Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#19 Tiga Tahun Berlalu


__ADS_3

“Terima kasih, om~” kuberi beliau senyum setelah diberikannya tangan untuk membantuku turun dari mobil.


Beliau tersenyum cerah, “Sama-sama, non.”


Langsung aku berlari mengguncangkan tas ranselku yang berbulu dan bertelinga kelinci. Rok biru yang menyatu dengan rompi, tampak sudah kotor dengan segala noda dan pasir. Pintu masuk memaksaku melepaskan sepatu hitamku.


Kudapati seseorang di balik pintu itu, “Papa~” Rasyi pulang~


Wajah tenang, yang tak akan tergerak oleh apapun itu, menangkapku berlari mendekatinya. Pelukanku menghantam kakinya.


Aku buka ranselku, “Papa, lihat!”


“Papa masih kerja,” Rizki membuka pelukanku, “Duduk dulu sebentar.”


Tersadar kalau seorang nenek duduk di ranjang sederhana depan Rizki. Beliau datang lagi. Pasti karena kecapekan.


Ya sudah nih, Rasyi akan tenang. Dengan turut, aku menduduki kursi nyaman papa. Kuletakkan tasku di atas meja dan membuka apa yang mau kutunjukkan selagi menunggunya.


“Pintarnya,” Nenek memulai basa-basi, “Sudah umur berapa?”


“Lima tahun!” tanganku terangkat dengan kelima jarinya, “Sebentar lagi Rasyi umur enam tahun loh~”


“Iya ya, beda dua tahun sama Jagad.”


Benar juga ya. Anak bandel itu sekarang sudah masuk SD. Dua atau tiga bulan lagi juga aku akan ikut menyusul.


Pada dasarnya aku terlalu cepat satu tahun dari standar masuk SD. Aku, yang ulang tahun tepat di awal tahun pembelajaran baru ini, berada di batas minimal umur masuk SD. Kalau bukan rekomendasi dari dokter Dara, mungkin aku akan menjalani TK satu tahun lagi.


“Tolong perbanyak istirahat,” Rizki mulai berbicara. “Kalau masalah Jagad, bawa saja kesini. Kan bisa bantu nenek tidur siang.”


Ah, jadi teringat. Orang tua Jagad terbilang keras dan katanya di ambang kerusakan. Keduanya lebih mementingkan kerja masing-masing. Sehingga nenek menawarkan diri untuk merawat Jagad bersama kakaknya. Mungkin itu juga asal-mula sifat barbarnya.


Ya meski begitu, seharusnya dia bersikap lebih manis sedikit.


Lega saat melihat papa menangani beliau dengan cepat. Papa bekerja dengan sangat baik seperti biasa. Nenek itu pergi membawa resep obatnya. Selesai juga!


“Pa, lihat!” Aku langsung menunjukkan hasil gambaranku, “Rasyi dapat bintang lagi!”


“Hebat.”


Terdiam aku menunggu kelanjutan dari reaksinya. Mana? Kutunggu-tunggu nih.


Hitam matanya mengarah kepadaku, “Gigi Rasyi kan sakit. Tidak boleh makan coklat.”


Cih. Gagal lagi. Usahaku menjadi anak membanggakan tidak menggerakkan hati besinya.


“Nanti papa belikan mainan saja,” dikembalikannya kertas itu ke dalam tasku.


Iish! Gak butuh!


“Rasyi mau main di luar,” aku menuruni kursi dan pergi membawa tasku.

__ADS_1


“Ganti baju dulu.”


“Iya!”


Wajah ambek terus kukeluarkan sambil melangkah mencari bibi yang membantuku mengganti baju. Menjengkelkan. Hampir tiga tahun ini sifat mengaturnya semakin menjadi-jadi.


Omong-omong tentang tiga tahun belakangan, satu persatu perubahan mulai bermunculan. Salah satunya tentang dia yang tiba-tiba membuka praktek di rumah. Aku juga tidak pernah dikurung lagi. Keadaan lebih terlihat layaknya kehidupan normal dokter kaya dengan putrinya⏤tenang tak bermasalah.


Berarti yang dibincangkan Hendra waktu itu benar. Tidak ada bahaya lagi yang perlu ditakuti. Ya, aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya sih.


Untuk rencana kabur dari rumah… sepertinya aku harus lupakan saja dan hidup nyaman disini. Itu memang hak-ku kan? Kenapa tidak?


Hatiku, bekerjasamalah dan berhenti merasa ragu.


)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(


Tangan kecilnya membantu memasang sayap kupu-kupu di punggungku. Sentuhan terakhir, mahkota kecil berwarna pink ink. Ah, hari ini pun pasti akan melelahkan.


“Selamat Halloween~” suara cempreng salah satu tetanggaku ini bersemangat.


