
Kado bermotif bintang kecil memancingku untuk menyenandungkan lagu yang serupa. Hiasan pitanya sangat manis, terus kumainkan dengan jariku. Terik cahaya hangat bermain dengan pohon yang bergemulai terkena angin. Kaca yang meredam segala suara mampu menenangkan di tengah lalu lintas yang padat.
Ah, damainya… ingin sekali terus seperti ini. Kegalauan yang senantiasa memusingkan kepala, hus hus pergilah!
“Di pertigaan kemana?” papa menanggapi telepon yang tersambung dengan seseorang.
“Kiri,” suara telepon yang berdiri di ventilasi AC, mengingatkanku dengan suara Ira, “Kamu tidak pernah ke daerah sini?”
“Tidak,” jawaban papa selagi menyetir.
“Seharusnya kamu lebih banyak keliling-liling,” tawa kecil Ira, “Hari ini kan ulang tahunmu juga, gimana kalau kita rayakan? Jalan-jalan gitu….”
Membatu. Tak bergerak. Heh? Rizki ulang tahun hari ini?! Kok bisa?! Dari banyaknya tanggal dan bulan, apa harus bertepatan hari ini juga?
Papa menghela nafas, “Jangan memaksa.”
Ulang tahun papa ya…. hmm…
Roda dan mesin beristirahat. Tanpa terasa waktu berlalu sampai akhirnya ia memecahkan lamunanku. Gedung rumah makan modern dengan gaya natural dan bersahabat, mengambil alih perhatianku. Saatnya kami turun dari tumpangan.
Nanti saja memikirkan hal-hal berat. Sekarang aku nikmati saja yang ada di depanku.
Papa mengandenganku memasuki pintu masuk yang besar itu. Tangan kiriku terus memeluk kado. Aku dituntun satu langkah demi langkah menaiki tangga. Sedikit demi sedikit bisa merasakan keramaian dari seluruh penjuru di lantai dua. Warna biru menutupi sejauh mata memandang.
Hah. Acara ini akan sangat ribut. Lihat. Belum mulai saja sudah banyak anak yang berlari-larian. Untung saja ruangan ini terbilang besar.
“Rasyi, Iki!” ah. Itu tante Ira.
Rizki langsung menggendongku ke tempat yang lebih sepi itu. Para babysitter eksklusif berkumpul lagi. Aku suka baju couple kalian~ Diturunkanlah aku di dekat meja mereka.
“Terima kasih sudah datang, Rasyi.” Sari membungkuk, “Sini kadonya biar tante bawa.”
“Rasyi mau kasih sendiri,” berusaha aku bersikap imut dengan menjauhkan kadonya dari Sari.
Cerah menghias wajah orang-orang ini. Tanpa niat, aku sukses menarik kebahagiaan di garis bibir mereka dengan tingkah lakuku.
Iya, tahu kok aku manis~ Ditambah dengan dandananku sekarang. Aku juga suka.
Dress Dodger Blue ditemani gradasi warna biru langit. Lengan kupu-kupu yang merekah sama seperti pendeknya rok bergelombangnya. Bunga-bunga mawar putih disebarkan di setiap detil dres.
Rambutku sengaja digerai lurus dengan poni menutupi dahi sepenuhnya. Sejumput rambut ditarik mengikuti jepit kupu-kupu di samping kanan dan kiri kepalaku. Dua kupu-kupu juga menghinggapi sepatu flat putih. Memberi kesan aku taman bunga yang kedatangan tamu.
“Rasyi!” suara itu selalu familiar dengan telingaku.
Aku memutar dan mendapati anak berkemeja Baby Blue itu, “Kak Fares!”
Sering sekali aku dikejutkan dengan penampilan rapi Fares. Kulit putihnya benar-benar cocok dengan segala macam warna dan bentuk. Anak delapan tahun ini penuh dengan kejutan.
__ADS_1
“Ini untuk kak Farres~” aku tertengadah dan mengulurkan kado tadi.
Wajah yang masih saja tampak bersih itu semakin cerah. Kedua tangannya menerima pemberianku. Tak terduga akan sebesar itu senangnya sampai bisa kurasakan kembang api di mata coklat itu.
Aku menyatukan kedua tangan di depan dadaku. Lengkap dengan tersenyum lebar. Mencoba untuk terlihat manis, “Selamat ulang tahun, kak~”
Sesaat dia mengeluarkan senyum yang belakangan ini sering dikeluarkan. Walau aku belum terbiasa, senyum itu tampak menenangkan.
“Makasih, Rasyi.” ia menerpa kepalaku lembut.
Terharu juga melihat dia sudah sedewasa ini. Setiap kelembutnya, jadi ingat…⏤
Hiiiiiks!
Satu bulan terakhir ini benar-benar disyukuri. Barang sedikit dua atau tiga hari sekali papa sudah berinisiatif mengajakku jalan-jalan. Ke taman, ke Mall, maupun sekedar jalan pagi di lapangan dekat rumah.
