
Aduh! Kepalaku tidak bisa diajak berkonsentrasi! Bahkan serial drama korea yang sedang aku ikuti tidak memberikan otakku nutrisi yang cukup bagiku agar bisa menghadapi situasi ini.
Sadarlah, Rasyi! Ini bukan kencan!! Episode empat-nya habis tuh!
“Mau lanjut?” Harun bertanya.
Intinya apa aku menonton kalau tidak merasuk? “Ini jam berapa? Kayaknya kita kelamaan disini.”
“Sudah jam tiga.”
“Oh… hah?!” jam tiga? Lama sekali! Pantas rasanya capek.
“Memangnya kenapa? Ini kan hari libur, wajar dong santai-santai.”
Iya sih. Tidak salah sih. Ditambah lagi, maraton drama korea itu tidak mungkin sebentar. Namun keluar selama ini tanpa kabar-kabar, papa pasti mengeluarkan tatapan tak menyenangkannya⏤
“Gimana? Mau lanjut?”
Ups, hampir blackout sejenak, “I⏤iya deh. Satu kali lagi.”
Ah~ selalu saja. Hal seperti apapun yang terjadi aku selalu mengaitkannya pada papa. Rasyi sudah sangat tergantung pada pria ini.
Emm… lebih baik aku kasih-kasih kabar dulu.
Loh? Kenapa ponselku mati? Padahal tadi aku hanya matikan suaranya saja.
“Rasyi melamun terus.”
“Ah! Maaf,” ya namanya juga gadis cantik yang penuh akan perkara, “Aku mau beri kabar dulu ke papa.”
“Rasyi kan refreshing jauh-jauh dari ayahmu biar bisa berpikir.”
Hah, dia sungguh ada di puncak sikap protektifnya yang bahkan Rizki tidak pernah. Sekarang aku bisa sangat bersyukur papa punya sisi tidak peduli yang lebih kental.
“Ya bukan berarti aku tidak kabar-kabar.”
Loh? Loh loh loh?! Kenapa lagi dengan ponselku ini?! Suara notifikasi panggilan dan pesan berdesakan ingin keluar.
Harun terlihat ikut panik, “Rasyi, orang-orang bisa keganggu.”
Iya, aku tahu, tapi… hah. Untung saja berhenti.
“Kenapa itu?”
“Tidak tahu,” kedua ibu jariku mengecek ponsel itu.
Eh?! Dua puluh panggilan dan lebih dari empat puluh pesan dari berbagai aplikasi. Apaan ini?!
“Paman Hendra, tante Sari, tante Ira, kak Fares. Semuanya coba telponin aku,” satu keluarga itu sedang demonstrasi kah?! “Kayaknya harus telepon balik deh.”
Aaaah! Panggilan! Mengejutkan sekali!!
“Ya?” kuterima tanpa sempat aku melihat dari siapa panggilan itu.
[“Rasyi tidak papa?! Rasyi sekarang dimana?!”]
Suara kak Fares. Kenapa dia seperti sedang panik begitu? “Rasyi lagi di luar sama Harun, ke coworking space dekat persawahan. Kenapa memang, kak?”
[“Coworking space… oh iya yang itu….”]
__ADS_1
Di samping suara menggumamnya, terdengar suara tidak beraturan dari balik sana. Ia sungguh sedang panik.
[“Tetap di situ, kakak kesana sekarang.”]
“Hah? Tidak perlu. Bentar lagi Rasyi pulang bareng Harun kok.”
[“Rasyi, tunggu kakak! Jangan kemana-mana!”]
Tekanan setiap katanya membuatku tidak bisa menampik perkataannya. Fares sangat jarang marah padaku. Sekiranya dia meninggikan suaranya, dia sedang benar-benar memintaku untuk hal yang mendesak.
“Iya, Rasyi tetap disini,” jawabku ke pria itu.
[“Kakak tutup dulu. Kalau kakak telpon, langsung angkat!”]
Aku bisa mendengar suara kendaraannya dari balik sana. Dia benar-benar langsung kemari, “Iya, kak.”
Panggilan langsung terputus. Orang-orang di sekitarku kok bisa bersikap aneh semua seperti ini sih?
“Kak Fares ya?” tersadar aku pada Harun yang sudah menugaskan matanya lagi memperhatikanku.
“Iya nih,” jemariku menjalankan tugas lain, memeriksa semua pesan dan chat yang menumpuk, “Katanya lagi OTW ke sini. Menontonya sudahi saja.”
Wajahnya terlihat sangat tidak suka, “Oke,” dia mulai menutup semua jendela layarnya dan menjalankan proses shut down.
Yah. Ini juga sudah terlalu lama. Tentu saja mereka khawatir. Lebih lagi, aku tidak memberikan kabar kalau aku keluar dengan Harun⏤yang tentunya bukan, maksudku belum bisa disebut kencan.
Jari-jari mungilku menemukan sesuatu. Pesan-pesan itu, hanya sekedar seruan menanyakan dimana aku. Haruskan sebesar itu mereka khawatir? Kalau si baby sudah bisa mengetik, mungkinkah dia juga ikut memberiku pesan?
