
Dua detik telat? Maksud Fares apa⏤
“Ada apa?” terkejut aku dibuatnya.
Kenapa Hari tiba-tiba merobek pakaian Fares?! Dia ingin mengecek apa di balik kaos coklat Fares itu? Kemana lagi amarahnya itu dituju?
Hmm? Memang tidak begitu jelas karena jaraknya yang tidak begitu dekat, tapi aku bisa melihat sesuatu di pundak kiri Fares. Sebuah garis samar yang tak terjelaskan.
“Gading!!” Hari berteriak meluap-luap.
Tubuhku bergetar bersamaan dengan teriakan kemurkaan dan tatapan beringasnya yang merambat di udara taman luas.
Pertanyaan terus melayang, apa yang terjadi sampai ia tiba-tiba semarah itu pada Rizki? Rizki tidak melakukan apapun sampai sekarang. Ia masih saja memelukku dengan posisi tubuhnya yang masih membelakangi mereka.
Eh? Rizki? Wajahnya sungguh serius, sampai aku tidak bisa melihatnya ketakutan seperti sebelumnya. Ia tahu sesuatu.
Sebenarnya apa yang terjadi⏤
“Kalau sudah tahu, angkat tangan sekarang!”
Heh?!
“Lepaskan senjata kalian!”
Ba, bagaimana bisa banyak polisi di belakangku?! Mereka sudah berkumpul di segala sudut taman dengan perlengkapan lengkap mereka. Sejak kapan?!
Dikejutkan lagi, Hendra sudah berdiri tegak di sampingku! Mulut yang masih komat-kamit kebingungan ditenangkan oleh tepukan pelan di kepalaku oleh tangan Hendra.
“Kalian tidak papa?” Hendra mengatakannya dengan wajah cemasnya.
Aku tidak baik-baik saja! Aku bingung!!
Di dalam otakku berputar banyak hal. Mencerna apa yang terjadi saat ini membuatku sulit untuk berpikir normal. Bagaimana mereka ada di belakangku? Jangan-jangan saat aku sibuk menatap Fares yang ditodong, mereka sedang diam-diam menjangkau kami?
Namun bagaimana mereka tahu tempat ini?
“Rumah ini sudah kami kepung! Menurut saja!” teriakkan kesal Hendra sungguh menggema di taman terbuka yang luas ini.
“Hoo~~” kakek ini menatap lurus tanpa ada rasa takut, “Anak buahku ternyata lengah. Sampai biarkan Faresta membawa pelacak untuk ayahnya.”
Pelacak? Fares membawa pelacak? Kok bisa?
Dia menemuiku kan hanya untuk menjemputku. Walaupun berhasil membawa benda seperti itu, bagaimana bisa dia meloloskan benda itu saat orang-orang jahat itu membedah bawaannya yang bahkan ada dua kali itu. Ponsel kami saja dibuang di taman dekat cafe.
Hari memberikan arahan pada dua temannya yang masih berdiri di samping Fares. Mereka menahan Fares lebih erat.
“Sialan kamu, Hari....” Hendra tampak berusaha keras menahan ledakan emosinya.
Manusia yang bernama Hari benar-benar berbeda. Padahal teman-teman di belakangnya sudah banyak yang ditangkap.
Kakek ini masih saja berdiri tegak dan mengelus-elus pistolnya. Seakan memberikan peringatan bagi Hendra. Di luar tugasnya menjadi polisi yang melindungi sipil, Hendra tentu tidak mau terjadi apa-apa pada putranya.
Tiap individu di sini siaga dengan letak Hari dan Fares yang terlalu dekat hampir tanpa jarak. Layaknya Hendra yang masih memposisikan tangan di senjatanya.
Bahaya masih belum lepas dari Fares walaupun keadaan sekitar berpihak pada kami.
__ADS_1
Hari berjongkok di depan Fares, “Jahitan itu. Kamu memang tidak terduga, Gading. Memasukkan pelacak langsung ke tubuh Faresta. Bagaimana kamu bisa mendapatkan izin melakukan itu? Ayah jadi mau tahu.”
Eh?! Jahitan? Memasukkan? Maksudnya?
“Cakap-cakapnya selesai? Kamu harus menyerahkan diri, sekarang!” Hendra menegaskan kembali kalimatnya.
“Wo, santai~” kakek itu, menodong Fares lagi!
Hendra menggenggam pistolnya, “Turunkan senjatamu!”
Tidak!! “Kak Fares!”
“Rasyi, tidak ada yang bisa kamu lakukan ke sana!” Rizki masih tidak mau melepaskan pelukannya.
Kulihat sekitar lebih jelas. Hendra dan rekan yang lain sudah mengangkat senjatanya. Layaknya sudah siap meledakan bahan mematikan di dalam senjata mereka.
Suasananya, jadi semakin panas.
Fares. Aku mohon selamatlah….
“Iya, Rasyiqa. Ini sudah di atas kemampuanmu,” kakek itu tersenyum, “Maaf saja. Kakek hanya mau bertahan hidup. Kamu paham kan⏤”
“Sayangnya bukan itu yang aku maksud,” papa?
Wajah marahnya si pria itu berpaling ke Rizki.
“Rasyi tidak perlu lagi turun tangan,” Rizki memutar kepalanya ke samping kirinya sambil memundurkan sedikit tubuhnya, sampai dengan mudah ia bisa menatap ayahnya itu, “Check⏤”
Heh?
