
Kembali aku pada pop-up yang kurang bagian akhir. Peri kecil beberapa kali muncul bersama dengan baju dari kelopak bunga merah muda. Ia terlihat layaknya melayang dengan tongkat ajaib peri yang tak lebih besar dari jari telunjuk.
Sempat aku harap peri kecil itu datang padaku dan menawari aku kesepakatan sama seperti yang ada di cerita. Bukannya itu adalah angan-angan yang manis?
Lelah. Ingin sekali aku mengistirahatkan mata, tapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Entah aku memikirkan apa. Mungkin memikirkan seberapa besarnya bahaya di rumah ini, memikirkan kekacauan yang ada di pikiranku sendiri, atau memikirkan pria ini.
Apa sih yang aku pikirkan? Kenapa aku khawatir pada pria yang sudah membahayakan aku?
“Hhh!”
Eh? Suara apa itu?
Rizki… dia mengigau ya? Kepalanya terus menggeleng sendiri, tampak tak menerima. Tangannya mengepal dan tubuhnya terus berontak walaupun tidak ada yang mengekang. Bunga tidur apa yang ia terima sampai terasa sesengsara begitu?
“Hah, hah!” igauan tak jelasnya menyertai ekspresi yang ingin menangis, “Eh ha!” tanpa sadar dia sudah terduduk dari tidurnya.
Refleks aku langsung membaringkan diriku dan pura-pura tidur.
Loh? Aku lagi-lagi tidak paham lagi dengan saluran yang masuk ke saraf otakku. Mungkinkah aku takut dengan Rizki—apa yang kutakuti?! Seharusnya dia yang merasa bersalah dan tidak nyaman menemukanku tidur di kamarnya. Gaa aaaargh, bodo ah!
Aku bisa mendengarkan buku yang ditutup. Terasa gerakan kain hangat menutupi tubuhku. Elusan yang sudah biasa, menghantarkan gambaran wajahnya di kepalaku tanpa perlu aku membuka mata. Pria itu tidak tahu kalau aku pura-pura tidur kan?
Gerakan yang terasa dibuat samar masih bisa tersampaikan dari seluruh tubuhku yang terguncang pelan. Kelopak mataku menyampaikan bahwa cahaya lampu dimatikan. Suara pintu tanpa disusul suara kedua, membuat berasumsi ia tidak ditutup dengan benar.
Terbelalak mataku dan bangkit berdiri. Pertanyaannya, untuk apa dia keluar? Dia seharusnya lebih tahu daripada yang lain kalau dia butuh banyak istirahat. Jangan katakan dia ingin kembali bekerja di pagi buta begini?
Kakiku menyentuh ubin yang mulai dingin. Pintu memberiku celah untukku melewati—Ah! Langsung aku menyembunyikan kembali tubuhku masuk. Mengejutkan sekali menemukan sosoknya di depan dinding penuh bingkai-bingkai foto. Kenapa dia berdiri diam di situ?
Samar-samar dalam gelap aku melihat Rizki mengangkat tangannya dan menyentuh salah satu foto.
“Hai Nisa. Kamu baik-baik sama Riza di sana kan?”
Tak bisa menanggapi. Ini menyedihkan sekaligus mengerikan untuk dilihat. Kenapa dia bicara sendiri begitu? Ini resmi, dia sudah tambah gila.
“Rasyi sudah makin mirip kamu. Keras kepala, tidak bisa ditolak,” senyumnya yang ingin tertawa itu tampak sedih dilihat, “Di luar manis tapi di dalamnya memaki-maki.”
__ADS_1
Heh? Heh?! Apa selama ini dia sadar kalau aku merendahkannya dibalik sikap manisku padanya? Bagaimana caranya?!
Itu bukan masalahnya! Manusia ini—jam tiga malam malahan bicara dengan foto! Apalagi membicarakan tentang aku! No! Dia benar butuh istirahat! Harus, sekarang, ASAP! Mau ataupun tidak aku harus memaksanya tidur!
“Padahal aku sudah mau bawa dia ke panti asuhan,” kalimatnya membekukan langkahku yang ingin mendekati.
Haah…. Sampai sekarang pun dia tetap tidak melupakan masalah membuangku di panti asuhan. Kurasa sekali busuk orang akan tetap seperti itu. Ini menyakitkan.
“Jangan marah. Kamu juga tahu itu keputusan terbaik. Orang bisa aman kalau dia jauh dari masalah. Kalau Rasyi tidak tahu, dia bisa aman.”
Heh?
“Kamu benar, Nis. Mustahil aku bisa melepas anakku sendiri ke panti. Aku juga sedang mencari cara lain.”
Aku terdiam. Mungkinkah aku salah paham selama ini?
Rizki terlilit konflik yang entah apa itu sebelum aku lahir sebagai Rasyiqa. Aku yakin dia sudah setidaknya punya satu atau dua rencana untuk membuka ikatan talinya. Aku mengetahuinya tanpa aku sadari.
