
“Papa?” tanyaku menengok papa tercinta dari balik rak buku.
“Hmm?” tanggapannya masih sibuk mengetik sesuatu.
Selama berbulan-bulan aku hanya menemukannya di ‘gudang’ buku ini. Ada saja kesibukan baru setiap harinya. Hampir tidak ada waktu baginya untuk memandangi anaknya sendiri.
Tidak kangen apa denganku? Aku berlari kecil mendekati meja kerjanya.
Matanya melirik, “awas jatuh.”
Langkah langsung kupelankan. Aku meraih baju hangatnya berusaha naik ke pangkuannya. Tubuhku dibantunya naik, mengangkatku sampai akhirnya aku ikut menghadap ke monitornya.
Ia langsung meraih mainanku yang tidak pernah beranjak dari meja kerjanya. Boneka kecil itu selalu jadi mainanku saat berkunjung di waktu kerja papa.
Tanganku sibuk mengotak-atik mainan, semetara mataku mengikuti gerakan jari-jemari papaku. Pa, papa sedang senam jari ya? Cepat sekali. Bahkan lebih cepat dari pada Sekar yang kerjaannya memang mengetik setiap hari.
Papa sedang apa sih? Seperti sedang memprogram sesuatu. Lebih ribet daripada saat tante Ira bekerja. Bukannya pekerjaan papa itu dokter ya? Kenapa papa lebih terlihat seperti programer sekarang.
Tiba-tiba terlihat tulisan dineded di bawahnya. Hah? Apa maksudnya?
“Hah...” hela kesal papa sambil memegangi kepalanya.
Iih, apa sih? Aku jadi penasaran! “Papa sedang apa?” tanyaku.
“Kerja.” katanya kembali mengetik.
“Kerja apa?” tanyaku lagi.
“Mengetik.” jawabnya singkat.
Hah! Terserahlah! Aku tidak mau tahu lagi! Aku berusaha untuk berdiri ingin meninggalkan pria membosankan ini. Tidak sengaja aku menekan papan ketik di depanku. Oops…
“Rasyi!” Rizki terdengar panik mengangkatku menjauh papan ketik, “apa yang...?” kepanikannya berubah seketika menjadi tidak percaya.
Kebingungan. Entah tombol apa saja yang sudah kutekan. Seketika muncul kata accepted muncul di bawahnya. Layar sedang memuat sesuatu. Wah! Apa aku membuka apa yang dia cari?
Muncul banyak sekali gambar yang termuat sekaligus. Membuat layarnya berputar menyesuaikan jumlah gambar membuat gambarannya tampak kabur.
Oh… seharusnya menunggu sebentar lagi aku bisa melihat⏤ah! Gelap! Tangan siapa ini?! Papa ya?! Terasa tangan itu memeluk selagi suara ketikan berlanjut.
__ADS_1
Kudorong tubuhnya melepaskan pelukan paksaan itu. Gambar layar sudah kembali semua di halaman awal. Apa dia menyembunyikannya?!
“Bibi.” seru Rizki terdengar masih panik, “Bibi!”
Pintu terbuka dan larian mendekat, “kenapa, tuan?”
“Bawa Rasyi main.” katanya menyerahkanku pada bibi.
Kenapa sih?! Aku jadi semakin penasaran nih! Ingat-ingat dong, aku yang membantumu membukanya! Bolehkan aku mengintip sedikit! Satu foto saja!
“Papa~”
Rizki menyerahkanku pada bibi, “main sama bibi dulu.”
Bibi orang yang penurut sekali. Dia membawaku tanpa bertanya apa pun. Ekspresinya pura-pura marah menatapku seperti biasa. Ya... aku tahu. Tidak seharusnya aku mengganggu papa bekerja.
Siapa juga yang mengganggu?! Jasaku yang sudah meringankan kerja papa! Aku!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Pa, papa mau kabur dari rumah? Kenapa papa membawa banyak sekali baju? Pa... papa tidak bosan denganku kan? Papa tidak mau membuangku kan?! Papa! Nyawa satu anakmu yang tersisa ini masih tergantung!
“Tenang, pak. Saya pastikan tidak akan ada seorang pun yang keluar masuk sembarang! Saya, satpam kebanggaan pak Rizki, akan menghalau semua penyusup.” kata paman penjaga dengan sangat bangganya.
Rizki terlihat memutar bola matanya, “aku ingatkan lagi. Jangan asal sebut namaku ke orang asing. Kalian bekerja pada seorang dokter, itu cukup.”
Dokter apanya? Dokter tidak boleh seperti itu tahu! Kamu harus ramah dengan semua orang walaupun belum kenal! Memangnya separah itu ‘penyakit’ penyendirinya?
