Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#69 Terseret Kembali


__ADS_3

Ketegangan ini semakin merasukiku setelah aku semakin masuk ke perkumpulan mereka. Pinggiran taman kecil yang terik serta sepi pengunjung, duduk maupun berdiri menutupi segala sudut di samping dua mobil yang terparkir.


Berkumpul di sana, senda gurau dengan berbagai macam mulut mereka. Dengan penampilan seakan hangout pada dasarnya. Nyata tidak akan mencurigakan oleh siapapun.


“We~ Tuan putrinya sudah sampai~”


“Makin cantik cui!”


Mulut fasih mereka membuat perutku memilin.


Terkejut, satu pintu mobil terbuka. Gelisah mendampingi setiap sudut tubuhku. Sosok itu masih saja tidak berkenan di hati untuk aku tatap.


“Rasyiqa, sayang~” pria itu tetap duduk di kursi mobil yang pintunya terbuka sambil melambai kecil, “Senangnya lihat cucuku mau ketemu sama kakeknya,” seringainya tidak menyenangkan.


“Papa dimana?” rupanya aku sangat mencemaskan figur itu.


“Rasyiqa cantik khawatir sama papanya ya? Tenang~ Dia cuma istirahat di kamarnya.”


Masalahnya, istirahat apa yang dia maksud. Kakek ini tidak menyakitinya kan?


“Hahaha!” kaget! Kenapa dia tiba-tiba tertawa?! “Rasyiqa tegang sekali~ Santai dong dengan kakek.”


Bagaimana bisa aku santai?! Kau adalah orang yang pernah aku lihat, dengan mata kepalaku sendiri, sedang menjemput nyawa orang! Ditambah lagi salah satunya milikku sendiri! Justru aneh bila aku santai!


“Oh iya!” dia menepuk kedua tangan bersamaan, “Tolong cek tasnya Rasyiqa ya~ Bisa gawat kalau ada yang membuntuti.”


Salah satu teman pria ini menarik tasku dengan kasarnya. Dia membukanya dan mengecek segala macam isinya.


Tidak perlu panik. Aku tidak membawa apapun yang mencurigakan. Barang itu aku sembunyikan ke tempat yang seharusnya tidak bisa ditebak dengan mudah.


“Semuanya aman. Kecuali HP sama kalungnya.”


“Tinggalkan saja disini,” kakek itu tersenyum seram, “Pisahkan radarnya sama kalungnya. Hancurkan kalau perlu.”


Dia benar-benar tidak ingin ada yang tahu penjemputan ini. Sama saja aku menyerahkan diri pada singa yang kelaparan. Ini sungguh menggelisahkan.


“Nah,” pria itu bangkit dari duduknya. Langkahnya membuat jantungku menjalar sampai ke telinga. Apa dia akan berjalan kemari? “Ayo kita pulang,” dia berdiri di depanku dan menepuk⏤bukan, lebih tepatnya memukul kepalaku.


Perasaan tidak menyenangkan ini.


Rasyi, tenang. Jangan panik. Ini semua demi ketenangan aku dan papa. Kami berdua akan menyelesaikan ini.


Tidak apa.


“Nah, ayo masuk,” dia mencengkram tanganku.


Aauw! Mataku yang terpejam sungguh sedang menahan sakit. Dia menarikku keras sekali!


Tidak apa, Rasyi.


Redakan dirimu.


“Hei!”


Eh? Dia berhenti menarikku?

__ADS_1


“Kenapa dia, coba?!”


“Hoo~”


Kubuka mataku dan sesaat aku merasakan sosok di sampingku.


Ubun-ubunku dibuat terasa ditekan oleh rasa merinding.


Tunggu, kenapa kak Fares disini?


Hari tampak berpikir, “Hmm…, siapa ya namanya. Oh iya! Faresta ya?”


Dia kenal Fares?


Tidak! Ini sungguh situasi gawat! Kalau dia membawa Fares juga, bisa-bisa….


Rasyi, tenang! Berpikir cepat dan tetap tenang!


“Lepaskan, sekarang,” aku tidak tahu kalau Fares bisa berbicara sedingin itu. Dia layaknya orang lain dengan tangan satu memelukku dan satunya membalas cengkraman tangan Hari.


“Apaan dia ini?!”


“Ganggu saja!”


“Sudahlah semuanya~” pria ini malah tersenyum seakan puas, “Nih, kakek lepas~”


Fares membawa ku menjauhi Hari setelah dia ikut melepaskan genggaman tangannya dari Hari.


Tidak bisa! Wajah kakek itu tentu punya rencana lain. Segala sesuatu itu, aku tidak boleh membiarkan Fares terjerat di jaring menggilakan ini!


“Aduh Rasyiqa sayang~ Jangan begitu. Dia kan tamu, jadi harus ikut kita dong,” Hari lagi-lagi bicara omong kosong.


Memohon pun akan aku lakukan. Bagaimanapun itu, Fares harus bisa dilepaskan, “Kumohon, jangan! Biarkan kak Fares pergi, aku mohon!”


Fares menahan wajahku untuk kembali menatapnya. Wajahnya…, sedih,  “Rasyi! Tarik nafas!”


Nafas? Nafas apa? Kenapa aku perlu⏤ “Uhuk! Uhuk!” aku… apa selama ini aku tidak bernafas?


