Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#10 Dongeng Sebelum Tidur


__ADS_3

“Ai Achi ai dda ebah i bua an i ampi hon man’ena oo~” tanganku menunjukku keluar jendela.


Tadi Rasyi lihat ada lebah di bunga yang di samping pohon mangga loh~


“Ettu ali ebahna gi, e dah lan! Unki ia iki Achi ellalu ennis entu ienat. Ato unki ia ellalu uut, elna Achi lip Ppa. Pappa an enaut’an.”


Waktu cari lebahnya lagi, eh sudah hilang! Mungkin dia pikir Rasyi terlalu manis untuk disengat. Atau mungkin dia terlalu takut, karena Rasyi mirip papa. Papa kan menakutkan~


“Eeu, Bbi entu ellat-ellat! E nnatta, ebahna dda i etat bbi. Achi eu antu~ api Achi ga ettut. Di, Achi am ejja de. E. Achi lah iba’a suk. Achi an eccan~”


Terus, Bibi pembantu teriak-teriak! Eh ternyata, lebahnya ada di dekat bibi. Rasyi mau bantu~ tapi Rasyi juga takut. Jadi, Rasyi diam aja deh. Eh. Rasyi malah di bawa masuk. Rasyi kan bosan~


Terdengar tawa kecil papa, “kamu ngomong apa sih?”


Aku ini curhat~ Kamu harus tahu seberapa bosannya putri kecilmu ini. Kamu kan tidak mau membiarkan aku keluar rumah sedikit pun. Jadi biarkan anakmu ini mengoceh ria di atas pangkuanmu.


“Ini sudah lewat waktu tidur.” ucapannya jelas ingin mengusirku.


Aku menggeleng, “Nda u!!” Tidak mau!!


Wajahnya terpatung. Mata tenangnya mengamati wajahku. Seakan dia memutar otaknya untuk menjauhkanku darinya yang sibuk bekerja.


Aduh pa~ Papa terlalu banyak bekerja. Dan lagi, apa yang papa kerjakan sih? Dokter kan seharusnya merawat orang, bukannya duduk diam di meja kerjamu! Istirahat sana! Aku temani nih~


“Ebbo emma Ppa!” Bobo sama papa!


Alisnya terangkat, “Tidur sama papa?”


“Ya!” jawabku semangat.


Ditekuk sikunya menjejerkan wajahnya denganku, “Kenapa harus papa?”


Duh pa~ Aku nih mencoba baik denganmu! Disuruh istirahat kok tidak mau. Ini bentuk dari menghargai perjanjian ‘saling menjaga’ kita. Kalau kamu sampai mati kecapekan bagaimana? Kan aku tidak punya ‘papa’ cadangan.


“Achi anyaaen pappa!” Rasyi sayang papa...?


Matanya yang hitam pekat itu seakan memiliki cerita sendiri. Tidak lelah-lelahnya aku berkata kalau aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya itu. Sangat dekat dan jauh sekaligus.

__ADS_1


Tangannya mengelus lembut rambutku yang mulai memanjang. Dimainkannya ujung rambutku. Sekilas sebuah kilatan di matanya.


Langsung ditutup mata tajamnya itu. Ada sedikit perasaan di ujung lekukan otakku yang mengartikan kalau dia ingin menghapus jauh-jauh kilatannya. Apa yang mau kamu sembunyikan?


“Pappa?” panggilku menggertakkan lamunannya. Dia kembali menatapku, “Ppa, ebbo.”


Dia terbisu sejenak, “ayo.”


Rizki mengangkatku dan berjalan menelusuri rak-rak buku. Rizki mematikan lampu ruangannya dan melewati pintu. Tanaman yang dibatasi dinding kaca di koridor menjadi pandanganku di balik punggung Rizki.


Dapur yang sepi membawa kami ke tangga seluas dua pundak orang dewasa. Sampai di ujungnya. Ruang tengah yang luas memperlihatkan pintu kamar tidurku yang berwarna biru terang.


Sofa satu orang di ujung sana menjadi tempat persinggahan kami. Rizki memangku membuat punggungku menempel di dadanya yang kuat. Tumpukan buku dongeng yang baru saja dibeli bibi pembantu pasti bisa membuatku tidur nyenyak.


“Mau yang mana?”


Aku boleh pilih nih? “Ichu!” kutunjuk satu buku.


Aku penasaran dengan buku itu. Selama ini buku itu selalu bertengger di sana. Tidak ada yang pernah membacakannya. Mungkin karena ukurannya yang terbilang besar dan tebal.


“Pappa!” panggilku.


