Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#33 Menjauh dari Zona Nyaman


__ADS_3

“Kamu Rasyiqa kan? Salam kenal ya.”


“Kabarnya gimana? Katanya kamu sempat sakit kemarin.”


“Iya, ya sampai empat hari. Gak ada masalah kan?”


Kenapa para preman-preman sekolah ini mengeromboli aku? Sebaik apapun wajah dan sikap kalian, aku tahu niat kalian lain. Apaan sampai tanya-tanya masalahku? Heh! Pernah dengar yang namanya privasi?!


Beraksi lagi senyuman manisku, “Kabarku baik kok, kak~ Gimana ujian kakak tadi?”


“Lancar dong~”


“Kalau ada masalah belajar, Rasyiqa bisa kok minta tolong kakak-kakak.”


Duh, maaf banget nih. Papaku yang sudah 46 tahun itu lebih tampan dan lebih pintar daripada gabungan kalian semua. Terima kasih atas tawarannya.


Mereka ini sudah punya penyakit jomblo akut ya? Jangan-jangan kalian galau seperti Sekar yang ditinggal kawin gebetannya? Belum juga tujuh belas tahun, tingkahnya kayak buaya lansia!


Oh, dan tolong jangan berkumpul di depanku seperti itu. Walaupun aku sudah terbiasa, aku masih saja pasien Agoraphobia*!


“Permisi kak,” sebuah tangan meraihku. Ia menarikku dari gerombolan cowok-cowok tak tahu umur itu.


Harun?!


“Kami ada diskusi kelas sebentar lagi. Kami duluan,” Wah. Tutur kata sopannya tidak sesuai dengan senyum mengerikannya.


Duh. Terkadang Harun ini bisa jadi sasaran empuk untuk dibenci. Mudah sekali untuk mengerti Harun yang tingkahnya sopan tapi ternyata sebenarnya mengejek. Harus segera aku redakan sebelum mulai memanas.


“Terima kasih kak sudah temani aku. Kami balik ke kelas duluan ya kak~” aku buat berkali-kali lipat akting dengan senyuman manisku.


“Yo! Ketemu lagi nanti.”


Iya~ Semoga kita TIDAK akan pernah saling bertemu lagi di sekolah yang jumbo ini.


Hah. Murid-murid mungkin sedang mau melepas stress akibat perang dengan soal satu minggu ini. Semua orang ingin sekali melupakan sejenak tentang sekolah dan nilai ujian akhir semester yang akan datang ke depannya. Tentu, sebelum mereka disiksa lagi oleh program remedi nilai minggu depan.


“Maaf ya, aku telat. Kamu jadi digangguin orang-orang tidak jelas begitu,” Harun masih menarikku berusaha menuruni tangga.


Bukannya kau terlalu kejam pada kakak kelasmu sendiri?


Kamu juga salah untuk menyuruhku menunggu di kelas ujian sendirian. Aku kan bisa ikut teman sekelas yang lain. Mau bagaimana lagi kalau kelas ujian kita dipindah ke kelas lain dan digabung setengahnya dengan kakak kelas?


Namun karena aku sudah lelah setelah ujian terakhir, aku tidak akan protes-protes lagi.


“Rasyi sudah izin dengan paman kalau pulangnya lebih lama kan?” kamu memperhatikan aku sampai ke dalam-dalam ya~

__ADS_1


Aku menjawab, “Sudah. Grupnya sudah aku baca sejak kemarin kok.”


Bincang basa-basi kami menghabiskan waktu. Pepohonan yang ramai menemani kami berlindung dari matahari. Sampai kami memasuki kelas tercinta.


Kondusif untuk berdiskusi sudah terasa. Yah, kami terlambat ya?


“Rasyi~ Baru sampai?” Loh Jagad?


Dia mengikuti langkah kami memasuki kelas, “Iya nih. Aku terjebak kemacetan,” aku hanya tertawa kecil.


Kami sampai di tempat duduk kami. Sementara Jagad mengambil kursi kosong dan duduk di jalan sampingku.


“Ini dia yang bantu mengatur izin tempat sama izin dari sekolah, ” ketua kelas yang memimpin rapat menyadari kedatangan kami, “Kak Jagad~”


Jagad yang baru saja duduk, mengembangkan senyumnya. Dia memberi jari telunjuk dan jari tengah bersamaan. Sorakan dan tepuk tangan gembira mengembang dari seluruh kelas.


“Nah yang jadi masalah sekarang…,” ketua kelas itu menatap ke arahku.


Duh. Tolong jangan lihat-lihat begitu.


Jagad kembali menatap ke arahku, “Om Rizki belum mau ya?”


Mmm… sebenarnya masalah berkemah itu….


