
Wanita keras kepala ini masih ikut. Selalu saja aku dipertemukan dengan orang begini, tidak terkecuali Nisa. Orang-orang ini tidak bisa ditolak atau mereka akan bertindak bodoh.
“Aku tidak akan pergi sebelum mengobatimu.”
Merepotkan, Dia tahu aku tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya, “Tapi yang cepat.”
Sosok itu tersenyum. Diambil obat-obatan dari tas besarnya. Pasti dia siapkan itu untuk kakinya yang pincang.
Hah, tidak kusangka di saat seperti ini aku malah mengingatkan Nisa. Wanita yang selalu bertingkah manis itu sedang menungguku.
“Ayo kita duduk disana⏤”
Ke⏤kenapa dia ada disini?! Gawat.
“Ketemu,” Hari sudah mencengkram pundak si wanita. Matanya melotot, “Anak ini berani-beraninya cari teman baru.”
Dia muncul di saat yang tidak tepat, di saat aku bersama orang lain.
Jangan bilang dia bawa senjatanya. Untung untukku kalau mereka tidak tahu ada CCTV disini, tapi wanita ini…. Aku harus memikirkan sesuatu!
Nisa, bertahanlah disana.
Langsung aku buka topi jaketku, “Aku tidak akan melawan. Sekarang bisa lepaskan wanita itu?”
Hari tertawa. Dia sungguh sedang marah, “Masih saja nego. Anak bodoh,” jangan, jangan sekarang…, “Mati saja sana.”
Jangan! Tidak, aku harus menjemput Nisa dan Riza. Aku masih harus mengamankan mereka. Jangan!!
“Awas!”
Hah….
Hahaha, suara keras tembakan itu berbunyi lagi.
Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya kejadiannya tidak seperti yang aku lihat sekarang.
Aku…,
Maafkan aku.
“Bos, kita salah tembak orang.”
“Aku juga tahu, bodoh.”
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Hah, mata wanita itu sayup-sayup? Wanita ini sedang bertahan.
Sadarlah!! Ini bukan saatnya terpukul. Masih ada Nisa disana. Sedih begini tidak bisa melakukan apapun. Disini juga ada CCTV, tidak perlu khawatir.
Untuk saat ini aku harus tangani lukanya sementara.
Bertahanlah.
“Sudah, kan? Kalian bisa pergi sekarang.”
“Perlu dihajar lagi dia, bos!”
“Kurang ajar, Gading!”
Bertahanlah.
Wanita ini harus aku operasi, tapi saat ini aku hanya bisa seadanya. Tidak ada waktu.
Hubungi Hendra. Cepat.
“Ada apa ini?!”
Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu tidak peduli bagaimana caranya. Siapapun kamu, tidak akan aku lepas begitu saja.
__ADS_1
“Maafkan aku,” tolong maafkan aku.
“Iya… aku maafkan…,” suara wanita itu, bergetar.
Hah….
Kamu tidak….
Menetes lagi air mataku. Ini semua sungguh buat aku hilang kendali. Padahal aku harus berpikir secepat mungkin di keadaan seperti ini.
Sedari kecil, aku sudah kehilangan banyak orang tepat di depan mataku. Mungkin karena aku merasakan kebebasan selama delapan tahun, aku jadi tidak terbiasa lagi lihat hal begini.
Akan tetapi, aku tetap orang kurang ajar seperti dulu.
Tidak seharusnya kamu maafkan aku.
.
.
.
“Kamu apakan Sekar?!” wanita ini menahan lengan bajuku dengan amarahnya, “Kenapa Sekar sampai koma begitu, kenapa?!”
Walau dia menatapku tajam, aku tidak bisa katakan apapun.
“Dek, tenang dulu. Kami sudah berusaha, tapi pelurunya tepat di muka⏤”
“Lalu kenapa dia bisa kena tembak?! Siapa yang bikin Sekar jadi begini?!” dia melepas tangannya dan mengganti target marahnya.
Tidak perlu memaafkan aku. Aku hanya orang jahat yang memanfaatkan kalian.
Kemarahan itu akan aku terima.
Hendra dengan baju polisinya berusaha ambil alih, “Saya sudah lapor ke kepolisian sini, pagi ini mereka akan selidiki. Jadi tolong tenang dulu sambil tunggu hasilnya.”
“Kalau gitu tangkap temanmu itu! Sekar tidak mungkin bisa begini kalau tidak ketemu dengan dia!”
Pria ini ikut tidak bisa merespons. Kenyataan kalau dia juga sedang mencari kelemahan kelompok Hari, dan kenyataan kalau dia tahu aku berhubungan darah dengan mereka.
Teman laki-laki itu menahan gerak dari wanita yang sedang marah ini, “Nita! Kita semua harus terima! Keadaannya sudah begini!”