Aku dengan berbagai macam anak kecil lain mencoba bergaya dengan berbagai macam kostum. Ibu peri, pangeran, pekerja kantoran, monster dinosaurus. Namun, masalahnya… ini bukan Halloween! Kita masih jauh dari bulan Oktober!


“Terus? Gimana?”


Menunggu bulan Oktober?


“Kata mama, kita bisa ketuk pintu rumah terus dapat coklat.”


“Tapi itu cuma ada di luar negeri. Disini tidak ada.”


Raut lesu langsung menukar rasa bahagia mereka. Hah. Iya sedih.


“Gimana kalau kita buat drama saja. Seperti di TV.”


Hah… Iya, itu akan menyenangkan…


“Rasyi jadi peri yang ditangkap dinosaurus dan kodok, lalu wonder woman,” si cempreng itu menunjuk dirinya sendiri, “akan menolong. Pangeran Harun dan Bos CEO Jagad juga tolong ya.”


Wah. Cerita yang menakjubkan.


“Aku akan memakanmu!” si Dinosaurus datang.


Oh, aku harus takut ya? “Tidak~ Jangan, tuan Dinosaurus. Tolong selamatkan aku~”


“Aku akan menolongmu, peri!” Harun ikut terbawa.


“Bukan, aku yang tolong Rasyi!” Jagad ikut-ikutan.


Ya. Mulai lagi debat antara bos tak berhati nurani dan bocah pangeran.


Hah, derita ini.

__ADS_1


Kuangkat tanganku yang memegang tongkat peri, “Sang Peri akan menyelamatkan dirinya sendiri!” langsung kupukul pelan tongkat itu ke arah si dinosaurus, “Pergi kau!”


“Rasyi! Sakit!”


Si kodok tampak bosan menekan kedua pipinya, “Ah… mau makan coklat.”


Langsung sepi keadaan teras rumah salah satu tetangga ini. Lesu mereka seperti tidak sanggup lagi untuk tersenyum. Hah… kalian kan bisa minta orang rumah kalian! Yang pantas sedih itu aku!


Oh, bisa kulihat papa di seberang jalan. Dia sedang menerima paket. Benar juga. Aku kan pake kostum yang manis. Mungkin saja dia akan luluh dengan manisku.


Secepat kilat aku mengambil keranjang anyam yang jadi salah satu mainan itu , “Ayo, semuanya. Kita berburu coklat.”


Tanpa bertanya-tanya, semangat mereka membawanya mengikuti. Kami berlari ringan melewati pagar dan mendekat ke arah rumahku. Papa menyadari kedatangan kami tepat sebelum dia memasuki pagar.


Aku berhenti di depannya dan mengulurkan keranjang kosong itu, “Trick or treat~”


Dia terdiam. Tidak berkomentar. Sabar aku menunggu reaksinya selain wajah datar layaknya badan teflon itu.


Ia menyandarkan tubuhnya di pilar pagar, “Rasyi tidak boleh makan coklat.”


Wow, papa robot ini kejam sekali ya~


Tiba-tiba sebuah bungkus besar permen coklat mendatar di keranjangku. Heh? Kucari siapakah malaikat yang tiba-tiba turun itu, menyampingkan dorongan semangat anak-anak di belakangku. Ira?


“Dihabiskan ya~” dia memegangi pipinya tersipu.


Wah~ Tentu saja⏤wah?! Mau dibawah kemana coklatku, papa?!


Cekatan tangannya membuka bungkus besar itu. Ia mengambil satu persatu dan memberikannya pada anak-anak di belakangku. Mereka bersorak ria. Kecuali aku. Rizki melipat bukaan di bungkus itu, tanpa mau tahu ekspresi kesal di wajahku yang tidak kunjung diberi bagian. Dasar iblis!


“Ada urusan apa, Ira?” Rizki mengabaikanku yang marah-marah di kakinya.


“Tidak boleh ya main saja~?” Ira tersenyum manis.


Rizki sejenak terdiam lalu kembali melangkah ke rumah, “Terserah saja.”


Papa satu ini kejamnya tidak ketulungan!


Sekilas aku mendengar desah kesal dari Ira. Lagi-lagi Ira mengeluarkan ekspresi kecewa. Reaksinya ini terkadang membuatku berpikir kalau dia menyimpan rasa pada Rizki. Itu tidak mungkin kan? Orang jutek kok disuka.


Ira melanjutkan cakap akrabnya, “Rasyi lagi main apa? Tante ikut dong~”


Oh, kugoda sedikit ah~ “Tante Ira, tante suka sama papa ya~?”


Dia terdiam. Sedetik kemudian tersenyum tipis. Pipi tersipu didampingi telunjuk yang menghinggap di depan mulut. Matanya berkedip sebelah, “Ssst.”


Aku tersenyum geli, “Ooooh…. beneran?!”


“Ssst,” ia masih saja tersenyum dengan wajah malunya.


Hmm… tidak seharusnya aku bertanya.

__ADS_1


__ADS_2