Kedua tangan besar Fares langsung mendekapku hangat, “Tidak papa. Rasyi nafas pelan-pelan dulu.”


Nafasku yang tersengkal-sengkal sangat terdengar di gendang telinga. Paru-paru yang ternyata sangat sakit itu menyadarkanku akan getaran lain dari ujung sampai ujung lain tubuhku. Mataku terasa berair sesaat aku sadar mataku habis saja membelalakan terlalu tegang.


“Akhirnya~ Rasyiqa bisa tenang sedikit sejak ada kakaknya~” apa kata kakek itu?


Mungkinkah selama ini aku bermain layaknya aku tenang? Apa selama ini aku selalu takut dan tegang, tapi aku tidak menyadarinya?


Sakit. Takut. Rasa ini sangat aku benci.


Kuraih kaos ringan milik Fares, membekapnya lebih dekat. Menurunkan rahang bawah walau tidak bisa mengeluarkan kata apapun dan hanya bisa membantu pernafasan.


Derita yang memakanku dalam-dalam semakin meminta kehangatan dari tepukan hangat Fares. Kehangatan cuma-cuma Fares berikan. Setidaknya bisa membantuku bernafas lancar.


“Cucuku lucu sekali~” suara pria yang tak aku suka ini kembali terngiang, “Dia langsung anteng ya? Bagi rahasianya dong, Faresta, gimana bikin Rasyiqa tenang begitu?”


“Jangan biarkan kamu mengoceh,” Fares? Kenapa harus sekasar itu?! Kalau dia marah, kita bisa bahaya.

__ADS_1


Argh! Senyumnya hilang. Gawat⏤ “Hahahaha!!” dia tertawa? “Senangnya ya bisa lihat Faresta tumbuh besar. Sudah bisa lawan si kakek ini lagi. Jadi ingat waktu masih ada Riza, dulu Fares saja tidak bisa bergerak. Hahaha.”


Hah? Mereka bicara tentang apa? Riza? Kakak kandungku itu?


Fares tertawa kecil, “Kalau begitu kamu bisa dihukum mati sekarang?”


Suasana ini terlalu tegang sampai tidak bisa aku berkata-kata.


“Haha,” dia masih bisa tertawa, “Tidak boleh~ Rasyiqa lagi mau ketemu papanya~” aku menatap kembali senyum licik pria itu, “Faresta juga boleh ikut.”


Jangan… aku mohon….


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Aaw!!” kenapa dia menarik bajuku keras sekali?!


“Cuma segitu saja cengeng! Kamu kan tidak dipukul, cuma diperiksa saja!” wanita kasar itu keluar dari baris belakang mobil yang masih saja aku duduki.


Aku merapikan sedikit bajuku. Mereka sungguh memeriksa apakah aku menyembunyikan barang sekecil apapun di balik pakaianku.


Mataku menatap ke luar mobil dari celah kursi yang terlipat di depanku. Ramai orang di luar sana tampaknya diributkan dengan pembedahan barang bawaan Fares.


Dia tidak apa kan?


Fares tampak mulai memakai kembali baju atasnya. Bisa aku lihat beberapa orang mendorongnya mendekat kemari.


“Cepat masuk! Lelet!”


“Kak Fares.”


“Duduk yang benar!! Dasar lambat!”


Fares membawa dirinya ke baris belakang mobil ke sampingku aku duduk. Orang-orang kasar itu menegakkan lipatan kursi dan menutup jalan keluar kami. Pintu mobil ikut dibanting oleh mereka saat kursi sudah mereka penuhi.


“Cih!” Fares tampak kesal sambil memperbaiki posisinya untuk duduk di sampingku.


“Kak Fares tidak diapa-apain, ya kan?” sungguh tidak adakah yang bisa aku lakukan selain khawatir?


Aku terkejut dengan gerakan mobil yang mendadak. Roda mobil lagi-lagi melanjutkan perjalanannya. Padahal kami sudah ada di mobil ini enam jam. Kemana mereka membawa kami?


Dia akhirnya bisa duduk dengan baik disampingku, sembari ia melayangkan senyum kalemnya itu, “Kakak tidak apa,” dia mengelus kepalaku.


Bagaimana bisa tidak apa? Nyawa satu lagi ada di ambang kehilangan!


“Rasyi,” dia mengelus kepalaku lembut, “Kita ikuti saja dulu. Sekarang kita coba cari paman Rizki, lalu kita bisa pikirkan cara keluarnya nanti.”


Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain mengangguk setuju. Memang tidak ada yang bisa ditindak lanjutkan dari apa yang terjadi saat ini.


Langit sudah malam dan kami berdua terjebak di situasi yang tidak tentu. Semuanya hanya tergantung pada suasana hati di kakek yang miring itu.


Namun itu juga menggangguku. Apa benar Fares tahu semua tentang keadaan ini? Dia tidak panik dan tidak lengah dalam satu waktu. Dia pasti tahu sesuatu.


Perlu aku bertanya kah? “Kak⏤”


“Kita sebentar lagi sampai~” pria itu memunculkan wajahnya dari kursi di samping pengemudi, “Lihat itu?”

__ADS_1


Rumah besar itu? Villa yang seperti istana. Kenapa kami dibawa kesana?


__ADS_2