Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#5 Serang!


__ADS_3

Lemas sekali... taman belakang sudah tidak membangkitkan semangatku. Rasanya seperti sudah berjalan puluhan kilometer untuk ikut diskon besar-besaran, tapi barangnya habis.


Tiba-tiba suara Marakas semakin nyaring di telingaku. Mengganggu saja! Langsung kuambil mainan menjengkelkan itu dan melemparnya jauh-jauh! Pergi dari hadapanku!


“Rasyi!” Fares terkejut dengan hilangnya mainan Marakas-nya.


“Aa da eunda! Ta tattata emdata, taa!” aku galau nih! Nyawaku sedang terancam bahaya, tahu!


“Apa?” polos wajah Fares.


Gelengan kepalaku kencang, “Tta ta ta ta tta!!” Terserah!


“Jangan berkelahi~” Sari terlihat menahan tawanya.


“Rasyi duluan!” Fares menunjukku.


“Eummu dada!!” Kamu yang duluan!


Bisa-bisanya aku berkelahi dengan anak kecil di keadaan seperti ini. Seharusnya aku menggunakan waktuku untuk berpikir!


Luruskan otak lagi! Situasi bahaya yang kutahu hanya keredaan orang-orang itu. Mungkin hal itu juga yang jadi alasan kenapa aku tidak boleh keluar rumah. Bisa jadi kelompok ini lebih berbahaya dari sekedar preman—tapi itu tidak cukup!


Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka mengincarku dan Rizki? Apa yang mereka inginkan? Kapan situasi berbahaya ini dimulai sebelumnya? Bagaimana bisa keluarga si Rasyi kecil dibunuh begitu saja? Dimana kemanusiaan mereka?!


“Ndamm!” kumasukkan salah satu mainanku ke mulutku.


Masalah seperti ini harus diselesaikan oleh ahli, seperti polisi. Namun, orang-orang disini tidak mungkin sebodoh itu tidak pernah sekali pun melapor ke polisi. Dan lucunya, Hendra itu polisi!


“Ndattaa!!!” kesal!


Otak! Ini sudah satu minggu! Kamu masih saja belum mendapatkan apa pun?!


Bagaimana bisa aku menyiasati situasi kalau aku tidak tahu bagaimana situasinya?


Rasanya tidak mungkin mereka mengenalku. Aku sudah sadar sejak sehari setelah aku lahir dan aku tidak menemui orang lain selain orang-orang yang kukenal sekarang. Selama ini aku aman.


Kalau tidak kenal, yang berbahaya sekarang adalah dekat dengan Rizki. Pergi ke panti asuhan bisa jadi aman untukku. Kalau mereka kenal denganku... kurasa tidak sendirian hal yang paling penting. Rumah ini terhitung aman.


“Dimana Rizki?” Hendra bertanya.


“Di perpustakaan.” jawaban Sari, “Kenapa?”


“Harus aku paksa Rizki membeberkan itu sekali lagi.” Hendra mulai berdiri.

__ADS_1


“Tunggu, Hendra. Kita tidak bisa sembarangan,” ucapan Sari diabaikan Hendra dengan langkah pergi, “Hendra!”


Aku mencoba memproses ulang kata-kata yang keluar dari mulut kedua pasangan itu. Membeberkan apa? Hubungan apa dengan keadaan kerut yang menyelimutiku saat ini?


“Rasyi!” panggilan cempreng Fares membuyarkan lamunanku.


Ganggu sekali sih! Tidak melihat aku sedang sibuk?! Kamu mau tanggung jawab kalau aku mati?! Hah?!!


“Lihat!” Fares menunjukkan sesuatu dengan bangganya.


Aku menatapnya. Susunan bongkar pasang sederhana berwarna-warni yang... bentuk apa itu? Kamu menyuruhku untuk mengamati maha karya kacau yang kamu buat? Menyusahkan!


Kurebut rangkaiannya itu. Langsung memasukkan sebagian kecilnya ke mulutku.


“Jangan!” seru Fares.


Sudah berkali-kali aku ‘bilang’ jangan ganggu aku! Aku makin kesal kan!


“Jangan ditelan ya~” Sari menyeka air liurku yang menetes, “Kak Fares buat lagi tidak apa kan?”


Benar! Pergi sana!


Fares masih saja mengkerut, “Rasyi tidak mencintaiku ya?”


... ah... apa?


Aduh~ Nak~ Kamu belajar kalimat itu darimana sih? FTV?! Acara itu bukan dibuat untuk ditonton anak seumuranmu!


Terdengar suara tawa kecil dari Sari, “Bukan begitu, sayang~ Memang kelihatannya Rasyi tidak suka, tapi sebenarnya menggigit sesuatu memang cara adik bayi bilang dia suka.” jemari Sari menyentuh kepala anak satu-satunya itu.


Aku bukan ahlinya bayi, tapi kurasa memang begitu. Kenyataannya orang dewasa juga kadang-kadang seperti itu kok. Seperti Rizki yang terdengar kejam mau mengirimku ke panti asuhan, sebenarnya itu bagus. Nyawaku bisa tertolong karena itu.


