Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#72 Laba-Laba


__ADS_3

“Gimana kabarnya cucuku? Tidurnya nyenyak? Sudah makan~?” kakek tidak tahu umur itu malah kegirangan layaknya sedang bermain-main di dalam taman bermain.


Aku berdiri berusaha untuk menghadapinya.


“Cukup baik,” tanpa aku sadari papa sudah berdiri di samping aku berdiri sambil meletakkan satu tangannya di bahuku.


Hari masih dengan senyumnya, “Senangnya, Gading juga baik-baik saja~”


Sesaat ia menatapku dengan serius. Ia mendekat perlahan.


Badannya condong ke arahku, “Dilihat-lihat, ada yang mau Rasyiqa bicarakan pada kakeknya ya?”


Aku sempat lupa seberapa pintarnya dia. Penampilannya yang layaknya tidak pernah termakan usia itu sungguh membutakan siapapun yang melihatnya. Sisi psikopat jenius itu tidak ada yang tahu selain orang yang sungguh berurusan dengannya.


Tenang, Rasyi. Sepintar apapun dia, orang ini tidak mungkin bisa memikirkan apa yang kamu pikirkan. Kamu sudah mengembangkannya rencanamu dengan sangat baik. Ditambah lagi tidak ada yang tahu ini selain kamu.


“Um…, aku⏤”


“Senangnya dengar cucu kakek minta langsung apa yang dia mau,” dia menegakkan tubuhnya sambil memainkan tangan bebas, “Tapi Rasyiqa,” matanya kembali serius, “Apa kamu sudah berkaca pagi ini? Tidak enak dilihat tuh.”


Berkaca? Mengapa aku perlu melakukan itu? Kekeliruan apa yang aku lupakan⏤


“Rasyi,” suara papa yang tenang di tengah paniknya, terdengar sangat dekat di belakangku, “Bernafas, pelan,” wajah papa yang ada di sisi kiriku menyadarkanku bila lagi-lagi aku lupa untuk menarik udara masuk ke sistem pernafasan.


Saat sedetik aku mengenyampingkan ketegangan sekitar dan mengundang pantauan ke diri sendiri, jelas sudah apa yang mereka maksud. Ragaku layaknya sudah diberi sihir oleh medusa, bersamaan dengan dibawa naik turun oleh roller coaster⏤bergetar hebat sekaligus terasa membatu.


Kenapa aku selalu seperti ini di tengah keadaan yang gawat? Padahal hatiku sudah kokoh menghadapi kegilaan ini. Barangkali fisikku inilah yang selalu aku abaikan teriakannya?


“Rasyi,” Rizki menyeka pipiku dengan pergelangan tangan dalam Rizki yang ditutupi lengan baju panjangnya, “Jangan dipaksa,” suara lembutnya itu menyadarkan rasa takutku yang semakin naik.


Tidak bisa… tubuhku tidak mau mendengarkan. Goyah rasanya niatku saat aku menangkap masuk sebuah rasa. Mungkinkah sebenarnya ia mengetuk keras di depan pintu selama ini?


Pelukan tak berdaya langsung kukerahkan pada Rizki yang tentu akan membalasnya lembut. Jalan pikiran jelekku berkata bila aku melakukan kesalahan. Ketakutan bila aku bertingkah bodoh.


Sungguh! Kurungan mewah dan segala isinya mendesakku sampai ke jalan buntu.


Aku takut.


“Lihat kan Gading, ayah bilang apa. Rasyiqa itu tidak mungkin kuat. Dia disini cuma jadi halangan⏤”


“Halangan buat aku blah blah blah,” papa memotong dengan keras sambil terus membalas pelukanku, “Kalau kamu lupa, sekali lagi aku jawab. Tidak terima kasih.”


Sedetik aku merasakan hening yang mencekam meski secepatnya dipenuhi oleh tawa pria itu, “Hahaha, maaf deh. Aku juga lupa kalau anakku sudah jadi suaminya cewek itu. Kamu banyak berubah sejak lama tidak ketemu ayah ya?”

__ADS_1


“Bukankah aku hanya mengikuti kata-kata ayahku untuk cari pengalaman?”


“Tentu saja~ Ayah hanya kesepian. Bukannya akan lebih menyenangkan kalau kamu hidup dekat dengan ayah?”


“Yah, aku memang bukan orang bijak. Tapi aku masih saja bisa malu kalau kalimatku lebih bagus daripada kelakuanku,” Rizki menghela nafasnya, “Anak durhaka ini tidak bisa jadi kebanggaanmu.”


Pandanganku yang menyelinap keluar di tengah pelukan papa. Aku bisa melihat mereka bertukar pandang. Yang satu tersenyum dan yang satu menahan amarahnya.


Namun, kakek itu kehilangan senyumannya.


“Sedih sekali anakku sendiri bilang begitu. Tentu saja kamu bisa jadi kebanggaanku. Ayah kan bukan orang jahat,” ia mengangkat kedua tangannya terbuka, “Ayahmu ini hanya player. Sama seperti kalian.”


“Anakmu ini akhirnya mengerti kalau ayahnya sudah lupa daratan.”


“Hahaha, aku sampai hilang kata-kata.”


Mereka…. Memang selalu menggunakan kata-kata yang rumit dan sulit dimengerti. Namun, aku sudah cukup tahu kalau mereka sedang bertengkar kata.


