
Adlan langsung pergi dan mendatangi sebuah tempat atas bantuan dari Omnya yang sering di pangil 'S' oleh Ayahnya,, atau hanya di pangil inisial nya saja
Adlan mendatangi sebuah cofee shop yang lumayan cukup bagus untuk sebuah cofee shop, dengan konsep bangunan perpaduan minimalis dan klasik
"Tuan, apa kau mengajakku kesini untuk ngopi santai, tau saja kalau aku lagi ingin ngopi" ucap Anju
Adlan sebenarnya sedikit tidak yakin kalau Gea ada di dalam, tapi mana mungkin Omnya itu salah memberikan informasi, dia tau akurasi informasinya sangat bisa di andalkan
"Ya sudah, masuk saja" ucap Adlan
Mereka pun segera masuk kedalam dan melihat lihat ruangan yang elegan dan cukup enak di pandang,, ada beberapa meja bundar dari kayu jati belanda yang di ekspos, dan dekorasi ruangan juga memang di dominasi kayu yang sama, dan menurut Adlan tempat itu sangat nyaman
Dia melihat kalau ada beberapa pengunjung yang sedang duduk di kursi tinggi depan meja barista, di meja meja bundar juga terlihat ada beberapa pasangan yang sedang menikmati kopi mereka
Adlan berjalan dengan terus memperhatikan satu persatu pengunjung yang ada di sana dengan teliti, tapi dia tidak melihat yang dia cari,
Sampailah Adlan di depan meja barista,, dia langsung duduk di kursi dengan tatapan tetap memperhatikan orang di sekitarnya
"Selamat sore kak,, Anda mau cofee apa??" tiba tiba seorang barist bertanya dari balik mejanya
"Kopi yang paling spesial saja 2, dan cemilnya jug......" saat menoleh pada sang barista, sontak dia menghentikan ucapannya, karena ternyata barista itu adalah sosok gadis berkacamata bundar yang dia cari
Adlan sedikit pangling dengan penampilan Gea sekarang,, karena dia tidak mengikat rambutnya, melainkan memakai sebuah topi barista hitam dengan Polet putih, dan rambut panjang nya juga di gulung cukup rapi
Sampai beberapa saat Adlan menatap Gea
Sementara Gea menatap Adlan dengan tatapan apes 'Kenapa dia sampai ke sini sih' gumam hatinya
"Ge, kau kerja di sini, ini kebetulan sekali" ucap Adlan pura pura
Sebagai barista yang baik Gea tetap melemparkan senyum pada siapa pun pelanggan nya, tak terkecuali pada Adlan,, hanya saja tatapanya berkata lain,, dia tidak mau melihat Adlan ada di tempat kerja nya sekarang
"Kamu mau apa kemari?" tanya Gea dengan suara pelan
"Ya untuk ngopi lah kau pikir untuk apa" ucap Adlan tersenyum, diapun melihat ke bagian belakang Gea, ada sebuah tulisan yang mungkin selogan cofee shop itu 'Seyum sapa pada pelanggan itu wajib'
Akhirnya Adlan mengerti kenapa Gea bersikap manis padanya sekarang, karena itu mungkin adalah aturan kerja di sana,
__ADS_1
Tapi ketika melihat tulisan itu mendadak Adlan jadi punya rencana jahat pada Gea
Dengan cepat Adlan langsung menyambar kacamata bulat dengan frame tebal yang di kenakan Gea 'Seet' seketika kacamata Gea pun kini sudah berada di tangan Adlan
"Hey, apa yang anda lakukan?, kembalikan kacamata saya, Anda tidak sopan" ucap Gea yang langsung naik pitam
"Senyum sapa pada pelanggan itu wajib,," ucap Adlan acuh tak acuh, dia bahkan langsung memakai kacamata Gea untuk memastikan jenis dari kacamata itu
"Kamu sudah tidak sopan, apa harus saya memberikan senyum pada Anda, cepat kembalikan" ucap Gea mencoba meraih kacamatanya yang sekarang di pakai Adlan
Tapi Adlan tentu saja langsung mengelak, karena dia ingin menikmati wajah Gea tanpa kacamata itu lebih lama lagi
Sontak perdebatan mereka itu jadi sorotan pengunjung dan barista lain,, dan setelah Gea menyadari itu, dia menyerah untuk mengambil kacamatanya,
Gea langsung melempar senyum lagi pada pengunjung lain, karena merasa tidak enak, dan menjaga imagenya lagi
Tapi para pengunjung itu malah terpana melihat kecantikan Gea saat dia melepas kacamata frame tebalnya itu, dan Gea benar-benar risih dengan tatapan dari mereka itu, dia segera keluar dari meja baristanya, dan menghampiri Adlan kemudian menarik tangannya untuk keluar dari ruangan
Adlan juga tidak menolak dan dengan senang hati mengikuti tarikan Gea
