Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#76 Salam Penutup


__ADS_3

Aku bisa mengingat hangat yang membelai saat aku membaringkan kepalaku. Tempatnya memang tidak senyaman ranjangku di rumah. Beberapa kali pun aku hampir dibangunkan oleh guncangan dan suara mesin yang mengganggu.


Sebelum mataku benar-benar terbuka, lagi dan lagi tangan itu mengelus lembut dan berbisik…,


(“Tidurlah lagi.”)


Dengan percaya diri aku mengatakan kalau itu adalah suara papa.


Itu memang suara dia!


Lalu kenapa setelah aku direhabilitasi beberapa hari, dia langsung menghilang lagi?!


“Iish!!” aku hanya kesal sambil memainkan sedotan stainless steel di dalam segelas smoothie jingga terang di depanku.


“Non, tidak suka jusnya ya?” bibi yang sudah bekerja sejak aku lahir itu mendekatiku.


“Itu bukan jus. Itu smoothie. se, mu, ti!” satu bibi yang membuatkan aku smoothie datang protes.


Bibi yang bertanggung jawab di rumah kecil ini ikut dengan medoknya yang melengking indah, “Padha wae to neng*~~”


“Ya beda to~!” bibi itu ikut-ikutan aksen lawan mainnya.


Hah. Rumah kecil ini semakin sempit saja dengan keributan mereka yang semakin tersesat kemana-mana.


Mohon pertolongannya nih, nona kecil kalian sedang pusing!!


“Bibi!” aku berhasil mendapatkan perhatian mereka, “Vitamin C habis, terus kata papa tolong periksa renovasi-nya di rumah sana, oh iya jangan lupa tanamannya di ruangan papa tolong disiram juga.”


“Oh iya! Aduh~ Sampai lupa! Belum beli gorengan buat tukangnya lagi!” 


“Langsung aku telpon taksi saja.”


“Bulik ikut keluar juga beli vitaminnya nduk!”


Mereka langsung secepat kilat bersiap keluar rumah.


“Non, paman ada di warung depan. Kalau ada apa-apa langsung bilang ke paman, OK?”


“Iya~ Hati-hati di jalan~” aku tersenyum cerah membiarkan ketiga bibi itu pergi.


Sekarang aku bisa berpikir tenang!


Tadi sampai mana? Oh benar, papa berjiwa terlalu bebas itu!


Rizki menghilang sejak aku pulang dari villa megah yang seram. Dia memang masih menghubungiku dengan telepon ataupun video call setiap hari. Namun Hendra dan kawan-kawannya tidak ada niat untuk memberitahu dimana penjelajah itu berada.


Hendra dan rombongannya itu hanya sesekali datang berkunjung. Menggantikan spesies yang bernama Rizki itu mengawasi aku tidak melakukan hal yang bodoh.


“Fuuh…,” aku membuang nafas lalu menyeruput smoothie itu beberapa detik.


Kakek itu? Aku kurang tahu apa kabar lebih tepatnya, tapi aku tahu dia sedang membayar perbuatannya.


Fares baik-baik saja. Namun dua minggu yang lalu, entah apa yang terjadi, aku dapat kabar Fares dirawat inap di RS setelah dua minggu bepergian ke luar negeri dengan Hendra.


Sekarang sudah hampir dua bulan sejak kejadian itu, dan kerjaan sang papa tercinta hanya menanyakan apa yang aku lakukan dengan guru privatku.


Padahal aku juga salah satu dari mereka! Kenapa aku yang harus jadi yang terakhir untuk tahu semua itu?!

__ADS_1


Dia masih mau bermain ‘terlalu berbahaya untuk Rasyi tahu’?! Yang benar saja!!!


“Hmm?” ada yang memanggil di ponselku.


Mengecek layarnya dan memeriksa siapa yang mengganggu waktu berpikirku⏤Wow, setidaknya dia tahu diri.


“Iya?” Kuangkat panggilan itu. Papa itu akhirnya menelpon.


[“Sudah sarapan kan?”]


Itu pertanyaan yang pertama kali anda lancarkan pada anakmu yang khawatir pada ayahnya? Terima kasih deh!


“Papa dimana?” bodo amat! Aku akan terus bertanya walaupun jawabannya selalu di suatu tempat⏤


[“Papa lagi di perjalanan ke RS-nya Fares.”]


Hah?


[“Harun akan ke rumah, papa sudah beri kabar kalau Rasyi sendirian hari ini. Minta saja antarkan ke sini.”]


Eh?


[“Atau papa bilang tidak jadi saja ke Harun?”]


“Tidak! Rasyi OTW!”


Langsung aku menutup panggilannya dan berdiri dari posisi dudukku.


Tidak mau tahu!! Akhirnya aku bisa menguras papa itu sampai titik darah penghabisan. Dia harus menceritakan semuanya sampai tidak ada satupun yang disembunyikan lagi. 


“Non!” paman yang selalu berjaga di depan rumah berteriak dari arah pintu, “Ada mas Harun!”


“Harun~” aku berlari kecil ke sosok yang masih berdiri di depan pintu itu.


