
Papa menatapku dari posisi jongkoknya. Menungguku untuk menyusulnya. Kakiku menekuk pelan dan akhirnya aku bisa lebih dekat dengan makam itu. Bunga-bunga yang sudah tinggal kelopaknya mulai kami tebarkan mewarnai tanah polosnya.
Ah, air mataku mengalir. Bahkan bocor.
“Hik, hik....” tidak. Seharusnya aku tidak seperti ini.
Pada akhirnya aku bisa berhadapan langsung dengan ‘Jagad’. Dia pasti sedih kalau tahu aku hanya akan menangis seperti ini. Pasti dia mengamuk karena aku tidak mengunjunginya, sementara biasanya kami bertemu setiap hari.
Tepukan tangan hangat. Papa sepertinya juga tidak tahan melihatku begini. Sedingin bagaimanapun papa itu, dia tetap orang tua yang penyayang.
“Keluarkan saja sampai lega,” ah, kalau dibicarakan begitu aku kan semakin tidak bisa menahan.
Beberapa saat aku hanya menangis. Lututku sampai lemas menyentuh tanah. Isakan tangis pelan yang tak berhenti-henti itu kuharap membawaku lega.
Tiga hari lewat sejak aku mempelajari kematian Sekar. Keterkaitannya yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan Rasyi, tidak bisa aku reaksikan lebih. Reinkarnasi adalah hal yang masih didebatkan. Aku tidak ada pilihan selain memandang Sekar sebagai sosok lain yang sudah mati.
Sekarang, aku harus menghadapi apa yang jadi masalah Rasyi. Termasuk berdamai dengan perginya Jagad.
Papa masih saja memegangi kepalaku, “Sudah?”
Mengangguk pelan kepalaku sambil menyeka air mata dengan kedua punggung tanganku, “Hm mmm.”
Ia mendekat dan menahan tengkuk leherku. Dia menarik ujung lengan bajunya dan membantuku mengeringkan wajahku.
“Ayo, kita kesini lagi nanti,” dia berdiri dari jongkoknya.
Menyapu pelan celanaku yang kotor dan ikut berdiri. Kugosok kedua telapak itu membersihkan apa yang tersisa.
Langkah papa mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Jagad. Masih aku diam di tempat. Nisan dengan nama panjang Jagad menarik semua perhatianku sesaat.
Senyum di tengah hal sedih ini sangat sulit, “Nanti aku datang lagi. Bye, Jagad.”
Kakiku mengambil pijakan baru dan menjauh. Papa tampak menungguku di tempat yang lebih lega. Hangat tangannya terbuka seakan membaca pikiranku yang ingin memeluknya walau sebentar. Cium manis di keningku lebih menenangkanku.
“Sekarang kita ke rumah neneknya Jagad,” dia mendorongku perlahan dan menyeka kembali sisa air mataku yang menyelinap keluar, “Rasyi masih punya hutang minta maaf sama mereka.”
Ini dia yang aku takuti. Semoga semuanya baik-baik saja, “Papa temani Rasyi kan?”
Pria itu tersenyum pudar, “Iya. Pasti.”
)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(
“Pa.”
“Hm?”
Erat aku memeluk tangan kiri beliau, “Reaksi mereka waktu ketemu papa gimana?”
__ADS_1
Papa tampak mengambil jeda sejenak, “Nenek dan kakaknya sudah rela. Tapi ayah dan ibunya masih sering menghindar dari papa.”
Iya kan! Aku semakin tidak enak lagi.
Walaupun papa sudah meminta maaf mewakili aku waktu aku masih direhabilitasi dulu, aku harus melakukannya juga secara langsung. Tegang dan tak nyaman membuat kerinduanku hilang terhadap daerah yang menenangkan ini. Padahal sudah setengah tahun.
TOK TOK!
Kenapa papa mengetuknya langsung sih?! Belum siap nih!
“Iya!”
Mereka datang! Haaaah! Pintunya terbuka!!
Langsung aku menyembunyikan tubuh dan wajahku di balik Rizki. Mencengkeram bajunya agar dia tidak sembarangan bergerak.
“Om Rizki?” suara itu…, “Ah, kali ini Rasyiqa juga ikut.”
Duh! Bagaimana ini!
Mengintip aku dari balik tubuh Rizki. Pastikan ekspresi kakak laki-laki dari Jagad yang ada di depan pintu itu tidak mematikan untukku.
Hm, dia tertawa? “Kenapa Rasyiqa sembunyi?”
Tangan papa memelukku lebih dekat. Seakan menenangkan keresahanku. Namun aku masih belum mampu menatap sang kakak ini.
“Kenapa sih? Masuk yuk. Sekalian, kakak mau kasih sesuatu.”
