
Tempat yang asing. Membawaku kembali ke tempat yang mampu memancingku dalam perasaan keputusasaan mendalam. Bangunan tua. Interior dari bangunan ini memang cantik dan antik, tapi kesuraman kental. Debu-debu dan wallpaper yang mengelupas.
Seakan mereka membiarkannya dengan pewarna yang mencekam layaknya aku menganggap mereka.
Aku tidak suka ini.
Pria yang tidak menyenangkan ini memastikan langkahku tetap disejajarkan dengannya, “Ini rumah papamu dari kecil, loh~ Lahirnya juga di sini~”
Heh? Rumah masa kecil papa? Ternyata jaraknya dengan cafe tadi hanya sekitar tujuh jam. Jaraknya tidak jauh dan tidak dekat.
Benar juga, rumah ini juga lokasi meninggalnya banyak orang termasuk keluarga papa. Semakin khawatir saja aku dibuatnya. Papa baik-baik saja kah?
Kita berhenti di satu pintu yang tampak kusam. Ini ruangan apa?
TOK! TOK! TOK!
Dengan semangatnya pria ini mengetuk pintu itu, “Permisi~” ada orang di dalam? “Yuk masuk.”
Pintu terbuka dari kuncinya dan menunjukkan apa yang ada di dalam.
Merinding takut dan lega menjadi satu. Kakiku tak mampu untuk diam, aku berlari ke sosok itu. Langsung aku memeluknya.
“Rasyi?” pria ini membalas pelukanku.
Kutenggelamkan wajahku ke tubuhnya, “Papa….”
Dia tidak apa. Dia baik-baik saja!
“Nah~ Karena sudah malam, kalian bertiga istirahat saja dulu! Besok kita mengobrol,” kakek itu malah tersenyum di pinggir pintu saat aku mengintip ke arahnya, “Khususnya untuk Faresta.”
Tegang di ubun-ubun. Harus bagaimana ini? Fares, apa yang akan datang padanya besok pagi?
“Dadah~!” pria itu membawa kelompoknya pergi dan menutup pintu. Aku bisa mendengarkan suara pintu dikunci.
Setidaknya hening ini mulai menenang… kan…
“Rasyi?!” papa terdengar panik sesaat tubuhku terasa melemah.
Wajah Fares tampak muncul di ujung layar pandangku yang samar-samar. Otakku tidak bisa memutar, melumpuhkan tubuhku secara bersamaan.
Tidak boleh seperti ini! Harusnya aku memikirkan cara untuk keluar dari situasi berbahaya ini.
Kedua tangan menahan di kedua sisi wajahku. Ia membawa pandanganku kembali ke arah papa. Bisa aku rasakan keningku mengetuk di keningnya. Nafasnya dan hangatnya masuk sampai aku akhirnya bisa merasakan ujung-ujung jariku sendiri.
“Papa tidak bawa Rasyi supaya bisa panik. Kenapa Rasyi…,” dia memelukku lebih dalam. Membiarkan aku terduduk di atas lipatan kakinya, “Ayo. Rasyi langsung tidur saja.”
“Tapi…,”
“Rasyi tidak bisa apa-apa kalau secapek ini. Istirahat mumpung sempat. Itu juga penting,” dilepasnya pelukan itu, “Ayo.” lembut suaranya berusaha berdiri sambil membantuku..
Tangan Fares terulur ke arah papa. Pria dewasa ini meraihnya dan berhasil menegakkan kami berdua lebih mudah. Kakiku akhirnya ikut menahan beban tubuh sendiri, meski masih mengaitkan kedua tangan di tubuh papa.
Fares melepaskan tangan Rizki, “Paman, gimana? Paman tidak diapa-apakan?”
“Aku tidak apa. Yang penting sekarang kalian tidur dulu,” papa menjawabnya dengan santai.
Mustahil bisa menahan rasa khawatir ini. Pertama kami ada di sarang lawan. Kedua, pria di depanku ini bertingkah tidak apa dengan wajah penuh lukanya.
Dia menuntunku pelan. Ranjang yang besar itu menjadi tumpuan untuk tubuhku. Papa mendorongku sedikit lebih ke tengah sampai ia bisa ikut berbaring di pinggir ranjang. Mengalihkan arah tidurku kepadanya.
Aku tidak tahu bisa tidur atau tidak di keadaan seperti ini.
__ADS_1
Sepertinya gerakan di bagian belakang ranjangku adalah gerakan Fares. Kepanikan di dalam diri mengusikku sampai akhirnya aku menatap sosok itu. Ia sudah duduk di sisi ranjang di belakangku yang masih luang.
Ya, dialah yang jadi pusat khawatirku kali ini.
“Mereka… tidak akan macam-macam?” Fares tampak waspada.
“Karena ada Rasyi, dia pasti senang. Tidak ada yang mungkin nekat ganggu,” Papa membalas tatapan Fares.
“Iya sih,” Fares berpikir sejenak, “Dia tertawa terus dari tadi.”
“Cukup mikirnya. Kamu juga cepat tidur.”
“Iya.”
Fares menjatuhkan diri di sandaran ranjang dengan posisi masih duduk. Lelahnya sangat terpancar di putih kulit wajahnya.
