Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#50 Masa Kecil


__ADS_3

“Gak tahu diri!”


“Bukan, bukan begitu. Ampun.”


“Ini anak mau main-main ternyata!”


“Tidak! Tolong! Mohon ampun! Tolong!”


“Berisik!!”


Dia peluk aku makin erat saja. Telingaku seperti mau dibekap. Suara mereka kedengaran samar. Untuk apa? Aku masih bisa lihat mereka jelas. Kekerasan mereka tidak bisa hanya dengan tutup telinga.


“Hik, hik…. His…,” dia menangis terus.


Memang tidak ada yang bisa dilakukan selain diam meratapi nasib. Pembelajaran aneh untuk anak umur lima tahun.


Banyak pelajaran aneh yang aku dapat di tempat ini. Orang bisa diperas kalau kita tegas. Apapun masalahnya, bisa diselesaikan dengan pukulan. Tidak ada gunanya berbaik hati dengan orang lain. Kalau lawanmu menangis atau minta ampun, pukul dia lebih keras.


Akan tetapi, aku punya kemanusiaan tinggi. Semuanya tidak benar di pikiranku. Tidak tahu apa yang ada di luar sana, tapi aku yakin itu berbeda dengan yang ada di sini.


Tempat ini semakin sibuk. Mereka melakukan hal yang acak di kamar orang lain. Seenaknya membawa korbannya bersama dengan senjata kesayangan mereka. Itu pun hanya karena mereka bosan.


Bayangan tiba-tiba datang menutupi lampu.


“Suci.”


Malas sekali aku mendengar suara itu.


“Sudah cukup. Gading harus istirahat, kan? Dia pasti lapar.”


Dia melakukannya lagi. Tampak orang tua yang mengerikan. Padahal dia sedang tersenyum.


Merasakan getar takut ibu yang memelukku. Kentara wajah takutnya. Pelukan erat itu terbuka. Hari menarik tanganku kasar. Seperti biasa, aku hanya dibolehkan temu ibu beberapa menit saja.


“Nah, kakak-kakaknya Gading sudah nunggu di kamar. Ayo Gading, makan dulu.” dia memaksa telapak tanganku terbuka. Masih saja bersikap ramah dengan gandengan tangan begini.


Ibu? Dia masih saja sama. Kakinya dilipat dan dipeluk. Penakut yang tak bisa diandalkan. Anaknya dibiarkan jadi mainan suaminya dan teman-temannya.


“Cepat siapkan makanan kesukaan Gading! Jangan sampai Gading kelaparan,” ayah itu membawaku pergi dari kamar ibu.


Tidak ada harapan.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Nyam Am Krauk.”


Lahap sekali. Kali ini Hari pasti tidak memberi dia makan beberapa lama. Tiga hari seperti minggu lalu mungkin.


“Gading juga makan.”


Setidaknya kakak yang ini yang paling normal. Kalau kakak keduaku itu….


“Gak dimakan kan? Buat aku saja!” dia bertingkah lagi.


Dia mengincar makananku. Selapar itulah dia biasanya. Apalagi Hari sengaja membuat makananku lebih banyak dan enak. Matanya pasti rakus.


“Rangga, jangan ambil makanan adikmu,” kakak pertama menahan tangannya, “Gading, cepat dimakan. Kamu tahu kan kak Rangga itu suka begitu?”


“Kak Rizki, aku masih lapar. Makanannya Gading kan banyak.”

__ADS_1


“Maaf, Rangga, tapi kita tidak boleh ambil makanan Gading. Tahan sebentar ya?”


Kak Rizki kesulitan lagi. Punya adik yang merepotkan seperti kak Rangga memang tidak membantu sama sekali.


Tanganku mendorong kotak makanku. Aku tidak punya nafsu makan untuk menghabiskan setengahnya. Ini juga bisa membantu kak Rizki keluar dari masalah.


“Gitu dong!” Kakak kedua itu mulai makan lagi.


Hela nafas kak Rizki, “Maaf ya, Gading. Gading bisa ambil punya kakak kok.”


“Tidak,” aku makan roti yang masih aku pegang, “Kakak makan saja. Gading sudah kenyang.”


Kakak itu tersenyum, “Terima kasih, Gading,” dia menggosok kepalaku lembut.


Tawa mereka seperti menggema. Jarang ada tawa riang di rumah ini. Rumah ini memang besar dan megah, tapi tidak ada bedanya dengan penjara. Lahir di sini hanya bisa buat frustasi. Anak-anak saja tidak diberi kebebasan bahkan untuk hirup udara dari jendela.


Untung Hari lebih perhatian padaku. Kakak-kakak ini dibiarkan bermain denganku karena aku bilang iya. Selalu bertemu ibu karena aku bilang butuh ibu. Dia beri aku kesempatan untuk rasakan semua ini.


