
“Uno!” orang-orang ini dengan santainya memainkan kartu sambil menyantap makan malam.
Meja penuh akan berbagai macam hal. Kursi untuk berbagai macam kebutuhan. Dianggap layaknya rumah sendiri dan menarik pandangan orang-orang. Keributannya bahkan menutupi teriakan penumpang Drop Tower yang tepat di depan cafe.
Namun, yang dipertanyakan, kenapa aku ada disini?
“Rasyiqa tidak suka es krim?” seorang pria yang duduk di sampingku memulai percakapan.
Terdiam aku di salah satu kursi cafe. Di depanku sudah disediakan semangkuk besar ice cream berbagai rasa, lengkap dengan berbagai macam toping coklat. Apa dia berniat membayar crepes-ku yang dengan kurang ajar habis ditelan teman-temannya kah?
No, thanks. “Gigi Rasyi lubang. Tidak boleh makan manis.”
“Oh, Gitu?” dia mendorong mangkuk besar itu ke arah teman-temannya, “Maaf ya, Kakek tidak tahu.”
Kamu mau menipu siapa sih? Dengan muka begitu, Sekar bisa saja disangka ibumu. Bagaimana kalau kamu tunjukkan sopan santun pada orang yang lebih tua ini? Aku sudah berumur tiga puluh tahun!
Seandainya ada cara menyampaikannya tanpa dikira gila.
“Mau coba ini?” satu orang yang duduk di sampingku mengulurkan sebatang... rokok?!
Hah? Kamu gila?! Mau membunuhku atau apa?!
Jawaban anak baik mungkin… “Tidak boleh merokok! Rasyi pernah baca di buku, katanya rokok itu buat paru-paru sakit. Nanti mati loh.”
Wajahnya tampak tidak menerima. Iya, kamu bisa mati! Makanya dengerkan!
“Phht!” suara pria itu⏤ “Hahahaha!!”
Kenapa? Kenapa?!
Pria ini menenangkan diri dari tawanya, “Umur Rasyiqa berapa?”
Tiba-tiba tertawa dan menanyakan hal acak. Dia tidak jadi gila kan? “Lima.”
Dia sejenak berpikir. Lalu ia mengulurkan buku menu, “Es krim tadi, Sunday Rainbow Coklat Deep. Harganya berapa?”
Pertanyakan acak apa lagi ini? Kamu menekankan kalau kamu membayar mahal untuk ice cream itu dan dengan anak bodoh ini tidak memakan itu?
Memang harganya berapa sih? “56 ribu rupiah…,” mahal!
Jangan bilang dia membelikan banyak hal supaya aku membayarnya balik dengan berkali-kali lipat bunga pinjaman! Tidak kan?!
Namun, dia tidak mungkin berbohong tentang mengenalku. Faktanya dia tahu namaku. Kalau begitu bagaimana kalau aku minta dia bantu aku mencari Rizki dan kawan-kawan? Ya, setidaknya mengantarkan aku ke pusat informasi.
Bagaimana aku memanggilnya? “Em…” langsung saja deh, “Anu, Rasyi mau ke papa.”
Terdiam ia sesaat. Entah kenapa aku bisa merasakan hawa dingin darinya. Senyum itu kembali mengambil alih, “Rasyiqa tidak mau main sama kakek?”
Hmmm…. Bagaimana aku mengatakannya ya? Kita baru saja bertemu. Aku juga tahunya papa dan mama itu yatim piatu. Rasyiqa yang pintar ini tidak mungkin bisa percaya kalau kau kakekku.
Mungkin kubujuk sedikit, “Tapi Rasyiqa mau main sama papa juga.”
Pandanganku terhadap senyumnya berubah sedikit demi sedikit menjadi mengerikan. Tangannya cepat menepuk kepalaku⏤aw sakit! Dia menepuk atau memukul sih?!
“Baru juga sebentar. Masa sudah mau pulang?” ia merendahkan wajahnya sampai garis mataku, “Temani kakek sampai selesai makan dulu.”
Apa-apaan? Suasana apa ini? Kenapa tubuhku menggigil? Tatapannya seperti akan memakanku kapan saja.
__ADS_1
Benar, itu bukan salah alarm. Gemetar saat aku bertemu dengannya benar karena takut. Mereka bukan sekedar orang-orang bandel seperti penampilan mereka, tapi mereka berbahaya.
Jangan takut! Banyak orang di sekitar sini. Aku harus pergi dari orang-orang ini, siapapun mereka.
“Tidak mau!” berteriak aku sampai menghentikan gerakan mereka. Kuturuni kursiku, “Rasyi mau ke⏤Aaa!” Sebuah genggaman menarikku kembali.
Bisa kulihat ia memandangku tajam, “Rasyiqa mau kemana?” senyumnya masih saja ada tapi….
Tubuhku bergetar hebat, “Ra… Rasyi…,” genggamannya kembali mengerat, “Aaa!”
“Kemana?” ia mengeratkan lagi genggamannya.
Sakit, tanganku terasa akan patah. Air mataku tanpa terkendali, tapi suaraku tertahan. Entah karena sakit atau karena wajahnya yang tak terjelaskan menakutkannya. Otakku tak bisa berputar selain membuang wajah.
