Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#31 di Ambang Persimpangan


__ADS_3

Lemah tanganku memainkan semua alat tulis dan bahan-bahannya. Potongan kertas mengikuti pola yang sudah jadi ide pemikiranku sejak lama. Terkadang aku harus mulai mengingat dari awal apa yang aku lakukan, setelah beberapa detik alam bawah sadar melayang.


“Ah hah,” pekerjaan ringan ini selalu mengingatkan aku untuk bernafas. Meski sesekali aku gunakan untuk merenung, apapun topiknya.


Pernah terpikir walaupun sebentar. Lelah yang aku rasa selama ini mungkin berasal dari diri yang menahan rasa ingin tahuku. Rasa lelah yang menumpuk akan ketidak pahaman yang mengkhawatirkan.


Diri seperti ini saja melelahkan, bagaimana jadinya Rizki yang menghadapinya?


Sepanjang umurku bukanlah waktu yang singkat. Rizki sudah menghadapi itu, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, untuk dirinya dan diriku. Bayangkan sebesar apa rasa lelahnya itu.


Namun, melakukan segala cara sampai⏤kuteguk ludah di tenggorokanku⏤ sampai membunuh orang? Tidak pernah kusangka sepasrah itu diri Rizki. Aku benar-benar dibuat tidak bisa memikirkan apapun untuk menanggapinya.


“Hah!” langsung aku banting kepalaku ke atas buku besar itu.


Kekacauan apalagi ini?


Tidak! Aku tidak boleh goyah!


Kuhempaskan tubuhku mengikuti sandaran kursi. Hatiku sudah menetapkan untuk bertahan bersama sang ayah. Mustahil aku tega untuk meninggalkannya sementara kami saling membutuhkan. Ditambah lagi aku sudah mendapatkan pengakuan dari papa dan sebentar lagi akan mengetahui kenyataannya.


Seharusnya aku menyadari kenapa Rizki bersikeras selama ini untuk merahasiakannya dari aku. Alasannya pasti karena dia tidak ingin aku takut. Informasi yang dilindunginya pasti semengerikan itu. Ketakutan yang aku tahu sekarang hanya remahan informasi itu.


Buku di depanku langsung aku tutup. Seadanya aku membersihkan meja belajarku. Mematikan lampu belajar dan menyalakan lampu tidur. Tubuhku sendiri dibuang di tengah-tengah ranjang berseprai biru navy.


Informasi yang menakutkan. Apa aku siap menghadapi pada waktunya? Pertemuan satu kali dengan pelakunya saja bisa membuatku sampai seperti ini. Entah bagaimana nanti saat aku mengetahui apa yang ada di belakang semua ini.


Kututup mataku yang mulai mengering. Denyut sakit di kepalaku memaksaku untuk istirahat dengan posisi sekarang. Ingin aku tidur sejenak.


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


“Hah hah ah hah….”


Suara berat siapa itu? Rasanya sangat dekat.


Mata yang berat itu akhirnya bisa membuka. Terbawa alam bawa sadar kembali ke permukaan. Apa suara nafas itu adalah suaraku? Kenapa rasanya panas di ujung sampai ke ujung. Rasanya aku tidak bisa bergerak.


Hah? Suara air. Ada seseorang yang ada di sebelah kananku.


“Tidur saja lagi,” suara lembut yang akrab dengan telinga kembali menyegarkan.

__ADS_1


“Papa?” aku menyuarakan serak dari tenggorokan.


Tangan yang lebar itu membawa sesuatu yang sejuk di keningku, “Iya, ini papa. Tidur lagi ya?”


Menggetar tubuhku teringat akan sesuatu, “Papa….” suaraku semakin serak menggambarkan ketakutanku.


“Kenapa?”


Aku berusaha sekuat tenaga yang tersisa menegakkan diri di tulang duduk. Sangat ingin aku memeluk pria ini. Entah apa sebabnya.


Panggilan sekali lagi dengan suaraku yang serak. Memeluk lehernya yang terbilang lebar. Ia terasa tidak berniat untuk menghentikanku. Tanpa lawan atau pertanyaan, tubuhnya membungkuk untukku memeluknya.


Aku bisa merasakan seluruh tubuhku menangis. Tidak aku duga mengetahui informasi sekecil itu bisa menggoyahkanku. Inikah besar nyaliku untuk menghapus nama anak yang tidak tahu apa-apa itu.


Ingin tahu tapi takut untuk tahu. Bisa terus aku menertawai diriku sendiri. Kontradiksi ini tidak akan pernah berakhir.


Dia memperbaiki duduknya dan pelukanku. Membuatku nyaman dengan memeluk tubuh di bawah lengannya selagi dia duduk di atas ranjang. Memanjangkan tubuhku agar aku bisa terbaring.


