
“Aduh, jangan begitu dong. Masa junior-nya dikata-katain. Aku membantu loh, bukan mengajak berkelahi.” mata Harun sekilas kedutan walau masih tersenyum.
Jagad terang-terangan memperlihatkan marah di wajahnya, “Mukamu itu sudah ngajak kelahi orang, tahu!”
Kalian….
“Bukannya KAKAK yang memang pemarah? Orang lain kalau dibantuin pasti senang,” Harun masih saja menyulut.
Semakin terpancing Jagad dibuatnya, “Tuh. Tuh! Itu tuh yang bikin kelahi! Sini, biar aku ratain mukamu!”
Jangan berkelahi di ruang guru! “Kalian berhenti dong!”
“Iya, KAK. Berhenti.” Harun kenapa sih?!
Aaaah!! Yang benar saja! Memangnya kalian kucing dan tikus? Papa meminta kalian kesini untuk menemani aku di hari pertama sekolah. Kenapa kalian jadi asyik sendiri?!
Padahal aku sudah susah payah memohon papa untuk menunda dua bulan debutku. Semua untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk bagaimana aku masuk kelas untuk pertama kalinya. Rizki sudah memberikan solusi dengan ditemani Harun dan Jagad.
Namun bukan begini juga! Kalau begini aku bisa stres duluan sebelum masuk kelas!
Kesekian kalinya aku berusaha menangkap wajah pria yang duduk di sampingku. Dia masih saja datar tak pedulinya.
Mamaku tercinta yang ada di atas sana, dimana kamu menemukan anak ini?! Tidakkah kamu sadar dia bukan tipe pria yang bagus untuk dijadikan ayah?! Bahkan dia tidak cocok disebut pria!
Kupeluk tangannya erat, “Papa~” rengekku pasrah.
Rizki tampak penuh dengan rasa mengeluh. Kepalanya yang memutar memperhatikan sejenak kedua anak remaja itu. Entah kenapa dia kembali memandangiku.
Jangan begitu dong! Bantu aku!
Dia membuka ponselnya, “Mereka sibuk. Kita cari orang lain saja biar temani Rasyi di kelas.”
Hah?! Bagaimana⏤
“Tidak om! Aku tidak sibuk!” Jagad langsung mendekati kami.
Harun ikut menyusul, “Urusan kami sudah selesai kok, paman.”
Mereka langsung berhenti berkelahi? Wow. Pintar juga papaku ini. Namun… tidak! Aku mengenal kilatan itu dimana saja. Dalam waktu dekat mereka akan berkelahi lagi.
Bagaimana kalau aku ikuti papa? “Emm…” sengaja kubuat diriku tampak ragu.
Harun tampak panik, “Kami tidak akan kelahi lagi kok. Iya kan?” dia kembali menatap Jagad dengan mata membelalak.
Jagad sepertinya mengerti. Tapi wajahnya masih ogah-ogahan, “iya.”
Kumajukan bibir merengut. Mereka tidak tampak benar-benar berdamai.
“Coba kalian gandengan tangan,” papa kembali⏤ah?
Aku tahu aku mendengarnya dengan benar. Jangan bilang papa sungguh-sungguh. Itu solusi atau ejekan sih, pa? Hah. Kalau diingat-ingat papa juga meminta mereka melakukan hal yang sama saat ulang tahun Fares dahulu kala sekali.
Sebentar. Waktu itu kan siasatnya berhasil. Mereka menurut dan aku pun menerima keseriusan mereka….
__ADS_1
…
Bisu aku saat menemukan mereka benar-benar melakukannya. Kututup mulutku untuk mencerna sekaligus menahan tawa. Lihat muka mereka. Pasti malu sekali tuh. Tidak aku sangka mereka sebesar itu ingin menemaniku. Manis sih~
“Hihihi,” aku tidak bisa menahan tawa, “Ya sudah, kalian berdua tolong temeni aku ke kelas ya~” senyumku merekah.
Wajah mereka yang kaku tampak lebih lemas. Sekilas aku bisa melihat wajah mereka merona. Entah, mungkin karena memalukan melihatku menertawakan mereka.
“Oh iya,” aku kembali menatap papa, “Ingat ya. HP papa harus stand by. Kalau Rasyi chat, papa harus cepat jawab. Jemput juga harus tepat waktu. Terus bilang yang jelas papa nunggunya dimana. Terus…,” apa lagi ya?
Aku menangkap senyum papa yang langka itu, “Iya,” ditepuknya pelan kepalaku, “Selamat bersenang-senang.”
Kubalas senyumannya. Dia sungguh berharap aku bisa menikmati setiap waktuku dengan bebas. Bila dibandingkan dengan jasanya selama ini, ini hanya imbalan yang kecil. Pasti aku bisa menikmati hari sekolah tanpa takut. Tuh, Sekar juga sangat ingin kembali berbaur dengan keramaian.
Bibirku menyentuh pipi pria itu. Lepas tanganku darinya dan berdiri, “Rasyi berangkat~”
Senyumnya mengantarkanku mendengati Harun dan Jagad yang siap mendampingiku di luar ruang guru. Pintu tertutup dan aku tidak boleh mundur lagi.
