Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#18 Selesai?


__ADS_3

“Jangan ditarik-tarik Rasyiqa-nya. Rasyiqa kan jadi sakit,” Ibu Harun datang menengahi, “Ayo, minta maaf sama Rasyiqa.”


Perkumpulan para ibu datang menenangkan anak-anak nakal. Aku masih terisak menahan tangan Rizki untuk tetap menggendongku. Hanya sebagian kecil dari ramainya tempat ini. Namun aku pun harus memanggil keramaian agar bisa terlepas dari ini.


“Maaf, Rasyi.” Harun mengeluarkan mata sedihnya.


Jagad mengerutkan dahinya, “M⏤ma… maaf.”


“Sekarang kalian main sama-sama ya? Jangan berkelahi.” Sari tersenyum.


Kedua bocah itu menyahut kompak. Meskipun begitu, mereka melihat satu sama lain dengan kilatan kebencian. Tampaknya mereka tidak akan semudah itu melepaskan dendam.


Misalnya masalah selesai seperti ini saja dan aku dikembalikan ke sana, yang bisa kubayangkan hanya lomba tarik tambang ronde kedua.


Sudah kuduga aku tidak akan tahan berteman dengan anak-anak kecil. Mereka selalu serampangan dan ekstrim sampai kepala pecah memikirkannya. Untuk jadi temanku, mereka terlalu muda. Toleransi yang selama ini aku beri hanya sekedar aku yang kesepian.


Iiiih! Bodo amat! Aku menyerah untuk punya teman! Lebih baik aku mengurung diri di rumah bersama di Putih.


Aku mau pulang!! “Pa! Rasyi pulang saja!”


Wajahnya yang dekat denganku menggambarkan ekspresi terkejut.


“Loh?” Sari mendekat, “Rasyi tidak mau ikut tiup lilin dulu?”


“Tidak mau!” pelukanku semakin erat melingkar di leher Rizki.


Rizki tiba-tiba menekuk membiarkan kakiku menyentuh lantai. Ia mendorongku kecil membuatku bisa memandang bocah-bocah mematikan itu. Oh, papa tercinta, anda mengerti maksudnya tidak mau kan?!


“Tidak boleh. Kan temannya mau main,” Papa mulai mengeluarkan paksaannya, “Coba kalau Rasyi mau main tapi temannya pulang, gimana?”


Ah?? Baru sekarang kamu mengajariku berteman? Ya kalau benar itu terjadi, aku tinggal cari teman lain yang mau. Sekar mudah mencari teman kok.


“Kalian janji kan tidak akan berkelahi lagi?” Rizki kembali melembutkan ucapannya pada Harun dan Jagad.


“Iya, kami janji!” Harun dengan mata penuh harap.


Jagad ikut menyahut, “I⏤iya!”


Rizki menelengkan wajahnya ke arahku, “Mereka sudah janji kan? Rasyi ajak mereka main terus nanti ajak juga makan kue coklat. Ya?”


Apa sebesar itu keinginanmu untuk membuatku bermain dengan anak lain? Papa yang satu ini benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikirannya. Kamu dapat apa sih saat aku bermain dengan mereka? Tidak mau direpotkan olehku? Sudah terlambat 3 tahun untuk itu.

__ADS_1


Mulutku memanyun panjang. Berniat memberikannya kode keras kalau aku tidak mau mendengarkan.


Helaan tipis dari Rizki. Kedua bocah itu kembali jadi sorotannya, “Kalian gandengan tangan deh. Bisa jadi nanti Rasyi-nya mau.”


…. mmm… maaf, apa?


Papa berharap aku akan berubah pikiran setelah mereka, yang keduanya laki-laki ini, bergandengan tangan? Inikah solusi terbaik anda?


Raut di wajah bocah-bocah itu tampak terkejut. Sesekali mereka dengan kakunya mencuri pandang satu sama lain. Terus menggambarkan ketidaksukaan mereka.


Duh, aku sampai pusing sendiri harus bagaimana.


Ah? Hah?! Mereka melakukannya? Sungguh?! Kenapa? Tidak ada alasan bagi kalian bergandengan tangan seperti itu kan?


Aku terdiam sejenak.


Bisa aku sadari suaraku yang bergetar karena menahan tawa. Terasa aneh melihat mereka yang bergandengan tangan. Padahal sedetik lalu mereka masih saling merengut.


Hah. Ya sudah, ya sudah~ Kuhargai usaha kalian.


“Sekarang mau?” papa satu ini kembali bicara dengan senyum tipis.


Tawaku sudah tak tertahankan lagi, “Hihihi… iya~”


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


“Papa mana?” aku menarik rok plisket silver yang dikenakan Sari dengan kemeja simple baby blue.


