Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#35 Pertemuan Kedua


__ADS_3

“Papa balik besok pagi,” pria ini menyiapkan diri untuk kembali ke mobilnya dan mengendara pulang, “Rasyi, jangan bangga dapat luka sebanyak itu. Kalau mau terjun payung lagi, mending langsung pulang.”


Bapak satu ini kebanyakan baca buku. Kalau marah, tidak perlu menyertakan majas-majas tidak berguna! Nilai bahasa Indonesiaku tidak sebagus yang anda pikirkan. Mana ada yang bangga dengan luka memar karena jatuh begini? Preman saja malu!


Hah. Terserah papa deh mau marah sampai menghinaku seperti apa. Hal terpenting adalah niat papa untuk membawaku pulang sudah dihindari.


“Fares, tolong, lebih awasi Rasyi lagi,” mata papa seakan melampiaskan kemarahan pada Fares.


“Iya, paman.” Fares tampak sedih mengangguk.


Kasihannya Fares~ Dia yang justru jadi korban amarahnya papa. Hatiku menumpuk rasa bersalah. Ke depannya aku harus lebih berhati-hati sebelum mencapai batas kesabaran papa.


Rizki memasuki mobilnya. Kalimat yang menggambarkan ‘selamat bertemu kembali nanti’ saling kami tukarkan. Mobil itu pada akhirnya menggerakkan rodanya pergi. Semakin jauh dan menghilang di suatu titik.


Pelukan hangatku menghantam wanita di sampingku, “Makasih, tante~”


“Iya~” Wanita ini, tante Ira, membalas pelukanku.


Untungnya Ira dengan senang hati menawarkan diri untuk tinggal disini sampai besok dan meyakinkan papa. Siapa sangka titipan Sari pada Fares membawanya jadi penolongku di saat genting begini. Kalau tidak, aku pasti sudah ikut mobil itu.


Aku menatap Fares, “Maaf ya kak, kakak jadi kena marah.”


Fares kembali lagi tersenyum, “Sudah sana, ajak tante keliling.”


Hah. Aku jadi merasa semakin bersalah dengan Fares. Pertama dia disuruh-suruh untuk ikut liburan kami walaupun waktu sekolah. Sekarang dia malah menanggung salahnya aku dan Harun, entah untuk apa.


Nanti aku traktir dia minuman deh.


“Iya~” aku tersenyum.


Langkahku pergi ikut mengajak Ira yang sepertinya bersemangat juga. Waktu kami habiskan melakukan kegiatan yang beragam. Jalan pagi, berenang, memancing, bakar-bakar dan makan bersama.


Malam kembali menenggelamkan hari tanpa terasa.


Rencana kelas selanjutnya, game. Tim dua orang akan menelusuri jalan yang sudah disediakan panitia. Ya, dikenal dengan jurit malam.


“Berarti Rasyi sama tante kan?” salah satu cewek kelas mencatat nama kami di sebuah kertas berpapan, “Kak Jagad gimana?”


“Kalau aku ikut bantu panitia gimana?” jawab Jagad.


“Boleh kok kak,” salah satu teman cewekku itu menyambut, “Kakak langsung saja ngumpul disana. Bagi-bagi lokasi tuh.”


“Siap~” Jagad tersenyum semangat, “Duluan Rasyi~ Tante~”


“Takut-takutin-nya biasa saja ya~” candaku mengantarkan ia pergi.


Dilihat dari manapun, rasa kecewanya terlalu kentara. Pasti karena sudah aku tolak jadi teman setim. Sudahlah terima saja, aku sedang tidak ingin ber-drama bersama denganmu saat ini.


“Si gentleman Harun masih sakit ya?” Ira mengajak bicara.

__ADS_1


“Iya kayaknya,” aku menjawab singkat.


Aku belum bertemu dengan Harun sejak kemarin malam. Entah karena luka benturannya yang membuatnya lebih memilih berbaring, atau karena akhir dari percakapan kami yang tergantung. Haah… aku pun belum siap bertemu dengannya.


Kalau dipikir-pikir, aku juga tidak melihat Fares sejak pagi. Dia kemana?


Seketika terdengar panggilan dari teman-teman yang direkrut kelas sebagai panitia jurit malam. Meminta kami untuk berkumpul di satu titik untuk memulai perjalanan. Inilah saatnya acara dimulai.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Pepohonan yang indah di siang hari, menjadi tampak mengerikan di malam hari. Aku dan Ira yang berjalan sambil bertempelan mengurangi rasa ngeri. Ditemani senter yang tidak ada apa-apanya.


“Hii…” jeritku pelan.


Kami menemukan sosok yang tertutupi kain hitam yang menjuntai mengerikan di sisi kiri jalan. Gelagat ketakutan kami berjalan dengan perlahan agar bisa melewatinya. Di persimpangan tiga ini memaksa kami pergi ke jalan kanan yang lebih rimbun.


“Lari…,” teriakku sepelan mungkin. Mengarahkan Ira ikut mengambil kaki seribu.


“Seram banget! Hitam semua begitu,” Ira berteriak ketakutan.


“Kayak maling.”


Hening menyadarkan kami. Tawa riang terdengar samar merespons joke yang tak lucu itu. Sepertinya kami pun tanpa sadar mau menghibur diri di tengah ketegangan.


