
Kuangkat sendok mendekati mulut, “Aaaa...mmm!” rasa bubur ayam yang lembut.
“Ye! Habis! Nona hebat!” bibi pembantu itu bertepuk tangan menyoraki.
Aku sangat tersanjung—tapi apa bibi harus seperti itu setiap kali aku selesai makan? Bibi, bibi tahu kan kalau aku memang senang makan sendiri. Itu bukan hal baru lagi meski memang hasilnya masih celemotan dimana-mana.
Gelas kecil mengendalikan tanganku untuk meraihnya. Perlahan kubawa genangan air yang sedikit itu mendekati ujung bibirku. Ya. Aku juga bisa minum langsung dari gelas dengan usaha sendiri.
Terkadang aku berpikir, apa ini sudah terbilang jenius untuk bayi berumur sebelas bulan? Saat aku masih si Sekar, tetanggaku punya bayi berumur sebelas bulan juga. Dia masih belum bisa memakai sendok sendiri.
Ya kau tidak bisa memungkiri kalau ini ada kaitannya dengan papa yang luar biasa cerdas. Dialah yang mengajarkanku untuk makan sendiri sejak dua bulan yang lalu. Aku memang tidak langsung bisa, tapi sekarang aku jadi terbiasa.
“Sini, bibi bawakan gelasnya.” bibi itu mengambil gelas kosong yang sudah kujauhkan dari mulutku.
Sebuah tangan dengan sapu tangan hijau gelap menyeka mulutku yang selalu saja belepotan. Tangan panjang itu langsung kukenali. Rizki terlihat sangat lembut tidak membiarkan satu noda pun terlewat di wajahku.
Mata sendunya memperhatikan wajahku yang sudah bersih. Tempat duduknya yang berada di sisi lain meja makan di samping sisiku membuatnya harus menelengkan kepalanya agar nyaman menatapku. Tidak ada senyuman disana, tapi kehangatannya terasa sangat nyata.
Tuhan benar-benar menjaga keseimbanganmu ya~ Wajah tampan dan kepintaran yang ‘wow’, ditumpuk dengan pribadi dingin ditambah kosakata yang sedikit dan menusuk. Aku bingung, bagaimana dia bisa jadi papaku?
TRIIIINGG!!
Telepon rumah yang sering sekali terdengar bersuara di ujung dinding ruang makan. Berinisiatif, salah satu bibi mengangkatnya. Sambutan ramah tapi sopan dilantunkan bibi itu.
“Tuan, ini dari pak Dito. Katanya mau konsultasi.” Bibi pembantu itu memanggil Rizki sambil membawa telepon rumah yang terangkat.
Rizki menerimanya. Disapanya orang di seberang telepon. Tubuhnya menegak dari tempat duduknya. Langkahnya pergi seakan ingin pergi. Loh papa! Jangan tinggal aku di kursi bayi ini! Tidak enak!
“Pappa!” seruku mengangkat tanganku ke arahnya memberikan kode ingin diangkat.
Ia masih memfokuskan dirinya di telepon dengan tatapannya kembali ke arahku. Dijauhkannya gagang telepon itu dan mendekat. Tangannya yang cekatan mengangkatku hanya dengan tangan kanannya yang bebas. Langkah besarnya membawa kami ke ruang tamu dengan sofa yang nyaman.
Aku didudukan di sekeliling mainan yang masih berantakan. Rizki tampak menyantaikan diri di sofa abu-abu gelap itu.
Mainan-mainan ini sudah membosankan. Tidak ada lagi kegiatan baru yang terpikirkan dengan barang-barang ini. Hah… aku butuh teman main! Bosan nih! Dengan tubuh begini aku sama saja seperti mainan robot jelek ini. Kehabisan baterai!
__ADS_1
Ah, aku mau latihan saja. Semakin banyak bergerak, tubuhku akan semakin ringan dan lincah. Mungkin saja aku bisa lebih cepat berjalan.
Rangkakanku cepat menghampiri Rizki. Pembicaraan Rizki masih saja berlanjut menggema di ruangan. Menjadikannya penuntunku saat aku tidak bisa menaikkan pandangan. Gerak yang sudah bisa mengebut seperti pembalap profesional mendekati ujung kakinya.
Berusaha untuk mengerti cara kerja jalan seorang kepiting. Aku memilih untuk berjalan mengikuti panjang sofa.
Paham apa yang kulakukan Rizki menyiagakan posisinya. Mengulurkan tangannya di belakang tubuhku, siap untuk menangkapku kalau aku terjatuh. Duh. Baiknya dia. Ia sempat-sempatnya mengawasiku di tengah pembicaraan serius dengan entah siapa itu.
Senangnya bisa fokus berlatih tanpa takut.