Dia menunjuk ke sebuah pintu, “Papa di sana, sayang.”


Bukannya di sana balkon? “Terima kasih~” berlari kencang aku ke arah pintu itu, sementara tanganku menggenggam erat balon pink yang melayang.


Ingin sekali aku pulang. Sudah berapa jam aku ada disini? Tiup lilin sudah, makan bareng sudah, bahkan bermain sampai bosan. Lelah aku. Rasyi butuh tidur cantik. Papa~ Bawa aku pulang!


Cela dari pintu yang terbuka bisa dijadikan sarana untuk mengintip. Benar, dia ada di sini. Otakku mengingat sweater steel blue itu dimana saja.


Hm? Itu kan Hendra. Apa mereka sedang berbincang-bincang? Jadi kepo. Maaf papa, Rasyi akan jadi anak nakal. Rasyi mau menyuping dulu.


“Kali ini apa lagi?” Hendra menyodorkan kotak rokok yang terbuka ke arah Rizki, setelah ia memasang satu untuknya.


Rizki mendorong pelan tawaran Hendra, “Apanya?”

__ADS_1


“Ayolah, kita sudah saling kenal sejak SMA,” Hendra menarik nafas panjang di batangan itu, “Ada yang masih mau kamu kerjakan, kan?”


Ah. Ini kan sekedar perbincangan menanyakan kabar. Bertele sekali untuk menyampaikan ‘apa kabar?’.


Sudahlah. Untuk apa aku menguping pembicaraan basa-basi ini? Aku ingin cepat pulang dan mengekang diri sendiri di balik kasur. Diriku ini bisa menggila karena dikelilingi terlalu banyak anak kecil. Tidak tahan aku dengan tingkah mereka.


Kuulurkan tangan untuk membuka pintu balkon.


“Tidak ada lagi yang bahaya untuk kamu dan Rasyi. Polisi yang urus sisanya.” Hendra kembali menarik nafas.


Sudah terhenti tanganku di tengah jalan. Bertanya. Apa benar tadi namaku ikut terbawa di pembicaraan mereka?


Bahaya? Hal berbahaya yang aku tahu, satu-satunya hanya tentang orang jahat yang disebut sejak aku masih bayi. Masalah yang satu-satunya membuatku bingung sampai sekarang.


Aku menelan ludahku. Inikah saatnya aku mengetahui kenyataannya? Hmm… Bagaimana kalau aku dengarkan dulu?


Hendra memegangi kepala mendapati Rizki yang masih membisu, “Dia sudah ditangkap. Takut apa lagi sih kamu?”


Eh? Dia ditangkap?


Kalau benar si ‘dia’ ini sama seperti yang kuduga, masuk akal sebulan ini Rizki membebaskanku dari rumah. Tentu tidak ada alasan yang ditakutkan lagi kalau orangnya di penjara.


Hendra kembali berbicara, “Apa kamu kesal tidak berhasil menghukum mati dia⏤”


“Aku tahu. Mau tidak mau aku harus puas kan?” Rizki akhirnya menjawab, “Aku tidak akan melakukan apa-apa.”


Rizki menjauhi railing balkon. Menghening di kala angin yang perlahan menggeram. Aku tak dapat memikirkan apapun. Dibuat ingin sekali untuk menggali lebih dalam.


Papa itu mengangkat kepalanya. Tampaknya ia menangkap mendung yang semakin gelap, “Semua tanggung jawab ada di kamu sekarang. Senang?”


Hendra menghela nafas berat, “Iya, iya. Paham.”


Berdiriku memutar membelakangi pintu. Kakiku memastikan tubuhku bersandar di bingkai pintunya. Memainkan tali balon, tarik ulur semua yang kusut di kepala.


‘Dia’ sudah tertangkap, semua sudah aman untukku dan Rizki. Kesimpulan itu yang bisa aku tafsirkan.


Jadi masalah terbesar selama umurku sudah terselesaikan tanpa aku sadari. Siapapun itu, dia sudah tertangkap dan Hendra sendiri yang akan mengawasi.


Lagi-lagi, aku tidak tahu apapun. Keadaanku yang seperti ini membuatku ragu dan panik sendiri. Hakku untuk tahu dirampas hanya karena aku tidak bisa melakukan apapun. Memang apa yang bisa anak balita ini lakukan selain percaya pada ayahnya?


Apakah sekarang pun aku harus mempercayainya…, dan melupakannya juga?

__ADS_1


Suara Hendra masih tertangkap telinga meskipun tidak berniat kudengar, “Terus, kamu jadi daftarkan Rasyi ke TK tahun depan?”


Terdiam mencerna apa lagi yang dia bicara…⏤ heh?


__ADS_2