
“Aaw!” lamunan yang terlalu larut dihentikan oleh gerakan gunting yang tidak terkendali. Mengiris jari manisku sampai darahnya mengalir.
Langsung aku jauhkan guntingku. Mengepalkan tangan ringan, berusaha memperkecil tetesannya ke tempat lain. Yang terlintas di kepalaku hanyalah membersihkan kemerahan itu sebelum menetes kemana-mana.
Kututup buku itu sekali lagi. Menepikan semua printilan yang ada di meja dengan tangan kananku. Dorongan ringan ke kursi putih bersih, menegakkan lekukan lutut dan melangkah pergi. Pintu kamar mandi terbuka. Jari yang perih menandakan kemerahan mengalir ke dasar wastafel.
“Rasyi,” suara papa?
Kuhentikan kran air yang menyala itu, “Di kamar mandi.”
Sosoknya itu muncul di balik pintu kamar mandi. Mata kami bertemu dan sedetik kemudian tatapannya melenceng ke arah tanganku.
“Rasyi?!” cepat ia mendatangiku dan melihat keadaan lukaku, “Kenapa berdarah?” panik tampak sedang mengganggunya.
Ah. Dia seperti ingin menangis. Padahal dalam tiga hari ini aku hanya ada di rumah. Bahkan aku jarang keluar dari kamarku. Seharusnya hilang terkuras sudah rasa khawatir itu.
Cepat tanggap dengan lukaku yang terus mengalir, papa menarik handuk wajahku. Tangannya dengan cekatan melipatnya hingga seukuran sapu tangan. Ditutupi sebagian tanganku bersamaan dengan lukanya. Rizki menarik tangan kananku yang bebas, mengisyaratkan untuk menahan kain lembut itu.
Dia merangkulku, “Ikut papa turun ayo.”
“Rasyi tidak papa kok.”
“Iya, Rasyi tidak apa. Tapi ini harus tetap diobati sebelum infeksi,” ia menuntunku mengeluari kamar dan berjalan mendekat ke arah tangga.
“Papa, Rasyi bisa obati di kamar sendiri.”
Dia masih saja menarikku keluar menuju dapur, “Sudah, biar papa saja. Sekalian Rasyi makan juga.”
Aku kan tidak lapar. Kenapa sih aku selalu dipaksa makan?
“Bibi! Ambil P3K,” Rizki memberi arahan pada kedua bibi yang sibuk menyiapkan makanan.
Papa menuntunku perlahan ke depan wastafel. Dia membuka handuk yang kupegang. Mengeceknya dan memainkan jarinya meraba pelan luka itu. Beberapa menit ia dedikasikan untuk mencuci lukaku di air kran yang hangat.
Kami berpindah tempat menduduki meja makan yang ada enam buah kursi itu. Meja kayu dengan dua lapis kaca di tengahnya memberikan pemandangan khas pantai. Aku didudukkan di sisi lebar meja. Sementara Rizki duduk di sisi lain bersama kotak kesehatannya.
“Bi, siapkan makan untuk Rasyi,” Rizki masih sibuk dengan handuk tadi mengeringkan lukaku.
“Rasyi tidak lapar, pa.”
__ADS_1
Dibukannya botol antiseptik dan menuangkannya sedikit di kapas, “Terus Rasyi mau tidak makan sampai kapan?” Pria ini mulai perlahan menutupi luka dengan cairan itu.
Perih menunda sejenak mulutku untuk berbicara, “Tidak ada nafsu makan bagaimana?”
Rizki menyelesaikan pengobatannya dengan membalutnya dengan plester luka yang lebar. Benda berwarna kulit itu ikut menutupi keseluruhan kuku jari manisku. Sang ayah ini menarik nafas tampak lebih santai. Namun tatapannya yang menusuk seakan ingin aku menarik perkataanku.
Tiba-tiba suara muncul dari ponsel yang dibiarkan di tengah meja makan. Ia sambil mengambil ponselnya selagi tangan satunya masing menggenggam tangan kiriku. Entah apa isinya sampai bisa memandangku lebih lekat.
Ah, tidak nyaman sekali, “Rasyi balik ke kamar ya?” aku berdiri dan melepaskan genggamannya pelan.
Selangkah demi selangkah kakiku menaiki tangga. Kamar penuh warna itu masih terbuka pintunya. Pintu itu tertutup mengikuti tangan kananku. Duduk kembali di meja belajar itu.
Ah. Hari ini pun tubuhku terasa lemah. Berjibaku dengan otak yang ingin berpikir keras. Resah menghantuiku, menahan aku di saat aku seharusnya mengambil keputusan. Hari ketiga aku kabur dari aktivitas sekolah, dan hari ketiga aku masih tak mau berpikir tentang ketakutan dari dua arah itu.
Takut kalau tahu kenyataannya. Takut kalau terjadi sesuatu sementara tidak bisa melakukan apapun. Rasyiqa Dheanadari Wirandi. Kamu maunya apa sih?
