
Berat rasanya tubuhku. Cahaya pun aku tolak untuk masuk. Dekapan hangat dan sandaran yang nyaman merekatkan kelopak mataku.
Goyang-goyangan yang tadi kurasakan ternyata dapat terhenti. Hentakan ringan dari sandaranku mungkin sedang melakukan sesuatu. Tangannya kembali memelukku dan mengangkatku. Aku bisa merasakan gerakan di pundak kokohnya yang didampingi suara pintu mobil yang tertutup.
Apa sudah sampai rumah? “Mmm…,” kucoba membuka mataku.
“Sstt,” elusannya menyentuh kepalaku hangat, “Tidur lagi.” lembut suara Rizki menutup lagi mataku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur di perjalanan pulang. Kelopak mata yang membengkak dan berat. Aku memilih untuk menutupnya meski tak tidur.
Suara pintu terbuka.
“Nona kenapa, tuan?” suara bibi terdengar panik.
Bisa kurasakan Rizki menekuk tubuhnya duduk, “Tolong bawakan P3K,” Rizki terdengar bergetar.
Papa ini memperbaiki posisiku. Aku dibuatnya tertidur bersandar di salah satu lengannya. Lampu di langit-langit mengganggu mataku yang masih tertutup. Namun, aroma rumah yang menenangkan membuatku tak berkutik.
Tangannya terasa mulai sibuk dengan pergelangan tanganku yang masih sakit. Wajahku yang berdenyut juga jadi sasaran tangan lembutnya.
Ketenangan terpecah oleh banyak suara tapak mendekat. Orang lain mungkin sedang mendekat kemari.
“Rizki.”
Ini suara Hendra kan? Aku tidak mendengarkan suara Rizki sama sekali. Sepertinya dia masih mementingkan luka-luka memarku.
“Ki, aku cuma mau bantu.”
“Diam.” Rizki… marah? “Kamu tidak bisa bantu sama sekali.”
Helaan nafas tipis di depan aku dan Rizki, “Polisi menahannya sampai sekarang⏤”
“Lalu gimana cara dia membawa Rasyi?!” Suara geram menghentakkan tubuhnya, “Rasyi terluka pasti karena dia….”
Gemetar di ujung jarinya berpindah ke pipiku. Aku penasaran bagaimana wajahnya saat ini. Ia terdengar marah tapi takut di waktu bersamaan.
“Iya, paham,” Hendra terdengar menahan emosinya, “Makanya⏤”
“Berhenti mengurusi urusanku,” Rizki masih marah.
“Ini masalahnya! Ini tidak terjadi kalau kamu mau kerja sama dengan kami dari awal!!”
“Kamu mau mengulangi kematian ibumu di orang lain?!”
__ADS_1
Hah?
“Rizki!” suara Sari ikut masuk.
“Jangan bicara!” bisa kurasakan dingin di setiap kosakata Rizki.
Posisi Rizki berubah seakan ditarik ke depan selagi teriakan Hendra semakin kencang, “Kamu sudah keterlaluan!”
Rizki masih menyahuti, “Sudah aku bilang, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Ini salahku!!” suara kencang lain di sela perdebatan.
Terkejut, aku langsung membuka mataku. Memutar sedikit bola mata, aku menemukan Fares dengan penuh susah payah menahan air matanya. Ia sepertinya berhasil memecahkan ketegangan yang ada sampai semuanya berhenti untuk bergerak.
“Maaf, paman. Kalau aku lebih mengawasi Rasyi…,” Fares berusaha menyeka air matanya, “Maaf….”
Di setiap lekuk wajah Fares menunjukkan rasa bersalahnya yang mendalam. Tak sanggup Sari melihat, langsung dipeluk erat anak semata wayangnya itu. Kedua Hendra dan Rizki kembali tenang. Hendra mundur beberapa langkah dan melepaskan tangannya yang ternyata sudah ada di kerah baju Rizki.
Sungguh tidak menyenangkan. Lagi-lagi aku hanya bisa mengunyah pelan apa yang aku dengar. Namun aku pun tidak mau menelannya. Aku tidak suka suasana seperti ini.
“Papa?” aku mendudukkan diri di pangkuan Rizki.
Rizki tampak terkejut. Wajahnya sangat kusut. Ia menarik nafas panjang dan mengelus samping kepalaku, “Papa bangunin Rasyi, ya? Maaf. Ayo kita tidur di kamar.”
Berhenti ia sejenak di satu titik, “Paman tidak marah kok. Ini bukan salahnya Fares,” tangannya yang lain mengelus kepala Fares lembut.
Rizki melanjutkan langkahnya meninggalkan tamu-tamu yang kukenal baik itu. Kacau tercurahkan di satu per satu wajah mereka.
“Mereka sudah mau pulang,” pesan kecil Rizki ia tinggalkan pada salah satu bibi.
Bibi hanya bisa mengiyakan dan melangkah pergi mendekati mereka. Di sela langkah pelan papa, aku sempat bertemu mata dengan Fares. Ujung mata yang memerah tidak menghentikan senyum lembutnya padaku. Tatapan manis dan pahit yang tidak seharusnya ada pada anak-anak. Beloknya tangga menuju kamar memisahkan mata kami.