Senang.


Tenang.


Hangat.


Semua itu tidak penting.


.


.


.


“AAAAH!!”


Karena, itu tidak bisa menyelamatkan siapapun.


“Rizki. Rizki!”


“Ibu…”


“Jangan mas, tolong jangan. Rizki sudah luka. Tolong, mas.”


“Siapa suruh kamu didik anakmu sampai gak sopan. Dia biarin adiknya makan makanannya Gading-ku yang manis. Gading butuh banyak nutrisi. Dia tidak boleh kelaparan.”


Lagi-lagi. Mata gila Hari muncul lagi. Pengikut-pengikutnya pasti tambah senang. Kejadian mengerikan itu bisa buat aku bermimpi buruk lagi. Itu bukan pengalaman yang buat senang.


Tutup mata. Tutup telinga. Aku tidak mau tahu.


Warna merah itu tidak pernah enak untuk dilihat.


“AAA⏤”


Suaranya terputus. Berakhir sudah.


“Bawa Gading keluar. Carikan dia kamar yang bersih.”


“Siap bos.”


Tangan anak buah itu menuntunku. Sangat lembut tidak berani macam-macam. Aku juga tidak mau macam-macam. Untuk apa? Hidup seperti ini sudah cukup buruk.

__ADS_1


“Lihat Suci. Begini jadinya kalau kamu gak didik anakmu baik-baik.” suara Hari masih mengiang, “Jaga anak keduamu kalau tidak mau seperti yang pertama.”


Hah, satu lagi yang tidak bergerak.


Sayang sekali. Padahal dia yang paling normal di tempat ini. Mungkin aku tidak akan bisa tidur dalam beberapa hari atau minggu.


Hah. Aku sangat ingin keluar dari tempat ini. Dunia di luar sana ada apa saja ya?


“Silahkan pangeran,” aku langsung didorong ke salah satu kamar yang kelihatan rapi, “Nikmati kamarmu~”


Pintu kamar tertutup. Mereka punya banyak juga kamar yang masih bagus. Dan buku-buku. Ternyata mereka juga menyiapkan banyak ruangan untukku. Sebesar itu Hari sayang denganku. Walau tidak tahu aku akan diapakan ke depannya.


Rak dengan banyak buku. Ambil satu buku dengan acak. Lebih baik aku duduk di lantai samping rak buku daripada kursi nyaman itu.


Apa bukuku hari ini?


Ini dongeng. Persahabatan seorang anak laki-laki dengan sebuah pohon. Cerita yang aneh. Di luar sana banyak anak-anak yang seperti ini kah?


Pohon tidak bisa gerak dan bicara. Buku lain bilang mereka hanya tumbuh dan berfotosintesis. Mereka tidak bisa dijadikan teman main. Laki-laki ini malahan ajak main bola, ajak gambar, bahkan makan dan minum bersama. Dia benar-benar aneh.


Kututup buku itu. Aku tidak cocok dengan bacaan begini. Cari buku yang lain saja. Seharusnya ada beberapa buku sekolah yang bagus disini⏤


Hari tiba-tiba membanting pintu kamar. Matanya masih saja mengerikan. Dengan keadaan bau anyir begitu, dia duduk di kursi dekatku.


Apa yang dia mau?


“Gimana, Gading? Ayah yang susun kamar ini sendiri loh. Hebat kan?”


Terbisu. Hanya mengangguk pasti cukup seperti biasa.


“Gading memang anak ayah yang paling manis,” senyum itu setidaknya lebih bisa diterima, “Tidak seperti kakak-kakakmu atau ibumu.”


Ah. Suasana hatinya berganti-ganti.


Lagi-lagi dia menepuk kepalaku sangat keras, “Gading memang pintar. Kalau besar Gading harus bisa ikuti jejak ayah ya?”


Harus ya?


Walau aku tidak tahu apa yang sering dia lakukan, tapi aku tetap tidak mau lakukan apapun itu. Aku hanya mau pergi keluar sana tanpa halangan. Tidak perlu ada ayah ini. Tidak perlu ibu atau kakak. Tidak perlu apapun selain bebas di luar sana.


“Gading itu pintar jadi Gading pasti ikut ayah.”


Lagi-lagi hatinya buruk.


“Gading gak mungkin membantah ayah kan?”


Hentikan.


“Aa…,” rasa sakit di kepalaku makin parah. Dia menekan kepalaku lebih kencang.


“Iya kan?”


Sakit.


Takut.


Kesal.


Bisa apa? Jangan sampai aku berakhir seperti kak Rizki. Diam dan menurut, hal yang paling aman untuk hadapi orang yang suasananya selalu ganti-ganti. Tahan, harus bisa bertahan.

__ADS_1


Aku mau hidup. Aku tidak mau mati. Aku mau keluar dari sini dan bebas.


__ADS_2