Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#15 Kesan untuk Dunia Luar


__ADS_3

Aku tidak bisa berhenti melantunkan lagu anak-anak yang selalu dimainkan di ruang tengah. Jumpsuit manis tanpa lengan berwarna pink salmon berhias motif polkadot dan pompom putih, menjadi pilihanku hari ini.


Tangan besar menarik sejumput helaian rambut dibuat mengepang ke belakang. Diikat kembali mengikuti sisanya bagai ekor kuda hitam yang baru lahir. Hiasan manis untuk anak seumuranku ditambahkan. Kaca kecil itu memantulkannya dengan baik.


Gandengan tangan Rizki menuntunku, “ayo berangkat.”


Senangku sangat mengepul-ngepul! Hari ini, untuk pertama kalinya secara resmi, aku akan keluar rumah! Lihat saja, rumah! Kau tidak bisa mengekangku lebih lama lagi! Pintu, antarkan aku pada kebebasanku!


Lihat~ Cuaca segar sangat menyegarkan mataku⏤WAAA! ....


Kenapa kamu menyelinap di sela pagar begitu?! Apa tidak sangkut kepalamu nanti?! Siapa lelaki kecil ini? Itu bukan mainan yang bisa kaumasuki kepalamu disana. Itu pagar orang!


Jangan rusak mood-mu hari ini. Senyumin saja, “Halo~”


Dia terdiam. Matanya berbinar-binar, “Cantik!” serunya tiba-tiba.


Hah? Oh… Mmmm… “Makasih?”


“Rasyi.”


Iya papa~ Aku kesana~ “Dadah~” aku menyapanya pergi. Siapapun itu, tolong jangan muncul lagi.


Pintu mobil bagian penumpang terbuka jelas. Langsung didudukannya aku. Ia memasangkan sabuk pengaman selagi terus mengingatkan aku kalau berbahaya bangkit dari dudukku.


Rizki masuk membawa tas beruang coklatku. Mulai menggerakkan mobil. Semangat aku melambaikan tangan pada paman-paman dan bibi-bibi. Aku keluar!!


Jendela mobil terbuka, jadi aku bisa merasakan nuansa luar. Bagian atas pohon masih terlihat jelas walaupun aku bersanding dengan pintu mobil yang tinggi. Gerbang komplek yang dijaga cukup ketat oleh dua orang berseragam rapi membukakan tiang penghalang.


Akhirnya kami meninggalkan perumahan mewah itu. Jalan, tiang, pohon, suara ramai jalan raya… sangat merindukan suasana ini.


Ngomong-ngomong, papa akan membawaku kemana ya? Aku tidak bertanya saking senangnya. Ya… aku ikuti arus saja!


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


Aaa… haruskah?


Kehabisan kata-kata. Terlalu menyedihkan sampai aku tidak mau berbicara. Haruskah papa membawaku ke rumah sakit?! Pa! Sungguh?!


Aku harus cari tahu bagaimana mama bisa senang dengan papa. Papa adalah tipe orang yang akan membawa kencan pasangannya ke rumah sakit. Tidak bisa membayangkan kesedihannya kalau aku di posisinya.


Hah… lagi-lagi dan akan terus seperti ini… Rasyi harus menuruti kata orang tua. Ya, angkat saja aku masuk. Abaikan saja wajah ambek ini! Jahat!


“Pagi, dokter Rizki.” sapa seseorang.


“Pagi.” jawab papa tak bersemangat sambil terus mengendongku.


Semakin dalam papa berjalan semakin banyak yang menyapa. Papa hanya melewatinya dengan jawaban singkat biasa dengan wajah tanpa ekspresi. Mungkinkah papa termasuk orang yang berpengaruh disini?


Aku memperhatikan wajah-wajah baru itu di balik bahu papa. Kebanyakan dari mereka berbisik-bisik dan tersenyum sendiri. Kenapa dengan mereka?

__ADS_1


“Yo Rizki—oh,” seorang pria lengkap dengan baju dokternya terlihat terkejut, “Rasyiqa~ ingat pak dokter tidak?”


Oh. Dia kan dokter yang selalu datang ke rumah untuk memberikanku imunisasi. Hampir aku melupakan rupanya. Sejak umur dua tahun, jadwal temuku dengan dia menjadi satu tahun sekali. Namanya siapa? Lupa.


“Rasyiqa mau main sama pak dokter?” katanya mengulurkan tangannya.


Tolong jangan membuat mood-ku semakin jatuh. Pergilah. Aku sembunyi di leher papa saja deh.


“Kok malu sih~”


“Dokter Dara ada dimana?” tanya papa tidak peduli.


“Di ruangannya,” katanya masih mengikuti langkah papa, “oh, Rasyiqa mau konsultasi ya?”


Konsultasi? Untuk apa? Memang ada masalah denganku sampai perlu konsultasi ke dokter? Lagi-lagi kepalaku dibuat berputar cepat. Pertumbuhanku sudah sangat baik. Aku juga hampir tidak pernah sakit. Bukannya aku sangat sehat?!


