Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#48 Bedah Kotak


__ADS_3

Kurenggangkan tubuhku melemaskan sendi-sendinya. Dengan tubuh bersih sehabis mandi membantu menguras lelahku. Meja belajar ini lagi-lagi jadi tempatku merenung.


Hah, akhirnya aku berhasil meluangkan waktu. Setelah dua hari aku biarkan, waktunya untuk membedah isi kotak pemberian Jagad.


Berapa lama kira-kira untukku meneliti setiap barang tumpukan Jagad? Sebanyak ini sepertinya butuh beberapa jam. Apalagi sesaat aku menemukan tulisan, bahkan ada buku disini.


“Oke. Baca bukunya dulu deh,” kuraih buku batik yang sering dipakai anak-anak sekolahan menulis.


Jagad tahu aku suka buku yang lucu-lucu. Buku seperti ini pasti bukan dihadiahkan untukku. Dia menulis sesuatu kah disini?


Kubuka halaman pertama, “Empat april tahun… ini waktu aku umur lima tahun.”


Tunggu. Buku harian kah? Apa aku boleh membacanya begini? Namun… penasaran. Jagad bukan tipe orang yang memendam masalah, jadi apa yang akan ditulis oleh anak sepeprti dia.


[Kata Rasyi nulis sesuatu bisa bikin kita lebih tenang. Beginikah?]


… baiklah...


Halaman selanjutnya….


[Gak paham, aku harus nulis apa sih?]


Beberapa lembar tidak bisa menghentikanku menggeleng-gelengkan kepala. Dia hanya mengeluh dan mengeluh tidak paham harus menulis apa dan kenapa. Kalau tidak mau menulis kenapa tidak dihentikan saja?


Ya memang menulis bisa memberikan ketenangan, tapi tulisannya juga harus dikeluarkan dari hati. Ini sih seperti coret-coretan.


Oh, yang ini sepertinya lebih berbobot.


[Rasyi gak minta apa-apa. Terus nanti dia ulang tahun gimana?]


Hm? Dia bingung tentang kado ulang tahunku? Ternyata dia bisa dibuat galau dengan hal seperti itu.


[Aku takut Rasyi gak suka. Beli yang lain gak ya? Rasyi gak mau keluar rumah, aku harus cari yang paling dia suka biar dia bisa berani keluar lagi.]


Ini, waktu-waktu aku baru bertemu dengan kakek itu. Dia perhatian sekali. Waktu itu dia kasih apa ya? Waktu itu aku masih takut sampai hal seperti itu aku tidak memperhatikan.


Kalau, halaman lain. Oh. Ini waktu aku umur tujuh tahun.


[Rasyi mau banget pensil warna yang banyak. Tapi Harun sudah kasih duluan. Padahal aku mau kasih itu buat kado ultah. Sial. Harus cari kado lain.]


Hmm? Ternyata banyak sekali drama tentang kado per-kadoan di belakangku. Seharusnya dia tidak perlu banyak berpikir tentang itu.


Beberapa lembar ia habiskan untuk mengeluhkan tentang apa yang mau dia berikan dan seberapa cepatnya Harun mendahuluinya.


Memang sih aku tidak pernah memandang Jagad sebagai lawan jenis dibandingkan dengan Harun yang memang sudah aku suka dari dulu. Aku jahat sekali. Padahal usahanya Jagad sebesar dan semanis ini. Bagaimana lagi? Hatiku sudah ada untuk Harun.

__ADS_1


Yang ini, dua tahun lalu. Berarti dia sudah masuk SMP kan?


[Harun juga suka dengan Rasyi. Hah, kurang ajar. Gak mungkin aku lepasin gitu saja!]


Apaan sih? Kenapa Jagad tiba-tiba membahas itu?!


Next! Next!!  


Oh, ini tulisan tahun lalu. Kira-kira awal aku masuk sekolah.


[Figura foto katanya lucu buat hadiah cewek-cewek. Rasyi juga baru punya teman baru. Nanti aku ajak foto biar bisa dia pajang. Dia pasti suka kan?]


Sudah banyak sekali kegalauannya yang isinya hanya karena dia ragu aku suka atau tidak. Padahal aku juga tidak punya niat untuk menolak. Kasih saja dong!


[Kayaknya aku ditolak deh….]


Ah.


[Rasyi pasti sudah sama Harun….]


Dia tahu?!


[Tapi aku gak mau kasih Harun.]


[Om Rizki bisa dibujuk. Jadi aku bisa bawa Rasyi ikut camping. Tapi om Rizki cuma percaya kak Fares.]


