
Bel itu sudah mulai biasa aku dengar. Mulai kupahami semangat setiap murid di kelas ini yang menanti-nanti pembimbing untuk membawa barang-barangnya. Istirahat tentu waktu yang paling disenangi semua murid. Kurasa memang seperti itulah semua penuntut ilmu.
Masih saja, aku masih belum terbiasa dengan keramaian di tengah kelas yang mulai membubarkan diri. Ditambah lagi, hari ini Harun tidak ada di kelas. Orang-orang sekolah tahu dia murid unggulan yang sibuk berpartisipasi di perlombaan.
Lagi-lagi aku menghabiskan waktu di kelas dengan bekalku bersama teman-teman senasib. Seakan sudah jadi rutinitas kami. Bergosip ria dan saling berbagi makanan. Jujur, sangat bangga mendapati diriku sudah sampai di posisi ini sebagai Rasyiqa walau masih karena kelas yang sepi.
“Hei!” datanglah orang yang paling ribut.
“Hai, kak Jagad.”
“Kak Jagad rajin kesini ya.”
“Iya,” aku menelan suapan bekalku, “Kayak tidak punya kerjaan saja.”
Sungguh. Ini namanya terlalu rajin. Kalau bukan kenalanku dari kecil, aku akan mengira dia stalker. OSIS kurang menyibukkannya untukmu?
“Tidak boleh nih aku main ke sini?” Jagad mengambil kursi dan memutar sandarannya di depan.
Mereka tampak senang memutar-mutar pembicaraan mereka. Hal seperti ini selalu saja terjadi kalau Jagad memulai basa-basinya. Dia memang selalu membawa suasana ceria.
Jagad juga tidak kalah di berbagai bidang lain. Tidak hanya sikap friendly nya, mukanya juga tidak kalah. Ditambah kalau dia lagi anteng, karismanya terlihat menyegarkan. Aku tidak begitu menyadarinya. Bisa jadi karena aku terlalu sering melihatnya cari ribut dengan Harun, nilai positifnya langsung luntur.
Oh iya. Harun kan sedang tidak ada. Bisa dong aku jalan-jalan ke tempat yang lebih jauh.
“Jagad,” aku menutup kotak bekalku bersemangat, “Ajak aku keliling sekolah dong. Terserah deh kemana, yang asyik.”
Senyum tertarik seketika mengembang. Dia menegakkan tubuhnya dari sandaran kursinya. Entah apa yang ada dipikirannya jailnya itu.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Wow~” hanya kata itu yang keluar dari mulutku saat melihat pemandangan ini.
Tidak mungkin aku menahan rasa kagumku. Ukuran tempat ini jauh lebih besar dari SMP-ku. Padahal SMP-ku sudah bisa dibilang sekolah jumbo. Kalau aku dilepas disini, sepertinya aku akan tersesat. Skala SMA jaman sekarang benar-benar memang lain.
Panjangnya perjalanan kami sangat terasa meski sekolah kami saling bertempelan satu sama lain. Lebar sekolah ini saja tidak terbayang nominal meternya. Bahkan kami harus menyebrangi lapangan basket dan voli.
Jagad mau membawaku kemana sih?
“Sedikit lagi sampai,” Jagad masih menarik pelan genggaman tanganku.
Kami menelusuri gedung besar yang entah apa itu. Tidak ke dalamnya, tapi memutarinya. Bisa aku lihat ujung dari lebar SMA ini.
__ADS_1
Aku terdecak kagum, “Wow~ Banyak banget~”
Bersebaran banyak sekali ekor kucing. Warna-warni bulu mereka bermain di tanah rerumputan. Aku bisa menjamin kejinakan mereka setelah satu per satu mendekati kakiku. Keimutan mereka tentu bisa memikat siapa saja termasuk bukan pecinta hewan sepertiku.
“Ini kucing sekolah ya?” mendudukkan diriku agar bisa meraih mereka.
Jagad ikut duduk bersandar di gedung besar tadi, “Aku juga gak yakin. Yang rawat mereka sih anak-anak kelas dua. Katanya gantian tiap tahun.”
Apapun itu, syukurlah mereka dirawat dengan baik. Bahkan setiap kucing diberi kalung bertulisan nama.
Kuangkat salah satu kucing itu mencoba membaca namanya, “Latte?” namanya unik banget.
“Oh, yang ini,” Jagad mengangkat satu anak kucing berbulu coklat, “Namanya Choco.”
Tawaku tak tertahan, “Cuma karena bulunya coklat?”
Aku mengangkat si Latte. Berjalan mendekati Jagad dan duduk di sampingnya. Kucing lain layaknya tidak ingin ketinggalan untuk minta dimanja.