Aaaargh! Belum juga selesai dengan masalah dengan ‘mereka’. Satu minggu kepergian papa juga masih menjanggal tanpa ada petunjuk sedikit pun. Datang lagi satu krisis!


“Dadah Rasyiqa~ Lain kali main sama dokter ya~”


Iya, nih kukasih, “dadah~” senyumku melambai kecil.


Pintu terbuka. Memperlihatkan sosok dokter sekaligus ibu yang kehangatannya melimpah ruah. Tatapannya meyakinkanku untuk tidak takut memasuki bentengnya yang penuh bau-bauan obat.


“Pagi Rizki,” dia menatapku dan mulai tersenyum lembut seperti berpandangan dengan anaknya, “Rasyiqa kan? Selamat pagi, sayang.”


“Pagi~” merekah lagi senyumanku.


Beliau ikut tersenyum, “ada keluhan?”


“Tidak ada yang spesifik.” Papa menurunkanku di depan meja kerja beliau.


Mereka berbincang dan mendiskusikan segala tentang diriku. Kemampuanku, kesehatanku. Dari pengamatanku, tidak ada hal serius yang mewajibkan aku menemui dokter. False alarm kah?


Beberapa saat berbincang, lalu dokter itu memeriksa berbagai bagian tubuhku. Kesehatan otot-ototku sampai kemampuan mataku melihat jauh. Tidak lupa mengukur berat dan tinggi badan.


Seharusnya aku tidak perlu terlalu panik. Bagi Sekar, yang mengutamakan obat di toko kelontong daripada rumah sakit, seperti ini sih hanya kegiatan posyandu tiap bulan. Padahal kan Rizki juga bisa melakukannya sendiri di rumah.


“Rasyiqa…” panggilnya dengan nada ramah, “dokter tanya-tanya dulu ya? Kalau Rasyiqa jawab, nanti dokter kasih permen. Ok?”


Permen ya? Iya deh~ Aku akan jadi anak pintar~


Kepalaku mengangguk-angguk. Beliau langsung mengeluarkan papan kecil penuh warna. Tersusun alfabet dan angka yang timbul dari papan itu.


“Rasyiqa ingat ini? Kita sebutkan sama-sama, ya?” dokter itu mulai menunjuk.


Aku mengikuti saja dan menyuarakan setiap huruf dan angka yang beliau tunjuk. Sampai berhenti di angka terakhir. Wajah sang dokter tampak cerah seperti melihat tas mahal bermerek yang akhirnya bisa dibeli. Kenapa? Imut wajahku tidak terkendali kah?


“Rasyiqa hebat.”

__ADS_1


Iya. Makasih.


“Rizki, bagaimana yang kemarin?”


Papa, tolong jangan tertawa tipis begitu. Serius. Rizki tertawa? Kalau kamu melihatnya, entah karena kamu beruntung melihat sisi uniknya atau itu adalah akhir dari hayatmu saking seramnya.


“Bisa semua.” kata Rizki.


Dokter itu tercengang. Apa lagi sih? Kalian membuatku tidak PD dengan penampilanku. Hari ini aku cantik, tahu!


“Rasyiqa,” panggil beliau.


Iya, bu dokter. Aku kan tidak kemana-mana.


“Rasyiqa sudah tahu pertambahan?”


“Iya.” tentu saja. Rizki juga pelan-pelan mulai mengajariku.


“Kalau dua ditambah satu berapa?”


“Tiga.”


Mulutnya masih berlanjut, “kalau… tiga tambah dua?”


“Lima.”


Beliau tidak bisa menahan rasa tercengangnya, tidak bisa berkata-kata. Kenapa sih?! Dari tadi kalian selalu mengeluarkan reaksi aneh yang membuatku skeptis sendiri! Kalau ada sesuatu, katakan saja dengan jelas! Tidak sulit kan?!


“Karena ini saya minta bantuan anda,” Rizki mulai bicara, “saya tahu ini terlalu dini, tapi saya ingin mengambil tes IQ untuk Rasyiqa.”


Hah? Hah?!


Beliau berpikir sejenak, “tidak ada salahnya juga….”


Tunggu.


“Apalagi Rasyiqa bisa menyelesaikan kelima buku yang kemarin saya kirim kan? Seharusnya dia sudah bisa menjawab soal-soal gambar. Hanya perlu arahkan sedikit.”


Tunggu!


“Baiklah. Biar saya siapkan dulu.”


Tunggu!!


“Rasyiqa makan ini dulu ya,” beliau mengulurkan beberapa bungkus permen rasa coklat.


Asyik, coklat⏤tunggu! Tunggu sebentar!!


Pada akhirnya dokter itu keluar. Senyum canggung papa menemani rasa syokku . Ia mengambil satu dari banyak permen dan membukakannya. Jemari yang cekatan menyuapi aku permen itu.

__ADS_1


Hiks… siapa yang aku bodohi? Aku tidak punya kuasa menahan mereka.


Tidak… aku sudah kelewatan menunjukan kemampuanku…


__ADS_2