Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#4 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Raut wajah terkejut sudah sering sekali ada di gulungan memoriku. Tidak penting dengan ekspresi mereka. Melempar mainan sudah cukup menggambarkan gelora amarahku yang ingin ikut berdebat. Bayi tidak bisa bicara bukan? Kuharap kausuka dengan ‘rangkaian kata’ yang aku lempar.


“Rasyi jangan...” Ira memegangi tanganku.


Memangnya kenapa? Dia yang membuangku. Biarkan aku membuangnya juga. Tidak ada gunanya menyimpan papa yang sudah busuk!


Kualihkan pandanganku dari mata Ira. Kerut wajah sinis menjalar ke seluruh indra penglihatanku menatap si papa palsu itu. Punggung tangannya terpampang jelas menggantikan wajahnya. Kedua matanya tidak terlihat ditutupi kelima jarinya.


“Aku akan menidurkan Rasyi dulu.” Ira langsung pergi meninggalkannya begitu saja.


Sudahlah Rasyi, tenang. Tidak ada gunanya memarahi orang yang otaknya sudah rusak akut. Aku sudah punya pengalaman sebagai yatim piatu kok. Bawa saja aku ke panti asuhan untuk kedua kalinya. Jauh lebih nyaman daripada harus serumah dengan papa yang bahkan tidak mau melihatku.


Ira membawaku kembali ke kamar yang sudah sehari-hari aku lihat. Dia menduduki sofa sederhana di sebuah sudut kamar. Kedua kakinya menjadi dudukanku. Aku rasa dia masih belum mau menidurkanku. Lalu kenapa kaubawa aku ke tempat ini?


“Rasyi...,” suara pelannya menghipnotis kepalaku mengarah ke arahnya, “Tante tahu Rasyi suka melihat papa, tapi mainannya jangan dilempar begitu ya. Papa bisa marah.”


Senang apanya?! Aku tahu aku adalah seorang bayi yang seharusnya tidak mengerti keadaan. Namun seharusnya kamu bisa dong membedakan lemparan anak-anak usil dengan lemparan kemarahan! Haruskan aku menangis kencang untuk menjelaskannya?! Kalau perlu, mau aku buang semua mainanku ke wajah orang itu?!


“Tapi papa tetap sayang Rasyi kok. Rasyi juga sayang papa kan?” Ira mendekatkan wajahnya.


Hah?! Tidak mungkin. walaupun kau akan berlutut untuk itu, cap orang jahat di wajahnya tidak akan berubah. Dari sisi mana darinya yang bisa disebut ‘sayang’?!


Kenapa sih kamu membelanya begitu? Tahu saja dia bukan orang yang pantas disebut papa. Berhenti bersikeras menyerahkanku padanya! Pemikiran yang bodoh. Akan menjadi monster apa aku dewasa kelak kalau aku diasuh sama makhluk itu?


Sekarang bisa antarkan aku ke panti asuhan? Aku sudah muak dengan rumah ini.


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


Terdengar ocehan keras di ujung kanan sana. Masih belum jelas. Saraf-sarafku masih berusaha mengirimkannya ke otakku yang masih setengah sadar. Kelopak mataku tidak kuat. Bukaannya yang tiba-tiba membuatku pusing akan cahayanya yang datang dari langit kamar.


Ingatanku menggerakanku tersadar akan waktu dimana seharusnya aku tidur. Pemikiranku menghentak memberitahukan akan suara debatan membangunkanku. Kesalku kembali datang walau sudah nyamannya hilang karena tidur.


“Tidak seharusnya dia begitu kan?!”

__ADS_1


Aaargh! Siapa sih? Tidak tahu ya kalau angka meteran emosiku masih tinggi karena mengingat kejadian kemarin bersama papa yang kurang dihajar itu? Kamu mau menaikkan angka meterannya lagi?!


“Sabar, Hendra. Dia hanya ketakutan.”


Hmm? Hendra? Itu kan nama paman tampan. Suara itu... Sari ya? Mereka memperdebatkan siapa lagi kali ini?


Memutarlah kepalaku menonton dari balik pagar ranjang bayi yang masih tinggi untukku. Sudah berkumpul Hendra, Sari dan Ira. Tidak terlihat Fares disana. Apa masalah yang mereka bicarakan terlalu berat untuk diperdengarkan Fares?


Hendra berdiri marah, “Dia membuang anaknya seperti itu! Dia bukannya takut! Dia gila!”


Oh... mereka membicarakan orang itu. Tidak bisakah kalian membicarakan dia di tempat lain? Aku tidak ada urusan lagi dengannya. Jangan mengganggu tidurku dengan topik tidak berguna seperti itu!