Disentuhnya keningnya itu. Kenapa sih? Pusing? Kamu tahu kan tidak ada yang bisa membaca pikiranmu? Berhenti melamun dan membuatku merasa seperti orang bodoh!


Akhirnya dia mengeluarkan buku itu. Dari tadi kek. Iiish!


Wow~! Sampul bukunya cantik~ Istana yang benar-benar seperti lukisan sang ahli. Rizki membuka buku itu. Aa! Pop-up! Seakan Kastil sungguhan berdiri tiga dimensi di dalamnya saat bukunya dibuka. Cantik~


Tersadar beberapa baris kalimat di sampingnya, “Ppa! Ecca!” Papa! Baca!


Dia tersenyum tipis, “di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang raja tampan yang bijaksana. Ia tinggal di sebuah Istana yang indah bersama Ratu dan Pangeran. Orang-orang di negeri itu sangat mencintai mereka.”


Lembar dibalik. Pop-up baru. Ada lukisan seorang wanita cantik disana. Entah wajah siapa yang ada di pop-up versi lukisan sederhana itu, tapi aku benar-benar terpesona.


“Sang Ratu sangat mendambakan seorang putri. Setiap hari ia berdoa agar mendapatkannya. Di suatu malam, Ratu bertemu dengan peri kecil. ‘Aku mendengarkan keluhanmu, yang mulia. Aku bisa membantumu.’ kata peri itu.”


Lembar selanjutnya terlihat seorang peri kecil lengkap dengan sayap dan tongkat yang bercahaya. Ia terbang di samping bunga indah berwarna emas.

__ADS_1


“Peri itu menyulap sebuah bunga yang cantik di tangan Ratu. ‘Rawat dan sayangilah bunga ini, maka dia akan mengabulkan harapanmu.’ jelas peri itu. ‘Tapi Ingat. Bunga ini akan mengambil semua yang kamu sayangi bila kamu tidak menyayanginya.’ tambah peri itu.”


Mengambil semua yang disayangi? Kalau aku jadi Ratu itu, aku pasti menolaknya.


Lembar baru terlihat. Memperlihatkan banyak orang yang bergembira.


“Ratu membawa bunga itu dan merawatnya. Tibalah hari yang ditunggu. Terdengar kabar sang Ratu mengandung seorang putri. Orang-orang di negeri itu menyambutnya dengan suka cita.”


Rizki membuka lembar selanjutnya. Wah~ Siapa kakak tampan itu? Yang membuat ini sungguh pandai melukis. Aku bisa merasakan kehadiran kakak tampan itu tepat di depanku.


“Semua orang memberikan kado yang luar biasa untuk Putri. Sang Pangeran tidak ingin kalah. ‘Ayah, ibu. Izinkan aku pergi ke ujung paling selatan negeri untuk mendapatkan permata indah untuk adikku.’ kata Pangeran. Raja dan Ratu mengizinkannya. Berangkatlah Pangeran ke ujung selatan negeri.”


Oh! Jadi dia pangeran! Pantas saja tampan sekali~ Lalu? Apa selanjutnya?


Terbuka lembar baru dan terlihat kuda yang oleng.


“Kabar buruk. Sang Pangeran mengalami kecelakaan di perjalanannya. Negeri sedih karena kehilangan satu-satunya pangeran mereka.”


Dia mati! Tidaaak~! Padahal kami baru saja bertemu~


Lembar baru terbuka dan terlihat Ratu yang berbicara dengan pelayannya.


“Ratu mengurung diri di kamarnya. Sedih atas kepergian putranya. ‘Bunganya!’ Ratu tersadar bunga emasnya tidak lagi di kamarnya.—”


Aaaa!! Ternyata kamu dalangnya! Karena kamu, pangeran tampanku yang baru muncul satu panel langsung mati!


“—‘saya sudah membuangnya, yang Mulia. Bunga itu sudah kering dan mati.’ Seorang pelayan menjelaskannya. ‘Bagaimana ini, dia akan mengambil semua yang aku sayangi.’ gerutu Ratu.”


Hih! Salah kamu sendiri! Tidak becus!


Lembar baru terbuka dan terlihat banyak orang saling menyerang satu sama lain.


“Kekhawatiran Ratu benar. Kerajaan diserang! Pelan-pelan Raja berhasil menyerang balik mereka. Namun sayang, Ratu terluka parah.”


Duh! Kena sendiri kan! Ratu satu ini tidak bisa apa-apa!


Lembar baru—loh? Kosong? Dimana lanjutannya? Aku menatap Rizki. Aku terkejut. Matanya sendu menggambarkan kesedihan yang amat dalam. Wajahnya memang selalu lemas seperti itu tapi aku tahu betul, matanya itu seakan mau menangis.

__ADS_1


__ADS_2