Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#39 Jam yang Terhenti


__ADS_3

Kututup mataku dan kubuka lagi. Menyadari bahwa tubuhku masih terbaring di sebuah ranjang. Apa aku baru saja tertidur?


Tergerak kelopak mataku kembali menutup jendelanya. Beberapa hari aku tidak bisa merasakan nyamannya tidur. Kurasa tidak masalah kalau aku berbaring lebih lama.


Senandung nafas pelan mencoba rileks.


“Aduh, kakek sudah kangen. Rasyiqa nggak?”


Hmm…!


“... Bunga... Sekar Melati ya?”


“Untungnya dia sudah mati.”


“Perhatikan sekitar!”


“Aargh gah!”


“Rasyi…,”


“Gak papa.”


Diam. Jangan bicara!


“Rasyiqa tidak akan jadi gitu kok.”


DOOR!!


“Rasyi!”


“Hah!” mataku langsung terbuka lebar selagi sebuah hentakan mengguncangkan tubuhku.


Jantungku seakan baru saja berolahraga. Keringat dingin yang masih lancar mengalir menutupi sebagian besar tubuhku. Lagi?


“Tidak papa, itu cuma mimpi,” elusan lembut sang pria, yang duduk di samping ranjang, merambat pipiku.


Langsung aku menegakkan tubuhku duduk, “hmm…,” kupeluk dia.


“Papa di sini. Tidak apa,” papa membalas pelukanku.


“Hik,” tangisanku semakin deras.


Terus memeluk sosok pria tak berotot itu. Mengeluarkan semua takut yang masih belum bisa aku kuasai walau sampai sekarang. Bertahan di posisi yang sama, sampai beberapa menit berlalu.


Ia membawa tangannya merambat di kepalaku, “Rasyi mau tidur lagi?”


Aku terus menggeleng. Lebih baik mendapatkan satu hari lagi tak tidur daripada menghadapi mimpi buruk.


DING DONG!


Bel rumah?


“Ya sudah, Rasyi baring-baring saja. Tidak perlu tidur,” ia mendorongku pelan kembali berbaring, “Papa mau ke bawah dulu.”


Aku mengangguk dan Rizki berdiri. Membuka dan menutup kembali pintu kamar setelah melewatinya. Entah siapa yang berulang kali menekan tombol bel rumah itu.


Mataku masih saja perih, bisa karena mengantuk atau karena habis menangis. Warna langit-langit yang sudah lama aku amati itu, masih saja asing, Daripada biru yang berawan yang sudah bersama Rasyi sejak lama.


Berat menarik tubuh dari gaya gravitasinya. Lentur tubuh seakan setengah ingin bangun, tapi setengahnya tidak ingin mendengarkan.


“Hmm!” menggulat dengan otot-otot kaku yang perlu kurenggangkan.


Aku membuka ponselku dan mengecek waktu yang aku habiskan. Sudah jam tujuh malam.


Terdasar oleh beberapa chat yang diterima. Membuka aplikasi itu dan membaca siapa yang memulai percakapan.

__ADS_1


Rasyi, besok gak apa kan kalau kita belajar bareng lagi?


Harun? Dia sepertinya ingin menenangkanku lagi. Meski sudah menjalani rehabilitasi selama tiga bulan dan masih saja berjalan. Lelaki itu tahu, diriku tidak baik-baik saja.


Kuketik dengan kedua ibu jariku.


Iya, boleh. Nanti ajarin aku Fisika ya? Ada yang aku bingungin.


Tak kusangka jawabannya langsung muncul. Stiker lucu yang memamerkan ibu jarinya dan seakan berbicara ‘OK’. Langsung mengembang senyumku.


BRAK!


Sadar akan suara ribut di lantai bawah. Denah rumah sederhana type 60⏤sama seperti rumah kos Sekar⏤memang kurang akan privasi. Disaat yang sama, keributan itu menarik perhatian.


Pintu kamar kubuka. Ruang dengan jalan luas dan beberapa furniture set papa untuk membaca. Tangga yang membelok, menghubungkan langsung ke ruang tamu.


“Sampai kapan kamu mau bodoh begini? Berhenti jadi keras kepala!” terbiasa sudah dengan teriak amarah dari Hendra.


Aku berusaha mengintip dari balik pertikungan tangga yang berbentuk U.


Hendra terlihat berdiri di depan Rizki yang masih duduk, “Aku sudah ikuti bodohnya maumu! Aku sudah diam ikuti katamu! Kita ini lagi kerja sama, Rizki!”


“Kamu mau membahas itu?” Rizki tampak tak suka, “Pembahasan ini sudah selesai dari dulu.”


“Aku bahas terus sampai kamu mau buka mata,” Hendra menghela nafas kesal, “Begini terus, gak selesain apapun!”


Mereka, sedang membahas apa. Sari dan Fares bahkan ikut hadir ke pembahasan itu.


Rizki mulai tampak kesal, “Pasti bisa. Harus. Kalau tidak begini, akan lebih banyak korban.”


Hendra memegangi kepalanya, “Tuh! Banyak kejadian buruk begini gara-gara egoisnya kamu, tahu?!”


