
Suara detik jam dinding. Kadang-kadang memang bisa sekeras sekarang. Rumah ini tidak tahu kenapa ada di tengah hutan. Alamnya bisa lebih keras saat matahari terbit. Orang-orang disini semua nokturnal. Kamar ini terlalu besar untuk mendengar dengkuran mereka.
Rambutku sudah panjang jadi harus dirapikan terus menerus. Mata masih saja sipit. Kasur pun rasanya seperti surga walau diletakkan di rumah ini. Harus langsung bangun sebelum ada yang tidak diinginkan.
“Hah,” duduk aku di pinggir kasur.
Kaca besar di ujung sana masih bisa kelihatan. Bayangan laki-laki baru besar masih bisa dipantul. Aku sudah berapa tahun? Tiga belas, bukan… lima belas.
Rumah ini membuatku kebingungan. Hanya dengan pembatas dinding dan kaca jendela, tempat ini seperti punya waktu sendiri. Jebakan mewah yang penuh kejahatan.
Pintu bodoh itu lagi.
Masih pagi sudah diketuk-ketuk. Bukan, itu bukan panggilan dari ayah. Dia tidak mungkin panggil aku lagi secepat ini. Kemarin aku sudah selesaikan pekerjaan kotornya.
Hah, berarti perempuan itu dan teman-temannya….
“Gading~ Sudah bangun?” langsung dibuka pintuku.
“Aduh, Gading baru bangun ya?”
“Manisnya….”
Para perempuan itu masuk berbondong-bondong. Kamar ini jadi ramai.
“Gading, ini untuk kamu~” salah satunya memberikan aku kotak dengan bungkus kertas kado hijau.
Kenapa mereka tiba-tiba kasih kado? Ulang tahunku sudah lewat setengah tahun. Oh, ini pasti buku yang aku mau kemarin.
Langsung aku ambil kotakan itu. Bungusannya kurobek-robek sampai tampak sampul bukunya. Ini benar buku yang aku bicarakan dengan mereka. Mereka niat sekali.
Hmm? Di belakangnya ada buku lain. Aku yakin aku cuma bicarakan satu buku. Ini buku apa⏤hah, perempuan ini bertingkah barbar lagi. Sudah banyak buku semacam ini yang dia berikan.
“Itu hadiah dariku~” muncul perempuan yang penampilannya tidak seperti umurnya itu, “Gading suka?”
Tidak bisa berhenti aku menghela nafas, “Berhenti beri aku buku yang beginian,” aku tahu dia tidak akan mendengarkan.
“Iya juga ya. Gading pasti bosan baca terus,” perempuan itu mendekat, “Kalau Gading mau praktek, kakak siap kok dari teman belajar.”
Tetap tidak mau menyerah. Hah. Padahal beda umur kita jauh besar. Dia masih saja mengincar yang lebih muda. Seharusnya aku memanggilnya tante.
“Aku tidak tertarik.”
Dia tertawa, “Gading keren ih. Jangan dingin-dingin dong dengan kakak.”
Bertambah kesal aku menatap dia. Tidak pernah aku suka dia yang seenaknya padaku. Cewek ini sakit.
“Aa~ah, Gadingku yang ganteng marah. Iya deh kakak minta maaf,” dia menjauh, “Oh iya, menurut Gading gimana bajuku hari ini? Aku beli samaan dengan bukumu kemarin loh~ Lucu tidak?”
__ADS_1
Pintu lagi-lagi berbunyi. Siapa lagi kali ini?
“Woi, Gading!” paman itu, sepertinya ada panggilan dari Hari, “Oh, cewek-cewek ada disini? Kalian cantik tapi seleranya aneh ya.”
Tante itu tampak marah. “Apa mau kamu?”
“Kirana, dia itu masih kecil, tidak bisa apa-apa. Dia cuma punya otak saja. Mending sama aku.”
Lagi-lagi mereka ribut dengan hal tidak penting, “Ayah memanggil?”
Paman itu terlihat sangat tidak suka, “Iya, dia di tempat biasa.”
Apa lagi mau ayah tidak beres itu hari ini?
“Yah,” perempuan itu tidak senang, “Baru juga sebentar sama Gading.”
“Gading…”
“Sayang banget….”
Berdiri aku tinggalkan buku di kasur. Harus pergi sebelum dia mengamuk. Tidak ada waktu ladeni para perempuan yang suka mengeluh ini.