Ini lembar terakhir. Dia jarang menulis ya. Isinya juga kebanyakannya hanya karena dia galau mau kasih hadiah atau tidak. Sampai pada akhirnya menumpuk seperti ini.


Ah. Ini bingkai foto itu kah?


Wow. Cukup terkejut aku dengan model yang satu ini. Tiga bingkai disatukan dengan satu bingkai tambahan di tengah atasnya berbentuk hati.


Paham sekali aku kenapa dia tidak jadi memberikannya. Maksudku, tulisan I dan U yang mengapit bentuk hati itu terlalu jelas. Aku memang sudah tahu Jagad menyukaiku sejak lama, tapi memangnya dia berani menyatakan perasaannya segamblang itu? Diri ini saja tidak mampu.


Terdiam, “Ppht, hahaha….” tertawa aku lepas.


Jagad ini ada-ada saja.


Kembali aku menyendu ria, “Terima kasih, Jagad. Nanti aku pasang foto bareng kita berdua deh.”


Apa lagi yang ada di dalam ya? Ini⏤


“Nduk,” terdengar suara bibi di seberang pintu kamar yang tertutup sehabis ketokan ringan.


“Iya, bulik,” aku berdiri.

__ADS_1


Kudekati pintu kamar dan membukakannya untuk beliau. Tampak sosok ini yang sengaja dipekerjakan oleh papa untuk membantu mengurus rumah. Oh iya, ini sudah jam pulang beliau.


“Bulik sudah mau pulang?” tanyaku.


“Iya, nduk. Makanannya sudah ada di dapur, ngeh? Kalau kenapa-kenapa, panggil ae yo?”


“Terima kasih, bulik,” aku memberikan senyum untuk mengantarkannya pergi.


“Oh, nduk, hampir lupa. Bulik takut ganggu mas se di kamar. Mas se juga belum makan.”


Papa? Dia memang selalu mengurung diri ke kamarnya dan tidak mau diganggu, “Ya sudah, nanti Rasyi ajak makan juga. Terima kasih, bulik.”


Beliau melangkah pergi. Rumahnya yang hanya dihalangi beberapa jejer rumah dari sini, tentu memudahkan beliau kerja dengan pulang pergi saja. Meski di rumah yang sudah jadi ini ada kamar pembantu, kurasa papa lebih memilih cara kerja yang seperti ini.


Apa karena papa takut orang luar mempengaruhi keamanan rumah ini. Pindah rumah saja tidak cukup ya?


Sudahlah. Tidak bisa berpikir kalau sedang lapar. Bagaimana kalau mengajak papa makan dulu?


Menggeliat aku meringankan tubuhku. Langkah kaki satu dua dan seterusnya memutarkan badan ke kanan kamar dan menuruni tangga. Ikuti putaran tangga.


Aku memasuki ruang makan dan tersadar beberapa piring lengkap dengan makanan sehat yang selalu diingatkan Rizki. Kamar papa ada di kiri ruang makan. Ya, tertutup. Untungnya papa tidak suka mengunci pintu. Pintu itu terbuka saat aku menekan ganggangnya.


“Hah,” dia tertidur di meja kerjanya lagi.


Jika kita di rumah milik papa di sana, papa pasti sudah keasikan sendiri mengurung diri di ruang penuh bukunya itu. Makan pun bisa dibawa bekerja. Pertanyaan yang paling besar, papa kan kerjanya dokter. Apa yang membuatnya harus lembur ria di depan meja rumah seperti ini. Ini selalu terjadi bahkan sejak aku kecil.


Kudekati pria satu itu. Punggungnya yang terbuka lebar itu menjadi incaran tepukanku. Dia harus makan dulu baru tidur lagi. Seperti ini pun, papa sebenarnya cukup rentan sakit.


Tanganku menepuknya pelan, “Papa, makan dulu yuk.”


Mulut yang membisu itu membuatku kesal. Kacangin saja putri semata wayangmu ini.


“Ya sudah kalau maunya tidur. Tapi tidurnya di kasur dong.”


Ada apa sih? Biasanya aku bangunkan seperti ini dia langsung bangun.


Kuputar berdiriku mendekati sisi kanan meja kerja. Mencari wajahnya di antara tumpukan kedua tangannya yang melipat. Itu dia wajahnya. Wajah itu memiring meski aku hanya bisa menangkap bagian hidung ke atas.


Duh, masih pucat saja. Tidak bisa seperti ini terus. Pokoknya harus dibangunin untuk makan lalu minum obat apalah nanti.


“Pa⏤” loh? Kenapa aku rasa hangat saat menyentuh lengannya itu?


Langsung aku sentuh kening wajahnya.


“Ah…,” panas. Tubuh papa panas.

__ADS_1


__ADS_2