Setelah mereka di area luar cofee shop "Apa masalahmu,, kenapa kau membuatku malu,, Aku mohon, pergilah dari sini, jangan mengganggu pekerjaan ku, " ucap Gea
"Jika kau kesal padaku soal itu, dan ingin membalasku, jangan di sini oke, kau boleh membalas ku di kampus, tapi jangan di tempat kerjaku" ucap Gea
"Tidak, aku tidak pernah kesal padamu, aku hanya sedikit tidak menyangka saja kalau kerja di sini" ucap Adlan langsung melepas kacamatanya dan mencoba memakaikannya lagi pada Gea
Tentu saja Gea langsung menyambut nya dengan tanganya juga, dan diapun memakai kacamata nya lagi
"Kacamata mu hanya kacamata biasa saja,, bukan kacamata minus,, tapi kenapa kau tidak pernah melepaskan nya?,, Kalau boleh jujur, kau lebih cantik saat tidak memakai nya" ucap Adlan
"Aku hanya nyaman saja dengan kacamata ini" ucap Gea dengan menekuk wajahnya
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu pekerjaan mu lagi,, tapi lain kali, birakan aku menikmati kopi racikan mu, ya" ucap Adlan tersenyum,
"Pergilah" ucap Gea, dia pun segera masuk kedalam kofee shopnya lagi
Adlan hanya tersenyum melihat Gea yang sudah masuk dan kembali ke meja baristanya lagi, Adlan masih bisa melihatnya karena pintu dan jendelanya di dominasi kaca yang setengah buram
__ADS_1
Adlan melangkah pergi dari tempat Gea untuk mencari tempat untuk dia melaksanakan kewajiban Maghrib nya di sekitar sana, karena dia sudah mendengar panggilanya,
.
ā¦
Dan Adlan kembali lagi ke cofee shof tempat Gea setelah sekalian dia menyelesaikan kewajiban isya nya, tapi dia tidak masuk ke dalam, dia hanya duduk di kursi yang ada di bagian luar cofee shop dengan terus memperhatikan aktivitas Gea di dalam,
Tiba-tiba beberapa motor besar berdatangan dan menepi di depan cofee shop Gea, mereka langsung turun dari motor motor mereka, dan 3 orang dari mereka langsung melangkah ke arah pintu masuk cofee shop, sementara 5 orang lainya hanya menunggu di motor motor mereka
Sekilas Adlan tidak melihat keanehan pada mereka yang berpakaian serba hitam hitam, Adlan Hany berpikir mereka hanya sebuah club motor biasa saja
Tapi Adlan sedikit memperhatikan tangan tangan mereka yang mempunyai tato berbentuk kepala kobra segi enam yang serupa
Adlan terus memperhatikan tiga orang yang memasuki cofee shop, mereka seperti pelanggan lain yang langsung datang ke meja barista,
Tapi saat Adlan memperhatikan Gea, dia seperti berekspresi kaget saat melihat pria pria itu, Adlan tau kalau itu tidak normal
ā¦
Sementara itu di dalam cofee shop
Gea terus menatap pria pria yang baru datang itu yang kini ada di depan mejanya, mereka adalah anggota dari kelompok mafia yang membantai ayahnya lima tahun silam,,
Gea berusaha untuk tetap tenang dan tanganya bersiaga dengan meraih benda seperti sebuah bolpen di kantong kecil yang selalu dia bawanya kemana pun, Di dalamnya berisi jarum jarum bius, dan jarum jarum beracun yang sengaja dia buat untuk mempertahankan diri di saat terdesak
Tapi dia berharap mereka hanya kebetulan mampir saja, dan berharap mereka tidak mengenalinya karena kacamata nya,
"Selamat malam tuan, kalian mau pesan kopi apa,?" tanya seorang rekan barista Gea
Tiba-tiba salah satu dari pria itu mengeluarkan senjata api dari balik badannya, dan
'Duaaaar' "Aaaww" lirih barista yang langsung menjatuhkan diri ke lantai karena di tembak oleh pria itu di bagian bahu nya
Sontak beberapa pengunjung cofee shop itu pun kaget dan langsung berlarian keluar dengan berteriak,, karena mereka takut jadi sasaran penembak itu
Sementara Gea langsung melihat keadaan temannya yang terluka itu, Dia sangat kaget sampai sampai tidak ingat untuk menggunakan jarum beracunnya,, dia kira dialah yang akan di tembak
__ADS_1
"Gea Rahas Pati,, sulit sekali mencari keberadaan mu di kota ini,,,, sekarang ikut lah bersama kami secara baik baik,, agar kau tidak perlu terluka seperti temanmu" ucap Salah seorang dari mereka dengan tatapan tajam pada Gea
"Kenapa kalian masih saja mencari ku, apa pemimpin kalian masih belum puas setelah membunuh Ayahku??" tanya Gea