“Maaf,” Rizki menunduk kecil, “tapi kita harus syukuri situasinya. Ini bisa menguntungkan kita.”


Dari jauh, aku bisa menangkap wajah Hendra yang sudah menumpuk segala emosinya. Aku tahu mereka berdua selalu saja berdebat. Namun, pada akhirnya mereka akan tetap berteman. Iya kan?


Terdiam aku menatap Hendra yang sudah menarik kerah Rizki. Menarik tubuh Rizki sampai bangkit dari duduknya.


“Apa yang disyukuri di saat begini?!” Hendra terus berteriak.


Rizki tampak kesakitan, “Rasyi sudah kasih kesaksian lokasi. Ira selamat dan kita bisa mengamankan lokasinya. Kita ini beruntung⏤khh!”


“Papa!” panik menyerang di sekujur diriku.


Hendra tak terduga sudah melayangkan kepalan tangannya ke wajah Rizki. Jatuh Rizki terduduk di lantai kesakitan. Kakiku melangkah tanpa tahu menahu untuk mendekati mereka.


Seketika tangan Hendra merentang dan menghalangiku, “Paman lagi bicara dengan papamu,” amarahnya masih saja disana.


“Tapi⏤”


“Fares! Bawa Rasyi!”


Fares berusaha menahan tangan Hendra, “Ayah, tolong tenang dulu.”


Wajah tak terima Hendra pamerkan, “Jangan ikut campur, Fares!” dia mendorongku?!


Tersantuk dan ditangkapnya aku oleh tangan Fares sebelum hilang seseimbangan. Sari terlihat panik dan mengambil alih, memelukku lembut.


“Beruntung katamu?!” Hendra menghentikan gerak kakinya. Tepat di depan Rizki yang memegangi ujung bibirnya yang terluka, “Ira mengandung gara-gara mereka!”


Terdiam membelalakkan mata. Setiap kali aku ingin menghadapi kenyataan itu, aku selalu merasakan sakit dimana-mana.  


“Rasyi…,”


Hendra membungkukkan badannya, “Ada korban jiwa karena kejadian ini!”

__ADS_1


“Lari sekarang.”


“Kamu masih bilang kita beruntung?!” Hendra mulai berteriak tepat di depan wajah Rizki, “Aku tidak yakin siapa yang bodoh, kamu atau pria itu. Kalian sama-sama tidak punya otak!”


“Untungnya dia sudah mati.”


“Memanfaatkan orang ada batasnya⏤Gah!”


Tak disangka papa melayangkan pukulan di wajah Hendra. Pria ini sampai harus mundur beberapa langkah. Namun ia bukannya berhenti, malahan semakin marah.


“Berisik. Sudah dibilang, orang yang tidak tahu apa-apa tidak perlu ceramah,” Rizki mulai membuka mulutnya sampai akhirnya mengambil posisi berlindung.


Fares tampak panik mencoba menenangkan mereka, “Ayah, paman, tenang dulu!”


“Aagh!” Rizki terus kesakitan.


Hendra terus memukulinya tanpa ampun.


“Aargh gah!”


Pukulan demi pukulan kemarahan.


“Hendra, cukup!” Sari memelukku lebih erat mencoba menenggelamkan wajahku di tubuhnya.


Ini salahku. Maafkan aku.


“Aargh! Eegh! Puh! Gah!!”


Maafkan aku.


Maafkan aku.


Maafkan, “Aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.”


“BERHENTI!!!”


Mengintip aku ke arah mereka. Tampak Fares berhasil menengahi kedua pria dewasa itu. Wajah takut dan sedih tergambar pada Fares.


“Tidak papa, sayang.” suara Sari memelukku lembut disela isaknya, “Ini bukan salah Rasyi. Bukan.”


Deras lagi mengalir dari mata yang basah. Kesanggupanku hilang. Ini semua terlalu menakutkan.


“Hik, haaa…” meraung-raung aku keras tak berniat untuk menahan.


Sepi ruangan hanya diisi suara tangisku. Tak peduli hari sudah menjelang malam. Tak peduli kami masih memeluk dalam keadaan berdiri.


Hentak kaki dan bantingan pintu tiba-tiba bersuara.


“Fares, tolong temani ayahmu.” Sari berbicara.


“Iya,” suara Fares menyahuti selagi langkahnya dan pintu kembali bersuara.


Sari menarik nafasnya, “Rizki.”


Hening tapi tak lama suara langkah terdengar lagi. Aku bisa merasakan kehadiran seseorang yang berdiri di sampingku.


Langsung aku lepas pelukan Sari. Menatap wajahnya yang penuh luka pukulan. Berupaya untuk menyentuh luka itu meski bergetar hebat.


Papa menangkap tanganku, “Papa tidak apa,” ia langsung memelukku, “Maaf ya. Rasyi jadi takut.”


Kembali membalas pelukannya. Tak bertenaga sambil menenangkan jantungku. Bahkan tak sanggup melupakan sejenak kekacauan yang kuperbuat.


Ira, maafkan aku. Kamu kehilangan apa yang berharga bagi wanita.


Jagad, maafkan aku. Kamu sampai harus pergi dengan kejam.

__ADS_1


Semua karenaku.


__ADS_2