Kacau. Aku maupun lingkunganku, semuanya kacau. Dari mana masalahnya di mulai? Sejak aku ditemukan oleh ‘kakek’ itu? Bukan… bukan sejak itu….
Tanganku menggenggam erat sampai aku bisa merasakan kukuku. Lambatnya akalku menggali kembali yang sudah seharusnya aku ketahui sejak lama. Ini sudah terjadi sejak aku dilahirkan sebagai Rasyiqa. Hal ini yang membuatku khawatir sejak mataku terbuka kembali.
Selengah itu kah aku selama ini?
Tidak! Detik demi detik aku habiskan untuk memutar otak agar aku aman di rumah ini sekarang maupun ke depannya. Aku tidak pernah lengah!
Rizki menurunkan aku di ujung ranjangku. Memandangku sambil berlutut, “Ganti baju dulu,” dengan lembut ia membantuku mengganti baju tidur.
Terbelalak lebar matanya yang selalu tampak sipit itu. Getaran hebat tangannya di depan bahuku yang membengkak. Oh iya, pria busuk itu menahan bahuku sampai mati rasa.
__ADS_1
“Bi! Bibi!” panik kembali menimpa Rizki, “Cepat bawa kompres hangat sama P3K tadi!”
Perlahan dia melanjutkan melepaskan baju jalanku. Dua bibi terbirit-birit mengikuti arahan Rizki. Sakit di bahuku memaksa Rizki melembutkan pengobatannya. Tak lama, ia menyelesaikan dengan membantuku memakai baju ganti.
Aku melahap wajahnya yang serius. Bernafas pelan berusaha berpikir jernih. Lubuk hatiku mengatakan benci.
Semua ini… salah Rizki. Kebodohnya yang menanggung semua sendiri tapi malahan mengacaukan semua. Dia marah dengan orang yang ingin membantunya. Mengira dia tidak bersalah. Aku yang seharusnya marah. Kecerobohannya berdampak padaku.
Cukup aku diam dan menjadikan usia fisikku sebagai alasan. Sudah cukup!
“Papa. Om tadi…”
Rizki terdiam sesaat. Perlahan ia mendekat dan memegangi tanganku, “Dia kenapa?”
Nafas kutarik. Mengeluarkan seluruh harapan bahwa semua akan lancar sampai aku menggali ke akar-akarnya, “Dia bilang kalau dia kakeknya Rasyi.”
Terbebelak ia dibuatnya. Itu bukan reaksi kaget yang menelan sebuah candaan. Jelas dia tidak mengharapkan ini. Masalahnya, apa dia akan bilang?
“Ahhah…,” tertawa tipis disengaja itu memperbaiki ekspresinya, “Jangan dengarkan, mereka cuma iseng.”
Mulutku terkatup rapat. Apa sesulit itu untuk sekedar menjawab?
“Papa pernah bilang kan? Banyak preman jahat.”
Hentikan, Rizki. Kumohon. Untuk apa kamu menyembunyikannya? Mereka sudah ada di depan kita. Orang-orang itu sudah sampai padaku.
“Bohong,” kekesalanku membuatnya tersentak, “Papa tukang bohong.”
Aku menatapnya tajam. Ia tahu akan mataku yang membara itu. Kekhawatirannya dengan sangat baik ia sembunyikan.
Pria itu menekukkan lagi kakinya di hadapanku, “Rasyi jangan takut. Mereka tidak ganggu Rasyi lagi. Kita bisa jalan-jalan kayak biasa.”
“Tidak mau!!”
Lagi-lagi tanganku mengepal. Dia benar bermaksud seperti itu?! Sudah buruk dia bertingkah layaknya masalah ini bukan apa-apa. Orang bodoh ini masih mau membawaku ke luar?! Apa dia sudah gila?!
Wajahnya sungguh terkejut, “Rasyi⏤”
Langsung kuturunkan tubuhku. Berlari kecil mendekati rak penuh dengan buku dongeng. Kalau dia sebodoh itu untuk sadar, aku yang harus mengingatkan kebodohannya. Aku bisa saja mati di tangan mereka. Sama seperti foto ini.
“Rasyi tidak mau begini!” lipatan kertas foto itu kulempar ke kaki Rizki di sela air mata yang kurasa sudah menetes.
Ia langsung mengambil lipatan itu dan membukanya. Yakin aku bahwa dia mengenal foto mama yang kejam itu, yang penuh akan darah mengerikan itu. Matanya benar-benar menggambarkan rasa terkejut. Tangan sangat jelas bergetar hebat meski masih kuat meremas apa yang dia lihat.
__ADS_1
Dengan begini dia tidak akan membiarkanku menjadi orang bodoh yang tidak tahu bahaya akan datang kan?⏤ah…. Bagaimana bisa aku tidak menduga ini terjadi? Foto itu sudah habis ia robek menjadi ribuan potongan.