“Hik… Tidak! Sekar… hik… seharusnya aku temani kamu malam itu,” wanita itu tidak berdaya dan terus menangis di dekapan kawan-kawannya.
Nafas lega Hendra bisa dikeluarkan. Rumah sakit ini memang lebih baik tenang.
Selesai sudah masalah dengan keluarganya. Lalu masalah lain….
“Maaf, keluarga bu Sekar?” seorang dari pihak rumah sakit memasukkan dirinya di situasi yang lebih tenang ini.
Laki-laki tadi menyahuti, “Sekar yatim, kami temannya. Kenapa ya, dok?”
“Ada banyak wartawan di luar. Mereka minta izin liput kasus bu Sekar.”
“Hah? Tapi tidak ada yang publikasi ini.”
“Kami sudah tolak mereka. Tapi mereka malah protes. Katanya ada media yang sudah terbitkan tapi kok mereka tidak dibolehkan.”
Hendra langsung terkejut seperti mendapatkan sesuatu. Dia menangkap mukaku di pandangannya.
Polisi ini memang punya otak encer. Tidak heran banyak yang percaya dengannya. Sekejap saja dia sudah tahu kalau aku yang melakukannya.
Aku berputar. Kutepuk pundak Hendra, “Tolong urus sisanya yang disini.”
“Rizki⏤”
“Nisa dan Riza menungguku,” aku menaikkan pundakku, “Dengan kasus ini, kelompok gila itu tidak bisa macam-macam.”
Suara keras terdengar di kepalan tangan Hendra. Mukanya menggambarkan kalau dia tahu. Kita harus berterima kasih pada kasus ini karena bisa mendesak Hari dan kelompoknya. Pada akhirnya Nisa dan Riza bisa lepas dari mereka.
Aku tersenyum kecil sambil melangkah pergi.
Mau bagaimana lagi? Dari kecil aku sudah dibesarkan oleh monster. Otakku sudah jahat dari dulu.
__ADS_1
Tolong tetaplah di keadaan koma seperti sekarang, Sekar. Biarkan aku manfaatkan hal ini dulu untuk sementara. Ini bisa bawakan aman ke aku dan keluargaku.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Hik…, ah hah hik…,” tarikan nafas tak teratur dari suara wanita yang paling dekat dengan hidupku.
Ruang kosong yang sudah ditinggalkan. Tidak ada yang tersisa dari tanda barang keseharian mereka, kecuali kedua orang yang aku kenal itu.
Lantai dingin yang kotor itu diduduki tanpa alas. Nisa memeluk Riza yang tertidur. Dia menangis.
“Nisa,” aku mendekatinya.
Wajah yang aku harap cerah itu malah kacau. Menekan dadaku tepat ke rasa sakit. Tidak pernah aku merasakannya sebesar ini. Parahnya aku yakin aku akan mendengarkan hal yang lebih menyakitkan.
“Gading…, Riza. Riza,” air matanya semakin deras, “Dia tidak bergerak.”
Riza.
Tidak.
Riza, jangan.
Kenapa?
Seharusnya semua lebih baik. Bahkan aku sudah bisa dapat solusi lebih baik. Aku sudah menekan mereka dengan media.
Flashdisk ini juga masih ada untuk jadi rencana cadangan.
Mereka sudah tidak mungkin sembarangan bergerak. Hari tidak mungkin ambil resiko untuk menciptakan kasus kriminal baru.
Tidak. Ini terlalu naif. Kenapa kalau aku menekan mereka? Langkahmu memang terlambat dari awal. Ini juga tidak akan bertahan lama, seperti sebelumnya. Wanita bernama Sekar ini tidak akan koma selamanya.
Semua ini tidak cukup. Aku harus cari jalan lain, yang lebih stabil dan pasti.
.
.
.
“Hebat sekali. Dengan penemuan anda, kita bisa sembuhkan banyak orang.”
Tempat perlindungan. Dana harus bukan jadi halangan.
.
.
.
“Saya tidak bisa membayangkan berapa nyawa akan selamat dengan penemuan anda. Luar biasa.”
Nama, aku harus punya nama lebih tinggi. Setidaknya cukup untuk menopang kepercayaan pihak yang aku butuhkan.
.
.
.
“Operasinya berhasil?! Tidak bisa dipercaya.”
“Dia bisa menyelamatkan pasien itu. Kalau begini kita tidak perlu khawatir kalau ada penyakit yang sama.”
“Dokter memang jenius!”
Apapun aku lakukan. Walau aku harus melanggar hukum atau mengambil nyawa orang. Semuanya akan aku manfaatkan dengan baik. Semua kelemahan Hari harus aku gali, kugenggam.
Lagi pula aku memang orang jahat dari awal.
.
.
__ADS_1
.
Tenang, Nisa, tidak akan ada ‘Riza’ kedua nantinya.