Heh? Itu berarti, Rizki bukan orang jahat dong. Tidak! Jangan konyol! Jahat tetap jahat!


Tersadar mata Fares menatapku menanyakan kebenaran kata-kata Sari. Iya iya. Aku senang nih.


“Nda!” senyumanku melebar meski mainan itu masih ada di mulutku.


Wajahnya langsung mencerah seperti sinar matahari pertama di awal musim kemarau. Sudah kan?


Kembali ke masalah utama. Di pikiranku, hal yang bisa kulakukan sekarang—dengan tubuh bayi ini—adalah setidaknya ‘meminta’ perlindungan orang lain.


Perlindungan Hendra sebagai polisi sudah ada di tanganku. Hanya saja, tidak tahu kenapa, aku merasa tidak bisa sepenuhnya aman dengan perlindungan Hendra. Aku... perlu perlindungan dari ayah kandungku.

__ADS_1


Kalau memang dia baik dan berusaha melindungiku, dia bisa jadi tokoh terpenting untuk keluar dari permasalahan ini. Aku cukup yakin kalau yang membuatku aman sampai detik ini, punya sangkut paut lebih dalam dengan Rizki. Buktinya orang-orang dewasa ini tidak berani menjauhkan aku darinya.


Yang pasti, suka atau tidak, aku harus bekerja sama dengannya. Sampai saatnya nanti, aku tidak punya pilihan lain selain menggantungkan nyawaku padanya. Pada ayah yang entah baik atau jahat.


“Aaa! Emyap ppa! Aa an eaneumu!” baiklah! Bersiaplah papa! Rasyi akan menyerangmu!


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


Dulu, sebagai Sekar, aku senang membaca komik digital di internet. Tema yang sedang trending saat itu, reinkarnasi. Gadis yang berjuang mengubah takdir kematiannya setelah dihidupkan kembali di dunia Novel yang mereka baca sebelum mati.


Kalau aku? Aku tidak pernah membaca novel yang seperti sekarang ini! Informasi tentang scene tidak ada sama sekali. Membuat rencana pun, semua bertabrakan dengan rencanaku! Tidak harmonis!


Aku hanya butuh bertemu dan berdamai dengan ayah kandung Rasyi kecil! Dengan begitu kan aku bisa menjamin keamananku, setidaknya sampai aku mampu sendiri! Rencana matang sia-sia kalau aku bahkan tidak bisa bekerja sama dengan alurnya!


Setiap hari ada rintangannya. Ira, mengawasiku ketat. Sari, selalu mengurungku di kamar. Fares, selalu menyodorkan mainan setiap detiknya. Hendra... aku bahkan tidak tega meninggalkannya! Senyumannya membekukanku!!


Dan saat aku bisa kabur seperti sekarang...—Tanganku mendorong kuat pintu perpustakaan di depanku. Kenapa pintunya harus ditutup!!


Kepalanku terus mengetuk, “Daaaaa!” Tidaaaaak!


Jangan bilang papa tidak ada di dalam. Aku sudah bersusah payah kesini. Lihat~ Di rambutku ada bunga kan? Bunga ini khusus kubawakan untukmu, pa~ Buka pintunya~


Sabar… Tenangkan diri dengan interior yang mewah dan kembali ke alam ini. Bukan pemandangan biasa untuk Sekar melihat ruangan dengan ruangan lain berdinding kaca tanpa atap. Mataharinya menghidupkan segala macam tanaman di dalamnya. Rumah orang kaya memang beda~


Kalau diperhatikan, tempat ini penuh dengan barang-barang random. Bahkan ada sepasang kursi dan meja di belakangku. Interior yang nyaman untuk bersantai dan mendamaikan diri. Sebenarnya ruangan apa sih ini?


Itu tidak penting! “Emmmmm!” kukuatkan kakiku sambil menghadap pintu menyebalkan yang terlalu kukuh itu.


Kakiku terasa melurus. Oh! Aku bisa berdiri tanpa pegangan! Aku berkembang lagi hari ini! Senangnya~


Bukan saatnya kagum! Seharusnya aku sedang marah karena pintu sialan ini! Rumah bagus itu seharusnya punya pintu bagus juga! Yang terbuka otomatis lebih canggih, tahu!


“Daaaaaa!” Aaaaaargh!


Eh! Pintunya bisa aku dorong! Berhasil dibuka!—aku jatuh!


“Emduu!” Aduh!


Tubuhku masih terkelungkup di antara bingkai pintu yang terbuka. Suasana hening membantuku perlahan menghapus sakitku.


Mati-matian aku sudah berusaha begini! Awas saja kalau dia tidak ada disini! Buku-buku disini akan jadi korban tangan dan air liurku!


Kuluruskan kedua tanganku. Merangkak mencari target. Satu lorong rak buku ke lorong lain kulewati.

__ADS_1


“Iammena eumu? Uaaaa!” Dimana kamu~? Keluar!


Rangkakanku terhenti. Terlihat di ujung sana ada meja kerja sederhana. Papaku itu sudah tertidur pulas dengan kepalanya merebah di atas lipatan tangannya bersama pulpen di jemarinya. Wajah tampan terpulas jelas mengarah kepadaku.


__ADS_2