
Seharusnya ini jadi pelarian yang indah.
“Rusa-nya capek!”
“Iya, makanya dikasih makan dulu.”
Seharusnya kami sudah dibebaskan. Tiga tahun usaha kami mencari jalan kabur, sembilan tahun lebih tak ada yang janggal, seharusnya semuanya sudah tidak apa. Seharusnya kami sudah tidak bertemu lagi dengan pria ini.
Tanganku mengepal. Padahal aku sudah berusaha keras sampai saat ini.
“Anakmu manis sekali ya, Gading~ Sekarang aku sudah jadi kakek~” pria kurang ajar itu menatap ke arah Nisa, “Ayah kaget loh waktu kamu pilih dia jadi istrimu. Ayah kok tidak diundang di nikahan kalian sih?”
Itu karena inti dari semua ini adalah hidup menjauh dari dia.
“Nah, Riza, kakek pulang dulu ya~”
Aku tarik Riza menjauh dari pangkuan ayah gila itu. Kugendong walau sepertinya Riza mulai suka dengan akting Hari. Dia hanya tersenyum licik. Senyum yang paling aku benci.
“Dadah, Riza~”
“Dadah~” Riza dengan polos lambaikan tangannya.
Si ayah ini mendekati aku dan berhenti di samping telinga, “Ayah akan jemput kalian nanti.”
Kelompok penjahat yang tidak pernah tua itu melangkah keluar. Tinggal suasana mencekam yang buat jengkel. Riza masih sibuk dengan buku dongeng barunya, sementara itu tidak ada suara lain.
Ini semua pasti mimpi buruk.
Seharusnya pelarianku tidak ada yang salah. Waktu itu aku berhasil dapatkan celahnya sampai akhirnya aku bisa kabur. Celah yang sempurna.
Lalu kenapa dia ada disini sekarang? Dia tahu rumahku. Dia tahu pekerjaanku. Dia tahu keluargaku yang baru bertambah satu.
Ada yang salah. Ya, pasti ada yang aku lewatkan.
Sudah aku duga dia tidak mungkin tidak sadar. Enam kasus lebih aku membantu Hari dan diam-diam menunjukkan sedikit clue untuk pihak hukum. Dengan anonim dan tidak langsung aku membuatnya terpojok. Bertahap selama tiga tahun.
Kalau begitu, kesalahannya ada di kasus mana?
Pembobolan itu? Tidak, itu memang kesalahan mereka sampai bisa terdeteksi. Lalu pengiriman bulan Mei? Masalah itu sudah selesai dengan Hari menghukum orang yang aku pancing waktu itu.
Yang mana?
Yang mana?!
“.. ki. Rizki!”
Hah?
Belokkan pandanganku ke arah wanita ini. Dia tetap tegung dengan style yang terkadang orang bilang jelek, tapi aku tetap suka dia bagaimanapun dia berpakaian.
“Riza mau turun!” Ah, benar juga. Dia sudah tidak begitu suka digendong.
Kuturunkan Riza dan biarkan dia berlarian di ruang tengah, “Maaf, kamu ngomong apa tadi?” tanganku sentuh pipi Nisa.
Jari-jarinya membalas tanganku, “Jangan takut. Aku kan tidak kemana-mana.”
__ADS_1
Berat nafasku menerima itu, “Maafkan aku, aku seharusnya⏤”
Nisa…, dia menciumku…. Tiba-tiba?
“Maaf saja terus, aku tidak mau dengar!” dia tampak kesal, “Aku harus bilang berapa kali? Aku suka kamu, jadi aku akan buntutin sampai ke ujung dunia!”
Lagi-lagi dia mengamuk tidak jelas. Reaksiku cuma tertawa kecil seperti biasa, “Terserah kamu.”
Seharusnya aku hanya melakukannya.
.
.
.
“Cukup!!”
Seharusnya tidak ada yang salah.
“Lepaskan dia…,” tidak bisa, aku tidak bisa tahan untuk tidak menangis, “Tolong.”
Seharusnya tidak begini jadinya..
“AAAA!!”
“Lepaskan!” gerakanku dihambat oleh dua pria berbadan besar.
Cuma bisa lemas memohon di balik pintu. Sementara aku tahu siapa saja yang ada di belakangnya.
Hari keluar membawa batang kayu. Dia bersandar menahan daun pintunya yang terbuka. Muka tidak senang, “Biarkan dia masuk.”
Langsung aku berlari ke dalam. Tubuhku langsung gemetar ketakutan. Sampai akhirnya lututku menyentuh lantai di depannya. Pemandangan warna merah yang tidak pernah aku suka. Kejinya lagi, semuanya ada di permukaan kulit Nisa.