Atmosfer ini memang sudah diluar kemampuanku. Kedua orang jenius di satu ruangan. Sungguh seperti bom waktu.


“Oh iya, kita berdua asyik sendiri. Rasyiqa kan mau ketemu Faresta.”


Entah bagaimana aku tidak terkejut kalau dia tahu aku berniat melakukan sesuatu akan itu. Tidak mungkin dia bertahan dengan jalan pemikiran yang bodoh. Sementara dia sudah banyak menabung kejahatan begitu lama, dan belum dimakan hukum bahkan sampai sekarang.


Kenapa dia menghilangkan senyumnya sama sekali? Wajah tak senang itu seakan tanda kalau akan keluar hal yang lebih buruk. Orang ini mengamatiku.


Dalam satu kedipan mata, senyumannya kembali lagi, “Gimana kalau kita jalan-jalan dulu baru ketemu Faresta nanti?” dia mengulurkan tangannya, layaknya berharap aku akan mengulurkan tanganku di atasnya.


Untunglah ada tangan Rizki yang memelukku lebih erat, “Tidak perlu, Rasyi. Tidak apa.”


Sulit untukku membiarkannya seperti itu. Guna diri yang tidak bernilai, tak tahu diri. Kala ada waktu untukku, apa aku akan membuangnya dan memilih untuk menjadi tuan putri yang terima jadi?


Rasyi, kamu kan yang bilang sudah cukup untukmu menjadi orang tidak berguna? Maka cukupkanlah!!


Jantungku, aku mohon. Teguhkan dirimu. Waktumu bisa saja habis kalau kamu hanya mementingkan perasaanmu saja.


“Bagaimana? Kak Faresta yang selalu Rasyiqa pikirkan menunggu loh~” dia menungguku dengan telapakan yang masih terbuka.


Tidak apa, Rasyi. Dia tahu aku akan meminta bertemu Faresta dengan aku menemani kegiatannya. Itu karena sebelumnya pernah terjadi. Aku meminta bertemu Jagad dan Ira dengan janji makan malam bersama. Itu hal yang sudah wajar, bukannya karena kamu ketahuan.


Untungnya, kecurigaannya pasti menurun.


Dengan begini, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Rasyi. Sesuai rencana. Lakukan!

__ADS_1


Tanganku yang masih terasa gemetaran meraih ulurannya, “Um… iya….”


Pria ini tersenyum semangat. Hanya bisa aku harapkan dia tidak punya rencana yang ‘mematikan’ untuk kami.


“Yakin?” wajah papa yang aku pandang jelas saat menekuk tengkuk leherku. Tentu saja dia tidak senang.


Aku berusaha tersenyum. Seluruh anggota tubuhku tahu ini bukan ketegangan yang bisa dibawa untuk membuat simpul manis di bibir. Hasilnya alisku ikut terangkat.


Kurasa aku hanya bisa berharap, “Papa, Rasyi bisa kok. Please?”


Merasakan berat hati di setiap ujung jari-jarinya yang memelukku. Perlahan dia menarik pelukannya dan memberikan aku jarak untuk berdiri sendiri. Lemah ia dibuat oleh tekanan yang dia beri sendiri di hati nuraninya.


Dikembangkan lebih lebar senyumanku. Ia memang tidak bisa tega ke anaknya. Orang ini memang selalu manis.


“Hahahaha!” suara tawa Hari sangat dekat.


Tarikan pelan genggamannya menghadapkannya padaku di depanku, memberikan hawa yang menggigil. Memainkan rambutku seakan bukan apa-apa. Kenyataannya, sekecil itu gerakan darinya sudah bisa meracuni pikiran. Seakan berteriak⏤'jangan bergerak, atau kamu akan teriris benang tajam tak terlihat'.


Senyum itu masih saja tidak melegakan, “Jangan marah, Gading! Anakmu yang meminta loh~!”


Meski tak melihat jelas, aku tahu Rizki sudah pasti memasang wajah kemarahan. Amarah yang tertahan. Ketakutan yang ia telan sekuat tenaga. Sama seperti malam di saat ia menemukanku sehabis hilang, saat aku baru mencapai tiga.


“Nah,” si kakek ini melepaskan tanganku memberikan aku kejutan.


Hari mengubah posisinya menyamakan tubuhku menghadap. Guncangan kaget, tepat saat dia meletakkan tangannya merangkulku di pinggangku.


“Ayo~” dia mulai berjalan sambil mendorong aku mendekati pintu.


“Kuhargai kalau kamu juga menghargai anakku lebih baik!” amarah Rizki terdengar menggema di ruang kamar yang mewah dan tak terawat itu.


“Jangan khawatir begitu, Gading,” kami melewati pintu, “Sesama player, tidak boleh menyakiti kan? Kecuali player itu berniat aneh-aneh duluan, aku hanya membela diriku, Gading~”


Eh?


“Hari!”


Pintu tertutup keras sebelum bunyi pintu yang terkunci.


BRUK!


“Hari!” Rizki berteriak kencang dari balik pintu, “Awas kalau kamu macam-macam! Hari!!”


Tanpa mengerti pasti apa maksud dari ucapan mereka berdua, tapi reaksi Rizki sungguh menggambarkannya dengan jelas.

__ADS_1


Aku masuk ke jebakan makhluk menjijikan ini.


__ADS_2