Coklat mata Fares bertemu lirikanku. Senyum tawarnya sangat pedih untuk dilihat, “Rasyi tidur duluan saja.”
Rizki mengelus kepalaku lembut seakan mengajakku untuk tidur seperti yang Fares katakan.
Ego-ku tidak bisa menerimanya setenang itu.
Memutar arah tidurku lurus mengikuti ranjang. Tangan kiriku mengarah kepada Fares yang masih mempertahankan posisi duduknya di samping ranjang.
Harapanku sesuai dengan apa yang dia tangkap dengan senyum yang lebih manis. Dia mengulurkan tangan kanannya dan menggandengku. Perilaku kecil yang sepele ini bisa menenangkan jantungku walau hanya sementara.
“Jangan pikirkan itu. Tutup matanya,” bisik menenangkan keluar dari Rizki yang mengelus pipi atasku.
Rizki menyangga kepalanya dengan tekukan tangan kirinya di atas kepalaku. Wajahnya yang lebih tinggi dari permukaan ranjang, dibiarkan memiring ke arahku.
Dekapannya yang kusambut dengan kepala yang menghadapnya. Tangan kananku yang bersembunyi di antara tubuhku dan tubuh Rizki.
Iya kan?
Siapa yang tahu, mungkin semuanya bisa saja malah berubah baik bila nanti aku membuka mata.
(“Rasyi…,”)
Haha, tentu saja itu tidak akan terjadi. Aku tahu itu.
(“Cepat kabur.”)
Kabur apanya? Papa dan aku harus menyelesaikan ini.
(“Lari sekarang.”)
Kamu yang seharusnya lari. Ini bukan urusanmu. Tidak seharusnya kamu ada di sini.
(“Iya, Rasyiqa. Cepat lari.”)
Berisik! Aku bisa mengurus ini! Diriku tahu betul kalau aku mampu. Meskipun mereka terlanjur ikut campur, apapun bisa kulakukan untuk melindungi mereka. Petaka itu tidak akan terjadi lagi!
(“Gak mungkin, Rasyiqa~”)
Itu semua mungkin! Rizki saja bilang begitu!
Semuanya bisa aku lakukan!
Semuanya pasti bisa aku selesaikan!
Semuanya harus bisa aku selamatkan!
__ADS_1
Aku bisa⏤
(“Rasyi, pergi… sekarang.”)
(DOR!)
“AAAA!!” jantungku… sakit.
“Rasyi?” wajah penuh kekhawatiran itu.
Langsung aku memeluk pria pemilik mata yang menenangkan itu. Kehitamannya sungguh bisa menenggelamkan aku dalam laut yang tenang dan penuh warna.
Eh? Apa yang terjadi? Tadi itu mimpi kah?
Jarakku dengan papa kurenggangkan setelah beberapa saat memeluknya. Memproses kembali apa yang sebelumnya terjadi sebelum kehilangan kesadaranku.
“Rasyi kenapa, hmm? Mimpi buruk?” papa memegang bahuku dengan wajah yang lebih dekat mengamatiku.
Kulihat sekitar. Benar juga. Fares dan aku baru saja dibawa pergi oleh Hari dan bertemu papa di sini.
Cahaya sudah menembus jendela dengan cerahnya.
Aku mengangguk pelan teringat dengan pertanyaan papa.
Tunggu, “Kak Fares mana?”
Pandangan Rizki… menyembunyikan sesuatu. Jangan bilang, aku mohon….
Langsung aku berdiri dari ranjang itu. Menginjakkan kaki ke lantai dan memakai flat shoes-ku dengan cepat. Harus aku susul!
“Rasyi, tunggu!” dia menahan tubuhku dalam pelukannya.
Memberontak aku ingin melepaskan diri, “Rasyi harus ke sana! Tidak boleh! Nanti Fares⏤!”
“Rasyi, diam dulu! Kita tidak bisa apa-apa! Pintu dan jendelanya, semua dikunci!” Rizki dengan tenaga seadanya masih bisa menahanku.
“Tidak boleh!!”
Dalam hidupku, aku tidak pernah merasakan kepanikan yang separah ini. Mungkin aku sudah pernah mengalami keputusasaan yang mengalir deras lewat keringat dingin. Entah bagaimana bisa aku menghadapi hal ini lagi kedua kalinya.
PRAK!
Sakit…. Kedua pipiku perih. Apakah Rizki menepuk keras keduanya sambil menahan wajahku?
“Papa tahu! Tapi kita benar-benar terjebak disini!” suara Rizki terdengar sangat pasrah tanpa tenaga, “Maaf….”
“Tapi… hik… kak Fares nanti….”
Apa tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menangis?! Tidak ada cara lain selain menghadapi kelemahanku?!
“Kakekmu tidak akan melakukan banyak. Dia tidak punya alasan untuk itu.”
“Papa bisa yakin tentang itu?!”
Beberapa saat ia terdiam. Reaksi yang tidak memuaskan. Hanya kata-kata manis untuk anak kecil.
Rizki menghela nafasnya, “Kita hanya bisa berharap.”
Dia memelukku. Selalu dia berupaya untuk menenangkanku dengan hangat tubuhnya. Miris, kehangatan yang menyejukkan itu malah merambatkan getar ketakutan dari sang papa padaku.
Ketidakberdayaan ini, sudah mengubur kami.
__ADS_1