Ikatan tali yang menyiksa itu harus aku lepas. Kutuntun tubuhnya yang terduduk itu sandaran ke tubuhku. Memeluknya yang bernafas pelan. Nisa….
Seharusnya ini pelarian yang indah.
Seharusnya aku bisa tertawa terus dengan Nisa.
Seharusnya… seharusnya….
Hah? Tangan Nisa terangkat, “Nisa,” kutangkap tangannya sebelum jatuh.
“Jangan takut. Suamiku kok bisa nangis sih? Padahal dia terkenal dingin ke semua orang.”
Kenapa dia…, “Cukup bercandanya, Nisa. Lukamu banyak.”
“Gading.”
Sudah lama sekali semenjak terakhir kali dengar aku dengar dia panggil aku dengan nama itu. Nama kutukan yang diberi langsung oleh si ayah, ternyata bisa terdengar merdu bila dia sebutkan.
“Gading, aku mohon,” suara Nisa bergetar, “Kita harus selamatkan anak kita. Berjuang sedikit saja lagi. Aku tetap disini kok.”
Riza. Benar. Dia masih ada di awasan Hari. Pria itu sengaja memisahkan kita. Sebelum Hari kehilangan minatnya, aku harus bisa buat Riza aman.
__ADS_1
Harus aku perjuangan sedikit lagi.
“Nisa, maaf. Aku lupa diri,” lebih lembut dan lebih erat aku memeluk wanita itu, “Tenang, anak kita tidak akan kenapa-napa. Aku janji.”
Si Hari itu, dia hanya peduli dengan warisan saja.
Dia tidak mencariku saat kabur. Lalu sengaja ‘menyerang’ setelah aku memenuhi syarat terima warisan. Aku tidak peduli dengan warisan, tapi tidak ada yang bilang dia akan melepaskan kami setelah dia dapat hak itu.
Harus aku pakai cara seperti sebelumnya. Cari bukti untuk memberatkan lalu serahkan pada polisi untuk batasi gerak mereka. Sayangnya aku harus cari cara baru untuk mendekat karena aku sudah kehilangan kepercayaannya.
Bagaimanapun caranya, aku harus cari bukti.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Kutatap alat kecil yang berfungsi tempat simpan data ini. Walau ini dalam keamanan yang baik, seharusnya teman Hendra sudah cukup menangani ini. Aku harus cepat menemuinya.
Lanjut langkahku lebih santai, “Ah hah,” aku tarik nafas sehabis berlari.
Mau semulus apapun aku kabur, aku tidak boleh lengah lagi. Yang aku lawan adalah Hari. Dengan main-main atau serius, keduanya berbahaya. Tambah lagi Nisa dan Riza masih ada di tangan mereka.
Harusnya ada cara membawa ini dengan aman.
Di sekitar sini. Iya, kalau aku lurus ke arah sini ada daerah pertokoan. Tengah malam begini seharusnya semua sudah tutup, tapi aku ingat ada CCTV di beberapa titik.
Kalau Hari tahu, dia tidak akan macam-macam selama aku ada di daerah ini. Untung bila Hari tidak tahu, aku bisa dapat bukti tambahan.
“Aaw,” aku baru ingat kalau mukaku babak belur.
Lucu, bahkan rambutku terkena cipratan merah. Sepertinya Hari sungguh kesal aku tidak mendengarkannya. Untung dia masih ingin bermain-main, atau dia akan membunuhku dan rebut warisan itu.
Hah, di depan gedung sana ada kran air. Bilas luka saja dulu sebentar.
Suara air sangat keras. Tengah malam begini tentu airnya dingin. Lebih baik dari tidak sama sekali. Hoodie yang aku pakai harus aku buka topinya.
Kutadah air itu. Menyiramnya langsung ke muka dan rambutku. Gosok pelan, setidaknya melegakan sedikit rasa kotornya. Rambutku yang mulai panjang, cuma bisa dirapikan dengan dibawa ke belakang.
Rasanya ada yang menatapku…, sejak kapan ada orang disana?
Langsung aku tutup hoodieku di kepala. Pergi, aku harus pergi sekarang.
“Tunggu!” wanita asing itu, kenapa dia malah dekat-dekat? “Biar aku bantu obati dulu lukamu sedikit.”
“Tidak. Silahkan pergi,” kupercepat langkahku. Tidak ada gunanya membawa pihak luar.
Wanita ini, dia malahan berjalan lebih cepat. Padahal kakinya sedang pincang.
“Jangan begitu! Nanti lukanya membekas loh.”
Hah, ini akan merepotkan.
Semua ini semakin kacau.
...)()()()()()()( Pengingat dari Author )()()()()()()(...
Bagi yang sudah lupa, wanita asing itu yang muncul di chapter satu [#1 Terbawa Masalah]. Monggo di cek lagi~
__ADS_1