
Suara gesekan pelan spidol dan papan putih itu hampir tak terdengar. Ruangan hening dengan khusyuk. Guru wanita berpakaian nyaman itu menuliskan berbagai rumus dan contoh pemakaiannya. Jam pelajaran ketiga hari ini dimulai setelah bel yang belum aku dengar.
Detak jantung akhirnya bisa diajak kerja sama setelah murid-murid yang ribut memilih untuk tenang menerima pelajaran baru. Rasyi, tenangkan dirimu. Kamu harus belajar.
“Hah…” berusaha sekuat tenaga aku menenangkan bahuku yang bergetar.
Aku dikejutkan dengan ketukan di pundak belakang. Panik aku menatap ke bangku belakangku. Muncul sedikit rasa kesal pada Harun yang selalu mengejutkanku. Sekilas aku melihat dia tersenyum, sementara tangannya mengulurkan lipatan kertas.
Berpikir aku sejenak selagi tanganku meraihnya. Kubuka kertas itu mencari tahu apa isinya. Sebuah tulisan?
Mau gandengan tangan supaya lebih tenang?
Hah? Apa sejelas itu rasa takutku? Dia kan tidak perlu repot-repot memikirkanku. Namun….
Perlahan aku putar leherku mengintip ke arahnya. Senyumnya masih saja jelas terpampang di wajahnya. Terlihat tangan kirinya terulur ke depan meja.
Em… sebesar apapun aku menolak, aku memang sedang butuh tanda kehadiran Harun. Langsung aku belakangkan tangan kiriku dan meraih tangannya. Dari hangat tangannya aku baru menyadari tanganku selama ini dingin.
Ih! Ini manis dan memalukan di saat bersamaan! Terakhir kali aku bergandengan tangan dengan Harun adalah saat masih SD. Pandangan manis tentu akan terlihat kalau seperti itu. Sekarang kan dia sudah tumbuh menjadi lelaki tulen yang diidam-idamkan. Kalau tidak canggung, apa lagi namanya?
Jantung, jangan bertingkah untuk hal lain! Istirahat dong!
Tiba-tiba sebuah uluran lipatan kertas baru menghantam pundakku. Harun pasti ingin menyampaikan hal lain. Kubuka kertas itu dan menemukan tulisan lain.
Semangat! Bentar lagi istirahat :)
Aku tidak bisa menahan senyumanku. Dasar. Kelakuannya itu terlalu manis. Bagaimana caranya aku tidak naksir dengan cowok ini?
Hah… kapan ya aku bisa pacaran?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Rasyi sudah punya pacar belum?”
Kenapa muncul pertanyaan itu? “Belum,” kusedot lagi minuman blender yang baru dibelikan Firna.
“Loh? Kamu gak pacaran dengan Harun?”
Eh?!
“Tadi aku lihat kalian gandengan tangan lama banget loh~”
Ah! Ketahuan! “Bukan! Itu⏤aku cuma tegang jadi….” Bagaimana aku jelaskannya, coba?!
“Gak ada harapan buat aku ya?” salah satu cowok mengeluh.
Reaksi apa itu? Kamu sesuka itukah padaku?
Jagad menyengir, “Gak ada.”
__ADS_1
“Tentu saja tidak punya~” mata Harun tampak kembali kedutan membuat sang cowok kalah telak.
Wah. Mereka bisa kejam juga ya.
Getar yang bisa aku dengar itu mengelilingi lagi ponselku. Dia menjawabnya lagi. Kuperhatikan jawaban apa yang ada.
Sebentar lagi kakak ke sana kok.
Ke sini? Apa dia juga khawatir di hari pertamaku sekolah. Seharusnya dia tidak perlu seperti itu. Meskipun masih tegang, tapi aku sudah bisa mulai mengendalikannya kok. Hanya perlu pembiasaan saja.
Lain cerita kalau papa yang meminta dia mengecek keadaanku. Papa kan lebih percaya ka Fares dibandingkan Harun dan Jagad.
“Oh iya, Rasyiqa gak mau keliling sekolah?”
Keliling? Hmm…⏤
“Tidak boleh,” tegas suara Harun terdengar, “Di luar terlalu ramai.”
Itu masalahnya. Awalnya aku juga ingin keliling-liling dengan Harun dan Firna. Namun memikirkan sekolah besar yang menumpuk dengan siswa begini, aku semakin meragukan diriku mampu atau tidak. Langsung ciut begitu saja.
“Kenapa?” Oh iya. Jagad belum datang waktu aku dan Harun membicarakan ini, “Padahal sebelumnya Rasyi semangat mau lihat-lihat sekolah.”
“Aaa… iya sih, tapi….” Takut.
“Terus, kenapa? Kan kita sama-sama,” Jagad tersenyum lebar.
“Iya, Rasyiqa~ Kita juga ikut antarkan kok~” mereka ikut tersenyum lebar.
“Jangan, Rasyi. Nanti kalau kenapa-kenapa, gimana?” Harun berdiri tampak marah meski masih pembawaan tenang.
