Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#40 Terkelupas


__ADS_3

Otakku lanjut bertanya-tanya di pertengahan hari. Apakah aku sudah berlaku baik selama hidup sebagai Sekar? Mungkinkah sudah terbayar semua kebaikan yang didapatkannya?


Setidaknya perlakukan baik Sekar bisa mengubur apa yang Rasyi lakukan. Ditambah lagi, kehidupan keluarga Rasyi yang ternyata melatari kematian Sekar.


Kalau Rasyi tidak jadi sok berani dan lebih hati-hati, tak ada kesalahan yang akan didapat. Kalau saja Rasyi tidak memberanikan diri dan menyerahkan diri ke panti asuhan, semua tidak akan dimulai.


Tidak. Mungkin akan lebih baik kalau Rasyi tidak dilahirkan sejak awal. Rasyi sungguh sebuah kehadiran yang tidak berguna.


“Rasyi?”


Lamunanku terangkat. Diri membuka ingatan jangka pendek. Aku sedang bersama Harun di ruang tamu. Kami sedang belajar bersama.


“Kalau ada yang dibingungkan, tanya saja. Jangan melamun terus,” dia menelengkan kepalanya mengarah padaku.


Benar juga. Aku harus lebih rajin lagi karena meninggalkan sekolah kurang lebih satu semester. Walaupun sudah naik satu tingkat ke jenjang yang lebih tinggi, aku tidak mau merasakan pengalamannya lagi.


Dengan keadaan seperti ini, yang bisa terjadi jika aku keluar sana hanya rasa mual. Memulai lagi putaran drama tanpa akhir itu, bukan hal yang patut disambut dengan haru. Aku dan juga papa setuju akan hal itu. 


Tersadar, merasakan heran lebih besar dan besar.


Papa memang lebih memilih merespons kekhawatirannya dengan sungguh-sungguh, mengurungku di dalam rumah. Bahkan papa memilih untuk pindah ke rumah baru yang ia beli. Masalah belajar pun ia yang turun tangan sendiri.


Dalam kata lain Harun bukan kemari karena permintaan Rizki. Namun kenapa Harun tetap bersedia mendekatiku? Padahal dia tahu apa yang terjadi dengan Jagad.


“Kenapa sih? Tanyakan saja apa yang tidak paham?” tatapan lembutnya menghangatkan hari.


Terdiam aku membalas pandangannya. Aku harus membahasnya.


Mulutku bermain untuk menyiapkan dirinya, “Harun tahu kan? Karena aku Jagad sudah…,” terpotong kalimatku tak ingin aku lanjutkan, “Harun tidak takut?”


Ia terdiam. Sesaat tampak menenangkan dirinya, “... Jagad gak mungkin bisa takut. Apalagi menyesal. Aku juga bisa kayak gitu.”


Mengapa dia mengatakan ini layaknya bukan apa-apa? Bukannya dia sama saja menyerahkan hidupnya? Dia berani begitu kan hanya karena modal tidak tahu saja.


“Kamu tidak tahu apa-apa, Harun,” kutatap lekat wajah lelaki itu, “Ini lebih serius daripada yang kamu pikirkan.”


“Kami memang tidak tahu apa-apa. Tapi kamu pasti tahu, Jagad sama aku gak bakal berhenti,” ia tersenyum, “Ini kan berhubungan sama Rasyi.”


Eh? Tubuhku terasa kaku tak jelas. Kubuang wajahku. Jariku memainkan pulpennya. Sesaat aku lupa apa yang Harun dan Jagad rasakan terhadap Rasyi. Namun, sampai segitunya kah rasa suka mereka?


Wajahnya tampak sedih, “Jagad bilang, aku terlalu mengekang Rasyi. Tapi menurutku aku ini penakut. Aku takut kalau Rasyi kenapa-napa,” ia kembali mencari wajahku, “Aku menyusahkan Rasyi ya? Maaf ya.”


Sebodoh-bodohnya mereka diperbudak perasaan mereka, itu semua mereka lakukan untukku. Aku hanya berharap tidak ada keburukan yang terulang pada Harun.


Aku bermain dengan bibirku, “Harun tidak salah kok. Tidak perlu minta maaf.”


Bisa kudengar suara tawanya yang tanpa sadar memanggil pandanganku padanya, “Terima kasih.”

__ADS_1


Ih! Situasi ini benar-benar buat aku salah tingkah.


Ditemukan jasad anak laki-laki di sebuah hutan oleh tim khusus, setelah laporan keluarga yang menyatakan korban sudah hilang selama seminggu. Diidentifikasi korban adalah anak berumur 14 tahun berinisial JPS.


Berita televisi? Apa acara tadi sudah habis?


Korban dinyatakan hilang saat korban sedang berkemah di kawasan sungai wisata Gardawali.


Hilangnya korban bersamaan dengan wanita berumur 39 tahun berinisial SPP dan seorang anak perempuan 12 tahun berinisial RDW. Beruntungnya keduanya ditemukan dengan selamat.


Tunggu. Berita itu….


Dibuat terkejut aku dengan televisi yang tiba-tiba padam. Aku mendapati sosok papa yang memegang remote televisi.


Jangan-jangan yang aku pikirkan betul. Tidak! Tidak mungkin kan. Tidak mungkin berita itu tentang kematian Jagad kan? JPS, Jagad Permana Satria. Semuanya sesuai. Namun bagaimana?


