
Masih aku ingat jelas.
Wanita itu bersama tubuh lemahnya. Buku itu dia rawat dengan baik. Ia gambar dan gunting. Lembut dan hangat.
Cerita yang dia racik. Menceritakan tentang kelahiran putri ini. Layaknya yang wanita itu kandung. Seharusnya itu berakhir bahagia. Tapi seakan takdir tidak izinkan keduanya selamat.
Buku buatan wanita itu berakhir di sebulan lebih awal dari yang seharusnya.
Putri ini.
Ia disambut.
Disambut dunia.
Putri ini lahir.
Serasa tidak akrab. Akan tetapi, secara bersamaan….
Tidak tahu sejak kapan aku lekat dengan putri ini. Rasanya itu terjadi sejak dulu sekali.
(“Ayo, biar aku antar kamu balik.”)
Lelaki ini selalu saja datang. Sampai dua bulan aku di rumah sakit. Aku tidak ingat ada perubahan.
Putri ini? Ia tidak pernah bertatap muka denganku sekalipun. Orang ini dan keluarganya dengan sukarela mengasuhnya. Hal yang bagus bagiku di saat itu.
Karena tujuanku adalah buat dia aman dari aku.
Aku tidak punya niat sedikitpun untuk melihat wajahnya. Cukup hanya dengan penuhi kebutuhannya, Berikan dia rumah dan penjagaan yang aman. Semua dikerahkan untuk buat dia nyaman dan tanpa kekurangan.
Itu semua aku lakukan di jarak kami. Jarangnya aku di rumah yang aku sembahkan padanya, pasti untuk hindari dia. Hendra aku manfaatkan sebagai perantara, saat aku di dalam rumah sakit maupun sudah keluar dari sana.
Seharusnya seperti itu….
Tidak ingat kapan aku menangkap mata hitam itu.
(“Naeemma aaa! Emmu eppa?”)
Pfht. Saat aku coba ingat lagi, aku bisa tertawa seharian. Aku yakin saat itu dia tersesat di ruanganku. Dia sudah banyak tingkah walau cuma bisa merangkak.
Waktu itu tangisannya keluar dari mata yang mirip dengan wanita ini. Tentu saja aku akan menggendongnya.
Namun, itu langkah yang salah. Tujuanku adalah membuatnya aman. Bukan bawa dia masuk ke kehidupanku. Putri ini harus aman.
(PRAK!)
Lemparan mainan itu…. Mana mungkin dia marah karena aku mau kirim dia ke panti asuhan.
Seharusnya tidak begitu.
(“Iii uen uu eppa~”)
Kalau putri ini marah, dia tidak mungkin kembali dan kasih aku bunga. Dia tidak mungkin memanggilku…⏤
(“Pappa!”)
Iya. Itu. Dia tidak mungkin panggil aku itu kalau dia benci padaku.
Dia tidak membenciku. Walau aku yang buang dia. Itulah yang aku sadari saat aku peluk tubuh mungil itu.
Padahal aku.
Padahal aku yang membutuhkannya.
Namun, aku sudah mengecewakan.
Sosok kecil itu seharusnya aku jaga, bukannya bersenang-senang, sampai kehabisan waktu.
(“Gading~! Anakku apa kabar?! Kamu tidak lupa ayah kan~?”)
Monster itu tidak akan menelpon kalau aku tidak berleha-leha.
__ADS_1
(“Cabut semua telepon rumah.”)
(“Untuk apa tu—”)
(“Sekarang!”)
Terlambat. Jaringan yang dicabut tidak akan perbaiki apa yang aku lalaikan.
Wajah mungil yang kebingungan itu bisa saja merasakan ketakutan.
Pastinya aku harus menghabisi monster itu. Memutar otak berbulan-bulan. Berburu yang bisa menjadi umpan.
Satu minggu. Panjangnya hari aku meninggalkan putri mungil ini. Dengan kumpulan foto yang sepele. Yang jadi petunjuk untuk tahap selanjutnya.
(DOR!)
(“Baiklah. Aku akan kerja sama, turunkan senjata itu.”)
Aku tidak mau peduli lagi. Cara apapun. Mau cara baik atau bekerja sama dengan penjahat ini. Semua harus bisa untuk memberatkan monster itu di sisi hukum. Tingkah monster itu harus cepat diselesaikan.
Bukan masalah.
Dipenjara seumur hidup tidak masalah. Aku bisa menekankan kalimat ‘jangan khawatir’. Putri kecil ini tidak perlu risau akan apapun. Ia tidak perlu dikekang layaknya masa kecilku.
Putri ini aman.
Seharusnya begitu.
(“Oh, Rasyiqa sama aku.”)
(“Rasyiqa cuma makan malam sama aku kok di cafe.”)
Dia….
Panggilan dari monster itu….
(“Aku kan mau main-main dengan Rasyiqa juga.”)
Kebodohan ini.