Sungguh! Pertama kali jalan-jalan di beberapa tahun terakhir tanpa mereka, bukan berarti harus seheboh ini!
“Kok kak Fares tiba-tiba mau kesini?”
Pasti karena ponselku mati. Sebetulnya, aku tidak pernah merasa mematikannya.
Suara helaan nafas berat. Harun menunjukkan sekali rasa tidak sukanya dengan apa yang terjadi sekarang.
Jadinya aku malu sendiri kan! Lelaki lembut ini betul menyukai waktunya denganku.
Kuletakkan ponselku di meja, “Terima kasih ya, Harun. Rileks banget disini. Kapan-kapan harus ajak aku lagi.”
Berpikir sejenak lalu akhirnya senyum itu merekah, “Pasti dong,” tangannya dibuat menahan dagunya, “Jadi? Sudah ada putusin mau gimana ke ayahmu?”
Ah! Benar juga, selama ini aku berlibur karena mau berpikir. Namun, tidak terlihat ada perbedaan. Tetap saja aku ingin membantu dan menunggu hal yang bisa aku lakukan nantinya.
Kembali lagi kah ke Rasyi yang tidak bisa melakukan apapun? Rasanya benci sekali saat mengingat papa yang mengatakannya.
Iiih! “Sepertinya aku akan jadi keras kepala saja. Aku teror papa sampai mau ikutkan aku ke sesuatu.”
“Tidak harus kan?”
Hmm, mulai lagi nih? Berpose mirip dengannya dan membalas pandangannya, “Kamu kan tahu aku paling tidak suka dikekang. Apalagi kalau tanpa alasan.”
“Karena aku khawatir. Belum cukup?”
Ini bukan saatnya menggombal!! “Aku rajin beri kabar deh. Jadi tidak perlu khawatir lagi kan?”
“Rasyi tidak mau aku bantu?”
Orang bukan keluarga tentu ada batas ikut campurnya dong, tapi, “Harun kan sedang bantu. Kayak sekarang, nanti kamu wajib hibur aku biar tidak galau,” kutunjuk wajahnya itu, “Tadi Harun sudah janji!”
__ADS_1
Hangat wajahnya sekilas memerah, “Iya, janji⏤”
DRAK! BUK!
Itu apa?! Suaranya dari jauh di depan kami. Dari depan bangunan kah? Orang yang tidak banyak di sekitar kami juga setuju dan memutarkan tatapannya ke arah sana.
“Aaah!” lagi-lagi tersentak karena suara panggilan masuk.
Tolonglah! Berhenti mengejutkanku, ponsel tercinta! Setidaknya jangan saat aku sedang tegang!
“Halo?” aku mengangkatnya dan mendekatkannya lagi di telingaku.
[“Rasyi di lantai mana?!”]
“Kak Fares?” Loh? “Lantai dua, di balkonnya. Kakak sudah⏤”
BRAK!
Apa lagi sih?! Heh?!!
Kujauhi ponsel dari telingaku. Berdiri dan segera mematikan panggilan, “Kak Fares?!” aku mendekati pintu balkon di sudut kiriku.
Dia membungkuk, menahan lekuk tubuhnya dengan menggenggam lututnya. Nafasnya pendek layaknya habis berlari kencang. Fares, bagaimana bisa dia terluka sampai bajunya kotor begini?
“Kenalannya adik?” beliau, karyawan disini?
“Iya,” aku menahan pundak Fares yang masih lemas, “Kok bisa kakak luka begini?”
“Tadi di depan, dia tiba-tiba lepas kendaraan. Terus lari ke dalam. Hampir nabrak lagi.”
Ja⏤jadi suara keras tadi dari kak Fares?! Ekstrem sekali!
Fares tanpa aba-aba kembali tegak. Menahan pundakku dan satunya memegangi wajahku, “Rasyi tidak papa kan?”
Ini anak kebentur atau apa sih?! Pertanyaan itu seharusnya untuk dia!
“Kakak duduk dulu deh. Yuk,” kupeluk satu tangannya itu.
“Saya carikan obat luka dulu,” karyawan itu pergi.
Pelan kutuntun Fares mendekati meja kami. Berhasil aku membuatnya duduk di kursiku tadi. Lukanya semakin kentara di wajahnya. Dia baru saja atraksi apa sih?
Kenapa lagi dengan tatapannya itu? Orang ini bahkan tidak melihatku yang ada di depannya.
Melihat siapa sih? Harun?
Dia akhirnya menatapku, “Rasyi siap-siap. Nanti ayah-ibu susul pakai mobil ke sini.”
Ada apa lagi sih? “Mau kemana?”
“Ke rumah Rasyi yang di kota.”
Rumah papa yang besar? Kenapa aku harus kesana? Sudah waktunya kembali kah?
Tanganku meraih sapu tangan di tasku, “Harus gesa-gesa begini ya?” berusaha sedikit kubersihkan tanah yang menempel di durja itu.
Bahasa tubuhnya mengatakan ia mengumpulkan tenaga sebelum bicara, “Rumah Rasyi kebakaran.”
Sapuan tanganku pada lukanya terhenti.
__ADS_1
Wah, bertambah lagi masalahku.