Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#59 Keluarga yang Bukan Keluarga


__ADS_3

Empat roda besar milik si mobil berhenti. Kuncian pintu tidak segan aku buka dan aku turun membawa tas ransel kecil andalanku.


Ruang terbuka di balik pagar tinggi di sana menunjukkan satu sosok yang selalu dekat denganku, “Paman Hendra!”


Bentuk mata yang mirip dengan Fares itu sadar akan aku di depan pagar, “Rasyi?” dia bangkit dari kursi teras dan mendekat.


Pria yang semakin tampan semakin aku lihat itu membukakan pagar. Mobil yang papa kemudikan membelok ke dalam dan mengambil posisi parkir ke halaman depan rumah.


Sekilas aku melihat sepasang set kopi dengan buku yang ditempatkan di teras rumah. Apa Hendra baru saja sedang me time?


“Tumben Rasyi ikut mampir ke sini,” Hendra mengembalikan lipatan tangannya ke depan tubuhnya.


Mulutku membentuk senyuman, “Sekali-sekali.”


Entah bagaimana aku bisa melihatnya terkejut. Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggunya?


“Ya sudah. Masuk saja dulu. Tante Ira ada di kamarnya sama tante Sari,” dia menepuk pelan kepalaku.


“Iya,” langsung aku meninggalkannya dan masuk ke dalam rumah yang akrab denganku sejak aku kecil.


Lekukan rumah yang rumit itu sudah terekam jelas di organ kepalaku. Tanpa tuan rumah yang menuntunku, aku sudah bisa membawa diriku sendiri untuk masuk ke tujuan.


Menghela nafas panjang aku saat sudah ada di depan pintunya. Terakhir kali aku melihatnya saat di persembunyian kakek Hari yang kurang ajar itu. Wajahnya bukan hal yang nyaman untuk direkam di ingatan.


Apa dia tidak apa?


Kuketuk pintu itu perlahan.


“Iya?” suara yang terpendam dari balik pintu tertutup itu.


“Tante, ini Rasyi.”


“Rasyi, masuk!” suara itu menjadi instruksi untuk membuka pintu.


Tanpa membalas apapun lagi, aku pelan membuka pintunya. Kepalaku mencari celah masuk untuk mengintip apa yang terjadi di dalam.


“Kenapa? Ayo masuk.” Ah! Sari! Oh, dan baby.


Luasnya kamar dengan suasana abu-abu kalem penuh peralatan wanita itu memang bisa menenangkan. Mereka bersantai sambil menyamankan posisinya di ujung ranjang. Bersamaan dengannya, aku berhasil menutup pintu kamar di belakangku.


Sari sepertinya sedang bermain dengan si bayi sekaligus mengajarkan Ira tentangnya.


Pertanyaan yang selalu mengkhawatirkanku keluar saja tak peduli, “Tante Ira tidak apa?”


Kalau itu aku, mustahil aku bisa merasa baik-baik saja. Walau anak itu tidak melakukan apapun, tapi dia tetap saja lahir karena adanya aku.


Langkah keras siapa itu⏤tunggu! Ira?! Kenapa kamu jalan sambil marah seperti mau membuldoser aku seperti itu?!

__ADS_1


“Hmm?!” aku terkejut tidak bisa bicara. Bagaimana bisa bicara kalau kedua pipiku ditekan oleh Ira?


Kenapa lagi ini?! Dia tiba-tiba memelukku. Tunggu sebentar! Aku bingung!


“Apa sih?! Ini bukan Rasyi ya? Biasanya Rasyi selalu suka marah-marah,” suara Ira seperti senang. Senang?!


Yang benar saja! Mereka kenal aku sebagai orang pemarah atau bagaimana sih?! Setiap kali seperti ini mereka selalu bilang biasanya aku marah-marah. Aku tidak selalu hanya bisa marah, tahu!


“Tante tidak papa. Kenapa khawatir banget sih? Tanya itu terus waktu telpon tante,” Ira merenggangkan pelukannya, “Tante sudah lama pikirkan ini. Misalnya tante malah kabur dan tidak bantu Rasyi waktu itu, Rasyi yang mungkin tidak bisa senyum lagi.”


Oh! Pemikiranku yang terkadang sempit tidak pernah ke arah sana. Memang Ira membantu meredakan kemarahan orang-orang itu. Jagad juga bisa bertahan sampai aku keluar ‘tahanan’ karena Ira.


Ditambah lagi Hari tidak sungguh berurusan denganku. Warisan yang dia kejar ada di Rizki. Aku mati pun secara tidak langsung akan memudahkannya.


Kakek dan permainannya yang sulit dimengerti.


“Lagi pula,” Ira melepas pelukan dan memindahkan kedua tangannya ke pipinya sendiri, “Iki jadi makin perhatian, aku terharu.”


Terdiam sejenak.


Ini tante sudah menemukan kedamaian batin atau hanya mau modus saja sih?!


Kembali lagi dia memelukku, “Akhirnya Rasyi tidak sedih lagi~”


Rasanya malu sekali. Mereka aslinya bukan keluarga sedarah denganku, tapi mereka lebih menyayangi dan memperlakukanku seperti anak mereka sendiri.


