Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#38 Tujuan Berkelana


__ADS_3

Suara yang datang bagai petir tadi sungguh menyakitkan telingaku. Bagai sesuatu yang melesat dan lintasannya tepat berada di sampingku.


Kedua alat penopangku sudah lemas terlipat. Uluran tanganku tak sampai menyentuh lelaki yang kesakitan itu. Basah yang penuh rasa takut itu mulai menggenang dan mengganggu penglihatanku.


“Jagad…,”


Pergerakan tiba-tiba terdengar dari depan. Jagad tampak waspada di balik rasa sakitnya. Entah bagaimana aku bisa sangat yakin siapa itu tanpa melihatnya.


“Rasyi,” bisiknya terdengar bergetar, “Cepat kabur.”


Kembali aku mengatur nafasku. Diri ini pun tahu kalau aku harus mematikan rasa tegaku. Situasi ini menekan kami untuk memanfaatkan peluang sebaik mungkin dan seefisien mungkin.


Namun⏤tangan kiriku menggenggam tangan kanannya. Menahan kepalanya yang sewaktu-waktu bisa tumbang dengan tangan kananku.


Tak ingin meninggalkan, bercampur dengan rasa membeku yang melumpuhkan alat gerak bagian bawahku. Ketakutan yang jadi sahabat satu minggu ini, sekarang menjitak otakku bahwa situasi kali ini sama sekali tidak sama.


“Kalian lucu ya~” suara yang sudah familiar itu mendekat, “Sudah senang cuma gara-gara dibiarin keluar sebentar.”


Hawa dingin yang tak pernah aku suka semakin mendekat. Pada akhirnya aku bisa melihat sosok itu di sudut mata kananku.


“Tapi mainnya cukup ya,” ah, suara yang semakin dingin ini, “Kakek sudah bosan.”


Jangan….


“Aargh gah!” Jagad!


Hentikan! Tolong jangan menarik ia begitu. Dia kesakitan.


Kenapa dia menarik kerah Jagad sampai terangkat? Kaki Jagad yang menekuk menunjukkan seberapa lemasnya ia. Terus memegangi bahu kanannya dan menahan rasa sakitnya.


“Tolong, lepasin Jagad…,” lemah tubuhku tidak mampu mendekatinya dengan sisa tenaga untuk memohon.


Jangan. Jangan….


“Gak mungkin, Rasyiqa~” senyum mengerikan di wajah yang tidak ingin aku ingat, “Cowok gak sopan gini berani-beraninya culik cucunya kakek.”


Hentikan….


Terkejut aku melihat kepala Jagad perlahan menegak. Membantunya menatap pria yang menahan sekaligus mencekiknya. Kesakitannya bercampur dengan sang kemarahan.


“Puh!” Jagad! Apa yang dia lakukan?


Dia justru memberi ludah di wajah pria ini. Seharusnya pria yang mau meledak ini, tidak dibuat lebih memanas lagi.


Kuseret tubuhku paksa mendekatinya. Tidak ada cara lain yang bisa kupikirkan selain berusaha menahan kakinya. Memohonnya untuk menghentikan apapun yang dia ingin lakukan.


“Tolong, berhenti…,” genggaman yang getarnya menguasai tetap tak aku pertahankan di kakinya. Berharap dan berharap.


“Rasyi,” Jagad berusaha mengeraskan suaranya, “Lari sekarang.”


Itu mustahil. Tak mungkin aku sanggup melakukannya. Jangan menyuruhku untuk melakukannya.


BRUK!


“Ii gah!!” jerit sakit Jagad yang ternyata sudah dibanting jatuh ke tanah.


Terlepaskan genggamanku pada pria itu. Ingin mendekati Jagad, “Jagad⏤aah!”


Sakit di lengan atasku kuterima saat sebuah tangan menariknya paksa. Ruang sela antara aku dengan Jagad semakin jauh, malah mendekatkanku dengan pria itu.


Wajahku ditekan dengan satu tangan kanannya, tarikan memutar poros leherku untuk sekali lagi menangkap mata coklatnya. Mata coklat yang tampak lebih gelap dari yang aku ingat, lebih menakutkan lagi.


“Iya, Rasyiqa. Cepat lari,” dia mendekatkan wajahnya, “Biar kakek yang urus anak jahat ini.”

__ADS_1


Jangan….


Dia melepaskan aku. Kembali mendekati Jagad yang bahkan tak kuat untuk duduk. Tetap memperlihatkan bila ia masih kuat, menahan sikunya ke tanah. Namun, si busuk itu tidak berakhlak menahan Jagad dengan kakinya.


Jangan!


“Aargh! Eegh! Puh! Gah!!”


Hentikan! Aku mohon hentikan!! Jangan pukuli Jagad seperti itu! Kumohon!


Menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ketakutan. Tidak mampu melihat Jagad yang terus disiksa. Suara pukulan dan jeritan Jagad yang tak berhenti.


Kejamnya suara itu akhirnya menenang. Jemari dengan sela-selanya menjadi tempat intipku.


Jagad?


Wajah Jagad lebih parah dari sebelumnya. Ia tampak tergeletak lemah. Layaknya tidak ada lagi sisa tenaga, matanya itu sudah sangat menipis. Senyum tak karuan menghadap padaku membuatku malah semakin takut.