Aku dan mereka saling bercerita selagi menapaki koridor terbuka yang diteduhkan tanaman lebat. Jelas kami sedang melangkah ke jalan yang diapit pohon-pohon besar. Di ujung jalan, terdapat dua bangunan yang sama-sama memanjang menghadap ke belakang. Mereka memberi jarak sehingga terlihat jalan di sana.
Terlihat sekali sekolah ini sangat besar. Pemandangan ini benar-benar lain dengan sekolah Sekar dulu.
Ah. Ketertarikanku kembali menciut. Baru aku sadari ada banyak kumpulan murid yang tersebar. Suara ribut juga terngiang dari berbagai arah. Gawat, aku sudah mulai gemetaran.
“Tidak papa, Rasyi. Kan ada kami,” Harun tersenyum menyemangati saat sadar aku mulai diam.
Jagad ikut tersenyum segar, “Kelas kita jauh sih, tapi aku pasti siap kalau kamu minta bantuan.”
“Ini kelas kita,” Harun berhenti di dekat pintu kelas yang terbuka, “Lepas sepatu dulu disini.”
Sedikit ragu tapi aku masih mengikuti instruksi Harun. Iih… aku tegang sekali sih. Tenanglah sedikit jantung! Aku jadi tidak konsentrasi nih!
“Duluan ke kelas ya,” Jagad membuatku semakin tegang dengan melangkah pergi.
Berkurang satu bodyguard-ku. Tidak apa kan? Pasti tidak terjadi apapun kan?
“Ayo masuk,” suara lembut Harun sedikit menenangkanku.
Kurapikan sedikit rambutku, memperbaiki posisi ransel, dan menepuk-nepuk pipiku memastikan tidak apapun di wajahku. Sungguh! Tegang sekali!
Tarikan nafas menuju lingkungan baru, “Oke.”
Langkah Harun mendahuluiku membiarkan aku mengikutinya. Keras dan semakin keras aku merasakan ramai di telingaku. Sedikit demi sedikit aku bisa melihat murid-murid kelas ini sibuk dengan keperluannya masing-masing.
Kalau itu Sekar, aku pasti langsung berlari dan menyapa mereka dengan riangnya. Namun sekarang, aku hampir tidak bisa bergerak⏤Ah!!
“Wah!”
“Eh! Jangan gitu dong!”
“Kyaa! Gantengnya~”
Terjadi lagi! Suara mereka langsung masuk ke telingaku bersamaan. Setiap detiknya menambah getaran ketakutan di tubuhku.
__ADS_1
Jangan, Rasyi! Bertahan!
“Rasyi, tidak papa?” Harun memegang pundakku.
Syukurlah aku bisa mendengar lagi suara Harun. Namun rasa takut yang tersisa membuatku hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan. Diriku, ayo tenanglah.
“Yakin tidak apa?”
Loh? “Firna?” aku langsung tersenyum lebar.
Perempuan itu tertawa kecil, “Kamu melamun dari tadi? Aku datang dicuekin ih!”
“Maaf,” aku tidak sadar kalau kamu datang.
Teman sekaligus tetanggaku itu hanya bisa tersenyum, “Ayo,” dia menarikku semakin ke dalam kelas, “Rasyi harus duduk sama aku~ Aku duduk sendirian terus dari SD nih, hiks!”
“Kacian~” aku ikut tertawa.
Dia mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Kulepaskan ranselku dan meletakkannya di meja sebelum aku mengambil du…⏤kenapa mereka semua melihat ke arah sini?
“Wi!” siapa? “Anak barunya cewek! Cantik lagi!” salah satu cowok tiba-tiba datang mendekat.
“Halo kamu Rasyiqa kan? Salam kenal!”
“Temannya Firna ya?”
“Halo, Rasyiqa.”
“Hai, namaku⏤”
Tidak. Jangan. Terlalu ramai! Tolong satu-satu. Yang tenang. Berhenti⏤
Seketika aku merasakan tepukan di kedua bahuku. Mataku mencari tahu siapa dia. Ah, Harun! Langsung aku genggam salah satu tangannya. Berusaha menenangkan diriku sendiri. Hah… Aku bisa bernafas lagi.
“Guys, gantian dong. Kalian ya, haus sama cewek cantik. Jadi takut kan ceweknya,” nada canda Harun bisa memberikan efek tenang pada keributan yang ternyata sudah mengerumuni kami.
Perlahan-lahan aku bisa mendengar beberapa dari mereka meminta maaf. Bahkan ada yang tertawa menyadari benarnya candaan Harun. Suasana jadi lebih tenang.
“Maaf ya, Rasyi. Mereka semangat banget,” Firna memecahkan lamunanku sekali lagi.
Aku rasa mereka tidak perlu minta maaf. Tuh, mereka hanya berusaha ramah denganku. Seharusnya aku menyambut mereka dengan ramah juga.
“Tidak. Makasih semuanya~” kupastikan senyumku merekah dengan indah.
“Iya, cantik~” eh?
“Gombal saja kerjaan!” cewek di sampingnya menyikut pelan pinggang cowok itu.
Suasana kembali ramai meski target mereka bukan aku. Ejek-ejekan dan tertawa bersama. Atmosfer yang nyaman dalam pertemanan.
Kusatukan kedua tanganku. Berusaha menyembunyikan getaranya. Mulai lagi telingaku berdengung karena ributnya. Namun, aku harus bertahan. Aku tidak boleh menyusahkan orang-orang.
Tidak apa….
__ADS_1