Heh?!
Aku tidak bisa menahan rahang bawah yang terbuka. Terkejut oleh serangan yang membisukan.
Mataku tidak sempat mengikuti gerakan Fares. Tahu-tahu kedua pria di belakangnya terjatuh.
Di sela Hari yang terkejut, Fares sudah menangkap pistolnya. Kedua tangan Hari sudah dibawa ke belakang sementara Fares menendang jauh pistol jauh.
“Amankan!” paman Hendra melangkah maju ke depan setelah memungut pistol itu.
Rekan-rekan Hendra langsung berhambur menyerang Hari sekaligus kawanan orang jahat yang masih berdiri bersamanya. Yang berupaya kabur pun, dengan cekatan langsung dikejar oleh rekan yang lain.
Aksi mereka terasa sulit diproses kepalaku.
I, ini….
Ini sudah selesai?
“Berdiri pelan-pelan,” suara lembut Rizki membantuku berdiri.
Aku hanya mengikuti arahan Rizki. Tentu masih dengan tatapan seperti orang bodoh.
Memikirkannya beberapa kali hanya membawa aku berputar-putar di tempat. Kemajuan yang bisa aku yakini hanya satu, Hari sudah ada di pihak kepolisian.
“Rencanamu selesai, Gading?” Hari, masih tersenyum dengan tangan yang diborgol, “Jangan bilang kamu lupa satu hal.”
__ADS_1
Benar juga!
Aku gagal mengamankan buktinya. Kalau begini, bukannya sama saja menangkap orang yang tidak bersalah?
“Oh, makasih sudah ingatkan,” Rizki meraba sesuatu di kantong celananya, “Ini,” dia menyerahkan sesuatu ke rekan polisi di dekat kami. Apa itu?
Hendra melangkah mendekat bersamaan dengan datangnya rekan lain yang membawa laptop. Benda tadi langsung dimasukkan ke salah satu tempat di samping laptop.
Tunggu… itu flashdisk?
“Bukti ini cukup. Lebih dari cukup,” Hendra ikut memperhatikan layar laptop itu, “Dia bisa dihukum mati seperti yang kau mau, Rizki.”
Flashdisk itu ada bukti? Berarti itu bukti kejahatan Hari?! Rizki sudah punya dari awal?!
“Sekarang kamu bisa diam dan ikut kami sampai kamu dihukum,” Hendra kembali pergi ke arah Hari dan menegaskan posisinya.
Hari tidak berkutik. Dia sungguh, kalah⏤
“Haha…,” hmm? “Hahahaha!!”
Ada apa dengannya?
“Hahahaha! Bagus! Tidak aku sangka anakku sudah bisa mendesakku sampai aku tidak bisa menentang! Hahahaha!”
Aku kembali memeluk Rizki. Itu reaksi yang benar-benar… mengerikan. Mengapa dia bisa tertawa di saat dia sudah akan didesak anaknya sendiri? Tubuhku tidak bisa berhenti bergetar.
“Hahahaha! Sepertinya aku lengah karena usia, hebat juga kamu bisa manfaatkan itu. Serangan beruntun begini! Aku menyukainya! Hahaha!”
Di, dia tidak apa kan? Apa sudah jadi gila?
Dia berhenti tertawa, “Aku kalah. Kerja bagus anakku~”
Maksud dia apa? Reaksinya sungguh bukan seperti orang normal. Daripada Rizki yang yang selalu kakek itu katakan sebagai anak yang ‘bengkok’, kakek ini lebih bisa disebut patah. Orang ini tidak tertolong.
“Kalau begitu diamlah seperti orang kalah,” Rizki masih tampak kesal, “Jangan berharap banyak, cara licik itu sudah cukup sampai di sini.”
Hari berhenti tertawa dan meninggalkan senyum kalem. Senyum yang rasanya berbeda dari biasanya, “Tentu. Lakukan saja.”
Alur pembicaraan yang membingungkan dipatahkan oleh suara Hendra, “Bawa dia pergi!”
Dai dibawa pergi. Dia pergi. Dia benar-benar pergi kan?
Sudah selesai?
“Rasyi,” suara Rizki seakan tidak diizinkan masuk ke telingaku sepenuhnya karena suara sekitar yang ramai dan lebih menarik perhatian.
Suara sirine dan tegas ucapan orang-orang di segala penjuru memecahkan ketegangan yang aku rasakan tidak lama lalu. Langit yang semakin menjingga mengumpulkan banyak udara dingin. Ia seakan membantu untuk memblokade telingaku untuk menangkap suara lebih banyak.
Gendang telinga yang mendengung mengikutkan kepalaku yang seakan memutar. Banyaknya sendi tubuhku, semuanya terasa lemas. Layar penglihatanku mulai kabur saat aku mulai merasakan sentuhan lembut di kedua pipiku.
Ketukan pelan di keningku. Familiar dan sangat dirindukan. Papa mencoba menenangkanku dengan caranya.
“Semua sudah selesai,” bisiknya, layaknya api unggun itu menenangkan nafasku.
Hah…, iya.
__ADS_1
Seragam sosok keamanan negara itu ada di sekeliling kami. Paramedis sudah berdatangan mengurus Fares yang masih dengan luka di sekujur tubuhnya. Tidak lama lagi mereka juga akan mengobati papa.