“Pa, itu tadi….”


Rizki terdiam menatapiku. Dimainkan matanya dan menangkap Harun yang aku yakini juga sadar.


Pria bermata hitam itu berbicara, “Terima kasih, Harun, sudah temani Rasyi. Tidak apa kan kamu pulang sekarang?”


Harun tampak sedih. Ia benar-benar menggambarkan ketidak berdayaan. Namun tangannya mulai membersihkan bawaannya.


“Iya, paman. Tidak masalah,” Harun berdiri dari duduknya, “Permisi, paman. Dah, Rasyi.”


Aku kembali menatap Rizki yang sudah terduduk bersandar di badan sofa, “Itu tadi berita apa, pa?”


“Jangan dijadikan beban.”


Dia bilang apa? “Pa, aku membunuh Jagad. Tante Ira kehilangan kehormatannya. Itu semua karena aku.”


Rizki menegakkan tubuhnya menjauh dari sandaran, “Kemarilah.”


Jelas ia ingin membicarakannya dengan kepala dingin. Memang, hal itu penting. Namun bila benar munculnya berita ini karena adanya sangkut paut Rizki, aku tak mampu untuk tidak marah dengannya.


Langsung berpindah tempat duduk di sampingnya. Dudukku memiring ke hadapnya sedekat mungkin.


“Papa paham kok,” Rizki mengelus kepalaku lembut, “Rasyi lupa ya papa juga pernah melakukan hal sama.”


“Bukan berarti harus dipublikasikan, pa!”


“Papa tahu. Papa minta maaf sudah berlaku tidak bermoral begitu,” dia mencondong ke depan melihatku lebih jelas, “Tapi kita bisa selamat karenanya.”


“Maksud papa?”


Dia tersenyum mengejek. Entah kepada siapa itu dituju.

__ADS_1


“Sadar atau tidak, kita bisa aman karena orang yang mengincar Rasyi punya kebiasaan mempermainkan lawan. Sulit untuk mencari keamanan yang absolut,” dia menatapku, “Tidak ada cara lain selain memakai cara ini lagi.”


Suasana anyir yang tak menyenangkan. Pantulan di mata yang bersih itu tidak memberikan ketenangan sama sekali. Benarkah hal ini sungguh terjadi di keluarga yang tampak baik-baik saja? Aku salah mendengar kan?


“Lagi?”


Diam ia bawa sesaat, “Ini pernah papa lakukan dulu waktu kelahiran Rasyi.”


Ah? Rasanya aku ingin menangis. Kenapa kehadiran Rasyi seakan dikutuk sejak belum memasuki dunia? Lahir dengan memanfaatkan kematian orang lain?


Siapa mereka sampai keluarga ini jadi orang yang berbahaya pula? Kemana haluan yang mereka tuju sampai melakukan hal-hal yang membahayakan?


Ini memuakkan. Aku memang tidak mungkin bisa tahan dengan ketidaktahuan ini. Harus aku beranikan diriku.


“Pa, tolong ceritakan ke Rasyi,” kuat, Rasyi! Kuatkan dirimu! “Tolong ceritakan semua.”


Pria ini seakan diisi dengan berbagai pemikiran. Ia duduk termiring menghadap ke arahku dan memulai gerak tangannya mengelusku.


“Mereka sudah beraksi sejak setengah abad lebih. Banyak yang perlu diceritakan,” dia menghela nafas, “Singkatnya ya, dia kakeknya Rasyi.”


Kami saling bertatapan layaknya menunggu reaksi kami satu sama lain. Sepertinya dia ingin berhati-hati agar aku tidak begitu terkejut. Cepatlah. Keluarkan hal lain yang tidak aku ketahui!


Dia mulai membuka mulutnya, “Ayah mertuanya, kakeknya papa, adalah pengusaha hebat. Kakeknya Rasyi itu mau mengincar harta warisannya.”


Ah. Hah. Haha…. Ini lelucon kan?


“Kakek tidak pernah percaya dengannya sampai beliau meninggal,” dia tertawa kecil, “Ayah itu selalu baperan. Walau papa bisa saja memberikan warisan itu padanya, tidak ada jaminan dia akan melepaskan kita.”


Bohong! Ini pasti bohong!


Tidak! Pasti ada kesalahan! Semua keburukan ini datang, hanya karena berebut warisan? Ketakutanku sejak lahir sebagai Rasyi, hanya acara rebut-rebutan?


Dipermainkan di dalam sebuah permainan. Memangnya aku apa? Boneka yang hanya sebagai pelengkap?


Yang benar saja!! Memuakkan!!


Tiba-tiba sebuah tangan mengelus pipiku. Papa tampak sedih, “Kita bisa bahas ini lagi lain waktu.”


Kutarik nafasku. Memang mustahil aku tidak marah, tapi aku harus tetap tenang. Papa pasti berpikir seperti itu juga. Dia pasti berusaha menenangkanku.


“Gimana kalau Rasyi temani papa besok?” papa masih saja bermain dengan rambutku.


Aku terdiam sejenak. Keluar kah? Dengan keadaan begini?


“Tidak apa kan?”


Sebegitu inginkah dia untukku menemaninya? “... kemana?”

__ADS_1


Dia menghentikan tangannya di atas kepalaku. Tersenyum sendu layaknya ingin menangis, “Ke makam orang yang papa bunuh.”


__ADS_2