Genggaman itu ia lepas. Telapak tangannya yang lebar menekan kedua pipiku. Memaksa wajahku untuk menghadap ke arahnya. Senyuman itu bisa jadi terbawa sampai ke mimpi burukku. Bahkan sakit di wajahku tak mampu menghapusnya.
“Rasyiqa mau main dengan kakek kan?” suaranya yang membisik sangat dekat sampai detak jantungku tak lagi beraturan, “Iya kan?”
Nafasku terengah-engah. Aku tidak bisa merasakan seluruh tubuhku selain gemetaran yang menyambar. Harapan ia melepaskan tangannya dengan menganggukkan apa yang diminta.
Dia tersenyum normal, “Makasih Rasyiqa,” dilepaskannya genggaman di wajahku dan langsung menepuk lagi kepalaku keras.
Tanganku yang lain kembali ditarik. Mengangkat tubuhku dan sampai di pangkuannya. Pelukan dan genggamannya di pundakku terasa sangat nyeri.
Berubahnya suasana sekitar menyadarkanku. Lemparan pengawasan dari teman-temannya membakar mataku. Seakan memberikan aku peringatan untuk tidak macam-macam.
Hah… nafasku. Aku sulit bernafas.
“Bang!” suara satu orang di sisi kiri depanku.
Uluran tangan sang pria tampak mengambil ponsel lawas yang sudah jarang digunakan. Entah apa yang dilakukannya dengan ponsel itu di belakangku. Namun, ia tidak sedikitpun merenggangkan genggaman di pundakku.
Bicara dengan siapa dia?
“Duh~ Rasyiqa cuma makan malam sama aku kok di cafe. Aku tidak tahu apa nama cafe-nya,” ia tertawa kecil, “Iya, iya~ Aku kan mau main-main dengan Rasyiqa juga. Ya sudah, dah~”
Aku bisa melihat sekilas semua orang di sekitarku mengheningkan meski dari tadi ribut. Sebaliknya, aku bisa merasakan es tepat di tengkuk leherku. Rasanya semakin dingin mengikuti hari yang semakin malam.
Pria ini beralih memainkan rambutku, “Rasyiqa mirip dengan Nisa ya,”
Dia… kenal mama?
“Jadi ingat,” pria itu memperlihatkan wajahnya di kiriku. Seakan ingin membisikkan sesuatu, “dia pernah rela dipukuli biar ketemu papamu.”
Hah?
“Anak-anak sampai semangat. Untung dia tidak mati,” dia masih memainkan rambutku, “Dia keras kepala sih. Istriku juga begitu. Sayang dia begitu sampai mati.”
Lagi-lagi bergetar hebat. Embusannya terasa panas. Mataku yang terpaku lurus ke depan tergoyang saat wajahku kembali dipaksa memandangnya.
“Rasyiqa tidak keras kepala begitu kan?” wajah itu kembali lagi.
Berlanjutnya tangisku tertahan, tapi tidak dengan mati rasa yang menutupi kerja seluruh tubuhku. Satu hal muncul di otakku yang masih saja terhambat. Tokoh yang kami takuti. Tokoh yang disebut sebagai ‘dia’. Tokoh yang seharusnya ada di balik jeruji.
Ia menggenggam lagi bahuku kuat, “Jadi anak baik dan tunggu disini ya.”
Pria itu berdiri dan menurunkanku duduk di kursi sendiri. Ia pergi dengan membawa teman-temannya. Suara tapak menghilang tertutup oleh suara keramaian.
__ADS_1
Tetesan air mataku mulai mengalir. Kugigit bibir bawahku menahannya meski tak begitu membantu.
“Dek? Kamu tidak papa?” kakak pelayan? “Kenapa dek?” dia mengulurkan tangan.
Aku langsung menjauh sampai terjatuh dari kursi. Jangan mendekat....
“Kenapa?”
“Nih anak sama preman-preman itu kan?”
“Dia diapakan sama mereka?”
“Pasti dipukuli tuh.”
“Kamu tidak papa, dek?”
“Takut ya?”
Diam! Ini bukan urusan kalian! Kalian hanya orang asing!
“Aaaa!”
“Nak? Mana orang tuamu?”
“Kasian.”
“Yeee!”
Mataku… kabur. Telingaku berdengung. Ramai, terlalu ramai! Kumohon, diam!!
“Waa!”
Prok! Prok!
Tap tap tap!
“Kyaaaa!”
“Dek, jangan nangis.”
“Kenapa dia?”
“Hahaha!”
“Waaah!”
“AAAA!”
Dor! Dor!
Hentikan! Diam! DIAM!!
“Rasyi!” ah… telingaku… bisa menangkap suara yang familiar.
Seketika pelukan hangat menimpaku. Aku bisa melihat seseorang yang memeluk itu. Tetesan air mata mulai deras lagi meluncur tak terkendali.
Kubalas pelukannya. Merasakan kerinduan yang luar biasa dengan bau tubuhnya, “Haaaaaa!!”
__ADS_1
Papa, aku takut.