Ia membawaku percaya kalau pihak yang aku kendalikan membantu sepenuhnya. Aku terlambat sadar, pihak itulah masalah bagaimana dia bisa lepas dari penjara. Bukan. Pihak ini yang menggantikan monster gila itu di penjara selama dua tahun.
Putri ini menangis ketakutan karena kebodohanku. Ia pulang dalam keadaan penuh luka. Ketakutan tak terbendung.
Aku yang membutuhkannya.
Aku juga yang merusak senyumnya.
Namun putri ini….
(“Tolong jangan buang Rasyi….”)
Matanya yang masih bingung. Jelas-jelas dia sedang takut saat itu.
Padahal aku membutuhkannya.
Ternyata, aku memperlakukan putri ini layaknya barang. Ia sudah masuk ke kehidupanku tanpa tahu apapun. Seenaknya aku mengatur kehidupannya.
Aku sangat yakin dia membenciku.
Ketakutannya yang tertahan. Dibelenggu dalam dunia kecil yang disebut rumah. Senyumnya hanya sebagai penutup kebenciannya padaku.
24 jam sehari rasanya tidak cukup untuk mencari cara melenyapkan ketakutannya.
Sampai akhirnya putri ini tumbuh. Aku masih saja tidak belajar dari kebodohanku.
Hahaha, kemah apanya? Jurit sialan!
(“Aku sudah percayakan ke kamu!! Kamu sudah sanggupi! Apa maksudnya ini!!”)
(“Rizki tenang dulu!”)
__ADS_1
(“Maaf paman, ini salahku.”)
Padahal aku tahu itu bukan salah anak ini. Lelaki yang sudah dianggap kakak oleh putri kecil ini sudah berusaha.
Ini semua salahku. Lagi-lagi aku lakukan hal bodoh.
Bayangkan seberapa eratnya ia terbelenggu. Semakin erat dan erat. Mata itu sempat hilang cahayanya setelah satu minggu hilang.
Tekanan yang putri ini rasakan hari demi hari. Rasanya memberatkanku pelan-pelan.
Meski aku melepas masa laluku dengan mulutku sendiri, tidak mungkin putri ini langsung memakluminya. Ia pasti sudah sangat marah.
Ha ha, bahkan dia memanggilku 'kamu'.
Namun sekarang….
(“Nanti deh Rasyi paksa papa kencan ke Mall. Hihihi….”)
Ia mengatakannya dengan mata yang bersinar. Seakan aku sudah dimaafkan.
Bukan.
.
.
.
Seakan dia tidak pernah sekalipun membenciku.
Angin ini mengganggu. Kalau saja ada tempat terbuka selain balkon RS.
Tepukan tangan di pundakku. Siapa?
“Rizki,” oh, dia ternyata.
Malas sekali aku ladeni orang ini. Tanganku masih melipat di pagar balkon. Aku membungkuk. Sembunyikan mukaku.
“Kamu nangis, ya?”
Badanku tegak. Ditahan setengah mukaku dengan satu tangan.
Teman yang satu tahun lebih tua itu sambut aku di samping aku berdiri. Alisnya terangkat di tengah.
Dia pasti khawatir karena aku tiba-tiba bertingkah aneh. Orang ini selalu sensitif dengan pergerakanku. Lebih-lebih, baru saja aku meminta Sari dan Ira ajak Rasyi bersenang-senang sedikit. Aku yang langsung keluar setelah itu memang aneh.
“Aku tidak pernah paham apa yang bisa bikin kamu terharu.”
Terharu ya? Kurasa aku memang tidak tahan untuk menangis saat mendengar kata itu dari putri ini. Dia, mengerti semua keburukanku dan menerimanya. Seperti wanita itu….
“Rasyi itu. Kamu terharu karena itu kah?”
“Begitukah?” aku merapikan rambutku yang tertiup angin.
“Aku tidak sangka kalau dia bisa tegar begitu. Mungkin itu yang bikin dia mirip sama Nisa.”
“Hmm,” kami sepemikiran ternyata.
Mereka memang berbeda tapi sama di saat yang bersamaan. Rasyi memang punya muka dariku, tapi kepribadiannya tidak beda jauh dengan Nisa. Aku bersyukur dia sekeras kepala Nisa. Kalau tidak, mungkin saja aku sudah hilang?
“Hehehe…,” wow, dia mengejekku sekarang? “Aku tidak pernah tuh lihat kamu seluwes ini.”
Kalau kau melihatnya dari sudut itu…, “Yah.”
Perasaan ini memang bisa disebut perubahan.
Bagaimana ya? Aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar. Tidak pernah aku merasakan suasana seperti ini. Sampai rasanya sangat aneh. Memang rasanya pundakku bisa menurun, seperti yang Hendra lihat.
Hembusan angin biasanya tidak pernah aku pedulikan. Tetapi sekarang sangat terasa di kulitku.
Nyaman dan aneh.
__ADS_1