Rizki membawa tas besarnya, “Oh iya satu lagi, untuk seminggu ini Rasyi tidak boleh keluar halaman.” HAH?! “—sebisa mungkin jauhkan dia dengan jendela.”
Apa-apaan itu?! Empat puluh bulan hidup kuhabiskan tanpa keluar rumah satu sentimeter pun! Kamu masih mau menyiksaku sampai berapa lama lagi?! Sudah tidak habis bisa pikir lagi~
“Jangan mengacau.” tatapan tajam Rizki menusuk kami.
Iya, pa. Kami paham... Ampun.... Jangan buang aku.
Ia menatapku. Aku hanya terdiam melepasnya entah kemana ia pergi. Ia mendekatiku, menggendongku dengan tangan kukuhnya. Iya, aku akan jadi anak baik dan tidak akan bertanya urusanmu~
Ah. Heh?! Dia mengecup keningku?! Rasyi! Tenang! Dia kan sesekali melakukannya saat aku hampir tidur. Kamu tidak bereaksi karena kamu sudah terlalu mengantuk. Jangan kaget⏤bagaimana caranya?! Selama ini aku berpikir itu hanya cara ke-ibu-an Rizki untuk menidurkan anak. Tidak pernah kusangka dia akan melakukannya di luar jam tidur!
__ADS_1
Tenang Rasyi, tenang!
“Maaf, Rasyi tidak boleh keluar taman dulu.” ia mengelus wajahku.
Aku masih penasaran, apa dia punya kekuatan membaca pikiran? “Tapi, Achi suka kelual!” Ya... pada dasarnya aku memang bukan orang rumahan. Terkurung di rumah sangat mengekang.
“Satu minggu saja.” sahutnya, “papa mau memastikan sesuatu. Kalau papa sudah yakin, nanti kita jalan-jalan ke luar.”
Heh? Dia... “Janji?” tanyaku mengulurkan jari kelingkingku.
“Janji.” katanya mengaitkan kelingkingnya.
Aku tersenyum lebar melepaskan keberangkatannya. Pintu coklat berdaun satu itu tertutup setelah Rizki dan paman penjaga melewatinya. Kedua bibi pembantu membawaku pergi menjauhi ruang tamu.
Kepalaku kembali berkeliling. Rizki mau memastikan apa sampai pergi selama seminggu? Bahkan mengurungku lebih ketat. Kalau dia mau memastikan sesuatu sekaligus menjauhkan aku, berarti ini berhubungan dengan orang yang mengincar kami. Apa dia mau memastikan keamanan kami? Bisa kah?
Entah kenapa perkataan itu terdengar sangat meyakinkan. Tidak terdengar sebuah kebohongan. Kurasa aku hanya bisa mempercayainya.
“Bibi! Achi main sama putih ya?” kataku menunjuk kandang kelinci di samping pintu taman belakang.
“Jangan keluar loh.” kata bibi membukakan kandang si Putih.
Kuangkat Putih yang sudah mulai gemuk, “ya! Ayo kita main, Putih!”
Pelukanku terlepas membiarkannya melompat ria kemanapun ia mau. Si Putih adalah hadiah Fares dan keluarga untuk ulang tahun pertamaku sebelumnya. Mereka sangat berharap aku bisa betah ada di dalam rumah.
Aku terus mengikuti si Putih menelusuri setiap tempat. Ah! Pintu ruang kerjanya papa tidak ditutup. Aku harus membawanya pergi!
“Putih! Jangan masuk ke sana!” kakiku masih menginjak ubin di pintu yang daunnya terbuka.
Inilah yang tidak kusuka. Saat aku sedang serius tidak mau bermain, dia malah berlari lebih cepat. Jalanmu kan melompat-lompat, tentu saja bisa cepat! Aku harus cepat mencarinya.
BRUK!
Tidak! Apa dia menghancurkan sesuatu lagi? Putih! Kenapa kamu menyusahkanku sih! Lariku terus melaju mendekati asal suara itu. Ah! Ketemu. Putih sedang santainya mengotori lantai dengan membalikkan tempat sampah di dekat meja kerja papa.
“Putih nakal!” kesalku mengangkatnya di pelukanku.
Lututku tertekuk duduk di depan sampah-sampah kertas itu. Berusaha dengan satu tangan mengembalikannya ke tempat semula. Sekilas terlihat sebuah gumpalan kertas berisi sebuah gambar. Apa ya isinya~ Wajar~ Anak kecil selalu penasaran.
__ADS_1
Posisi dudukku berubah sampai akhirnya aku nyaman dengan lantainya. Si Putih masih tenang di pelukanku. Gumpalan kertas itu terbuka dan tampak sebuah gambar—apa ini...?