Mungkin ini akan menjadi tempat favoritku. Disini aku bisa ditemani para kucing ini, tapi tetap sendirian. Tenang, suara-suara ribut seperti dihalangi. Sejuk, pepohonan masih dipertahankan. Lucu sekali. Padahal aku belum SMA, tapi aku sudah menemukan tempat persembunyian.
Duh. Aku jadi mengantuk.
Sebuah tangan tiba-tiba menarikku ke sebuah sandaran. Apa ini bahu?
Duh. Situasinya kok jadi seperti ini? Aku harus bagaimana⏤
“⏤AAAA!!” langsung aku beranjak dari sandaranku dan melempar diri entah kemana.
“Ra, Rasyi!”
Aku tidak mau peduli aku sedang apa dan dimana. Yang pasti…, “Ada laba-laba jatuh di kepala! Jagad tolong!”
Sebuah tangan menyeka rambutku pelan. Laba-labanya sudah di usir kah? Tunggu… aku sedang memeluk siapa? Kujauh orang itu melihat wajahnya. Mataku merekam wajah Jagad yang sudah kacau. Entah dia kaget, tegang atau… malu?
Uups! Aku mendorongnya sampai hampir terjatuh. Untung saja badan Jagad itu kuat jadi dia bisa menahan bebanku hanya dengan satu tangan di belakang.
Namun tetap saja, kamu menimpanya! Tentu ini memalukan dan tidak sopan!
“Maaf. Aku terlalu panik,” kembali aku duduk di posisi awalku.
Sesaat tanganku menjadi target genggamannya. Gawat. Dia pasti marah.
__ADS_1
Jagad menarik tanganku selagi tanganya satunya mendekatkan sesuatu…⏤ “AAA!! Jagad!!”
“Masa begini saja takut. Coba pegang dulu,” Jagad masih saja berusaha mendekatkan tanganku dengan laba-laba di tangannya.
Nih anak! Kurang ajar! Binatang buas ini ternyata terlalu banyak dibiarkan berulah. Sekali-sekali coba kurungan sana! Kalau saja sadar!
Kutarik tangan ke atas membiarkan genggamannya. Memastikan tubuhku mendekat agar bisa menyentuh wajah iblis itu. Berhasil tanganku mengambil posisi yang cocok untuk memukulinya.
“Berhenti tidak?!” terus aku lanjutkan serangan berlanjut.
“Aau! Iya maaf. maaf.” tawanya melepaskan laba-laba itu jauh, “Sudah aku lepas. Ampun.”
Wajah kesalku masih ada walau tanganku berhenti menyerang, “Iiish!”
Dia tertawa sejenak. Hitungan detik wajah itu berubah serius. Masih saja dia menahan tangan dan posisiku yang duduk berlutut. Kenapa lagi sekarang?
“Rasyi,”
Apa? Kamu tahu saja kan mataku itu masih menusuk ke arahmu?
“Kalau kamu disuruh pilih,” seluk beluk wajahnya menggambarkan keseriusannya, “Kamu akan milih Harun atau aku?”
Eh? Heh? Lah kok jadi membahas ke arah sana?!
Wajahnya langsung memerah, “Itu soalnya, kamu kayak selalu belain dia,” dia membuang wajahnya, “Kalau kami bilang apa salah aku, kan bisa aku perbaiki.”
Aduh. Aduh…. Lihatlah topik ini. Tidak aku sangka dia akan mengatakannya secara gamblang seperti itu. Sebesar itukah rasa sukanya padaku? Dia sampai membuat pernyataannya berputar-putar karena takut ditolak.
Rasyi mau main bodoh saja.
Kusentuh pipiku, “Tidak tahu,” tersenyum aku sepolos mungkin, “Aku pilih papa saja deh.”
Matanya tentu menggambarkan ketidak dugaannya. Bukaan mulutnya terhenti, menunjukkan dia sedang mencari kalimat yang tepat untuk keluar dari suasana speechless. No! Tidak perlu dijawab.
“Dibandingkan dengan kalian, papa itu tampannya tingkat dewa. Jarang loh ada yang bisa awet muda seperti papa,” senyum kubuat lebih lebar, “Iya kan?”
Sepertinya dia masih berusaha mencari alasan.
Kucek jam di lengan kiriku, “Duh sudah mau selesai istirahatnya. Jagad sih main-main terus, aku jadi sebentar saja disini.”
Aku berdiri dan menarik genggaman tangannya yang masih kuat. Berusaha kutarik pelan memberikannya isyarat untuk menegakkan tubuhnya. Jadi kamu tidak bisa menanggapi kan?
__ADS_1
“Yuk balik. Nanti telat. Kita kan jalannya jauh,” kudorong dia berusaha memberikannya kesempatan jalan di depanku.
Maaf, Jagad. Aku tidak yakin kamu bisa menerima kalau aku bilang aku menyukai Harun.