Ia membalas senyumanku seperti orang lain biasa lakukan, “Rasyi⏤wah!”


Kugenggam baju di ujung lengan pendeknya. Tidak peduli kalau itu membuatnya terkejut dan sedikit terdorong ke belakang. Ini darurat!!


Berusaha aku membuat wajah sedih, “Harun~! Antarkan aku ke RS!”


“Hah?!”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Tidak peduli lagi dengan ekspresi apa yang Harun keluarkan. Genggaman tanganku terus memaksanya melangkah bersamaku, dia mau ataupun tidak. 


Melupakan sejenak kepedulianku terhadap ramai tempat umum. Harun yang membalas genggaman tanganku sudah cukup mengalihkan orang banyak itu. Kami berjalan cepat menelusuri jalan-jalan rumah sakit ke satu tujuan, kamar Fares.


“Rasyi, pelan-pelan,” Harun terdengar kewalahan.


Maaf, Harun. Namun aku tidak ada niat untuk mengurangi kecepatan.


Rizki ada di sini dan aku tidak tahu apa dia akan pergi lagi atau tidak. Pria itu tidak bisa ditebak. Secepatnya aku harus mendesaknya untuk memberikan penjelasan sebelum dia menutup akses lagi!


Sampai kami ke daerah dimana Fares dirawat inap. Lorong yang sepi itu mengantarkan kaki ke depan satu pintu yang aku lewati beberapa kali di minggu ini.


“Untung saja tidak ada efek samping,” suara ini. Paman Hendra? “Kalau ada efek samping sedikit pun, aku akan membawamu ke pengadilan!”

__ADS_1


“Kalau efek sampingnya akan merugikan Fares, aku yang melarangnya duluan,” itu! Suara papa!


Harun berdiri di depanku, “Em, Rasyi⏤”


“Ssst!” aku berusaha menguping disini!


“Tapi untunglah semuanya selesai,” kalau ini pasti Ira.


“Iya, ibu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Fares tidak papa,” oh, Fares juga bicara di tengah mereka semua.


“Ibu cuma,” kali ini Sari, “Kenapa sih harus ditutupi dari ibu masalah sebesar ini?”


Hmm? Jadi ada yang mereka tidak tahu juga?


“Maaf, aku yang minta dia tutup mulut,” papa?


“Apa ribetnya sih memberi tahu rencana kalian padaku? Kalau aku tidak dapat catatan di kamar Fares, kalian yang bahaya,” heh?! Hendra juga tidak tahu?! “Rizki sudah wajar. Tapi kamu tahu itu gegabah kan, Fares?”


Beberapa saat terdiam dan akhirnya aku mendengar suara Fares yang lemas, “Aku tahu.”


“Tolong jangan lakukan lagi, ya sayang?” Sari terdengar masih sedih.


Kembali beberapa detik yang dibutuhkan Fares untuk menjawab, “Iya, bu. Maaf.”


Aaargh! Ini tidak membantu sama sekali! Mereka membicarakan yang belum mereka ungkapkan, bukannya informasi yang sudah mereka ketahui! Waktu akan termakan sangat lama kalau aku hanya mengikuti dan menunggu mereka membicarakan banyaknya rahasia itu!


“Rasyi, menguping seperti ini tidak baik,” Harun tampak tidak nyaman dengan situasinya.


Oh! “Benar juga!” aku mencengkram kedua pundak Harun, “Terima kasih~”


Langsung aku banting pintu itu terbuka. Saatnya introgasi!


“Ra, Rasyi?!” Harun terkejut.


Sama seperti semua orang di dalam ruangan ini.


Tanpa peduli aku langsung mendekati kursi yang kosong di samping ranjang Fares.


“Rasyi, kenapa kamu disini?” Hendra terlihat tegang.


Aku menduduki kursi itu. Meraih kotak snack biscuit stick di tas tote bag manisku. Kutarik satu dan mengunyahnya.


“Jadi…, gimana bisa kak Fares tahu tapi paman tidak tahu?” aku masih saja mengunyah.


Semuanya terdiam. Kebingungan dengan keringat dingin yang bersandar di samping wajah mereka.


“Emm, Rasyi,” kak Fares sepertinya mau bilang kalau tidak ada yang perlu aku khawatirkan atau apalah itu, “Maaf Rasyi, ini agak⏤hmmp!”


“Ssst,” aku menaruh satu biskuit stick di mulut Fares yang cerewet itu, “Papa bilang untuk ke sini biar aku bisa tanya apapun kan? Jadi cerita sekarang.”


“Tapi Rasyi⏤”


“Phht,” oh~ Papa itu mulai tertawa sendiri sekarang.


Hendra tambah kesal, “Rizki!”


“Maaf saja, aku tidak berniat habiskan masa tua sambil dengar sejuta pertanyaan dari Rasyi,” Rizki tersenyum dengan posisinya yang bersandar di dinding depanku, “Mau diceritakan dari mana?”

__ADS_1


Aku tersenyum, “Dari yang paling awal.”


^^^*Bibi tercinta dengan medoknya bilang: “Sama saja ah, dik!”^^^


__ADS_2