Namun aku tidak menyangka Rizki berpikir untuk membuangku ke panti asuhan demi keselamatanku. Sungguh bukan karena ia tidak suka aku di sampingnya.
Eh? Lalu kenapa dari awal aku memilih untuk ada di rumah ini? Hanya karena percaya dia pasti punya rencana? Masa?
“Kamu tahu, Nis? Sekarang Rasyi cantik, pintar,” dia mengambil nafasnya sejenak, “Terlalu tanggap.”
Pria ini memegang wajahnya. Desah kesal sayup-sayup terdengar.
“Dia sudah paham apa yang terjadi. Rasyi masih kecil, tapi dia sudah punya trauma. Kalau aku ceritain semua—tidak... Rasyi tidak boleh tahu!” tangannya mengepal, “Aku harus gimana, Nisa? Aku tidak mau kirim dia ke panti... dia putriku. Tapi….”
Isak tangis mengisi ruang besar yang remang-remang itu. Menempel aku lebih erat ke bingkai pintu. Badai lain menyusuri setiap tubuhku. Resapan ‘nutrisi’ yang baru aku tahu ada,
Sudah lima tahun aku hidup bersama pria ini. Meski aku selalu memakluminya, aku selalu saja menyalahkannya sikap dan keberadaannya. Aku selalu berpikir kalau hubungan kami hanya sekedar dua ruang yang berdampingan tapi memiliki tembok tebal di antara kami. Kenyataannya…
Bodohnya aku! Jelas-jelas aku yang sedang menyulitkan dia. Sudah menempel seenaknya, memaksanya untuk bercerita. Padahal dia tahu kalau aku akan takut. Ia tahu aku hanya penakut yang besar kepala.
Kalau aku pergi ke panti dari awal, semua kan langsung beres. Namun kenapa bisa aku tidak berniat sekalipun untuk melakukannya? Mengapa?
__ADS_1
“Maaf Nisa. Maaf,” kembali lagi suaranya bergumam, “Maaf… aku harus bawa Rasyi ke panti.”
Apa?
“Kamu boleh benci aku, Nis. Kalau kamu lihat Rasyi sekarang, kamu juga pasti mau bawa dia kabur. Tidak akan aku biarkan dia lebih takut lagi.”
Jangan. Tolong…
“Tidak ada cara lain. Harus seperti ini, supaya Rasyi aman⏤”
“Jangan!” aku sudah berdiri jauh dari pintu.
Dingin melanda pipiku. Gerakan mengalirnya memberiku dugaan kalau aku menangis lagi. Namun kenapa? Apa karena aku mendengar Rizki yang bicara dengan dirinya sendiri kalau dia akan membuangku ke panti asuhan? Bukannya ini yang memang terbaik? Ini kan bukan hal besar. Sekar juga ada dengan pengalamannya tinggal di sana.
Kenapa? Kenapa aku takut begini?
“Rasyi tidak akan tanya lagi. Rasyi minta maaf…” ucapan itu mulus layaknya sudah tertulis di naskah. Layaknya sudah aku hafalkan di luar kepala.
Tampak jelas wajah yang sudah tak karuan itu. Ia tentu terkejut melihat anaknya yang sudah bangun. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara. Layaknya getaran itu menggerogoti pita suaranya.
Wajah kusut Rizki semakin dekat. Menekuk lututnya di depanku, “Rasyi⏤”
“Rasyi tidak akan nakal lagi! Rasyi pasti nurut dengan papa! Rasyi tidak akan bikin papa susah!” aku membiarkan cairan bening itu melewati pipiku selagi mulutku yang berceloteh entah ke arah mana, “Tapi Rasyi tidak mau ke panti asuhan!!”
Apa ini yang aku takuti? Apa selama ini aku takut hidup tanpa sosok pria di depanku ini? Apa ternyata aku takut kehilangan sosok papa yang tidak pernah Sekar rasakan?
Pada akhirnya aku bisa mengetahui apa yang ingin aku katakan, “Tolong…” kutatap lekat-lekat mata hitamnya, “Tolong jangan buang Rasyi….”
Matanya terbelalak jelas. Tanpa tundaan lebih, ia menimpaku dengan pelukan hangatnya. Sekarang getaran tubuhnya menjalar di kulitku. Perlahan dia menarikku semakin dekat sampai aku terduduk di lekukan kakinya.
“Tidak, Rasyi. Tidak. Jangan ngomong begitu,” wajahnya terasa tenggelam di bahuku, “Maaf… papa bodoh. Maaf. Rasyi pasti takut. Maaf.”
Kukira aku tidak mengharapkan apapun dari yang namanya orang tua setelah merasakan pengabaian orang tua Sekar. Ternyata aku masih mendambakannya. Lalu di saat Rasyi mendapatkannya, secara tidak sadar aku tidak ingin melepaskannya.
Ah. Hangat. Nyaman. Mataku sangat ingin menikmatinya dan beristirahat.
__ADS_1