
“Rizki.”
Hah?!
Aku menatap ke arah Nisa yang sudah ada di depan meja kerjaku. Lagi-lagi pikiranku melayang kemana-mana. Semua kesibukan ini memang sulit diterima di sekali waktu. Otakku dibuat sibuk oleh banyak hal dalam satu tahun ini.
“Kenapa, Nisa? Aku sedang sibuk.”
Dia mengambil beberapa lembar kertas yang jadi catatan sementara. Mukanya itu tidak senang. Wanita ini pasti mau tanya banyak hal lagi.
“Kamu masih mencari kasus-kasus yang bisa kamu laporkan?”
Nisa dengan sejuta pertanyaannya. Karena dia sudah tahu apa yang selama ini aku lakukan, aku tidak bisa menutupi apa-apa. Rasa ingin tahu itu bisa saja semakin liar kalau aku diamkan.
“Harus didesak terus menerus. Jadi mereka tidak ada waktu urus yang lain selain lari dari polisi.”
Masalahnya, tidak semua kasus bisa aku gali. Kasus-kasus itu pun ada batasnya. Cepat atau lambat aku tidak punya apa-apa lagi untuk melindungi kami. Aku harus cari jalan lain dengan cepat.
“Hari ini bisa istirahat dulu tidak?”
Kutatap mukanya itu. Dia terlihat sedih entah karena apa. Padahal dia selalu saja tersenyum dan tertawa ria di keadaan apa saja.
Tangan itu aku tarik sampai melepas kertasnya, “Ada apa?”
Mukanya langsung berubah mengeluarkan ekspresi marah, “Kenapa sih kamu begini terus?!”
Eh, kenapa dia tiba-tiba marah begini? Hari ini mungkin mood-nya sedang terganggu akan sesuatu hal.
“Apa ada sesuatu? Atau kamu mau sesuatu? Beli saja, tidak apa.”
“Bukan itu maksudku!”
Nisa tidak pernah semarah ini sebelumnya. Sikapnya yang sedikit tak bersemangat memang selalu buat aku khawatir. Itu selalu terjadi di mukanya setelah kematian Riza.
Kukira semakin lama lukanya akan terobati. Dengan uangku yang aku kumpulkan, aku membuatnya puas dengan apapun yang dia mau. Tidak jarang juga aku menemaninya. Itu seharusnya cukup kan? Adakah yang aku kurang lakukan?
“Nisa mau pergi ke suatu tempat? Besok aku bisa temani kok.”
“Bukan itu!!” dia berteriak semakin kencang.
Jari-jarinya yang manis itu aku tarik ke kedua tanganku. Sentuh lembut. Menenangkannya sedikit.
Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Lalu ada apa? Cerita saja,” aku menarik kedua tangannya semakin dekat ke samping meja. Sementara aku masih duduk di kursiku, “Oke, kalau Nisa tidak mau cerita. Bilang saja Nisa mau apa.”
“Dasar tidak peka!!”
Lekuk bibirku menaik, tersenyum tanggapi kelakukan wanita ini. Dia benar-benar sedang emosi.
“Iya, aku tidak peka. Nisa tidak mau beritahu aku?”
“Iiih!!” dia semakin kesal tapi aku bisa melihat wajahnya tersipu. Terkejut aku terima kedua tangannya menekan pipiku, “Berhenti menggalau disini dong!”
Wanita ini benar-benar buat aku bingung.
Sabar. Aku harus tetap diam dan tunggu.
Kutahan tangannya di pipiku. Dia masih mengamuk, tapi dia mulai keringat dingin. Lebih dari sepuluh tahun kami bersama dan dia masih tidak tahan menatap mataku langsung.
Hah?! Nisa? Jangan bilang dia tersinggung.
Aku langsung dibuat kelabakan. Cari kata cepat yang bisa meredakan suasana, “Maaf.”
“Iya! Kamu harus minta maaf!”
Berdiri aku di depannya. Menyentuh muka yang terlihat sedih dan takut. Otakku tidak bisa berjalan. Tidak bisa aku luruskan kemana jalan pikiran wanita yang sudah jadi pasanganku ini.
__ADS_1
“Dasar!” dia memukul pundak depanku pelan, tapi dia tidak melanjutkannya setelah pukulan pertama, “Yang seharusnya galau itu aku! Kenapa kamu yang malah galau terus disini?!”
Lototan mataku terkejut.
Mungkinkah aku kurang memberikannya perhatian selama setahun ini? Sepertinya aku teralih dengan senyumnya yang sudah datang di minggu pertama Riza pergi. Padahal aku tahu itu akting manisnya.
Akan tetapi, aku tidak bisa melepaskan Hari dan lain berkeliaran. Jangan sampai mereka merajalela.
Kalau aku lengah sedikit saja, semua bisa kacau.
Hahaha, kalau dilihat dari sisi itu, aku memang seperti sedang galau. Tidak merelakan pergi anaknya.
Mau bagaimana lagi? Nasib buruk ini sudah melekat denganku sejak lahir.
Kupeluk wanita itu, “Maaf.”