“Rasyi itu bukan anak kecil. Dia kan yang mau ikut,” Jagad membalas.


Firna menyuarakan hati sekelas, “Tapi kalau Rasyi sampai tidak dibolehkan, kami juga tidak bisa apa-apa.” 


Sebenarnya setelah hari itu, aku tidak berusaha untuk bertanya lagi. Aku sudah bilang padanya kalau aku akan berusaha meminta mereka mengganti rencana. Tanpa aku sadari, rencananya malah semakin matang bahkan guru tinggal ikut saja.


“Begini saja deh,” Jagad seperti punya sesuatu di angannya.


Apa?


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Suasana ini tidak bisa aku jelaskan sama sekali. Gado-gado saja bisa kalah campur aduknya daripada ini.


Kursi makan kantin yang sudah sepi. Satu sisi sudah dipenuhi dengan anak-anak kelas yang berebut kursi. Aku sudah mengambil duduk di seberang mereka. Di sisi belakang mereka, aku bisa lihat satuan cewek penggosip. Berbisik-bisik dengan mata yang tidak bisa beralih dari wajah orang di sampingku.


Papa, aku tahu kamu pasti tidak nyaman ditatap banyak anak SMP begitu. Namun, jangan menatapiku balik juga dong. Rasyi juga tidak paham kenapa bisa jadi begini.


“Makasih, om, sudah mau kami ajak ngomong,” Jagad yang duduk tepat di seberang Rizki meletakkan lembaran brosur di atas meja, “Ini tempat yang mau kami datangi buat camping.”


Alis Rizki terangkat. Hah. Dia pasti merasakan ada keanehan sekarang karena aku tidak pernah membahasnya lagi.

__ADS_1


Jagad terlihat percaya diri, “Kami juga sudah ada tiga guru yang akan ikut. Aku sendiri juga bakal ikut, om. Masalah lokasi, sekolah juga sering pakai. Jadi untuk camping tiga hari dua malam tidak akan jadi masalah untuk Rasyi.”


Rizki menghela nafasnya. Entah bagaimana sepertinya dia sudah paham situasinya.


Wajah Rizki terlihat enggan, “Aku tidak bisa izinkan Rasyi.”


Ah. Sudah aku duga dia akan semakin marah dengan pertemuan dadakan yang ramai begini.


“Tapi om,” Jagad masih saja berkeras, “Aku juga ikut, kami juga pasti jagain Rasyi.”


Rizki tampak tidak mau tahu lagi, “Maaf, tapi aku tidak bisa percaya. Kalian semua juga masih kecil.”


Jagad terlihat kesal, “Tapi, Om⏤”


“Sudahlah, Jagad,” Harun berusaha menghentikannya, “Tidak baik buat Rasyi jauh dari rumah berhari-hari.”


“Tidak bisa dong!” Jagad semakin mengegas, “Rasyi mau mencoba untuk berani. Masa om mau menghalangi terus?!”


Rizki menatapiku. Memang tidak hanya karena aku suka berkemar sejak masih jadi Sekar, tapi aku juga mau mencoba. Tidak mau aku menghindarinya lagi.


“Iya, pa. Rasyi mau coba berkemah,” aku putar poros tubuhku menghadap dia, “Kelihatannya memang Rasyi maksa, tapi Rasyi memang niat hadapi ketakutannya Rasyi kok.”


Kugenggam tangan kanannya yang masih saja terasa lembut itu. Menggenggam erat harapan agar dia mendengarkanku kali ini juga. Terus berharap kalau dia percaya aku tidak ingin mundur lagi.


“Please…, biarkan Rasyi coba dulu. Please~” aku peluk genggaman tangan kami menunjukkan sebesar itu aku ingin.


“Gak ada yang bakal terjadi kok, om. Aku yang jamin.” Jagad ikut bersemangat.


“Iya, om. Kami yang jagain Rasyi.”


“Please, om~”


Teman-teman sekelasku dengan mengharukannya ikut memohon. Rizki terdiam sejenak. Dia memegangi kepalanya tampak tidak habis pikir. Berhasil kah kami mengambil hatinya?


“Baiklah,” Rizki tampak kesal tak berdaya.


Aku mengembangkan senyum senang. Satu kelas tampak puas dengan usaha mereka, khususnya Jagad.


“Tapi,” Rizki mengangkat jari kirinya memecahkan kesenangan kami, “Ada beberapa highlight.”


^^^Mengingatkan~^^^


*Agoraphobia :


Ketakutan berlebihan pada suatu tempat maupun kondisi. Biasanya membutuhkan teman atau kerabat untuk menemaninya di tempat umum.

__ADS_1


__ADS_2