
“Kita coba bahas satu soal lagi. Nomor 4 itu, misalnya kalau vektor V 370 N dan 37 derajat positif dari y. Berarti…,”
Kelas ini sangat sepi. Hanya ada geseran dari spidol hitam ke permukaan putih di depannya. Suara tulisan tanganku di atas buku pun hampir tidak terdengar.
Memang sekolah unggulan. Orang-orang ini kemari karena belajar. Tidak seperti yang diceritakan kumpulan anak nakal di rumah. Jelas sekali kalau penghuni yang cuma bisa ribut itu bukan murid yang baik.
Ah? Bel sudah bunyi keempat kalinya. Istirahat seharusnya di depan mata.
“Sebelumnya, buka halaman 53. Itu ada tugas kelompok. Kalian buat kelompok empat orang dan buat makalahnya. Minggu depan dikumpul,” beliau merapikan bukunya, “Itu saja.”
Hm? Murid kelas ini seketika kerumuni guru itu dan meminta tangannya. Dibenturkan tangan itu di wajah mereka. Kebiasaan di sini sopan sekali.
“Gading kan?”
Perempuan tak aku kenal sudah berdiri di depan mejaku. Orang ini. Aku melihatnya dari tadi. Bolak-balik dan bicara dengan semua murid kelas. Sepertinya dia orang penting di kelas. Ketua kelas mungkin.
“Aku Annisa Putri. Aku wakil ketua kelas,” perempuan berpenampilan tidak unggul ini terlihat bangga, “Ketua kelas lagi sakit jadi kalau ada apa-apa langsung minta saja ke aku.”
Menyulitkan diri saja. Dia tidak perlu bilang hal yang pasti. Kalau ada apa-apa yang urgen, tentu saja aku akan minta seseorang.
“Hmm.” wajahku berpaling.
Beberapa saat diam. Perempuan itu pergi, tidak, masih di sini. Tambah lagi, dia duduk di kursi depanku yang kosong. Dengan wajahnya ke arahku.
Ia masih ada urusan lain?
“Kita sekelompok yuk. Aku tidak suka Fisika. Bakal lebih gampang kalau bareng yang bisa.”
Sekarang dia tiba-tiba keluarkan ajakan tidak jelas, “Kamu mau ambil nilai dari kerjanya temanmu?”
“Hah?! Ya bukan dong! Aku juga pasti ikut kerja,” dia memainkan jarinya dan tersenyum, “Aku bisa bantu ketik makalah….”
“Oh,” dia cuma mau bantu kalau semuanya sudah selesai.
Mukanya seperti sedang marah. Dasar perempuan aneh.
Perempuan ini tersenyum lagi, “Oke! Aku sama Gading. Terus duanya lagi aku ajak siapa ya?”
Aku tak menjawab. Sedang putar-putar, tentukan antara dia bodoh atau keras kepala.
Orang seperti ini harus aku hindari. Kalau dia tahu ada yang tidak beres, satu saja. Dia tidak mungkin lepas dari hal itu. Pribadi yang menyusahkan.
“Oh iya. Gading tidak ke kantin? Sekalian aku kenalin ketua OSIS sama pacarnya, Hihihi,” dia berdiri sambil tertawa sendiri.
Hal acak lain yang buat repot. Ketua OSIS atau siapapun itu tidak ada hubungannya denganku.
“Yuk! Nanti jam istirahat habis loh.”
“Tidak bilang mau ikut, tuh,” dia harus aku usir sebelum aku kesal sendiri.
“Aku tidak minta, aku paksa.”
Hah? Yang benar saja, “Kamu tidak pikir untuk angkat aku kan?”
__ADS_1
Dia tersenyum. Waktu yang sama, dia seperti diam-diam sedang marah. Tidak salah lagi, di dalam kepalanya dia malah menghina aku.
“Bisa tidak Gading menghargai niat baik dariku sedikit saja?”
“Itu sulit,” kutahan daguku dengan tanganku di meja.
“Wajah tampan itu harus diimbangi sama sifat ramah. Nanti banyak yang tidak suka loh~”
“Lebih gampang untukmu kan?”
Dia memiringkan kepala, “Maksudnya?”
“Kenapa?” kuputar muka depanku meski masih aku tahan dengan tanganku, “Aku tidak salah kan?”
Bisu dan memikirkan apa yang aku maksud. Tiba-tiba pipi itu memerah, “Tidak! Aku tidak….” ditahan mulut itu tidak dilanjutkan.
Mustahil aku tidak sadar. Kentaranya kelewatan kalau dia punya rasa padaku. Lagi, dia hanya tertarik dengan mukaku.
“Haa aaah!! Pokoknya Gading harus temani aku pergi makan! Aku lapar nih!” dia mencengkram tanganku.
Ah! “Aku bilang⏤”
“Tidak dengar~”
Perempuan ini kenapa sih?!
