
Papa mengangkat pandangannya ke langit-langit kamar yang dibiarkan tak terang. Cerita itu sudah mencapai ke tahap akhir dari panjangnya petualangan sang pria ini.
Di awal aku selalu berpikir ini hanya akan menjadi pengalaman satu hari. Kisah kenakalan yang menggambarkan kesalahan diri yang belum matang atau ketidaksengajaan yang amis di hidung.
Tak kusangka, sepanjang itu hanya menggambarkan garis besar dari seumur hidup penderitaannya.
“Papa sudah ada niat kirim Rasyi ke panti dari dulu. Papa pikir kalau Rasyi tidak kenal papa, Rasyi bisa aman,” pria ini tersenyum dengan tatapan sendu, “Rasyi bisa tidak ingat, tapi Rasyi paling takut kalau papa bahas tentang itu.”
Ini terlalu banyak. Hentikan semua serangan ribuan kenyataan yang panas ini.
“Yah. Sepertinya sudah cukup⏤” mata papa terbelalak layaknya rasa khawatir melandanya habis-habisan, “Rasyi kenapa nangis?”
Hah? Jemariku merasakan air yang mengalir di pipiku. Benar, wajahku basah. Apa aku menguras mataku sepanjang ceritanya tadi? Mataku sampai terasa lelah.
Punggung tangan aku bawa untuk menyeka basahnya wajahku. Kenapa waktu aku sadar sedang menangis seperti ini, aku malah menangis lebih deras?
Sebuah tangan hangat menyentuhku lembut. Dia membantuku menyeka dengan ujung lengannya yang panjang seperti biasa. Mata hitamnya seakan menggelap. Layaknya luka hati itu semakin bertambah di punggungnya.
“Maaf, Rasyi jadi takut ya? Seharusnya memang papa tidak cerita.”
Bagaimanapun besarnya aku ingin menentang itu, sebesar itu pula aku menyetujuinya. Terlalu banyak ketakutan untuk perlu aku tolerir.
Inilah yang aku takutkan setiap kali aku diberi kesempatan untuk tahu latar belakang semua masalah ini. Aku harus apa setelahnya?
“Tidur saja dulu. Sudah jam segini.”
Hmm? Kutatap jam dinding itu. Jam tiga malam?
“Belajar besok kita tunda saja sampai siang. Rasyi istirahat dulu,” papa memperbaiki posisi bantal-bantalnya.
Air mataku akhirnya mengering. Mata yang masih basah itu mengingatkan kembali kalau aku sedang mengantuk.
Namun masih belum saatnya untuk itu.
“Pa,” berusaha aku memperbaiki suaraku yang awalnya tidak stabil, “Apa yang terjadi pada mereka?”
Ditegakkan kembali punggungnya, “Mereka tidak akan ganggu Rasyi lagi kalau Rasyi lebih hati-hati. Tenang⏤”
“Bukan itu maksudku!”
Sangat yakin aku kalau dia mengerti maksudku. Ini bukan lagi masalah apa yang akan terjadi padaku, tapi apa yang akan mereka lakukan.
Udara bergerak melewati mulutnya sampai terdengar dengan keras, “Mereka tidak bisa banyak bergerak. Papa sudah melaporkan segala macam ke polisi. Hendra juga paham ini, dia pasti siaga terus.”
Namun kenapa? “Lalu kenapa mereka tidak ketangkap?”
“Tidak semudah itu, Rasyi,” matanya tertutup beberapa saat seakan menahan sesuatu, “Kita memang kenalnya Hari itu penjahat. Tapi banyak orang kenal dia itu orang baik.”
__ADS_1
Hah? Dikenal sebagai orang baik? Pria busuk seperti dia?
“Itu karena mereka punya perusahaan amal.”
Langsung terbelalak mataku, “Perusahaan amal? Mereka?”
“Mereka bisa tutupi pekerjaan ilegal mereka dengan banyak perusahaan bersih milik sendiri. Nama Hari sudah terlihat baik. Apalagi Hari itu beraksi di belakang layar, yang kena masalah pasti hanya anak buahnya.”
Orang licik itu! Kurang ajar!
Semua ini membuatku mual. Layaknya seseorang yang terlalu banyak makan. Ini semua terlalu berlebihan untuk dicerna.
Aku harus tenang dulu, “Tapi, papa pasti sudah punya merencanakan kan?”
“Memang, tapi papa cerita semua bukan supaya Rasyi ikut-ikutan.” Apa katanya?! “Rasyi cuma perlu tahu. Biar papa yang selesaikan ini.”
“Kenapa? Rasyi kan bukan benda, pasti Rasyi bisa bantu sesuatu kan?”
Dia menatapku dalam diam. Jangan bilang dia berencana bermain bodoh lagi. Haruskan aku memancingnya terus menerus?
“Pa, Rasyi ingat kok. Dulu Rasyi pernah ke taman wisata dan ketemu kakek. Papa juga pernah mau bawa Rasyi ke panti. Rasyi jadi nangis dan janji tidak akan tanya apa-apa.”
