Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#28 Kesepakatan


__ADS_3

Terhenti mataku mencari-cari. Aku terpaku dengan hanbok kalem yang tampak tenggelam dengan warna terang yang lain. Berusaha menariknya bersama hanger dari tiang gantungan.


Silver sebagai atasannya menarik perhatianku. Rok manis baby pink yang sedikit pudar sangat serasi dipandang. Perpaduan cantik dengan rangkaian bunga silver di roknya. Detail warna gold yang mencolok direndamnya sehingga menjadi pemanis, sama seperti bros kupu-kupu di atasan.


“Rasyi suka yang ini. Bagus tidak?” aku menunjukkan hanbok itu.


Persetujuan membawa kami dengan pakaian masing-masing menuju bantu ganti. Sudah banyak petugas wanita siap membantu kami mengenakan pakaian yang unik bagi warga di sini. Hanbok mereka yang seragam benar membuktikan mereka ahli akan hal ini.


Berpakaian lengkap. Rambut dikepang dan dihias layaknya drama-drama korea kerajaan. Tas dan sepatu silver menjadi pelengkap.


Kami siap berkumpul dengan yang lain dan menikmati hari pagi di taman wisata budaya.


“Papa~” aku mendekatinya. Sepertinya ia berhasil ‘dibujuk’ untuk menggunakan hanbok.


Kya! Baru aku sadari pemandangan indah ini! Rizki dan paman Hendra tampan sekali!!


Yang satu sudah seperti pangeran yang berwajah dingin dengan pakaian hijau asparagus. Satunya seperti prajurit berbaju hitam yang gagah. Kalau aku bilang mereka artis dari Korea, mungkin 98% orang langsung percaya.


Beralih genggamanku ke lengannya, “Papaku tampan sekali kali ini~”


Wajah Rizki menunjukkan rasa jijik, “Ini papa Rasyi sendiri loh.”


Langsung senyumku terbalik menjadi wajah kesal setengah mati. Begitukah kamu memperlakukan anakmu sendiri?! Seenaknya saja menganggapku mesum! Heh! Aku tuh memujimu! Memuji!


Kesalku meluap, “Ya sudah, papaku jelek,” mau ngapain sekarang?


“Rasyi kan mirip papa.”


Iish! Nih anak tidak bisa dilawan! Belum mulai jalan-jalannya, aku sudah capek duluan.


“Iki ih sukanya jail sama anak sendiri,” Ira ikut tertawa, “Loh? Fares mana?”


Oh iya ya. Hampir aku melupakan cowok yang satu lagi.


“Ke toilet,” Hendra menjawab. Ia menunjuk ke belakangku, “Tuh dia.”


Ingin sekali aku memamerkan pakaian yang aku pilih sendiri. Namun apapun yang kukenakan aku selalu diberi pujian oleh Fares, tidak seperti seseorang. Langsung aku putar kepalaku.


Hah? Kok?!


“Kya~ Cocok banget di kamu~” Ira tampak bersemangat saat tahu pilihannya tidak sia-sia di tubuh Fares, “Fares jadi cakep banget.”


“Iya, terima kasih,” Fares tersenyum tipis sambil memperbaiki topi hitamnya.


Bagaimana tidak? Dengan setelah hanbok lavender blue itu, nuansa fresh yang menenangkan menyerbak dari Fares. Tak terjelaskan perubahan  auranya. Sejak kapan Fares bisa berpenampilan tampan begitu?

__ADS_1


Yah. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Fares memang pada dasarnya punya induk yang memungkinkan. Senasib denganku yang mirip papa daripada mama.


“Rasyi~” panggilan Ira menyiapkan kamera, “Ayo dekat ke Fares. Foto dulu!.”


Aku tersenyum, “Foto di sana saja yuk~” aku menunjuk spot foto yang lebih manis.


Kembali lagi aku memindahkan genggamanku ke tangan Fares. Berpose manis di sebuah jalan penuh bunga yang menuntun pejalan kaki menuju bangunan unik khas kerajaan Korea. Hanya sebagian kecil dari wisata khas korea itu.


Tiap sisi satu per satu dibuat menjadi studio foto dadakan. Danau, taman bunga, jalan, sculpture, street food stand. Layaknya tidak ada batas untuk bereksplorasi. Kami tentu berharap banyak untuk wisata yang sedang ramai dibincangkan ini.


Sampai akhirnya taman sudah semakin ramai.


“Teaternya mau dimulai. Ayo,” Ira mengarahkan kami ke kerumunan yang lebih ramai.


Kesana? Yakin?


Hah. Mana tekad bertarung yang kamu junjung tadi, Rasyi? Sekarang aku tidak akan terpisah dengan yang lain semudah itu sama seperti saat kecil dulu. Tidak ada yang perlu ditakuti! Ini hanya langkah lain menuju bebas takut setelah membiasakan diri di sekolah.


“Kalau tidak berani jangan dipaksa,” tangan papa memegangi pelukanku pada lengan kirinya.


Heh? Apa aku pucat lagi sampai dia tahu aku takut? “Tidak~ Rasyi mau lihat teaternya.”


