
“Rasyi!” Sari berlari dari mobilnya dan memegangi kedua pipiku, “Tidak papa kan? Tidak ada luka kan?”
Ada apa sih dengan mereka semua? Rumahku kebakaran memang sangat mengejutkan dan membahayakan, tapi aku kan tidak ada disana.
Lebih lagi, mereka seharusnya mengkhawatirkan anak semata wayang mereka. Kak Fares hampir saja menabrak saat tancap gas kendaraannya kemari. Sampai-sampai kendaraan jingga yang laki itu dibiarkan jatuh di jalan.
“Kak Fares tuh, yang luka semua!”
“Astaga! Fares?” Ira terlihat sama-sama panik, “Kamu kok luka begitu?”
Sari berpindah pandang meski satu tangannya masih menahan wajahku, “Fares⏤”
“Tidak papa, bu. Cuma jatuh biasa. Sudah diobati Rasyi kok,” Fares menahan kekhawatiran Sari, “Yang penting Rasyi dulu.”
“Iya,” Hendra menutup pintu mobilnya. Dia memperlihatkan dengan jelas kemarahannya, “Rasyi dari mana saja? Kenapa tidak angkat telpon?”
“Itu…,” aku tidak tahu kalau ponselku mati.
“Kamu tahu kan di luar begini belum tentu aman buat kamu?!” Hendra semakin marah.
Aku kan keluar tidak jauh dari daerah rumah mereka. Memang aku salah tidak memberitahu dulu kalau aku akan keluar dengan Harun, tapi bukan berarti mereka harus bersikap layaknya aku tahanan yang kabur.
“Hendra, sudah. Rasyi tidak papa sekarang. Itu yang terpenting,” Sari seperti biasa menahan Hendra.
Bukan ini yang seharusnya mereka bahas. Pembahasan yang paling penting itu adalah rumahku yang katanya terbakar.
Kubalas sentuhan Sari, “Kak Fares bilang rumahku kebakar? Benar?”
Warna wajah tak enak mengubah Sari, “Kayaknya begitu.”
Sungguh?! “Kok bisa?”
“Kami juga tidak tahu, sayang. Neneknya Jagad tiba-tiba telpon paman tadi pagi. Kebakarannya sudah kemarin malam,” Sari mengelus rambutku yang tergerai panjang, “Makanya kami khawatir kamu kenapa-napa.”
Ah, kalau mendengar kabar begitu sekaligus tidak mendengar kabar apapun tentang aku, kurasa memang akan mengkhawatirkan. Rasanya sekarang aku seperti orang jahat.
Kumainkan jari-jariku, “Maaf, tadi aku matikan HP soalnya takut ganggu orang lain kerja.”
“Memang apa salahnya sih kasih tahu dulu?!” Hendra menyahut keras.
Aku menundukkan kepalaku, “Rasyi lupa, maaf.”
“Kamu juga Harun. Kenapa sih keluar rumah kayak orang kabur begitu? Kok bisa ibumu sampai tidak tahu kamu kemana? Tahu kan kalau Rasyi itu tidak boleh banyak keluar!”
Wah, Hendra benar-benar sudah marah. Harun yang berdiri beberapa langkah di belakangku juga tidak memberikan jawaban sama sekali.
Wajah Harun sungguh, entahlah, gelap?
“Ayah, mereka salah. Aku tahu,” Fares melirik Harun sejenak, “Tapi yang terjadi ya sudah. Gimana kalau kita urus dulu rumah Rasyi yang disana?”
“Iya, kita kesana saja dulu ya?” Sari memegangi pundak suaminya itu.
__ADS_1
“Aku!” Harun? “Aku ikut tidak papa kan, Rasyi?”
Eh? Itu⏤
“Kamu langsung pulang, Harun,” Hendra menekankan setiap katanya.
Nyata kesal Harun dibuatnya, “Tapi, paman⏤”
“Harun,” suara lembut Fares sambil mengangkat tangannya ingin menepuk kepala Harus, “Tolong dengar⏤” heh?!
Salah melihat kah kedua mataku? Tangan Fares, ditepis Harun sebelum sempat menyentuh kepala Harun.
“Aku ikut!” mata Harun terbelalak.
Fares dan Harun sedang bertengkar atau apa sih? Hubungan mereka tidak pernah menunjukkan tanda buruk sama sekali selama ini. Jiwa dewasa sang kakak dari Fares dan Harun yang selalu memandang Fares sebagai panutannya. Itulah yang selalu terjadi.
“Terserah! Pergi saja sendiri!” Hendra sudah tidak bisa diredakan, “Semuanya masuk mobil! Fares, tinggal kendaraanmu di sini!”
Fares yang masih terkejut, perlahan meninggalkan sisi Harun, “Iya, yah.”
Sari menuntunku mendekati mobil. Aku hanya bisa menatap Harun yang terpaku di posisinya.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Ah. Entah aku harus menyayangkan hal ini atau bersyukur akannya. Jelas terlihat sebagian dari rumah besar itu terbakar. Memang hanya dua puluh persen dan di lantai atasnya saja. Bahkan masih tersisa pilar-pilar beton penyangganya dan sebagian temboknya.