Dia menggeleng pelan, “Tidak. Aku yang minta maaf. Padahal aku sudah tahu kamu begini buat lindungi aku juga.”
“Gimana? Mau libur ke tempat jauh sekali-sekali?”
Terangkat kepalanya ke arahku, “Aku bilang bukan itu yang aku maksud!”
“Aku kan memang tidak peka.”
Mulutnya kembali memanyun, tapi aku tahu dia tidak benar-benar marah, “Tidak, Rizki peka kok. Masa harus aku bilang sih?”
Nisa dengan tingkah keras kepalanya, selalu buat tertawa, “Kalau tidak dibilang gimana aku tahu?”
Wajahnya lagi-lagi tersipu merah. Buat aku bertanya-tanya, apa yang ada dipikirannya.
“Minggu depan kan peringatan kematian Riza, tapi…,” tapi? “Aku belum sempat kabulkan permintaannya Riza.”
Permintaan Riza? Tunggu, maksudnya permintaan yang itu?
Dia melepaskan pelukanku dan menarik tangan kananku. Bersembunyikan sebagian wajahnya, “Riza mau punya adik, tahu…,”
“Puh,” tidak bisa aku tahan, “Hahaha….”
“Ah! Jangan ketawa!”
“Haha, maaf,” lucu, dia masih malu ‘memulai’ duluan, “Baiklah, yang mulia. Mau langsung sekarang?”
“D⏤a⏤adda ini masih siang!”
Padahal dia sudah melampiaskan kekesalannya karena aku kurang memperhatikan sakit hatinya. Tetap saja wanita ini selalu punya cara untuk menghiburku.
“Ya sudah, malam ini?” aku mencium kedua punggung tangannya.
Wajahnya masih terlihat malu. Mengangguk dia pelan.
Lagi-lagi aku dibuat tersenyum. Aku tidak bisa menahan diriku untuk rasakan bahagia dan lega setiap kali aku bersamanya. Dia sudah seperti matahari. Kalau dia aman, kalau dia selalu bersamaku, aku tidak akan minta apapun.
)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(
Apa aku terlalu naif?
Suara sirine ambulans. Biasanya aku selalu stand by setiap kali aku mendengarnya.
Rasa sakit ini. Kaku tubuhku dimana-mana.
“Ada yang terjebak disini! Cepat!”
Seribu satu suara yang tidak jelas semuanya menumpuk. Klakson, orang-orang berteriak, suara alat. Mataku kebalikannya. Tidak jelas apa yang ada di depan sana.
Gelap dan silau. Buram seperti kesadaranku menahannya.
“Disini ada yang hamil!”
__ADS_1
Nisa, bagaimana dengannya?!
Jangan, aku mohon.
Kamu dimana….
Nisa⏤
.
.
.
“Nisa!”
Sosok seorang sedang menahanku dari tadi, “Rizki, tenang dulu. Kamu itu baru bangun.”
Bagaimana bisa aku mau tenang?! Seharusnya tidak seperti ini.
“Kak Iki, tolong. Luka kakak parah.”
Nisa menungguku. Dia sedang hamil delapan bulan. Aku harus temani dia!
Terus aku berusaha menghalangi tangan dari kedua perempuan ini. Memaksa diri untuk pergi dari ranjang rumah sakit walau rasanya tidak bisa bergeser sedikit pun. Bergerak, aku harus menggerakkan tubuhku.
Nisa, aku⏤
Perih di balik perban pundakku mengagetkanku. Hendra sudah mencengkramnya keras, “Nisa sudah tidak ada, Rizki!!”
Gemetaran kembali. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin!
Tidak mungkin!!
“Dia sudah meninggal karena pendarahan! Setelah melahirkan! Aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu! Dia sudah pergi!!”
“Diam!!” tanpa sadar aku sudah berteriak.
Lemas tanganku. Duduk lemas di posisi yang memang tidak berubah banyak dari tadi.
“Kamu fokus pulihkan badanmu saja dulu. Biar kami yang urus anakmu. Dia sebentar lagi keluar rumah sakit,” Hendra melangkah pergi, “Ayo.”
Suara langkah banyak menjauh. Pintu berbunyi dua kali. Tinggal sunyi di ruang bersih ini.
Nisa…, aku bahkan tidak bisa mengucapkan selamat tinggal….
Maaf, Nisa, aku tidak bisa membahagiakanmu. Riza pergi. Hidupmu hancur hanya dalam dua tahun berlalu. Seharusnya aku berusaha lebih keras.
Ha… hahaha.
Aku terlalu naif.
Semua ini seperti permainan. Dariku dan menyiksa diriku sendiri. Apapun kemungkinan buruk bisa datang tidak terduga. Meskipun terduga, semua itu tidak bisa dihindari. Itulah nasib buruk dari kecil.
Busuk-busuk itu semua sudah melekat padaku.
Hahaha, benar juga. Kalau tidak dekat denganku, dari awal mereka dijamin aman.
.
.
.
Tidak apa, Nisa. Rasyiqa tidak akan merasakan semua ini.
Dia tidak perlu tahu siapa ayahnya. Dia pasti aman.
__ADS_1
Dia harus aman.