Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#13 Semakin Jelas Lagi


__ADS_3

Cepat-cepat aku menaiki ranjang kembar yang bertumpuk itu. Ranjang di bawah menjadi pijakanku ke ranjang di atasnya. Aku harus cepat pura-pura tidur lagi.


Suara menggosip kedua bibi itu terdengar kencang. Sepertinya mereka ingin membersihkan kamarku. Aku sangat berharap tempat persembunyianku cukup untuk mengelabui mereka berdua.


“Tuan Rizki pulangnya tiga hari lagi kan?”


“Iya. Kenapa sih kamu bertanya terus?”


“Aku takut. Tuan bertingkah aneh gara-gara telepon tempo hari. Gimana kalau yang menelpon orang jahat?”


“Sudahlah. Jangan berpikir aneh-aneh.”


Aku juga merasa seperti itu. Wajah ketakutan Rizki waktu itu sangat memberitahu kalau yang menelponnya adalah orang yang Rizki hindari. Sejauh yang kutahu, Rizki hanya menghindari ‘mereka’.


“Aneh banget, tahu!” suara peralatan terbentur-bentur, “waktu penerimaan kerja juga, dia bilang tidak boleh ada orang asing yang boleh tahu kalau ini rumahnya. Tuan mengundang orang baru hanya waktu ulang tahun nona saja.”


Ulang tahunku waktu itu...?


“Itu juga teman-temannya tuan Hendra. Polisi semua!” hah? Kok bisa?! “kita tidak pernah ketemu teman tuan, tetangga saja tidak diundang.”


“Hus! Sudah! Nanti nona bangun.”


Terkejut di tengah sandiwara putri tidur memang sangat sulit. Siapa yang menduga kalau Rizki mempertahankan tempat aman ini dengan sangat ketat. Ia melakukan semua ini untuk menjauhkan diriku dari kejaran siapapun itu. Besar sekali usahanya.


Suara pintu tertutup yang kutunggu-tunggu sejak tadi akhirnya bernyanyi melalui lubang telingaku. Yes! Mereka pergi. Aku bergegas menuruni ranjang, memastikan lipatan kertas yang sudah kuamankan masih ada disana.


Ada! Syukurlah mereka tidak menyentuhnya. Tentu saja. Aku sengaja menaruhnya di tengah-tengah halaman buku buatan mama. Hampir tidak ada yang menyentuhnya.


Tanganku menarik kertas itu kembali membukanya. Tampak foto yang terpampang nyata sebuah kekerasan. Wajah seorang yang diikat penuh luka itu sangat familiar bagiku. Mama dipukuli banyak sekali orang.


Apa foto itu salah satu dari foto waktu itu? Kalau memang sekeras yang terlihat, Rizki mengambil keputusan bagus untuk menyembunyikan kenyataannya. Namun, aku juga punya hak untuk kenyataan. Permasalahan lain, apa aku punya kesempatan?


...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...


Furniture coklat muda menjadi kombinasi yang terasa indah dan menenangkan. Nyaman untuk ruang tengah untuk melepas jenuh. Selalu sukses membuat pikiranku bisa berjalan lancar memutar apa yang perlu kuajak berputar-putar.


Siapa yang sedang kutipu? Aku sudah terantuk. Mau aku bawa kemana lagi permasalahanku kali ini?


“Nona? Ada apa?” tanya bibi pembantu di sampingku.

__ADS_1


Bibi satunya lagi mendekat, “dari saat tuan pergi, nona selalu lemas.”


Ya. Itu karena papa yang tidak mau terbuka padaku. Kalau papa terbuka sedikit saja, aku tidak akan sebingung ini.


Rasyi kecil~ Kamu itu kecil! Tentu saja Rizki, yang otaknya encer itu, tidak akan menceritakannya pada bayi baru besar. Menunjukkan maksudnya saja masih harus tebak-tebakkan dulu karena keterbatasan kosakata.


Sungguh! Kenapa tiga tahun lebih harus kuhabiskan hanya untuk kebingungan sendiri? Ayolah! Ini hidupku kan?! Kamu harus menyerahkan hidupku padaku! Bukannya membawanya pergi begitu saja dan menggantungnya jauh sampai akhirnya aku tidak bisa melihatnya!


“Mungkin nona bosan.”


“Kalau nona bosan, dia pasti sudah melempar-lempar mainannya.”


Hah. Lucu, tapi memang itu yang akan kulakukan. Kalian beruntung bukan itu permasalahanku sekarang.


“Apa nona sakit?!”


Ia langsung menempelkan telapak tangannya di keningku, “tidak panas.”


Jangan menggangguku! Kalian tidak hanya babysitter, kalian juga asisten rumah tangga. Bukannya pekerjaan kalian banyak?! Pergi sana! Tuntaskan saja pekerjaan kalian dan tinggalkan aku sendiri!


“Tuan sih, melarang keluar rumah. Taman belakang kan tidak bahaya.”