“Kamu itu terlalu mengekang. Seharusnya kita yang semangatin Rasyi.” Jagad ikut darah tinggi.
Harun masih meladeni, “Aku cuma mau menekankan batasnya. Langsung ke tempat ramai di hari pertama. Kamu mau menyiksa Rasyi?”
“Malah harus begitu supaya Rasyi lebih berani. Gak ada gunanya kalau cuma setengah-setengah,” Jagad bersikukuh.
Duh. Kenapa kalian memulai ronde kedua sih? Jadi ributkan kelasnya karena mencoba menenangkan kalian.
Aku tidak paham dengan mereka. Selalu saja berdebat tentangku, di depanku. Ini membangkitkan imajinasiku di mana Harun menjadi ibuku dan Jagad menjadi ayahku.
Berdiri aku berusaha memisahkan mereka, “Jangan berkelahi terus⏤” eh?! Kakiku tersandung! Aah!
DEBUK!
Hampir aku terjatuh ke lantai ubi putih itu. Tidak aku sadari kakiku selama ini melemas karena sudah beberapa jam di tengah ketakutan. Untungnya Firna dengan refleksnya menahan lenganku dan mengembalikan kerja kakiku. Namun kelas sedikit dihebohkan.
Harun dan Jagad tampak berlutut sambil memegangi kepala masing-masing. Tidak kebayang kepala itu saling terbentur keras sampai bersuara sebesar itu. Pasti mereka langsung pening.
“Kalian bisa berdiri?” aku memegangi tangan mereka.
__ADS_1
“Mungkin,” Jagad berusaha berdiri. Dia sedikit oleng. Untung fisik olahragawannya sangat mendukung.
“I⏤Iya…,” Harun berusaha ikut berdiri.
Ah! Harun hampir jatuh!
“We!” Jagad langsung menahan tangannya, “Gak papa?”
“Hmm,” Harun tampak tidak punya pilihan lain selain berpegangan pada pergelangan Jagad.
Tiba-tiba mataku menemukan sosok berseragam putih abu-abu yang terhenti di belakang Harun dan Jagad. Lelaki itu menelengkan kepalanya berpikir saat mendapati tangan yang bergandengan itu.
Perlahan Harun sadar dengan arah pandangku, “Ka⏤kak Fares?”
Sejenak mereka berpikir. Dalam waktu sedetik pula Harun dan Jagad panik langsung melepaskan tangan masing-masing.
“Ini, BUKAN seperti yang kakak pikirkan.” Jagad ikut panik.
Fares memainkan alisnya, “Berarti kalian bukan saling tolong karena habis jatuh kebentur?”
Oh? Dia tahu? Berarti kak Fares sudah ada di sini sejak tadi dong!
“Ah tidak! Maksudnya….” Jagad langsung blackout sejenak.
Harun membuka mulutnya, “Kami saling bantu karena habis jatuh.”
Aku berusaha menahan tawaku dan melepaskannya sekecil mungkin. Kasihan sekali cowok-cowok di sekitarku ini. Mereka layaknya tidak punya kesempatan untuk berbuat keren. Hah. Cowok-cowok ini~
Kulewati kedua cowok itu, “kak Fares~” kuraih tangannya dan bersikap manis.
Dia tersenyum dan mengelus kepalaku, “Rasyi sudah mulai terbiasa disini?”
“Sedikit,” Ah. Beberapa saat aku lupa kalau ada di sekolah. Oh, kalau keliling sama kak Fares..., “Kak, temani Rasyi keliling sekolah dong.”
“Rasyi!” Harun masih tampak tak setuju.
“Kan sudah kamu bilang aku harus hadapi ketakutanku. Aku kan mau berusaha juga,” aku tersenyum berusaha menenangkannya, “Aku janji cepat balik deh.”
Tampaknya Harun pun tidak mampu menentangku saat aku benar-benar ingin. Dia menghela nafas, “Iya deh….”
“Ya sudah. Kalian ke UKS ya, kepala kalian mulai bengkak tuh,” aku masih menahan tawa. Langsung aku menarik Fares yang aku yakin pasti mau menemaniku, “Yuk, kak!”
Tentu ini karena aku mau kabur dari pertengkaran mereka. Aku juga sering seperti ini sebelumnya. Fares paham akan hal itu dan selalu mengikuti keinginanku. Maaf Jagad dan Harun, pertengkaran kalian itu membuat kepalaku berputar.
“Oh iya, Rasyi,” dia tiba-tiba memanggilku, “Tante Ira tanyain, kamu mau pergi kemana hari minggu?”
“Minggu?” minggu ada apa?
“Jalan-jalan ke luar, katanya untuk rayakan Rasyi ke sekolah baru,” Fares masih menuntunku dengan santai, “Tapi kalau masih belum mau, nanti kakak bilangin.
__ADS_1
Jalan-jalan ya? Tidak ada salahnya mencoba sih. Lagipula ada satu tempat yang ingin kudatangi. Aku sudah sampai sini, bagaimana kalau aku mengabaikan ketakutanku? Mungkin saja aku bisa menaklukkannya dengan lebih cepat.
“Kalau begitu….”