Hm? Kakak yang merupakan teman seumuran Fares ini memang sudah aku kenal baik. Namun bukan berarti kami ada di posisi saling bertukar barang. Tidak sopan sekali aku seperti ini.
Gerak menunduk kepalaku memberikan mereka tanda untuk membawaku masuk. Suasana yang familiar ini membawa kembali kenangan manis bermain dengan Jagad.
“Siapa, Ham?” ah, nenek, “Oh, Rasyiqa toh,” dia mendekatiku dan mencubiti pipiku, “Makin cantik eh.”
Bagaimana lagi? Aku tidak bisa menahan diriku untuk takut akan kemarahan mereka. Kesalahan ini bukan hal yang bisa dibiarkan berlalu dengan gampangnya. Tak ada cara lain yang bisa aku pikirkan selain meminta maaf.
Wanita yang memutih rambutnya itu langsung kupeluk, “Rasyi minta maaf, nek, kak Ilham….”
“Lah, jangan dipikirin toh. Tidak papa, bukan salahnya Rasyiqa kok,” beliau membalas pelukanku. Beliau yang lebih pendek dariku menghapus membersihkan sekitar mataku yang basah, “Dah. Nanti hilang loh cantiknya.”
Aku tersenyum disela nafas menghirup keras melalui hidup yang mulai tersumbat. Beliau tertawa manis. Elusannya tidak berhenti menerpa wajahku.
“Makan sini ya?” nenek mulai bicara dengan papa di sampingku.
Papa tampak tak enak, “Tidak usah, nek. Bentar lagi kami mau pulang.”
“Makan dulu di sini. Memang mau kemana, hmm?” nenek masih bersikeras.
__ADS_1
Tawa kecil menyambut wajah papa, “Ya sudah. Terima kasih. Biar saya bantu.”
“Duduk saja dulu, tungguin.”
Papa tersenyum lagi, “Tolong jangan ditolak, nek.”
“Terima kasih ya….”
“Kalau Rasyi, ikut kakak,” lelaki yang dari tadi diam disana akhirnya kembali berbicara, “Yuk.”
Aku memperbaiki penampilan wajahku dan mulai melangkah mengikutinya. Punggung kak Ilham jelas menunjukkan jalan yang tampak kukenali. Kami akhirnya memasuki ruangan yang aku yakini adalah kamar Jagad.
Ruangan unik yang tak semua orang bisa lihat ini banyak berubah dari terakhir kali aku memasukinya. Nuansa menenangkan warna abu-abu. Dengan berbagai macam peralatan olahraga.
Berhenti aku di satu titik. Jagad memang pernah cerita kalau dia punya punching bag. Aku sentuh benda itu layaknya meraba apa yang sudah ia lakukan dengan benda itu.
Tempat ini seakan menghentikan waktu.
“Oh iya, Rasyiqa sudah lama gak main ke kamar Jagad ya?” tampak lelaki itu mendekati ranjang berkaki kayu dan mulai menunduk.
“Masa Rasyiqa masuk ke kamar cowok.”
“Iya, ya. Jagad sering gak pake baju kalau di kamarnya.”
“Jangan diceritakan dong!”
Kak Ilham tertawa, “Sorry,” dia tampak mengeluarkan sebuah kotak dari bawah ranjang.
Apa sih yang dia mau berikan? Berusaha aku mendekatinya. Memperhatikan lebih dekat benda apa yang kak Ilham bawa. Kotak kardus coklat yang cukup besar.
“Itu apa, kak?”
“Hadiah buat Rasyiqa,” hmm? “Jagad sering beli atau bikin macam-macam tapi dia pengecut gak mau kasih ke kamu,” dia menatapku dan mengulurkannya padaku, “Jadi kakak wakilkan. Nih.”
Untukku? Sebanyak ini? Memang jelas kalau Jagad itu gengsinya tinggi, tapi aku tidak menyangka dia punya kebiasaan seperti ini sampai bisa menumpuk sebanyak ini.
Tanganku terulur dan menerima kotak itu, “Hah!” berat!
“Awas berat,” kak Ilham membantuku menahan benda itu.
Langsung aku berusaha untuk membuka kardus itu melihat apa yang membuatnya berat. Aku dibuat terkejut. Pantas saja berat. Macam-macam barang dikumpulkan menjadi satu. Bingkai foto, boneka, mug, apapun itu.
Tampak jelas rasa sukanya. Sayangnya aku tidak sempat menunjukkan rasa terima kasihku.
Lelah sekali menangis terus seperti ini.
Kak Ilham menepuk pundakku, “Jagad suka kamu dari dulu banget. Kakak juga gak ingat dari kapan. Tolong ya simpan ini semua untuk Jagad.”
__ADS_1
Aku mengangguk berusaha tersenyum, “Iya.”