Iya, aku tahu~ Aku tidak bisa menyalahkan sikapnya yang seenaknya. Begitulah cara dia menanggapi krisis kami saat ini.


Mengetahui keadaan hanya dari mulut ke mulut para penghuni rumah. Aku tidak tahu pasti bagaimana di luar sana. Namun, dari semua usaha yang dia lakukan di belakangku, itu sudah terlihat buruk. Apalagi dengan foto mama yang aku dapat.


Aku percaya dengannya. Harus. Rizki sudah mencapai kedewasaannya dalam arti yang lebih dalam. Selama tiga tahun bersamanya meyakinkanku akan itu. Dia tahu apa yang harus dilakukannya.


Tetap. Bayi hanyalah di tubuhku. Ada orang dewasa yang sudah matang akalnya di dalam sini. Diam saja tidak mungkin. Sebesar apapun aku percaya keamananku, tidak mungkin bisa tenang! Parahnya lagi, aku tidak tahu apa masalahnya.


Ting Tong!


Bel pintu yang terdengar norak itu menggema keras walaupun aku ada di lantai dua. Seorang bibi bergegas membuka pintu dengan paniknya.


Siapa yang datang di rumah ini? Rumah ini kan seperti rumah mati. Tidak ada orang yang berkunjung ke sini. Rizki masih akan pulang dua hari lagi. Lalu siapa? Paket?


Hentakan kaki kencang berlari terdengar di ujung tangga. Muncul sebuah wajah yang sudah ada di luar kepalaku. Ah... Seharusnya aku sudah tahu…


“Rasyi!” Si kecil Fares berlari ke arahku.

__ADS_1


Suasana hangat selalu terikut di setiap ujung tubuhnya. Pelukannya memberitahukan kalau dia sudah sangat nyaman dengan seragam Sekolah Dasar-nya. Tumpah ruah akan semangat walaupun sudah siang dan waktunya untuk istirahat. Berapa banyak cadangan tenaga yang dia punya?


Ia melepaskan pelukannya. Kebingungan melanda wajahnya yang masih cerah walau tampak sudah lusuh. Telengan membuat cahaya jendela memantul di pipi kemerahan di atas kulit kuning langsat. Seringkali aku dibuat kesusahan dengan tatapan tenang itu.


“Rasyi?” tanyanya menyadarkanku kalau aku tidak tersenyum seperti biasanya.


Aku lelah menanggapimu. Darahku seakan pergi semua ke sistem jaringan yang paling penting di ujung atas kepalaku. Kau tidak tahu saja!


Langsung kutempelkan tangan mulusku ke hidungnya yang ternyata mancung. Hah. Aku masih tidak punya suasana hati yang bagus.


“Ma~ Rasyi kok lemas?” kata Fares masih membiarkan hidungnya kugenggam.


“Kami juga tidak tahu kenapa.” sahut bibi.


Sari mengamatiku. Apa yang sedang ia rekam dariku? Mengambil gambar-gambarku yang bermuka masam karena galau? Aku tahu... Aku seharusnya tidak memikirkan pria pembawa sial itu, tapi aku anaknya! Apa aku punya pilihan?!


Sari tertawa kalem seperti seorang permaisuri elit di istana. Kenapa juga dia tertawa? Apa ada sesuatu di wajahku?


“Sepertinya Rasyi sedang khawatir pada papanya.” rambutku yang sudah panjang dirapikan dengan jemari lembutnya.


Wow. Kurasa aku tidak bisa meremehkan naluri seorang ibu. Apa semua ibu seperti itu? Empat jempolku untukmu, Sari!


Seakan seringan bulu, dengan mudahnya Sari mengangkatku ke pangkuannya. Dimainkannya sedikit rambutku. Aku merasakan tangannya sedang mengepang kecil.


“Rasyi yang manis~ Rasyi tidak perlu takut. Papa nanti pulang kok.” Sari terus memainkan rambutku membuat Fares ingin ikut berkumpul, “Rasyi bersenang-senang saja dulu, jadi papa tidak perlu khawatir juga.”


“Pappa hawatil?” tanyaku.


“Papa tidak akan khawatir kalau Rasyi senang.” lanjut Sari, “Rasyi main saja, ya? Kak Fares temani.”


“Kak Fares main apa pun dengan Rasyi~” Fares memegangi tanganku.


Ya. Aku memang terlalu khawatir. Papa dan aku bisa bertahan dan masih baik-baik saja. Itu berarti semuanya sudah dalam kendali, bukan?


Tenangkan diri dan tidak perlu takut. Yang perlu kujalankan hanya rencana awalku⏤mengamankan posisiku di rumah ini. Hal ini juga termasuk mendekatkan diri dengan mereka. Ini akan menyenangkan.


“Bagaimana kalau kita menggambar?” lanjut Sari.


Benar juga. Melakukan sesuatu ataupun tidak, aku masih punya satu lagi rencana yang manis. Rencana sampingan untuk papa.

__ADS_1


__ADS_2