Namun yang tidak disyukuri, aku tidak pernah ketemu Harun lagi!! Harun… cinta sejatiku~ Kenapa waktu kita bersama di hari itu sangat cepat berlalu? Kenapa si Rizki itu datang saat tidak diharapkan? Apakah cinta kita terlarang?! Tidakkah dunia terlalu kejam?!
“Rasyi kenapa?” dia menodongkan permen bertangkai, “mau?”
Aku sedang sangat merindu, “Iya….” tentu, permen bisa meredakan sedih.
Tolong jangan mengelusku begitu. Itu tidak membantu. Pergi dan bermain dengan teman-temanmu yang ribut, sana!
“Sari~” sapaan seseorang mendekati meja.
Oh! “Harun!” kya~! Doaku yang belum kusebutkan sudah terkabul!
“Rasyi!” dia tersenyum manis menyambut uluran tanganku.
Aku dan dia bergandengan tangan. Kami tertawa-tawa seperti saling bertemu pacar yang LDR-an. Senangnya. Hati memang selalu berbunga-bunga kalau bertemu dengan orang yang kita suka.
“Kak Fares!” Harun berteriak senang, “selamat ulang tahun, kak.”
“Makasih,” Fares tersenyum kembali, “Rasyi senang ketemu Harun ya?”
Loh? Kak Fares kenal Harun? Iya ya. Yang menyapa Sari tadi kan ibunya Harun. Apa sebelum ini mereka juga selalu saling bertemu?
Tangan Fares menyentuh kepala Harun, “Harun temani Rasyi ya?”
“Iya!” Harun tersenyum mengeratkan gandengan kami.
Aku mengikuti mata Harun. Mengikuti mata Harun yang memandangi Fares menjauh bersama teman-temannya. Fares kembali terlihat layaknya anak yang biasa ribut. Menyambut teman yang baru datang dengan caranya sendiri.
Kenapa Harun fokus sekali menatap Fares begitu? Atau dia memperhatikan kakak beradik yang bicara dengan Fares?
Eh. Rasanya aku pernah lihat si adik itu. Mungkin dia dibawa kakaknya yang seorang teman Fares. Ah, dia melihat kesini! Dia terkejut tapi secepat kilat wajahnya berubah. Langsung melangkah cepat ke arah… sini?! Jangan-jangan dia marah karena terlalu jelas kutatapi.
__ADS_1
“Kamu!” dia menunjukku saat langkahnya berhenti di depanku, “kamu yang cantik itu!”
Eh? Mmmm… “Makasih?”
Oh! Dia anak yang memasukkan kepalanya di pagar rumah! Kenapa dia ada disini? Tempat ini kan cukup jauh dari rumah. Duniaku kecil banget sih!
“Namaku Jagad.”
Terus?!
Dia mengulurkan tangannya, “Cepat main sama aku!”
Gaya bicara apa itu?! Dasar preman!
“Jangan minta sambil marah-marah,” Harun mengerutkan dahinya.
Tatapan marah si anak yang menyebut namanya Jagad, “Siapa kamu?”
“Aku temannya Rasyi,” Harun menarik tanganku lebih dekat dengannya.
Jagad terdiam, “Jadi namamu Rasyi?”
Tidak ada yang terpikirkan otakku selain menjawab, “Iya,” terus mau apa?
Si anak itu kembali mengulurkan tangannya padaku, “Rasyi temenan denganku saja! Dia gak perlu!”
Hah?! Anak satu ini bukan main tidak ada sopan santunnya! Kamu umur berapa sih?!
Seketika tangan Jagad menggenggam tanganku yang membawa permen dari Fares. Dia langsung menarikku menjauh dari Harun. Apaan ini?! Kenapa main tarik saja sih?!
“Jangan tarik-tarik Rasyi!” Harun mempertahankan genggamannya.
“Rasyi sama aku!” Jagad melawan Harun dengan tarikan kuat.
Kenapa kalian jadi main tarik tambang?! Eh! Yang kalian tarik itu aku! Cari tali sendiri dong!
Aku harus menghentikan perkelahian mereka, “Kalian⏤”
“Rasyi mau sama aku!” Jagad berteriak kencang.
Harun membalas tarikannya, “Tidak! Denganku!!”
Bukannya damai mendapatkan teman, aku malah akan jadi melar! Kedua anak kecil ini tidak bisa dikendalikan. Kalau mau berteman kan tinggal minta dengan lembut saja. Aku juga kesepian. Pasti kuterima jadi teman kok. Tidak perlu acara rebut-rebutan begini!
Tidak bisa seperti ini. Mau tidak mau harus mengambil dramatic method!
Berusaha keras mengeluarkan semua unek-unek menjadi satu serangan besar, “WAAA AAAAA!!” bagi anak kecil, menangis adalah jalan keluar!
__ADS_1