Rizki tidak menjawab apapun selain ikut mendekati keramaian. Di salah satu celah, aku bisa mendapati beberapa orang berdiri di tengah-tengahnya. Tampaknya teater di ruang terbuka seperti ini menarik untuk dilihat.


Ah! Telingaku sakit lagi. Kenapa mereka perlu bertepuk tangan dan heboh di waktu bersamaan? Hah. Lagi-lagi aku tidak bisa merasakan nafasku.


“Ayo istirahat di tempat yang lebih sepi.”


Mungkinkah dia sadar aku sudah lelah menumpuk takutku? “Tapi Rasyi....” Kalau aku hanya bisa mengeluh, semua tidak akan selesai.


“Sudah cukup hari ini,” dia menarikku perlahan, “Ayo.”


Dibawanya aku keluar dari kerumunan. Walau tidak setuju, tapi aku pun benar lelah. Semua kontradiktif ini membuatku kebingungan sendiri. Langkah kami pun terhenti di toko terbuka yang tampaknya nyaman untuk bernafas.


Aku dituntun menduduki salah satu meja berkursi dua di sana. Ia pun mengambil duduk dan mencoba memesan sesuatu.


Mampu akhirnya aku berpikir lebih jernih, “Yang lain tidak mencari kita?”


“Pikirkan dirimu sendiri dulu.”


Tidak seharusnya dia khawatir seperti itu, “Aku tidak papa.”


“Rasyi saja remas tangannya papa kencang sekali. Gimana dibilang tidak apa?”


Oh? Sungguh aku melakukan itu? Pantas saja dia tahu aku merasa takut semakin lama aku di sana. Harus kuingat kembali papa adalah orang yang sepintar ini.

__ADS_1


“Papa sudah dengar dari Fares,” dia bersandar pada kursinya, “Katanya kamu di sekolah selalu memaksa pergi ke tempat ramai.”


Ah? Bagaimana papa⏤bukan. Bagaimana kak Fares tahu itu? Mulutku kan tidak pernah cerita sendiri.


Hah sudahlah. Yang aku lakukan juga bukan kejahatan. Tidak ada salahnya aku jujur tentang tujuanku bersekolah di luar.


“Rasyi mau buktikan ke papa kalau Rasyi itu kuat,” jemariku saling bermain di bawah meja, “Rasyi memang tidak bisa bantu apa-apa. Rasyi juga tidak bisa ikut-ikutan. Tapi Rasyi tidak mau papa khawatir.”


Rizki sejenak terdiam. Helaan nafasnya seperti menyayangkan sesuatu, “Ternyata benar Rasyi masih menepati janji.”


Hah? “Janji?”


“Dulu Rasyi pernah bilang tidak akan tanya lagi. Rasyi ingat itu kan?”


Tunggu. Apa seharusnya aku tidak ingat ya?


Itu kan kejadiannya waktu aku belum enam tahun, seharusnya anak kecil pasti lupa. Dia tidak berpikiran yang aneh-aneh kan? Kenapa aku sepanik ini?!


“Habet Rasyi bisa ingat itu. Tapi jujur, Rasyi mau jadi lebih kuat supaya papa sendiri yang cerita ke Rasyi kan?”


Mataku yang terbelalak tidak terkendali. Aku meremas kedua tanganku menjadi satu. Rasanya sangat mustahil untuk merahasiakan sesuatu dari papa. Dia selalu dengan cepat membaca keadaan.


“Papa anggap itu iya.”


Apa papa marah ya? Walaupun aku tidak tahu apa masalah keluarga yang mengaitkan kakek dan kami, aku bisa menebak itu hal yang sensitif untuk dibahas. Sangat aku pahami kenapa papa lebih memilih merahasiakannya dariku. Ia takut kalau aku yang ketakutan mengetahui kalau keluarganya tidak beres.


Harus bagaimana? Diri ini betul tidak mau merepotkan papa. Namun diri ini pun betul ingin tahu apa yang terjadi di belakang sana. Sudah enam tahun dan tidak ada kabar. Tidak mungkin bisa aku menahan diriku untuk khawatir.


“Kenaikan,” dia menahan wajahnya dengan tangan ditegakkan di meja.


Hah?


“Rasyi sekolah dengan nyaman dulu sampai kenaikan. Setelah itu, papa akan ceritakan semua pelan-pelan.”


Terbelalaknya mataku tidak kalah lebar dari yang tadi. Inikah kesempatanku? “Sungguh?”


Pelayan tiba-tiba datang mengganggu, “Choco Friday Ice Cream-nya, mas.”


“Terima kasih,” Rizki menerima es krim⏤eh? Papa kan tidak suka makanan manis.


Rizki, kamu tidak keracunan makanan, ya kan?!


“Papa janji,” dia mendorong semangkuk sedang es krim coklat itu, “Sekarang habiskan ini dulu.


Mulutku tak bersuara. Lagi-lagi aku dikejutkan oleh papa satu ini. Dan lagi-lagi aku bisa merasakan lega yang menusukku sampai tembus ke belakang.

__ADS_1


Wajahku sudah tersenyum dibuatnya, “Terima kasih, papa~”


Dingin di ekspresinya sesaat runtuh dengan senyum hangat. 


__ADS_2