
Kak Rangga langsung di dorong masuk lebih dalam ke kamarku. Ia sampai harus menunduk di depanku agar tetap seimbang.
Pintu itu tertutup. Kami ditinggal di dalam kamar. Biarkan tempat ini sunyi terdiam. Lebih baik aku abaikan dan cari buku lain yang bisa aku baca.
“Ibu gimana?” ia mulai bicara.
Seminggu dikurung dan dia memikirkan orang lain. Dia yang seharusnya diperhatikan. Lukanya semakin banyak. Orang ini kuat tapi bodoh. Bisa saja dia kehilangan nyawanya tak lama lagi.
“Ayah tenang-tenang saja.”
“Kamu masih saja panggil dia begitu?”
“Kalian selamat juga karena itu.”
Cengkeraman tangan kak Rangga tiba-tiba tarik kerah bajuku. Kenapa lagi dia hari ini?
“Aku sudah muak.”
Dia bertingkah lagi. Memang tidak pernah belajar apapun.
“Sudah enam tahun kak Rizki pergi, tapi kamu masih saja tidak bersalah!”
Orang ini selalu saja menyalahkan orang lain. Padahal dia yang bersalah karena tidak mau mendengarkan kakaknya. Tidak ada yang salah aku lakukan.
“Kamu masih diam saja keenakan. Aku dan ibu dipukuli setiap hari. Kamu punya kemanusiaan tidak sih?!”
Bukan salahku kalau terakhir kali dia dikurung. Itu karena dia tidak bisa tenang dan malah ajak aku kelahi. Ibu dipukuli terus memang karena dia tidak mau melawan sama sekali. Kalau aku tidak punya kemanusiaan, aku tinggal bilang aku tidak suka dengan kalian.
“Kamu benar-benar tidak peduli dengan kami ya?”
Hah. Lagi-lagi pembahasan itu.
“Kamu itu cuma beruntung. Tidak mungkin kamu bisa bertahan disini. Jangan naif. Kita berdua harus gerak sama-sama.”
“Kakak yang harus lebih perhatikan tingkah kakak.”
Amarahnya pecah, “Aku mencoba baik padamu karena kamu adikku!”
“Dan aku berusaha peringatkan kamu karena kamu kakakku,” kutarik pelan tangannya agar bisa terlepas dari kerahku.
“Berhenti jadi orang yang sok peduli⏤”
Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Hari sudah masuk ke kamar. Dia bawa pasukannya masuk dan....,
“Ibu!” kak Rangga langsung berlari ke arah dia.
Wanita itu habis setengah diseret. Ia sambut kak Rangga. Tidak berhenti-henti air matanya mengalir. Ada apa lagi kali ini?.
“Suci, aku sudah sabar. Tapi kamu tetap gak didik anakmu baik-baik,” mata Hari melotot, “Gading bisa luka kalau dikasari kakaknya. kan?”
“Tidak, tidak mas. Rangga cuma mau dekat sama adiknya,” ibu itu memeluk lebih erat kak Rangga.
“Suci, cekik leher bukan cara dekat dengan saudara,” marah melonjak di wajah Hari, “Bawa dia sini!”
Kak Rangga langsung ditarik oleh orang-orang itu. Ibu yang berteriak-teriak tidak hentikan mereka. Dilempar kak Rangga sampai terkelungkup.
Cucuran keringat khawatir. Situasi ini bukan pertanda baik.
“Gimana Gading?” mata seramnya menatapku, “Kamu sudah tidak mau bermain dengan kakakmu?”
Setidaknya aku harus mencoba. Sudah banyak merah dimana-mana. Tidak ada alasan lagi untuk ditambah.
__ADS_1
Kubuka mulutku, “Aku masih mau.”
“Gading, manis sekali. Ayah beri satu tips. Tidak perlu simpan orang yang tidak berguna,” Hari senjata api kesayangannya.
Bisa aku tebak kemana ini arahnya. Perkataanku akan dibelokkan lagi.
“Mas, jangan! Tolong mas! Kami minta maaf.”
“Diam. Kamu perhatikan saja,” pria itu memberi tanda pada anak buahnya.
Mereka menahan tangan kak Rangga. Berontak pun tidak ada gunanya. Kak Rangga pun tahu tidak ada yang bisa dia lakukan. Siap tidak siap dia akan menghadapinya.
“Rangga! Jangan!”
Langsung mataku berpaling dan kututup.
DOR!
Hilang lagi satu kepala.
Ibu menutup mukanya, “Ha… haaa, hik! Rangga….”
Hari bernafas berat, “Ayo Gading. Kita cari kamar baru yang bersih.”
“Tidak! Tidak,” Ibu seperti kebingungan, “Tolong, aku mau sama Gading sebentar. Tolong. Aku mohon....”
Diam dan mata si ayah lagi-lagi ke arahku. Menunggu apa yang aku mau.