Jagad? Kenapa kamu menutup matamu?


“Hah…,” pria ini tidak tahu peduli dan menegakkan tubuhnya.


Dia mengelus sesuatu sambil mendekatkan dirinya. Terjongkok ia di depanku memperlihatkan benda L hitam yang aku tahu itu mematikan.


“Keluar ke arah sana,” Jari telunjuknya menunjuk ke arah kananku, “Kakek titip salam buat papamu ya?”


Nafasku yang tak teratur merajalela dari depan pernafasanku sampai ujung akar di paru-paruku. Otak tersendat-sendat, tapi satu hal yang harus aku setujui. Guna apa aku bertahan disini?


Aku harus pergi. Aku harus mencari bantuan untuk Jagad dan Ira. Aku harus pergi! Bergerak Rasyi!


Tangan tak mampu menapak, setidaknya dia mampu menjauhkan diriku dari pria itu. Senyumnya yang masih saja memperhatikanku bagai sedang mengejar. Mendesak tanganku untuk mendirikan tubuhku di atas kakiku.


Berdiri Rasyi! Berdiri, “Hah ah,” pergi. Aku harus pergi!


Melangkah selagi bisa. Tak kuasa melihat ke belakang. Dataran tanah yang tak selalu rata, menelan langkah yang tak seimbang. Berpegangan pada satu per satu kekawanan hijau yang menjingga karena hari.


DOR!


Suara itu menggema di belakangku. Tak bisa memberikanku firasat baik sedikit pun. Tidak! Jangan jatuh. Aku harus pergi. Pergi!


“Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku,” air mata tak habis-habisnya ditarik keluar dari kelenjarnya.


Gumam, menggumam dan menggumam. Termuntahkan segala kebingungan, kesedihan, rasa bersalah, kelelahan dan amarah. Konflik berkepanjangan di dalam diriku sendiri yang memualkan.


“Maafkan aku,” gumamku selagi terus melangkah, “Maafkan aku.”


Aku harus bagaimana?


“Maafkan aku.”


Bagaimana aku bisa menyelesaikan ini?


“Maafkan aku.”


Kalau aku tidak ikut berkemah, apa ini semua tidak akan terjadi?


Lalu bagaimana aku menghadapi diriku yang satunya?


Apa sekarang?


“Haa!” aku tersadar akan lututku yang bergetar.


Kedua tanganku berhasil menahan tubuhku yang hampir tergeletak jatuh. Menuntun kakiku memanjang ke depan. Lutut yang menekuk itu terasa sakit digerakkan.

__ADS_1


Sejak kapan hari jadi menggelap seperti ini? Dimana aku sekarang?


Pohon yang tak berwarna. Suara jutaan hewan kecil yang bernyanyi. Hutan yang gelap sekaligus menenangkan, mampu memberikanku nafas yang lebih tenang.


“Ah hah,” aku harus lanjut pergi.


Kalau aku diam saja seperti ini, tidak akan ada yang selesai. Jagad dan Ira harus ditolong secepatnya.


Pepohonan yang tak jelas itu menjadi temanku untuk berjalan maju. Entah arah mana aku bergerak. Tak tahu apa pula yang harus aku lakukan selain terus berjalan. Baik peduli atau tidak, aku akan terus menyeret kaki-kaki itu.


Hah? Kenapa di sana banyak yang terang?


Apa aku kembali lagi ke tempat awal? Jangan bilang mereka kembali mencariku untuk mengurungku kembali.


Kakiku memutar. Harus aku hindari orang-orang jahat itu.


“Hai! Kamu!”


Ketahuan?! Langkah itu aku percepat walau kaku di persendian.


“Berhenti!”


Jangan… ja⏤ “Aa!” tak sengaja aku menyandung akar pohon.


Gawat. Tubuhku terlalu lemah. Kehabisan tenaga, terduduk kesakitan. Menutup wajahku dengan tangan, tak berdaya mendekap ke pohon.


Suara tapak yang banyak memenuhi berbagai arah. Jauhnya mataku memandang, berawal gelap dan berubah samar-samar terang oleh banyak sorotan.


 Apa usahaku sia-sia?


“Dia ke arah sini!”


“Cepat!”


“Perhatikan sekitar!”


Berisik!


“Itu dia!”


“Kemari!”


“Ra…!”


Jangan mendekat! Jangan sentuh tanganku!


“Ini….”


“Tenang,...


“... apa….”


Mulutku membuka kesal, “Jangan mendekat!!”


Terus aku tentang segala sentuhan dan suara yang ada. Berteriak kuat tak mau menerimanya lagi.


“Biarkan aku sendiri!!” pergi, pergi, “PERGI!!!”


“RASYI!!!”


Terbuka mataku. Sorotan lampu dari segala arah membuatku terasa silau sesaat. Pola suara dan bayangan yang aku kenal jelas.


“Hah ah…,” aku hanya bisa terisak selagi perasaan aman bisa kucicipi. Mendekatkan diri pada orang itu dengan perlahan, “... kak… Fares….”

__ADS_1


Ditahannya tubuhku dan menerima pelukanku, “Iya, ini kakak. Tidak apa….”


Seluruh tubuhku akhirnya kehilangan ketegangannya.


__ADS_2