
“Kalung mama cantik juga ya,” memandangi benda itu sebelum memasukkannya ke dalam tas kecilku.
Bola mataku menangkap lebih detail kalung itu. Kusadari kalau kalung itu memiliki engsel layaknya pintu.
Terbuka. Engsel kalung itu membiarkan bidang di depannya bergerak dan memperlihatkan isinya. Aku menemukan kembali ruang untuk meletakkan foto.
Foto menyedihkan dari kebahagian mama dan anak pertamanya. Entah bagaimana bisa sesak rasanya saat melihatnya, meski aku belum pernah bertemu secara langsung kedua orang ini.
Jemariku mendorong pintu kalung itu dan memasukkannya di tasku. Bersama dengannya, aku teringat dengan kertas putih dari kakek.
[Rasyiqa sayang, papa pergi sebentar. Ada urusan penting nih. Rasyiqa boleh ke sini juga. Bawa kalungnya ya, nanti Rasyiqa dijemput. Siap-siap sendirian bisa dong! Sampai jumpa, sayang <3]
Diri ini dibuat sangat takjub saat ingat akan kesesuaian rekaman perkiraan papa dengan semua yang dikatakan kertas ini. Bahkan sesaat, aku mengira tulisan ini di set up oleh papa.
Bagaimana bisa manusia ini bisa memperkirakan pergerakan kakek sampai seperti ini?
Yah, bagaimana pun caranya, perkiraan itu tepat untuk aku ikuti. Persiapan harus matang untuk menghadapi kedatangan mereka.
Sesuai rekaman papa, seharusnya papa menanamkan chip di suatu tempat di kalung ini. Dan kalung ini yang menjadi mata mereka mengawasi dan titik temu kami, sudah aku bawa.
Lalu, karena akan diberi tanda bila akan dijemput, mataku harus peka akan hal itu. Jadi setelahnya aku bisa langsung menjauh dari orang lain yang tidak bersalah.
Rekamannya juga sudah aku hapus. Ponsel papa sudah aku letakkan di laci meja papa sesuai instruksi.
“Aaaaa…,” memikirkannya saja bikin pegal.
Empat hari sudah berlalu sejak rekaman ini aku temukan. Tampaknya aku perlu menunggu lebih lama untuk waktu jemput.
Namun, tanda seperti apa yang akan aku dapat? Lebih parah lagi, rumah ini penuh dengan penjagaan.
Sejak dua hari lalu, bibi-bibi dan paman penjaga dari rumah sana dipindahkan paman Hendra kemari. Tanda tidak mungkin aku dapatkan kalau keadaannya seperti penjara seperti ini.
Haruskah aku pergi keluar duluan dan memberikan mereka celah yang lebih lagi?
Kembali lagi masalahnya, apa aku bisa keluar?
Apalagi, Hendra semakin protektif terhadapku. Kalau aku mau keluar, minimal aku pergi dengan orang lain. Tatkala aku ingin pergi sendiri.
Benarkah tidak ada cara lain selain membawa orang lain juga?
Pilihan terbaik memang bersama Hendra atau Fares yang memiliki kemampuan bela diri. Tetap saja tidak boleh! Memiliki kemampuan, bukan berarti mereka bukan orang yang bersalah!
“Iiih!” pusing aku sambil memegangi kepala, “Apa papa juga pusing disana?” gumamku.
Rizki ya? Haa…, kurasa memang tidak ada cara selain memanfaatkan apa yang ada. Sang ayah itu mungkin saja sedang kesulitan. Tidak mungkin aku datang kesana hanya untuk menyulitkannya.
Apakah aku perlu membawa sesuatu ke sana? Jangan! Nanti mereka pasti merampasnya.
Yang bisa aku lakukan hanya mengikuti permainan mereka.
“Waa!!” kenapa sih ponselku belakangan ini menjengkelkan. Padahal aku sudah mengganti ringtone-nya.
[Rasyi, lagi sibuk?]
Oh, Harun.
__ADS_1
Ini bukan saat yang tepat, Harun~
Tidak~ Kalau kamu? Lagi menganggur kah?
[Iya nih. Ulangan kenaikannya setelah libur ramadhan sih.]
Hmm…, ternyata tinggal menunggu ujian akhir ya? Cukup cepat juga waktu berlalu sampai akhirnya tinggal kurang dari dua bulan kami menduduki kursi senior.
[Rasyi kenapa?]
Kenapa apanya? Duh, kenapa aku jadi takut? Mustahil kan kalau dia melancarkan kepekaannya dan menangkap rasa galau-ku saat ini?
Apanya yang kenapa?
Hening. Tidak ada yang salah aku ketik kan? Nyata sangat jelas kalau aku hanya menjawab seperti layaknya aku biasanya menjawab. Lalu apa yang membuatnya seperti sedang mengamati aku?
[Aku dengar paman Rizki kenapa-napa.]
Jantungku berdetak sakit dan mataku terbelalak, “Hah?!”
Berdiri aku mendorong kursiku sampai terbanting jatuh ke belakang. Meja belajar yang ada di depanku sampai berbunyi menandakan dia terbentur dinding. Tak percaya dengan apa yang dia ketik selagi mengingat apa yang sudah aku katakan padanya.
