaan itu,, dia berpikir mungkin Ayahnya sudah mengetahui soal Gea dari Agam, dia juga merasa ragu untuk mengatakan kalau Gea dari kalangan keluarga baik-baik, karena dia tau latar belakang keluarganya adalah kelompok mafia
"Aku memang tidak yakin kalau dia memiliki latar belakang yang baik, tapi apa kau tau, dia memiliki wajah yang mirip dengan ibu,," ucap Adlan
"Hanya mirip kan?, tidak berarti kalau dia bisa membawa kebaikan padamu seperti yang di inginkan ibumu., Adlan,, jika kau memang berniat untuk memperbaiki diri, kau juga harusnya memilih lingkungan atau teman hidup yang bisa kau bawa kedalam kebaikan, bukan dengan seseorang yang malah akan membawamu kembali ke sifatmu yang sebelumnya, Ayah sudah mengetahui semua hal tentang gadis itu dari Agam, dan dia juga tidak punya keyakinan seperti kita, apa kau tau itu artinya?, kau akan mengecewakan ibumu satu kali lagi kalau memilih gadis sepertinya,,, apa itu yang kau inginkan?" tanya Arman dengan nada datar
Itupun membuat Adlan bungkam lagi, dia tidak bisa menyangkal perkataan sang Ayah, karena dia juga tidak terlalu yakin kalau Gea punya keyakinan dan bisa membawa kebaikan padanya seperti yang di katakan ayahnya
"Jadi apa jawaban mu tentang Sisil?, hm?" tanya Arman lagi
"Pertimbangkanlah dengan bijak,,, pesan ayah, jangan sampai kau kecewakan ibumu lagi,, ayah tunggu jawaban mu secepatnya" ucap Arman dengan menepuk nepuk bahu Adlan
Adlan menarik nafasnya dalam dalam, dan kemudian menganggukan kepalanya tanda mengiyakan
"Baiklah, kita kembali keluar untuk menemui mereka" ucap Arman sambil beranjak dari duduknya
"Ya" ucap Adlan, dia juga segera mengikuti sang ayah untuk kembali ke tengah-tengah keluarga lainya yang masih berada di ruang tamu bersama tamu mereka
Adlan langsung duduk di samping Rania sang ibu sambungnya dengan wajah yang rumit
"Nah ini dia putra nakal kita" ucap Rania yang memang sebelumnya sedang membahas kenakalan Adlan saat dia kecil
Adlan pun hanya tersenyum saja menanggapinya
"Adlan, paman benar-benar pangling melihat mu sekarang, tapi kenapa seperti nya Ayahmu kurang memberikanmu uang saku, penampilan mu tidak seperti tuan muda dari keluarga Arfandi" ucap Randi yang melihat Adlan berpenampilan biasa biasa, tidak seperti seorang dari anak pengusaha sukses
"Tidak juga paman, dia sangat memperhatikan ku, hanya saja aku nyaman dengan berpenampilan seadanya" ucap Adlan
__ADS_1
"Ya ya, itu patut di contoh, apa kau tau, Ayahmu juga dulu adalah sosok yang sederhana dan rendah hati, nampak sedikit kere lah, lebih parah darimu," ucap Randi
"Apa ini pujian, atau kau mengoloku" ucap Arman
"Ahaha, terserah kau mengartikan nya apa" ucap Randi tertawa renyah, mereka memang sudah sangat akrab dari dulu, jadi mereka sudah tidak sungkan lagi untuk berbicara,
"O yah, Adlan, apa kau tidak mau mengajak ku ke Area belakang?, aku sedikit rindu dengan halaman belakang rumah ini" ucap Sisil
"Boleh" ucap Adlan
"Yah, aku pergi dengan Adlan dulu ya" ucap Sisil pada Randi
"Ya sudah sana, kalian memang tidak berubah, kalau ketemu pasti ingin main" ucap Randi
"Ya tapi mungkin kalau sudah dewasa, kebersamaan mereka akan sedikit berbeda" ucap Rania
"Ya ya ya, saya juga berpendapat seperti itu" sahut Arni Ibunda dari Sisil
"Kalian bicara apa sih?, aku sama sekali tidak mengerti" ucap Sisil tersenyum dengan wajah di polos polos kan
"Sudah sana pergi, kau tidak sepolos itu kan" ucap Randi
"Iya Iya aku pergi" ucap Sisil tersenyum, dan kemudian beranjak dari tempat duduknya
Adlan juga segera beranjak dan langsung berjalan berdampingan dengan Sisil untuk pergi ke halaman belakang Mansion mewah itu
Adlan dan Sisil berjalan berdampingan dan menceritakan setiap sudut rumah yang dulu selalu mereka jadikan tempat untuk bermain
Hingga akhirnya mereka pun sampai di halaman belakang rumah yang terdapat kolam renang dan taman indah di sana.
Mereka langsung duduk di sofa gazeboo yang ada di pinggir kolam untuk menikmati kilauan riak air yang terkena pantulan sinar matahari senja di permukaan kolam,
Di tambah pemandangan hijau dari taman yang bernuansa tropis di sisi lain kolam
"Adlan, menurutku ini spot yang paling estetik di rumah ini, Bagaimana menurutmu?" tanya Sisil
"Jika menurut mu begitu, ya mungkin memang begitu" ucap Adlan
"Adlan, sepertinya kau banyak melamun sekarang, apa Ayahmu tadi memarahimu?" tanya Sisil yang melihat Adlan sedikit tidak fokus saat mengobrol dengan dirinya
__ADS_1