“Rasyi mimpi buruk?”


Tidak mungkin kan aku mengatakan sumber kegalauanku yang merupakan hasil menguping.


“Kenapa?”


“Rasyi pernah dengar dari teman Rasyi,” aku seakan mengeluarkan langsung yang terlintas di kepalaku, “Ada pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab.”


“Apa?”


Kenapa aku mau menanyakan ini? Inikah cara diriku di dalam untuk membangun kembali kepercayaan diriku yang mulai runtuh?


“Kalau papa harus memilih menyelamatkan salah satu anggota keluarga papa, papa pilih pasangan papa atau anak papa?”


Aku bisa merasakan tangan yang memeluknya lebih erat. Hening beberapa saat ini memberikan aku rasa tegang. Dia tidak akan menjawab kah?


Pertanyaan itu memecahkan hening di hari yang masih dini, “Kenapa itu pertanyaan tersulit?”


“Karena kalau kita menyelamatkan satu, kita harus mengorbankan satu lagi,” aku menghela nafas, “Rasyi pikir apapun jawabannya, kita akan kehilangan salah satunya.”


Beberapa detik kembali hening sebelum ia kembali bicara, “Kalau papa memilih mamamu, yang ada papa dimarahi mati-matian.”

__ADS_1


Otakku berputar lebih kencang. Tanganku yang dibantu Rizki menegakkan tubuh yang masih lemah. Wajah kami saling berhadapan. Sementara tangannya masih menggenggam membantu menopang tubuhku.


“Tapi kalau papa mengorbankan mama, bukannya papa sama saja membunuh mama?”


Matanya kembali mengkilap ke arah mataku, “Tidak ada alasan lebih besar untuk tidak memilih Rasyi.”


Tertunduk kepalaku memotong arah pandangan sang papa. Bermain dengan tangannya yang menggenggam telapakan tanganku hangat.


Ah. Sebenarnya jawaban apa yang aku cari? Kasih sayang inilah yang membuatku semakin ingin memeluknya. Makin tidak ingin hal buruk terjadi padanya. Bukannya sudah cukup untukku tak cogah untuk tetap bertahan.


Tahu akan informasinya ataupun tidak tahu. Yakin akan diriku untuk tetap ada di posisi ini. Karena aku pun tahu aku lebih takut ke luar sana seorang diri.


Dia mengelus kepalaku, “Rasyi menguping sampai mana?”


Hah.... Aksi wajah terkejutku seakan habis digunakan. Pastinya papa satu ini tahu aku menguping siang tadi. Encer otaknya tidak mungkin bisa melewatkan pertanyaanku yang keluar tiba-tiba, tidak ada badai tidak ada topan.


“Sampai situ,” aku berbicara pelan, “Habis itu Rasyi langsung pergi.”


Lembut tangan kanannya menahan wajahku, “Apa Rasyi takut sama papa?”


Aku menggeleng. Keyakinanku sangat kuat mengatakan dia punya penjelasan yang benar. Penjelasan apa itu? “Kenapa papa melakukannya?”


“Banyak alasan. Salah satunya untuk bertahan hidup,” Papa tersenyum sinis, “Tapi apa saja alasannya, membunuh tetap membunuh. Iya kan?”


Memang benar sih. Namun aku pun membenarkan dunia ini memang busuk. Untuk bertahan hidup adalah alasan yang lumrah. Lumrah juga dimana korban disalahkan. Keadaan tabu inilah yang membuatku khawatir.


“Dengar, Rasyi,” Dia menggenggam tanganku erat, “Inilah kenapa papa tidak berani cerita ke Rasyi. Papa tahu Rasyi pasti takut.”


Iya. Aku pun tahu akan hal itu. Masalah itu juga yang mempertahankan posisiku yang polos tak tahu apapun.


“Rasyi harus memutuskan,” dia menggenggam tanganku erat, “Rasyi tetap mau tahu cerita papa atau tidak. Papa janji tidak akan menentang keputusan Rasyi lagi.”


Menghadapi keputusan di tengah kedua pilihan yang bertentangan, benar bukan kemampuanku, “Rasyi takut,” gumamku.


“Papa tahu,” dia mengelusku terus menerus, “Rasyi boleh istirahat dulu.”


Dia menarikku pelan sampai aku terbaring. Merasakan kelembutan di ranjang yang sudah aku gunakan setiap malam. Kembali kain sejuk itu menimpa keningku yang terasa panas.


“Rasyi istirahat dulu dua tiga hari,” kecup yang layaknya sudah ahli menyentuh spot lain di ubun kepalaku, “Papa pasti membela Rasyi, apapun itu.”

__ADS_1


__ADS_2