Kalau aku biarkan, bagaimana nanti nasibnya, “Iya, ayah. Aku mau sama ibu sebentar.”
“Hah! Suka-suka kalian,” ia marah tapi setidaknya bisa dikendalikan untuk saat ini.
Ibu membuka tangannya, “Gading, kemari sayang, yuk.”
Dia paling merepotkan. Tidak ada daya yang dia usahakan. Hanya diam menangisi setiap hal yang dia sayangkan.
Ibu yang tersisa dari usahaku lindungi keluargaku. Wanita yang hampir gila ini. Sangat disayangkan.
Langkah dekat ke arahnya. Duduk di sampingnya. Peluknya tekan tubuhku dengan semua tenaga sisanya.
“Tidak papa, Gading sayang. Tidak papa,” dia memeluk, cium, elus kepalaku.
Putus asanya. Menenangkan dirinya sendiri. Selalu seperti ini setiap kali dia memelukku. Aku masih sebelas tahun. Orang tua seperti dia pun tidak bisa aku lawan.
“Sebentar lagi kita bisa keluar dari sini. Sabar sebentar ya sayang.”
Keluar dari sini? Tidak. Hari tidak mungkin melepaskanku seperti ini. Ayah itu tidak mungkin sebaik itu.
Ibu, dia merencanakan sesuatu. Ada yang terjadi.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Sudah hampir satu jam ibu ini memelukku. Dia selalu saja memelukku erat kalau sudah waktu temu di kamarnya seperti ini. Tangannya. Mukanya. Pasti dia ketakutan karena habis jadi pelampiasan.
“Ayo kita pergi dari sini, Gading.”
Ibu sudah bilang ini berkali-kali selama beberapa hari. Dia sangat yakin rencananya bisa berhasil. Rencana yang tidak tahu sejak kapan dan bagaimana bisa dilaksanakan.
Meresahkan.
Hah? Pintu disana terbuka pelan. Siapa itu?
__ADS_1
“Anda kembali…,” senyum ibu hilang, “Anda… sendiri?”
Dia mendekat, “Maaf, mereka tidak bisa bertindak bila tidak ada bukti. Tapi tidak apa-apa, kita masih bisa keluar dari sini.”
Ibu seperti ragu. Berpikir di tengah sosok wanita yang asing itu. Orang itu menatapku dan malah tersenyum.
“Kamu Gading kan? Tidak apa-apa, kita pasti keluar.”
Deskripsi baju yang ia pakai pernah aku baca di salah satu buku. Polisi wanita. Rencana yang ibu percayai pasti berasal dari dia. Lalu kalau sesuai dari yang aku dengar, rencana itu tidak terealisasikan dengan baik.
“Ayo kita pergi. Mumpung di luar sedang sepi.”
Jam delapan malam begini memang lebih sepi. Mereka sibuk dengan urusannya di kamar mereka. Orang-orang ini mau manfaatkan hal itu.
Ini semua buat gelisah.
Suara keras pintu terbuka, “Beraninya….”
“Aaa!” polisi itu tidak bisa berkutik.
Rambutnya dijambak dari belakang. Hari yang jadi dalangnya. Minggu ini bukan waktu yang baik untuknya. Tambah marah dan tambah murka orang itu. Dengan penyusup yang ganggu tenangnya dia, tidak salah dia tambah marah.
Kedua mata aku tutup. Ini bisa yang keempat kalinya minggu ini. Hilang lagi satu orang.
DOR!
“Aaaa!!” suara ibu. Dia berteriak lagi, “Ha haa! Aa!!”
“Gading,” itu, si ayah.
Aku buka mataku. Terlihat Hari lepaskan jambakannya pada wanita polisi itu. Bunyi jatuh tubuh itu beri aku tebakan dia sudah tiada.
“Kamu mau pergi dari ayahmu?⏤”
“Haah!!” Ibu cuma bisa terima rasa sakit saat orang itu menarik tangannya.
“⏤Kamu mau ikut ibumu dan ke luar?”
Dia sedang marah besar.
“Tidak,” aku langsung menjawab.
Hari tersenyum seram, “Benar juga. Kamu tidak berani menentang keinginan ibumu kan?” dia menariknya lebih keras, “Dia yang bikin anakku jadi melawan ayahnya.”
Sayang sekali. Aku tidak bisa selamatkan satu orang lagi.
Kututup lagi mataku.
“Jangan! Mas! Aaaa⏤”
DOR!
Kubuka mataku meski aku tidak mau melihat warna merah itu.
“Galing, kemarilah,” Hari menatapku tajam.
Kulewati kedua tubuh itu dan meninggalkannya.
Mereka tidak ada harapan. Siapapun yang tidak punya harapan, tidak boleh halangi aku. Aku harus bisa bertahan.
Aku harus hidup.
__ADS_1