Beberapa saat kami berjalan dengan tangan yang saling bergandengan. Ira dengan tinggi yang tidak beda jauh, membuatku nyaman mendekatkan diri.


“Kok kita tidak sampai-sampai ya?” Ira tampak mencurigai sesuatu.


Oh, ada seseorang di depan sana. Itu salah satu dari mereka kah? “Guys!”


Tante Ira mulai berbisik menahan langkah kami, “Rasyi, kayaknya bukan deh.”


Duh. Benar juga kalau dilihat-lihat. Murid-murid SMP tidak mungkin setinggi itu. Jangan-jangan⏤gemetaran sekali tubuhku ini!


“Kalian kesasar ya?” sosok itu berbicara.


Dia orang sungguhan kah? Tampaknya semakin jelas dengan cahaya senter kami yang tak panjang. Segala sudut yang aku lihat dari pria matang itu, aku bisa merasakan kehadirannya sebagai manusia biasa.


“Kalian mau kemana? Di sana bahaya loh,” pria itu menunjukkan ibu jarinya ke arah jalan yang ingin kami tempuh.


Ira kebingungan, “Hah? Bukannya ini balik lagi ke gedung depan ya?”


“Bukan, ini makin jauh,” pria ini tampak serius.


Uups. Apa kami salah mengambil jalan? Tatapanku bertemu dengan Ira yang sama-sama tak habis pikir. Selama ini ternyata kami sudah tersesat. Kenapa bisa jadi seperti ini?


“Ya sudah, ikut saja sini,” dia melangkah duluan memberikan kami jalan.


Masih aku mencuri pandang dengan Ira. Isyarat menanyakan ‘bagaimana’ sudah aku lemparkan dari ekspresiku. Hantu atau manusia, dia tetap sosok yang asing.

__ADS_1


“Kita ikuti saja dulu,” Ira berbisik dan menemaniku melangkah.


Ini benar kejadian yang tak terduga. Jurit yang seharusnya menegangkan berakhir dengan dua wanita yang tersesat bersama. Hah. Kepanikan ini semakin bertambah saja. Aku harap pria ini benar orang baik yang mau menunjukkan jalan keluar.


Namun, kenapa kami masuk lebih dalam ke hutan?


“Kok kita ke sini? Jalannya bukan ke sana?” Ira berinisiatif bertanya sambil menunjuk jalan setapak yang susah ada.


“Harus potong jalan kalau mau balik.”


Duh. Kenapa aku punya firasat tidak enak ya? Semakin dalam semakin gelap. Semakin mengerikan atmosfer yang menyelimuti.


“Hii…,” pelukanku melanda lengan Ira lebih erat. Itu bayangan apa? “Tante, itu apa?” aku membisik ketakutan.


Kudapati sebuah bayangan pendek di antara pepohonan. Apa lagi itu? Malam ini aneh-aneh saja!


Oh, tunggu…⏤tanganku melepaskan lengan Ira. Berlari mendekati bayangan itu.


“Jagad?!” aku mendapati lelaki ini sudah terduduk bersandar ke pohon yang besar.


Ira mendekatiku, “Dia kenapa?”


Aku tidak bisa menjawab. Bagaimana bisa dia ada di tengah hutan tak sadarkan diri seperti ini? Luka-luka ini… apakah ada yang memukuli dia?


“Rasyi,” suara Jagad yang tergetar membuatku sedikit lega.


Kepalanya terangkat. Memperlihatkan wajahnya padaku. Ekspresi marah sekaligus takut itu tercampur di satu waktu.


Tangannya sanggup terangkat dan menggenggam bahuku, “Rasyi, pergi… sekarang.”


“Kenapa? Belum juga ketemu aku.”


Getaran hebat menjalar dari ujung jari ke ubun-ubun. Suara ini… tidak! Tidak mungkin!


Ira tampak mengubah posisinya mendekat dan memelukku erat. Seakan ia mau menutupi pandanganku ke arah suara itu sekaligus menyembunyikanku. Langkah-langkah berat terdengar menyebar. Namun langkah di kiriku yang membuat nafasku semakin terhambat.


“Rasyiqa, sudah lama loh. Gak mau kasih peluk nih?”


Ira berteriak walau terasa getaran tubuhnya, “Jangan mendekat!”


Ah, hawa ini. Kusadari hal ini bahkan tanpa melihatnya. Pria ini sedang marah.


Tanpa bisa bergerak, aku merasakan pelukan Ira yang dipaksa melepas. Dengan telinga yang berdenging, aku masih bisa mendengar suara langkah mendekat. Jagad tiba-tiba menggenggam tanganku. Wajahnya sangat marah dibalik luka-luka itu.


“Jangan berani pegang-pegang, Rasyi!” Ira masih saja berteriak di belakangku.


Sakit! Telapak tangan yang dingin tiba-tiba mencengkram kepalaku. Memutar pandangannya ke arahnya. Ke arah wajah busuk yang selalu muncul berkali-kali di mimpi burukku.


“Kakek sudah kangen. Rasyiqa nggak?”

__ADS_1


Tolong. Jngan mendekat lagi….


Papa, tolong….


__ADS_2