Dia tahu ini bukan dariku. Lalu bagaimana dia bisa tahu? Apakah informasinya bocor ke orang luar?
Tenang, Rasyi. Mengatakan itu, bukan berarti dia benar-benar tahu. Kesempatannya masih besar untuk membuatnya berpikir kalau ini hanya salah paham.
Papa tidak kenapa-napa kok. Dapat kabar begituan dari mana memang?
Iya. Papa baik-baik saja. Ia kan orang kuat…, pasti tidak apa⏤
“WAA!!” Sungguh! Aku sepertinya harus mengubah semua ringtone-nya dengan lagu pengantar tidur saja!
Duh, bagaimana ini?!
Bicara dengannya di keadaan seperti ini hanya bisa membuatku keceplosan. Namun, aku tidak mungkin tidak menjawab dan mengabaikan panggilannya. Harun pasti akan semakin curiga.
Oke! Aku harus bersikap layaknya Rasyi yang biasa saja. Tenang dan ceria seperti yang semua orang suka.
“Aa huu uuh,” tarik nafas membawa tanganku untuk membuka panggilannya dan mendekatkannya di telingaku, “Harun jangan tiba-tiba telepon begitu! Aku kaget!”
Ya. Cukup dengan sikap seperti ini. Harus seperti ini.
[“Rasyi, tidak papa?”]
Tidak mungkin juga aku bicara semuanya secara gamblang denganmu sementara aku akan pergi ‘berkunjung’ ke sana! Iya kan?!
“Apanya sih? Aku tidak papa. Memangnya aku kenapa, coba jelasin.”
[“Paman Rizki memang kemana?”]
Dia baik-baik saja. Tidak terjadi apapun….
“Papa tidak kemana-mana, Harun. Makan, tidur, kerja kayak biasa. Kenapa sih Harun jadi kepo begitu?”
[“Rasyi bohong.”]
__ADS_1
Tolong… percayalah….
“Harun yang tidak percayaan. Kamu kenapa sih? Dengar kabar dari mana?”
[“Rumah sakit ibu. Banyak yang bicarain paman Rizki. Kata paman Hendra ayahmu lagi keluar kota dan ada urusan mendadak.”]
Eh?
[“Antara Rasyi atau paman Hendra yang bohong. Tapi aku yakin kalian berdua yang bohong.”]
Ternyata paman Hendra sudah maju selangkah lebih cepat sampai kesana. Seperti biasa, orang-orang dewasa itu masih tidak mau aku ikut-ikutan. Padahal papa sudah mempercayaiku.
Dia mempertaruhkan keselamatannya dan dia ikut bergantung padaku.
Rapuhnya jiwa itu percaya denganku….
“Jangan, Harun…,” sudah cukup parah papa menghilang. Aku tidak mau menambahnya lagi, “… Aku mohon….”
[“Hah…, tapi Rasyi⏤”]
“Tidak boleh!!”
Keheningan menenggelamkan kami berdua. Rasa takutku benar membawa emosiku meluap. Dia sudah terlalu banyak ikut campur. Cukup sudah.
Sesaat layaknya aku dibuat paham bagaimana perasaan papa saat aku ingin ikut campur. Pemikiran negatif seakan merambat masuk tak terkendali ke sekujur otak yang mengendalikanku.
Bersamaan aku juga dibuat paham perasaan Harun. Lelaki ini takut terjadi sesuatu padaku tanpa sepengetahuannya.
Lalu dia mau aku apa? Membiarkannya masuk ke masalah keluargaku?
“Ini keluargaku, Harun. Aku mohon. Mundur hanya untuk ini saja,” tidak ada hal lagi yang bisa aku pikirkan selain menggertaknya kalau ini bukan ranah untuknya mencampuri.
[“Apa kamu sebegitu tidak percayanya sama aku?”]
“Harun,” aku bisa mendengar suaraku bergetar, “Yang tidak aku percayai itu diriku sendiri.”
Keheningan sekali lagi. Mengantarkan mulutku untuk menyusun kata-kata yang tertanam di dalam diriku.
“Aku kehilangan banyak orang karena masalah keluargaku. Masalah keluargaku, bukan masalah orang lain. Rasa bersalahnya berat sekali, Harun. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk membawa kamu.”
[“Hah…, baiklah.”]
Bisa terasa lega aku oleh jawabannya. Meski aku tahu itu berat, “Terima kasih, Harun.”
[“Ya sudah. Setidaknya aku masih boleh bawa Rasyi jalan-jalan kan?”]
Hah?
[“Aku sudah janji bawa jalan-jalan kalau Rasyi lagi sedih. Seperti yang Rasyi minta.”]
Yang benar saja. Dia membawa janjinya di saat yang sangat tidak tepat.
“Maaf Harun, aku sedang tidak bisa⏤”
[“Tidak bisa ya aku setidaknya melakukan ini untukmu?”]
__ADS_1
Ini sulit. Keluar di saat seperti ini…, aku memang perlu keluar sih. Namun, bukan berarti dengan Harun dong!
Bagaimana ini?!!