
Hitam mematikannya mata itu mencekam ruangan lima kali lima meter itu. Aku, Harun dan Fares berdiri di depan meja berjejeran. Sementara di sisi meja satunya sudah ada sofa hitam panjang sederhana. Papa dan kak Aldi sudah duduk nyaman di sana.
“Maaf Aldi, anakku buat keributan sampai begitu.” Papa menundukkan sedikit kepalanya.
“Tidak. Ini bukan salah dokter,” kak Aldi masih saja tersenyum, “Saya juga salah karena memberitahu Rasyiqa tanpa izin dokter.”
“Anak itu memang kalau sudah tahu satu, selalu jadi ribut. Tapi harus hati-hati, kalau dia penasaran bisa jadi stalker.”
Maaf?!
“Rasyi wajar karena dia pecicilan,” terima kasih deh pujiannya! “Tapi kalian berdua, ada penjelasan?”
“Maaf, paman,” Fares membuka mulutnya, “Tapi saya pikir saya tidak melakukan kesalahan.”
Wow. Fares berani banget. Bibi-bibi yang ada di rumah saja biasanya menghindari kontak mata.
Papa terdiam sesaat dan akhirnya menghela nafas. Fares berhasil membisukan papa? Hebat juga. Sepertinya papa pun tahu aku punya hak lebih untuk tahu apa yang terjadi pada Sekar. Aku sebagai anaknya maupun aku sebagai korban.
“Lalu Harun, apa alasanmu membantu rencana bodohnya Rasyi?” Rizki mengubah sasarannya, “Sudah dibilang, jauhkan Rasyi dari ini.”
Ah. Rizki benar-benar sudah marah besar. Seharusnya Harun tidak kena marah seperti ini. Harun kan tidak tahu apa-apa waktu aku membawanya.
Harun terdiam. Namun bisa aku lihat tangannya mengepal erat, “Maaf, paman. Aku tidak bermaksud begini.”
Tuh kan Rasyi. Kamu menyusahkan orang lain saja. Apa yang aku pikirkan sampai menghapuskan pilihan untuk meminta langsung pada papa.
Ingin sekali aku menyelesaikan semua ini dan pulang secepatnya. Lelah sekali rasanya memaksa otakku untuk berlari memutari kumpulan ingatan lama. Informasi yang banyak itu perlu banyak pula tenaga untuk mencernanya.
Langsung aku mendekati Harun dan berhenti di depannya. Kuulurkan tangan seakan melindungi Harun dari papa.
“Pa, jangan salahkan Harun,” berusaha aku membuat wajahku sesedih mungkin, “Rasyi yang paksa Harun. Harun juga tidak tahu kalau Rasyi mau ke sini.”
“Dan dia masih mau ikuti Rasyi?” Papa masih saja mengamuk.
Aduh pa. Sudah dong, “Papa kan tahu kalau Rasyi suka maksa.”
Rizki membungkuk dan mendekatkan sikunya menumpu di kaki yang terlipat, “Rasyi itu memang kayak anak SD. Jadi orang-orang sekitaran Rasyi yang harus dewasa.”
“Iya deh. Rasyi sama Harun salah, Kami minta maaf. Tidak perlu di besar-besarkan lagi kan,” merengut aku kesal, “Kak Fares dimaafkan, papa juga harus maafkan Harun dong!”
__ADS_1
Sang papa itu terdiam, “Rasyi segitu sukanya sama Harun, ya?”
“Iy⏤” tunggu…, “Hah?!”
Tunggu! Kenapa pembahasannya jadi melenceng jauh begitu?! Spekulasi itu memang tidak bisa aku tentang. Namun ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahasnya. Ditambah lagi ada orangnya disini! Sungguh?!
Wajahku yang memanas tidak aku pedulikan sama sekali, “Jangan keluar topik!!”
“Phht,” ah. Suara tawa dari belakangku. Harun hanya tersenyum menahan tawa, “Aku tidak dengar apa-apa kok~”
Gaaah!! Ini semua memalukan!! Orang bodoh mana yang percaya dengan ucapan tidak masuk akal itu?! Dia pasti mendengarnya dengan jelas!
Mulutku memanyun panjang. Kupalingkan wajah panasku dari arah Harun.
“Rasyi benci papa, benci papa! Papa jelek!!” berteriakan aku malu.
Jelas kak Aldi sedang tertawa kecil dan papa dengan hati dinginnya tidak bereaksi sama sekali. Fares? Hah, dia menutupi mulutnya dan menghindari wajahku. Kamu tertawa juga kan?! Iya kan?!
“Hah…, ya sudah,” papa akhirnya tegak berdiri, “Ayo pulang. Kalian berdua juga. Jangan kelamaan ganggu orang kerja.”
Masih aku kesal dan berusaha menutupi pipiku dengan kedua tanganku, “Iya.”
Papa tanpa basa-basi lagi langsung mendekatiku dan menggandeng tanganku, “Terima kasih sudah pinjamkan tempatmu, Aldi.”