Keluarga manis yang menyerang bagian dalam hatiku. Idealitas keluarga yang didambakan semua orang, khususnya aku yang tidak berpengalaman memiliki keluarga lengkap. Melipur ketegangan dengan cara yang paling merdu.


Hmm?


“Rasyi bisa bantu tante?” Sari tersenyum lembut seperti biasanya.


Membantu? Tidak masalah sih, “Iya,” senyum lagi aku ingin keluarkan.


Kami akhirnya melangkah keluar kamar meninggalkan Ira dan bayinya. Letak kamar yang dasarnya tidak jauh dari dapur memudahkan mereka. Perlengkapan pun hanya perlu dibawa ke kamar Ira karena ada kamar mandi sendiri.


Sari memintaku untuk membawakan beberapa kain, “Rasyi kenapa? Kalau ada masalah, ceritakan saja.”


Hmm?! Apa sebegitu jelasnya? Papa dan aku memang sedang bertengkar, tapi aku kira tidak akan ada yang sadar selama aku tidak bertindak janggal saat bersama papa.


Haruskan aku menceritakan semuanya. Dia boleh tahu masalah Rizki, tapi menceritakan masalah keluarga dengan orang lain….


Namun, melihat dari mana pun, aku tetap membutuhkan saran. Aku sangat terantuk dan tidak mungkin aku berdiam di keadaan seperti ini terus menerus.


Sepertinya bercerita padanya adalah pilihan terbaik untukku. Tapi, aku tidak mau dia terlalu khawatir, “Rasyi baru kelahi dengan papa.”


“Kelahi kenapa?” wanita ini terdengar ragu.

__ADS_1


Aku tersenyum, “Papa tidak setuju sama pendapat Rasyi. Padahal Rasyi sudah tekad dari awal. Rasyi jadi makin ragu. Masa Rasyi dengerin papa.”


Diam, hanya suara sekitar oleh Sari yang mengisi panci dengan air. Ia sepertinya menungguku untuk melanjutkan bicaraku.


“Kenapa sih susah banget kalau mau jalani yang sudah kita tentukan dari awal? Setiap kali sudah tekad, ada saja halangannya. Mau tekad lagi, dihalangi lagi. Begitu saja terus.”


“Memang begitu,” Panci yang setengah penuh itu dibawanya ke kompor modernnya dan mulai dipanaskan, “Kita memang selalu dapat cobaan terus cobaan lagi. Dia kayak mau menguji apa kita sungguh-sungguh atau cuma main. Tugas kita memang harus tahan.”


Jikalau seperti itu adanya, apa berarti aku selalu ragu selama ini?


Bagaimana lagi? Ini sudah diluar ekspektasiku. Perebutan warisan sudah ada dimana-mana. Namun dilihat dari cerita papa, apa namanya kalau bukan lagi hanya permainan petak umpet yang sebentar lagi ketahuan?


Aku tidak mungkin tidak bertindak, tapi aku bisa apa?


“Rizki memang susah dihadapi.”


Hmm?


“Dia anggap kalau cuma dia yang boleh menderita. Yang penting dia menderita sendiri, berusaha sendiri. Padahal semua orang khawatir sama dia.”


Ya, begitulah papa.


Semua orang dibuat kesal dengan sikap sok kuatnya. Walaupun seperti itu, mereka khawatir. Pria yang aslinya luar biasa itu bisa hilang sewaktu-waktu.


“Rasyi pasti benci Rizki yang begitu. Tapi memang kita tidak bisa apa-apa. Rizki yang berperan besar buat melindungi Rasyi.”


Tunggu, Sari…, “Tante, tahu Rasyi sudah….”


Ia menatap ke arahku dan mendekat, “Rizki sudah bilang dia mau cerita nanti,” ditahan tanganku dalam genggamannya, “Rasyi, tolong ya, papamu butuh kamu untuk temani dia.”


“Tapi gimana? Papa saja tidak mau Rasyi bantu.”


Sari tertawa kecil, “Nisa juga selalu bilang begitu,” mama? “Tapi mamamu bilang apa? Aku akan jadi keras kepala sama seperti yang dia omongkan. Jadi aku tidak mau dengar apa yang dia omongkan.”


Eh? Maaf, apa?


Dielusnya lembut kepalaku, “Tante percaya Rasyi bisa ambil keputusan yang baik. Tapi ingat, jangan sampai Rasyi menyesal. Ya?”


Pandangan itu tidak salah dan tidak bisa aku bantah. Semuanya memang akan kembali ke arah dimana keputusanku menuju.


Itulah masalahnya. Aku juga tidak bisa menangkal kebenaran yang dikatakan Rizki.


Tidak ada satupun hal yang bisa aku lakukan.


“Rasyi masih berkelahi dengan Rizki kan?” Sari kembali bersuara, “Gimana kalau Rasyi menginap dulu disini?”


“Menginap?”

__ADS_1


“Biar refreshing sebentar. Kalau mau, ajak saja kak Fares untuk jalan-jalan.”


Hmm….


__ADS_2