Di bagian sana, bukannya itu di daerah ruang tengah?
“Sumbernya sudah ketahuan?” Fares menyusul keluar dari mobil.
“Masih dicaritahu,” Hendra mendekat sambil menyingsing lengan panjangnya, “Infonya baru datang ke kepolisian, jadi masih butuh proses.”
Bertatapan dengan kenyataan yang hangus itu membuatku tidak bisa berkomentar apapun. Kurasa memang begitulah musibah. Sekesal apapun, segala macam tindakan tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi.
Rasa tidak berdaya ini sungguh mengingatkan aku pada diriku selama ini. Tidak mengenakkan di pangkal lidah.
“Kamu tidak papa, Rasyi?” tangan lembut disertai suara hangat milik Harun.
“Hmm,” lebih tepatnya, aku tidak tahu.
Ah, kamarku! Terbakar juga kah?! Benda itu! Harus kucek keadaannya!
Langsung aku berlari ke dalam pagar besar yang terbuka. Untungnya pintu dan sebagainya sudah terbuka.
“Rasyi!”
Mendengar pun tidak aku acuhkan. Kakiku tidak berhenti masuk ke rumahku sendiri.
Tidak peduli aku dengan berbagai barang lain. Benda-benda penting sudah aku bawa ke rumah sementara. Papa juga bisa membelikanku lagi sebanyak yang kumau. Namun benda ini, tidak bisa digantikan lagi.
“Heh! Siapa kamu! Tidak boleh sembarangan masuk!” pria berbaju seragam petugas negara tiba-tiba menahan lariku.
__ADS_1
Apa sih?! Ini kan rumahku!!
“Dia anak dari rumah sini,” paman Hendra menunjukkan tanda identitasnya, “Biarkan. Saya yang awasi.”
“Baik, pak,” petugas tidak sopan itu akhirnya melepaskan lenganku.
Lanjut aku berlari ke arah tangga di belakang pembatas ruang tamu yang masih baik-baik saja. Keadaan rumah yang aku ingat mulai berubah dengan beberapa titik tangga yang terbakar.
Bongkahan atap yang berjatuhan di tanah penuh debu. Semuanya tampak hangus walau sekilas banyak yang masih selamat. Aku bersyukur pintu yang roboh itu masih bisa dilewati.
Kamarku, berantakan dimana-mana. Tempat ini sudah layaknya bukan tempat beristirahat aku sejak bayi.
Gawat! Rak bukunya, terkubur berbagai reruntuhan.
Aku berusaha membersihkan jalanku untuk mengakses rak buku. Tanpa mengacuhkan baju hijau terang yang mulai kotor.
“Iiih!” reruntuhan kayu ini berat sekali!
Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam kayu itu. Dengan mudahnya kayu itu berganti arah jatuh bebannya ke arah sebaliknya dari rak buku.
Paman Hendra? “Rasyi mau cari apa?”
Oh iya! Menunduk aku ke depan rak buku sederhana yang hanya sekedar kotak-kotak yang tersusun vertikal. Rak paling bawah yang tampak masih selamat, kuteliti lebih dekat.
“Yah!” Buku itu, sebagian sudah terbakar dan sebagian lainnya basah.
Tidak selamat.
Aku sengaja meninggalkannya di rumah ini karena aku rasa papa akan mengurusnya dan kami tidak akan tinggal lama di rumah sana. Seharusnya aku membawanya.
Hendra tampak ikut duduk jongkok di sampingku, “Itu buku buatan Nisa ya?”
Aku menyamankan posisi duduk meski di atas lantai kotor, “Iya.”
Tanpa aku sadari, aku sudah terhubung dengan benda ini. Entah bagaimana aku menjelaskannya. Diri ini tidak mau kehilangan satu-satunya benda berharga dari mama yang papa percayakan padaku.
Mungkin, layaknya mendambakan Rizki sebagai ayahku, aku masih mendambakan sosok ibu. Lipatan, guntingan dan tulisan dari buku pop-up buatan mama memancarkan ketulusan dan kasih sayang yang kental aku rasakan. Sosok yang tidak pernah aku temui.
Dan semua itu hilang.
Loh? Kok bisa aku lupa kalau ada hal penting lain yang sedang hilang? “Paman, papa kemana? Kok tidak kelihatan?”
Mata Hendra terbelalak. Kenapa? Rizki pemilik rumah ini, jadi wajar kalau dia ikut sibuk mengurusi pasca kebakaran. Malahan, kenapa Hendra dan rekan kepolisiannya yang mengurus?
“Rasyi, maaf,” dia mengelus kedua pundakku, “Paman, tidak tahu papamu ada dimana.”
Hah? “Ha hahaha, paman juga bisa bercanda saat begini ya? Papa hilang? Paling papa cuma ada urusan ke tempat jauh kayak biasa.”
“Rasyi,” kok bisa paman seserius itu saat bercanda.
Tidak. Paman pasti sedang bercanda, “Paman bercanda, iya kan?”
__ADS_1
Katakan iya, kumohon.