Walau pendek, tenaganya besar sekali. Dia tidak berhentinya menarikku keluar kelas. Keramaian yang tidak biasa di mana-mana. Perempuan ini suruh untuk lewati saja. Ribut di sekeliling diganti oleh mulutnya yang tidak bisa berhenti.
“Oh, Nisa~” perempuan lain tak dikenal berkumpul dengan temannya di salah satu meja kantin.
Seharusnya dia melepaskan tanganku. Aku malah diseret ikut ke perkumpulan mereka. Jelas sekali aku tolak keras dia. Ini benar merepotkan.
“Kamu anak baru itu?” laki-laki lain sudah duduk di sampingnya, “Sudah mulai biasa di kelas?”
Perempuan yang menarikku mengeluarkan muka kesalnya, “Tidak, dia suka sendirian. Kalau tidak aku paksa ke sini, dia tidak akan mau keluar.”
Langsung aku tarik lagi tanganku, “Aku sudah keluar kan? Sekarang aku balik.”
Satu pasang tangan tekan pundakku kuat. Hah! Keseimbanganku rusak. Ia mendudukkanku di kursi kosong.
“Masa mau langsung balik lagi? Santai dulu dong!” perempuan itu duduk disampingku sambil terus menekan satu pundakku, “Disini ada kak Hendra, kak Sari terus…,” dia mengenalkan satu persatu kelima orang yang tidak mau aku ingat.
“Salam kenal, Gading.”
Hah, sungguh merepotkan, “Hmm.”
“Kak Hendra, gimana Ira? Sudah sembuh?” siku dari perempuan ini ditenggerkan di bahuku.
“Sudah, tapi aku suruh dia istirahat dulu hari ini.”
Hm? Laki-laki ini namanya Hendra kan? Mukanya…. Rasanya aku pernah lihat sebelum ini. Tidak mungkin aku ketemu orang ini sementara aku tidak pernah keluar rumah seumur hidupku.
Dia, benar juga. Pasti ada hubungan sama orang itu. Walau sekilas saja, aku ingat betul muka itu.
__ADS_1
Hari, dia sengaja masukkan aku ke sekolah ini dengan laki-laki ini. Berarti ini permainannya..
Akan tetapi kemungkinan bertemu dengan si Hendra ini termasuk kecil. Kami tidak saling kenal dan dia ada di kelas atas. Tidak, perempuan yang suka paksa ini bukan orangnya Hari.
Permainan apa yang dia siapkan?
“Kak Sari, ajakin aku ke bakery shop dong~ Sekalian perayaan pacarannya kak Sari sama kak Hendra.” perempuan itu kembali berbicara.
Laki-laki yang aku yakini bernama Hendra itu dahinya merengut, “Kami tidak ada rencana rayakan.”
“Jangan gitu ah,” sahut pacarnya itu, “Nisa kan tidak bisa beli cake sendiri, kita belikan saja sekali-sekali.”
“Uang sangumu dipotong lagi ya?”
“Iya, panti lagi krisis moneter. Uangnya juga tidak bisa aku tabung sama sekali.“
Pembahasan yang tidak ada guna. Kenapa aku masih ada di sini? Aku pergi sa⏤
“No!” perempuan ini mencengkram lagi tanganku, “Jangan kemana-mana! Habis ini kita ke perpustakaan. Kamu masih harus urus kartu anggota.”
Dia perempuan yang menjengkelkan. Lebih baik hal yang penting seperti itu lakukan lebih dulu, “Kalau begitu seharusnya tidak ke sini.”
“Namanya juga istirahat!”
Si Sari itu malah tertawa, “Kalian sudah akrab ya~”
“Tidak! Dia malah lebih parah dari kucing di rumah kak Sari!”
“Kenapa malah bahas itu?”
Mereka tiba-tiba tertawa tidak jelas. Keluar candaan internal yang tidak aku pahami.
Rumpi diikuti makanan dan minuman. Sesekali aku disuruh ikut ke dalam lingkaran mereka. Permainan Hari satu ini berikan rasa yang aneh.
Bukan ini bukan aneh yang buruk. Anehnya rasanya menggelitik. Ini seperti waktu itu… saat aku masih bisa makan bersama kedua kakak kandungku. Candaan dan tawa yang aku lupakan. Rasanya terpanggil kembali.
Hangat, menyenangkan, menenangkan.
Tidak terduga. Tidak pernah berguna.
.
.
.
“Sialan!!”
Tidak ada artinya.
“Ternyata kamu. Pasti kamu!” Hendra masih saja menarik kerahku, “Ayahmu kan, Gading?! Ayahmu yang membunuh ibuku!!”
Ah. Iya juga. Sudah sejak awal temu dengannya aku sadar kalau dia anak polisi wanita itu. Empat tahun, berlalu sangat cepat.
__ADS_1
Ini bukan permainan Hari.