Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#66 Tiket Masuk


__ADS_3

“Sering-sering cek HP-nya. Jangan lupa kasih kabar,” Fares sangat menekankan setiap kata yang ia keluarkan. Ia menunjukkan jari telunjuknya padaku, “Termasuk kalau mau keluar.”


Ah iya, kakakku tercinta, aku mengerti~ Kakak tidak lelah mengatakannya puluhan kali? “Rasyi paham. Rasyi bukan anak kecil yang baru paham kalau dibilangin berulang kali, kak.”


Jeda ia menghela nafas, tapi aku rasa dia sudah bisa percaya denganku. Tentu saja. Diri ini adalah adik manis yang akan mendengarkan kata kakaknya.


“Bi, tolong awasi Rasyi. Hubungi saja pak Hendra kalau ada kenapa-napa,” Fares membawa helm dan segala bawaannya.


“Siap toh, le Fares. Tak pantengi nduk Rasyi sampe mumet!” iya bi. Pantengi saja aku sampai pusing sepuas anda.


Tiba-tiba sebuah tangan melakukan ritualnya. Mengelus kepalaku, “Paman Rizki pasti tidak papa. Untuk sekarang Rasyi tenangkan diri dulu, ya?”


Duh, aku jadi malu. Pria ini sudah tahu aku masih saja gelisah.


Aku tersenyum berusaha memberikan salam sampai jumpa yang menenangkan, “Iya!”


Wajahnya tampak puas. Pergi ia menghampiri kendaraannya yang sudah sempat ia bawa sebelum menginap kemari.


Fares memang sudah ada di masa tenang menjadi senior di SMA-nya. Karena sudah mendapatkan undangan atau rekomendasi ke suatu perguruan tinggi ternama tidak jauh dari rumahnya, Fares bisa bernafas lega sampai waktunya ujian sekolah.


Namun walau begitu, sepertinya mantan ketua OSIS ini banyak yang membutuhkannya di sekolah. Susah ya menjadi orang yang paling dipercayai banyak orang untuk teman dan guru-guru.


“Hati-hati kak~” kuberikan ia salam manis terakhir sambil mendengar suara mesin itu mereda, “Ha aah…,” aku seperti tidak bernafas.


Benar-benar deh! Aku tidak bisa bergerak bebas setelah Fares memergoki aku di kamar Rizki. Takut sekali aku kalau dia malah ikutan kepo dan terkait dengan masalah ini.


Namun aku sungguh bersyukur. Sepertinya Fares tidak mempermasalahkan hal itu. Setidaknya dia tidak mengecek apa yang aku lakukan kemarin malam. Buktinya saat aku mengecek sebentar kembali kamar papa, tidak ada benda yang berpindah atau hilang.


“Kenapa, nduk?” bibi tampak kebingungan, “Lapar ta?”


“Tidak, aku mau…,” kamar papa! Nanti terlanjur dirapikan bibi! “Aku bantu rapi-rapi rumah deh. Aku mulai dari kamar papa.”


“Aduh~ Makasih ya, nduk~” bibi itu tampak terharu.


Syukurlah bibi tidak curiga. Beliau sepertinya terbiasa dengan cara Rizki yang tidak peduli walaupun itu kesalahan. asalkan tidak menyentuh apapun yang pribadi. Tidak akan ada masalah selama mereka tidak menemukan yang janggal yang berniat untuk mendalaminya.


Loh kok?


Kalau aku pikir-pikir…. Orang memang secara alami akan bertanya saat mereka menemukan sesuatu yang janggal. Itulah yang selalu aku lakukan.


Bagaimana bisa kak Fares bertingkah layaknya tidak ada apapun yang terjadi? Dia kan sempat mendengar suara Rizki sedikit saat dia masuk. Fares tidak bodoh. Apa dia tidak sepeduli itu?

__ADS_1


Saat diingat-ingat, aku pun tidak tahu Fares sudah diberitahu tentang masalah Hari atau tidak. Meski tahu pun, seharusnya minimal dia kaget mendengar rekaman Rizki. Hendra kan tidak tahu tentang rekaman itu dan Rizki tidak berniat untuk memberitahu.


Aneh…⏤


“Nduk, jangan melamun toh~ Kesurupan nanti.”


“I, iya. Maaf,” aku langsung tersenyum canggung, “Aku rapi-rapi kamar papa sekarang.”


Kembali aku memasuki rumah.


Jangan pikirkan itu dulu. Fares tidak memberikan reaksi akan hal ini, tidak akan ada yang jadi masalah. Apalagi begitulah sikap Fares. Dia tidak pernah ikut campur bila aku memang tidak mengatakan apapun akan hal itu. Itu juga yang membuatku nyaman dengannya.


Nomor satu yang perlu diselesaikan saat ini adalah ponsel Rizki. Elektronik yang ada di kamarnya itu harus segera aku amankan.


Pintu tertutup, dengan kuncinya terpasang kali ini.