“Kita bisa bicara baik-baik dengannya.” Sari kembali menenangkan diri Hendra.


“Kita sudah bicara baik-baik selama berbulan-bulan! Dia tidak pernah berpikir sama sekali! Harus menunggu sampai kapan?!” Hendra menghempaskan tangannya menghentikan Sari.


“Tidak mungkin juga kita membawa Rasyi. Mau bagaimanapun, Rasyi itu anak kandungnya. Kamu mau memisahkan mereka berdua?” perkataan Sari menarik perhatianku.


Orang-orang aneh. Mereka selalu mau merepotkan diri sendiri. Kalau saja aku bisa berjalan dan bicara dengan jelas, aku akan pergi sendiri ke panti asuhan dan meminta mereka untuk merawatku.


Tatapan marah Hendra terlempar ke arah istrinya itu, “Tidak mungkin juga kita meninggalkan Rasyi di tempat seperti ini! Apa yang Rizki lakukan sudah keterlaluan!”


“Lalu bagaimana dengan Rizki?” Ira mulai berbicara.


Langkah Hendra mendekati Ira yang masih duduk di ujung sana, “Dia yang ingin membawa Rasyi ke panti kan? Ini bukan seperti kita yang jahat!”


“Rizki juga bukan orang jahat!” teriakkan Ira mengheningkan ruangan.


Bicara omong kosong apa kamu, Ira? Monster tidak punya hati seperti itu kamu bilang tidak jahat? Kamu melawak ya?


Mataku tidak beralih. Entah kenapa suasana tidak seperti sebelumnya. Keadaannya berbalik dari kemarahan Hendra menjadi kemarahan Ira. Apa Hendra tidak bisa membalas? Banyak alasan yang seharusnya bisa diucapkan untuk menentang teori dangkal seperti itu.


“Rasyi bisa dibawa pergi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rasyi... gimana kalau orang-orang itu—” mulut Ira langsung tertutup.

__ADS_1


Dibawa pergi? Oleh siapa?


Mata Ira terlihat sedih, “Ibu dan kakak-kakak Rizki sudah mati. Rizki pasti takut kalau Rasyi juga... Kakak yakin tidak akan gila kalau ada di posisi Rizki?”


... hah?


Suasana hening masih saja ditelan oleh ketegangan. Tidak ada satu kata pun yang membalas perkataan Ira. Sudah ada titik besar yang menghalangi masuknya kalimat baru. Semua mulut benar-benar dikunci rapat. Bahkan pikiranku.


“Di saat yang seperti ini, justru Rizki butuh keluarganya,” Ira mulai menangis kembali menduduki sofa.


“Hendra. Sabar dulu, ya?” suara lembut Sari mulai terasa menenangkan, “Keadaannya masih belum aman untuk Rasyi.”


Tatapan Hendra masih terlihat marah, “Sial!” teriak Hendra sambil menendang kursi sederhana di dekatnya.


Aku benar-benar dibuat bisu. Satu kata pun… tidak ada. Kosong. Setiap lembar ‘buku kamus’ milikku seakan dibakar habis. Kenyataan membawa bongkahan batu es raksasa dan melemparnya tepat di organ terpenting di kepalaku.


Apa yang sedang terjadi?


Yang bisa kutangkap, seorang papa ini tidak menginginkanku karena suatu keadaan. Namun, beliau pun membutuhkanku karena suatu alasan lain. Aku tidak tahu keadaan yang membuatnya ingin membuangku, tapi alasan dia membutuhkanku mungkin karena ada kaitannya dengan keluarganya yang mati.


Entah apa yang membuat kematian mereka, yang pasti hal ini juga yang membuat kelompok orang dewasa ini takut. Dan lagi mereka bilang itu mungkin akan terjadi padaku. Namun, apa yang akan terjadi?


Mataku memejam. Aku tidak ada pilihan lain selain menelan setiap butir kenyataan itu. Semua kenyataan itu sudah sangat memberatkan walaupun masih banyak yang belum terungkap. Abu-abu tapi sangat gelap seperti akan badai.


Apa yang akan terjadi denganku?


Kenapa bisa seperti ini? Kenapa kenyataan membawaku ke situasi seperti ini? Situasi mencekam ini benar-benar memualkan. Fakta ini benar-benar menggetarkan aku. Aku bisa saja mati kapan saja.


Yang benar saja!!


“Huaaaaa!!” tangisanku pecah begitu saja.


Yang benar saja! Yang benar saja!!

__ADS_1


__ADS_2