“Rasyi~”
Aku terdiam, membeku seperti patung. Kurasa aku sudah cocok menjadi model nyata untuk kelas melukis. Terlihat Ira bersembunyi di balik tangan sofa di sampingku. Itu bukan sembunyi!
“Ciluk~” katanya.
Sangat kagum rasanya dengan tante yang satu ini. Dia bisa bersikap seperti anak-anak yang belum terasah. Padahal di usianya yang hanya lebih tua dua tahun dari si Sekar, 27 tahun. Seharusnya dia fokus mencari pasangan.
Aku mendekati ujung sofa itu dibantu oleh Rizki yang masih sibuk. Kuputari sofa dengan langkah kaki kecil yang masih harus berpegangan erat dengan tangan Rizki.
Tiba-tiba Ira memelukku gemas. Sepertinya pesonaku berhasil memancing parameter rasa gemasnya naik ke batas tertinggi. Ya... parameternya selalu setinggi itu sih. Untunglah kami tidak bertemu setiap hari. Kalau tidak, kurasa aku sudah sakit skoliosis dini.
Ira melepaskan pelukannya dan mengambilkan mainan di dekatnya. Kurasa hari ini pun proyeknya sukses. Dia selalu kemari kalau pekerjaannya selesai. Aku tidak keberatan sih~ Lagipula aku butuh teman bermain.
Sudah dua bulan ini aku jadi jarang bertemu Ira ‘dan kawan-kawan’. Aku sudah akrab dengan papa. Papa juga merasa tidak perlu lagi ada mereka di rumah. Padahal selama aku hanya dengan papa, rumah ini sebelas dua belas dengan rumah hantu.
Mau bagaimana lagi? Aku memang tanggung jawab Rizki. Sari dan Hendra sudah punya Fares yang harus mereka tanggung. Ditambah lagi Fares sudah mulai bersekolah di taman kanak-kanak sejak tiga bulan yang lalu. Ira juga tidak ada kewajiban untuk merawatku.
“Ada urusan apa kamu ke sini?” Rizki terlihat selesai dengan teleponnya.
“Aku kan mau menghilangkan stress. Rasyi manis banget sih. Iki juga salah~ Buat anak kok manis sekali~” ocehan Ira sambil meraih tanganku dan menggelantungkannya pelan.
Memangnya aku alat pijat modern yang bisa untuk relaksasi? Hei, aku ini bayi! Bukan benda!
Rizki hanya diam dengan ekspresi seperti sedang menghadap orang aneh. Aku tidak bisa menyalahkannya kali ini. Sikap mendramatisir-nya sesekali juga memberiku rasa geli sendiri. Ya, tidak bisa kusanggah kalau aku juga bisa mendramatisir, tapi Ira ada di level lain.
__ADS_1
Wajah asam Ira menunjukkan jelas sangat tidak puasnya dia. Ia pasti kesal sampai ke urat mendengar penjelasan panjangnya hanya dijawab seperti itu. Maaf Ira, aku juga tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Ira kembali tersenyum seakan tidak menyerah, “ngomong-ngomong, Rasyi sebentar lagi ulang tahun~ Iya, kan?”
Hm? Oh iya. Aku kan sudah sebelas bulan. Kurang dari empat minggu lagi aku sudah resmi satu tahun. Waktu bayi berlalu sangat cepat ya~ Mungkin karena aku kebanyakan tidur?
“Rencana pesta ulang tahunnya bagaimana?” tanya Ira.
“Tidak perlu.” jawab Rizki.
Entah bagaimana, tapi aku sudah sangat menduga dia akan menjawab begitu. Keseharianku membiasakan diri dengannya berjalan terlalu lancar.
“Hah? Kenapa? Dirayakan dong~ Ulang tahun pertama itu spesial~”
“Rasyi kan bukan kamu.”
Terasa samar-samar terdengar suara desisan layaknya ular dari mulut Ira. Aku tahu. Pria itu menjengkelkan.
Menyerah saja tante Ira tercinta, dia tidak mungkin mau merepotkan diri sendiri dengan acara di rumahnya. Mempunyai banyak uang tidak menutupi kemalasan.
Aku juga tidak peduli dengan acaranya. Kecuali kue ulang tahunnya, aku mau.
Kutekuk leherku penasaran dengan wajah papa dingin itu. Rizki menatapku tersadar. Sesaat mata kami terpaku menatap satu sama lain. Terasa seperti ia membaca baris-baris kalimat di wajahku.
Mungkinkah dia membelikan aku kue coklat yang besar dengan hanya menusukkan arah pandangku padanya begini?
Dia menghela nafasnya, “baiklah. Kita rayakan.”
Heh?
“Ye!” seru Ira.
“Kamu saja yang urus. Jangan mahal-mahal.” Kata papa.
“Serahkan saja padaku~” Ira terdengar sangat semangat.
__ADS_1
... apa yang baru saja terjadi?