Earphone yang aku bawa sengaja untuk menghentikan suara itu keluar sembarangan. Rekaman papa belum selesai kemarin. Harus dipastikan semua sudut rekaman papa sampai selesai.


Kutekan tombol panah play yang langsung tergantung dengan garis dua pause. Suara tajam masuk ke telingaku.


[“Hapus ini dan serahkan ponselnya ke paman Hendra. Biar dia yang urus sisanya.”]


[“Papa tegaskan lagi, Rasyi, kalau Rasyi macam-macam, imbalannya tidak sedikit. Papa tahu kamu paham. Iya kan?”]


Ah, kembali lagi rasa kekesalan ini. Meski aku tahu kalau imbalannya besar, tapi tidak mungkin aku tetap diam menerima papaku hilang.


[“Maunya papa seperti itu.”]


Hmm?


[“Rasyi selalu bikin susah orang. Tidak mungkin mau dengar….”]


Maksudnya apa itu, heh?!


[“Dengar Rasyi, ini tidak seaman saat kamu ditahan dulu. Waktu itu dia hanya mau lihat sekuat apa reaksi Rasyi kalau orang yang dekat dengan Rasyi diapa-apakan. Rasyi tidak…, ada hubungannya sama ini. Kamu bisa….”]


Sama seperti yang aku pikirkan. Kakek itu hanya bermain dan sebentar lagi aku tidak dibutuhkan lagi⏤atau bahkan sekarang lah batas waktu toleransinya.


[“Rasyi, papa sudah tidak tahu harus seperti apa.”]


Dia sungguh tidak punya rencana?

__ADS_1


[“Kalau Rasyi mau bergabung, papa tidak bisa melindung Rasyi. Tolong…, pikirkan lagi.”]


Perkataan Hendra benar. Kalau aku terikut lebih ke batas yang… sampai bisa pergi, Rizki bisa kehilangan kewarasannya. Dan Rizki sedang mempertahankannya saat ini.


[“Kalau Rasyi mau tetap keras kepala, baiklah, lakukan.”]


Aku tersenyum sedih. Dengan senang hati, papa.


[“Mereka bisa bawa kamu dimana, kapan saja. Pastikan Rasyi tinggalkan sesuatu biar bisa dilacak nanti. Minimal tinggalkan ponsel papa di meja kerja papa. Ingat, di luar rumah bisa jadi ada mereka. Jangan buat mereka curiga.”]


Oke….


[“Kalung itu pasti selalu diawasi, jadi bawa saja terus. Mereka akan beri tanda ke Rasyi kalau mereka mau gerak. Senggolan, kertas, telepon singkat, apa saja. Kalau sudah seperti itu, cari celah untuk sendirian di tempat umum. Rasyi harus berani kalau memang mau ikut.”]


Ah, sungguh mereka akan memberi tanda? Itu akan sangat memudahkanku yang tidak ingin orang lain terlibat seperti Jagad atau Ira.


Namun sulit juga. Jika saja aku tidak di dalam rumah, semua orang pasti menekanku untuk mau ditemani. Lebih lagi di tempat ramai. Tidak mungkin aku menunggu di dalam rumah. Bibi bisa yang terkena dampaknya.


[“Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan hanya cari bukti kejahatan mereka, sekaligus lacak mereka. Mereka bisa ditangkap kalau kita pergoki mereka berbuat kejahatan.”]


Berdiam aku dibuatnya. Earphone yang masuk ke lubang telingaku menggambarkan ekspresi yang terbuat di sela suaranya yang bergetar.


[“Apapun keputusan Rasyi. Kabur atau tidak. Papa…, percaya dengan Rasyi. Kita selesaikan ini.”]


PIP!


Rekamannya… selesai.


“Ah hah…,” tidak bisa. Tabiatku memang wanita cengeng. Mustahil menghentikan air mata saat aku benar ingin membendungnya.


Bunga seakan merekah memberiku harapan di dalam diriku. Wanginya memberikan keyakinan kalau akhirnya aku bisa melakukan sesuatu.


Kamu tidak tahu, papa! Seberapa aku membenci diriku. Gadis pengecut yang hanya mengutamakan hidup enak. Mengatakan aku bisa membantu tapi nyatanya tidak berguna sama sekali. Hanya bisa sedih dan marah, menyalahkan orang lain.


Jahat sekali aku. Padahal aku tahu kalau Rizki sudah berusaha mati-matian mempertahankan kebahagiaan di hidupnya. Kini papa berusaha mempertahankan milikku juga. Yang aku lakukan? Diri ini hanya mencacinya.


Pelukan pada ponsel yang menjadi bagian usaha pria itu. Sakit rasanya saat ingat kalimat hina apa yang aku katakan dengan suara keras hari itu.


Maaf sudah marah padamu.


Iya. Kita akan selesaikan ini, papa. Untuk kita berdua.

__ADS_1


__ADS_2