Aku dan papa melangkah duluan sebelum kedua anak itu menentukan untuk pergi. Kami keluari ruangan megah yang ternyata kantor individu dari kak Aldi yang sudah jadi orang nomor satu di perusahaan ini.
Beberapa karyawan menyibukkan diri menatapi kami tajam. Mereka menggunakan alat komunikasinya itu untuk berbisik ria. Dasar orang udik. Tetap saja mereka main hakim sendiri walaupun sudah disebar luaskan apa kenyataannya di berita dan koran.
Layaknya Rizki seperti biasa, papa hanya berjalan menarikku pelan ke luar kantor. Mobil yang selalu aku kenali itu kembali jadi tempat peristirahatanku dari keramaian luar rumah.
“Hah,” gumam keluhan pelan papa memasang sabuk pengamannya.
Ikut aku memasang sabukku sambil melirik ke arah papa⏤loh?!
“Pa!’ aku panik memandangi wajah papa lebih dekat, “Papa tidak apa?”
“Apanya?” Rizki menyalakan mobil dan bersiap untuk pergi.
Bagaimana yang ‘apanya’? Tidak ada yang mungkin mengatakan ini bukan apa-apa. Pasti dong aku kaget. Wajah papa memutih seperti itu.
__ADS_1
Inilah yang aku takuti. Karena ini juga aku tidak mau membawa papa ke tempat ini. Aku sudah tahu bagaimana rasanya menghadapi segala sesuatu yang ada hubungannya dengan korban yang pergi karena salah kami. Jadi aku tidak mau memaksanya menghadapi ketakutan itu.
“Maaf, pa,” rasanya seperti sakit di dadaku.
Dia menatapku. Aku bisa melihat gemetar takutnya kembali. Mata hitamnya seakan bisa saja memudar kapan saja.
“Haah,” dia menghela nafas. Tangannya tiba-tiba diletakkan di atas kepalaku, “Tolong jangan lakukan lagi.”
“Iya,” aku menundukkan wajahku.
Mulai ia memutar kemudinya. Membawa rodanya berkelana di jalan yang sudah ada. Papa tampak kenal tentang kelok-kelok jalan ini sejak lama.
“Kenapa Rasyi mau tahu tentang ini?” papa kenapa malah tertawa ringan begitu? “Itu kan tidak bisa dibanggakan.”
Terlihat kedua tangannya bergetar walaupun masih disibukkan dengan mengemudinya. Beberapa detik kemudian akhirnya aku melihat jalan utama yang hanya perlu lurus sehingga ia bisa lebih santai sejenak. Langsung aku ambil tangan kirinya dan menariknya.
“Papa tahu Rasyi lihat papa lagi menyetir.”
Anak mau membantu menenangkan, kok dia malah jadi menjengkelkan sih? “Tangan papa gemetaran,” kusatukan kedua tanganku memeluk tangan kirinya, “Dingin lagi.”
“Itu sangat menjawab pertanyaan papa.” metafora-nya menjengkelkan sekali!
Kubuang tangan itu kesal, “Aku tidak percaya kalau papa yang melakukannya pada… mm, tante Sekar. Jadi aku mau cari tahu langsung.”
Rizki terdiam. Matanya terbuka lebih lebar, “Papa atau bukan, papa tetap ada di sana. Itu juga karena papa. Rasyi mau membuktikan apa?”
Kalau aku bisa jujur, aku mau membuktikan kalau kematian Sekar bukan hal yang perlu dikhawatirkan.
Itu adalah kecelakaan dan Rizki pun melakukan apapun yang ia bisa. Ditambah lagi Sekar sudah merelakannya dan memaafkan Rizki. Dengan begitu aku sebagai Rasyi pun bisa menerima papa lebih nyaman.
Namun bila dilihat dari Rasyi, tentu aku ingin membuktikan Rizki tidak bersalah. Kalau saja bersalah dalam arti yang lain….
Kubuka mulutku sambil memandang kaca depan, “Rasyi bingung gimana cara relakan hal besar seperti Jagad. Masalah tante Sekar kan juga begitu, jadi Rasyi mau cari tahu. Rasyi mau kita sama-sama relain mereka.”
Pandanganku ke arah Rizki yang ternyata melirikku meski perlu bergantian dengan arah jalan. Aku memiringkan dudukku mendekat tetap dengan sabuk pengaman yang kuat. Tersenyum aku pada pria yang dekat dengan Rasyi sejak kecil itu.
“Jadi, pa. Nanti temani Rasyi jengguk makamnya Jagad ya?” tak bisa aku tahan rasa takutku yang berusaha berani sekuat mungkin.
Arah pandangnya yang masih ke depan, terlihat terkejutnya. Tenang sesaat, tiba-tiba dia mengulurkan tangan kirinya terbuka.
__ADS_1
Hmm? Senyum cerita bercampur tawa tak bisa kusembunyikan. Kembali aku peluk tangan itu kembali.
“Terima kasih, pa~”