Wajahnya yang memperhatikan setiap lekuk ekspresiku. Ia tampak terkejut tapi entah bagaimana menjelaskannya, dia seakan sudah tahu apa yang akan terjadi.
“Belum cerita pun Rasyi sudah ikut ke masalah papa. Rasyi sudah kena imbasnya. Terus kenapa papa yang tidak mau terima Rasyi? Tidak bisa ya kita kerja sama atau apalah itu? Rasyi tidak mungkin tunggu saja.”
Katakan sesuatu. Bilanglah kalau papa butuh aku. Aku mohon….
“Baiklah. Rasyi akan diam sesuai janji. Berarti papa juga minta Rasyi diam kalau Rasyi ditangkap? Begitu?”
“Bukan!” dia menghentikan mulutnya. Wajahnya sungguh pucat tapi seakan dia menahannya.
“Tolong, pa. Rasyi capek. Rasyi juga mau lepas. Ayo kita lakukan sesuatu sama-sama.”
Aku tahu dia orang yang penyayang. Kehilangan yang sungguh banyak pasti membuat hatinya retak. Namun aku tahu dia punya kepala yang dingin untuk berpikir ini tidak akan selesai hanya aksi dari satu orang.
“Jangan ikut campur, Rasyi.”
Hah?
“Memangnya kamu mau apa? Diam saja seperti biasa.”
Hanya diam katanya?!
“AKU SUDAH BERUSAHA!!!” tubuhku yang awalnya duduk di ujung ranjang sekarang tegang berdiri. Amarahku mendidih tak karuan.
Lebih dari siapapun, aku mengerti seberapa tidak berdayanya aku menghadapi masalah ini. Sejak aku tahu aku terperangkap di keluarga tak beradab sampai semua sudah jelas ceritanya.
__ADS_1
Setiap kali aku ditempa ke atas oleh ambisi, selalu ada kalanya aku dipojokkan oleh rasa takut. Otak dan hatiku dibawa ombang-ambing tanpa tujuan.
Ditambah lagi, orang di depanku ini bertindak layaknya aku bukan siapa-siapa. Aku muak sudah dikekang dengan kalung tahanan selama ini.
“Memang karena siapa aku ikut campur? Siapa juga yang suruh aku diam, diancam bakal dibuang? Dua-duanya kamu! Kamu maunya apa?!”
Kenapa nasib buruk ini harus menimpaku? Kenapa aku harus dibunuh dan dihidupkan kembali jadi anaknya? Apa sebegitu rendahnya harga hidupku selama ini?
Cukup!! Sudah cukup aku bersabar! Hidupku, aku yang menentukannya sendiri! Aku!!
“Gara-gara kamu, HIDUPKU HANCUR!!”
Langkahku mengambil jalur pergi. Meninggalkan kamarnya dan membiarkan dia sendiri.
Kemarahan yang tumpah ruah aku bawa ke dalam kamarku sendiri. Pintu dengan kunci sederhana membatasi aku dan semua yang ada di luar sana. Lemas kakiku berlutut di lantai ubin putih yang dingin.
“Hik! Huu….”
Aku harus bagaimana?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Ini nduk, minumnya,” bibi meletakkan segelas air putih dengan beberapa potongan lemon di dalamnya.
“Terima kasih,” aku melanjutkan makanku.
Sunyi yang tidak biasa di waktu sarapan ini mencekamkan suasana. Aku bahkan bisa merasakan gerakan canggung dari bibi saat membantu kami menyiapkan makanan.
Bagaimana lagi? Pagi yang biasa untuk kami adalah suasana hangat ayah dan anak yang saling berbagi candaan.
“Mas se, nduk, bulik tinggal cuci baju dulu yo?”
“Iya,” papa membiarkannya pergi.
Langkah bibi yang memudar menambahkan sepi di setiap sudut ruang semakin dingin padahal hari sudah mulai mendung.
Ini membuatku sakit kepala. Rasanya aku sangat ingin kabur dari semua ini. Bukan salahku, dia saja ingin aku tidak ikut-ikutan sama sekali. Untuk apa aku ada disini? Menjadi barang yang menemaninya sarapan?
Sampai kapan kami harus seperti ini?
Tiba-tiba dia berdiri dan membawa peralatan makannya. Langkah itu membawa ke wastafel cuci yang tidak jauh. Aliran air yang bergemericik keras. Sepertinya dia sedang mencuci piring sekaligus tanganku.
“Rasyi, papa mau ke rumah Hendra habis ini,” kran air itu dimatikan, “Papa tunggu di mobil. Kalau mau ikut, jangan lama siap-siapnya.”
Pintu utama rumah menjadi tujuannya setelah mengeringkan tangannya. Kunci mobil yang tergantung itu dibawanya dan pintu pun ia tutup.
Hah… ke rumahnya Ira? Apa aku ikut saja ya?
__ADS_1