Memegangi kepalaku. Berteriak dari dalam, aku harus apa?
TOK! TOK!
Papa tidak pernah berhenti khawatir. Aku kan hanya berdiam diri di kamar yang nyaman dan aman.
“Rasyi, aku boleh masuk?” loh. Suara itu?
“Jagad?” aku berdiri dan membuka pintu sampai wajahku terlihat, “Kok, Jagad kesini? Kenapa?”
Matanya terbelalak. Tidak tahu apa yang dia kagetkan. Apapun itu membuat tangannya yang seakan ingin menyentuhku bergetar hebat.
“Jagad kenapa?”
Dia berusaha menata wajahnya, “Nggak. Aku cuma mau main aja. Boleh gak?”
Poster tubuhnya yang masih arogan dan ekspresi yang masih merengut. Namun tampak jelas merona wajahnya. Sepertinya dia sedang memohon. Jarang-jarang dirinya begini. Tampang yang seperti itu selalu aku anggap manis.
Membuka pintu lebih lebar mempersilahkan dia masuk, “Boleh.”
Langkah masuknya terhenti saat melihat meja belajarku yang masih berantakan. Ia menduduki kursi pendek footstool yang sering ia duduki kalau berkunjung. Aku ikut menduduki kursi belajar di depannya.
“Kenapa?” kutahan sikuku ke arah meja untuk menahan wajahku.
__ADS_1
“Nggak. Emm,” dia kok kaku begitu? “Belum makan?”
Aku tertawa ringan, “Kenapa sih? Kayak kamu pacarku saja.”
Uups. Pembahasannya kok ke arah sana? Dulu kan aku sempat menolaknya secara tidak langsung. Tidak usah pakai basa-basi deh.
“Belum, aku belum makan. Tidak lapar soalnya,” aku tersenyum berharap menghilangkan jejak pembahasan yang tak enak itu.
Dia tampaknya juga semakin kaku, “Rasyi sampai kapan gak ke sekolah?”
“Tidak tahu,” entah aku bisa fokus belajar dengan semua ketakutan ini atau tidak?
Aku tahu aku harus memilih. Harus memilih jalan dan kembali ke aktivitasku. Mustahil aku bisa kabur terus. Namun….
Lebar tangannya yang terasa kasar itu meraih tangan kiriku, “Aku gak tahu, masalah apa kamu sama papa kamu. Tapi Rasyi, kamu gak boleh gini. Lihat muka kamu.”
Mukaku? Aku ingat di belakang duduknya Jagad terdapat cermin setinggi badan. Cermin itu terlupakan begitu lama sejak aku disuruh untuk rehab. Sejak kapan wajahku menjadi seperti ini? Pucat tapi gelap. Kacau sekali.
Bahkan wajahku menggambarkan kegalauanku, keputusasaanku, kebingunganku. Nafasku, kembali sesak. Tubuhku, bergetar. Aku benci keadaan tubuh ini! Harus bagaimana?!
Kalau aku mengikuti kata hatiku dan berusaha membantu, apa aku bisa menghadapi fakta yang menakutkan ini?! Kalau aku tidak mengetahui, bagaimana aku menghadapi masalah itu? Papa sampai merelakan diri ke penjara. Tidak mungkin! Tidak boleh!
“Rasyi!” tersadar tanganku masih ada di genggaman Jagad.
Ia tampak mendekatkan dirinya, menarik kursi itu lebih dekat dengan kursi tinggiku. Dia mendekatkan tanganku ke arah tubuhnya. Menahannya lebih erat dan hangat.
“Rasyi, dengar. Harun memang betul, penting buat kamu bisa aman seperti sekarang. Tapi, kamu mau gimana? Kalau kamu ragu, ingat-ingat lagi kenapa kamu melakukan itu. Om Rizki juga pasti belaan pendapat kamu.”
Dia berdiri. Wajahku terangkat untuk mengikuti wajahnya yang meninggi. Membungkuk tubuhnya mengarahkan matanya padaku. Genggamannya dia bawa ke samping tubuhnya masih mengikutkan tanganku. Alisnya menukik tapi matanya berkaca-kaca.
“Kalau kamu lupa, aku yang akan ingatkan kamu. Aku gak akan biarkan kamu mundur,” dia menarikku pelan membuatku berdiri di depannya. Menahan tangan kiriku melayang ke atas kami, “Berhenti jadi pengecut!”
Ah. Ketenangan ini. Haru yang tak tertahan. Rasa bahagiaku mendapati kejadian tidak terduga ini. Jagad tampak sangat serius mau ‘mendirikan’ aku. Ia memang datang kemari untuk membelaku, apapun yang aku lakukan. Tidak, aku tahu banyak orang yang membela. Syukurlah Jagad menyuarakan langsung padaku.
Tidak ada goyah lagi, Rasyi! Jalani saja apa yang kamu percaya. Penyesalan besar harus aku hindari.
Senyumku cerah melandaku, “Terima kasih, Jagad.”
Ia tampak lega dan membalas senyumanku.
__ADS_1