Langkahku mendekati pintu, tapi paman itu masih saja di jalan pintu. Dia mau menunjukkan kalau dia lebih hebat dariku lagi. Ini menghabiskan waktu.
“Gimana kalau kita tanding dulu sebentar?”
“Memangnya kenapa? Kan cuma tanding saja. Bukan cuma aku kok. Banyak yang tidak suka sama sikapnya yang sok tapi gak bisa apa-apa ini.”
Hah, aku harus bagaimana dengan orang ini? Dia sedang kelewatan semangat. Ucapan ‘aku menyerah’ tidak akan ubah sikapnya. Harus diberi gertakan sedikit. Sayangnya, sekarang bukan waktu yang tepat untukku bertindak.
Orang bodoh ini tidak pernah belajar sama sekali. Aku sudah bosan dengan suara benda itu.
DOR!
“Aaa!” dia sampai berlutut, “Kirana sayang, lukaku baru sembuh loh. Masa ditembak lagi.”
Rombongan itu mendekati kami. Beberapa dari mereka melewati pintu. Menyeret paman itu keluar.
Kebanyakan perempuan ini memang tidak jauh umurnya denganku, tapi mereka sudah segila tante itu. Paman pasti akan berbaring lagi di ranjang selama seminggu.
Tiba-tiba aku merasakan tarikan ke samping di leherku. Sensasi kecup di pipiku. Ulah si tante itu tidak henti-hentinya merepotkan orang.
“Nanti aku ke sini lagi, Gading sayang~” tante gila itu melepaskan pelukannya dan melangkah pergi.
Kutarik kerah kaos abu-abuku. Melap pipiku dengan bagian dalam kaos. Semoga saja bekas lipstik-nya bisa aku hapus.
Terlalu banyak buang waktu. Hari bisa marah kalau aku lebih lama lagi.
__ADS_1
Lorong panjang dan ruang-ruang yang tidak menyenangkan.
Untung saja tidak ada yang sibuk di tempat-tempat umum ini. Si ayah juga sudah bebaskan aku untuk jalan-jalan di rumah sendiri. Yang pasti, aku bisa pergi ke satu ruangan yang selalu jadi tempat temuku dengan ayah itu.
“Aaaa!!”
“Tolong, ampuni saya!”
“Tidak!!”
“Kyaaa!!”
Mereka korban-korban baru. Pasti peminjam hutang yang lewat jatuh tempo.
Dia sering sekali memanggilku kemarin. Hari sedang bosan, dan mempercepat jadwal ‘pelayanan’. Aku buat dia tunggu terlalu lama ternyata.
Paman itu sudah dihajar oleh para perempuan. Tidak akan jadi masalah kalau aku bilang jujur.
“Ah, Gading~ Kemarilah. Duduk sini.”
Si ayah itu arahkan jari telunjuknya ke kursi sampingnya. Paksaan yang tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin aku bisa tenang dengan pemandangan penuh merah begitu.
“Pekerjaan apa kali ini?” duduk aku di kursi empuk itu.
“Ah, tidak,” dia tersenyum lebar, “Penyelundupan kemarin sukses besar. Siapa yang bisa tebak ada ruang di dalam dinding mobil yang Gading rancang? Gading-ku selalu hebat.”
Wajahnya yang seperti tidak tambah tua. Senyumnya itu. Dia tidak sedang di suasana hati yang buruk. Mungkin dia sudah siapkan permainan baru.
“Gading tidak mau keluar rumah? Ayah bolehkan kok.”
Hah?
“Sudah ayah pikirkan,” Hari menyeruput kopinya, “Gading pasti akan lebih membanggakan kalau menguasai berbagai bidang. Yang lebih penting sekarang pengetahuan dasar. Bagaimana kalau Gading ambil sekolah?”
Dia merencanakan apa lagi kali ini?
Cepat aku jawab, “Kalau ayah pikir itu yang paling baik, tidak masalah.”
Memang aku jawab begitu, tapi itu tidak lebih dari sekedar jawaban cepat. Aku masih tidak tahu apa yang direncanakan. Sejauh ini hanya terlihat seperti main-main iseng. Tidak tahu apa yang aku dapat ke depannya.
“Kalau gitu ayah akan kirim yang lain untuk urus sekolahmu.”
Ini menggelisahkan. Lagi-lagi aku masuk ke permainannya dengan tanpa bisa beri perlawanan.
Keluar hah? Lucu. Padahal aku sangat ingin keluar dan bebas dari tempat ini.
Jangan lengah. Hidupmu lebih penting.
__ADS_1