
[Aku sudah sampai rumah kok. Tenang :)]
Makasih ya sudah temani tadi.
[Santai. Tapi Rasyi belum bisa tidur?]
[Kamu takut di rumah sendiri?]
Tidak. Sebentar lagi mau tidur kok. Kak Fares juga disuruh untuk menginap disini, jadi aku tidak sendirian.
Hm? Jawabannya tidak langsung muncul. Harun selalu menjawab semua chat-ku dengan cepat. Apalagi kalau ketahuan sedang online seperti sekarang. Namun, kata typing tidak segera menunjukkan diri.
Oh, ini jam berapa? Jam sebelas? Ini jam sebelas malam? Wah, aku kira masih jam sembilan.
Benar-benar, otakku sangat penuh dan panas sampai tidak bisa membedakan waktu. Keadaannya menjadi sangat berbahaya dan sulit disiasati.
Sengaja aku matikan ponsel itu dan membantingnya di ranjang bersamaan dengan lenganku, “Apa kak Fares sudah tidur ya?”
Kutegakkan tubuh dari posisi berbaring. Ranjang ini terasa tidak nyaman selagi ada banyak pemikiran melayang di kepalaku.
Teralih fokus genggamanku pada buku album foto dan kalung yang sengaja aku bawa dengan tote bag.
Aku bisa bersyukur papa mempunyai gaya hidup ramah lingkungan dengan selalu membawa tas yang bisa dipakai terus. Jadi aku tidak perlu khawatir kalau saja benar paman Hendra dan yang lain mengenal buku dan kalung ini.
Mereka tidak perlu tahu aku menemukan benda ini.
Diri ini tetap tidak mau siapapun ikut campur. Lebih lagi, dipastikan kalau ini sungguh situasi yang berbahaya.
Namun, itu hanya menyembunyikannya secara sementara. Penyebaran masalah lebih jauh hanya bisa ditunda sebentar. Untuk menyelesaikannya, aku harus menguras otak dan hatiku agar setidaknya muncul satu solusi.
Harus aku cek di kamar papa untuk mengetahui keadaan sedikit lebih baik. Ada kemungkinan besar kalau aku bisa menemukan sesuatu.
“Eh?” suara yang sudah aku ganti menjadi lebih sunyi itu mengingatkan aku ada chat masuk.
Dari Harun.
[Ya sudah. Langsung tidur ya. Met malam :D]
Senyuman tipis terasa terbentuk di bibirku. Jariku mengetik sapa malam.
Met malam~
Kembali aku mematikan ponsel itu. Menidurkannya dengan benar di atas nakas simpel di samping tempat tidurku.
Aku hanya bisa berharap Fares tidur dan tidak menggangguku.
Daster piyama Amethyst Purple bermotif bunga, yang masih saja manis dilihat walau kubawa keluar, menjadi teman di hari dingin. Lengan panjang dan rok di bawah lutut memberikan kesan yang mewah hanya untuk tidur. Tidak perlu aku repot berganti baju.
Pintu aku buka dan terlihat jelas malam menguasai rumah. Tertutup pintu sebelah, aku bisa anggap kalau Fares sudah terlelap di ranjangnya.
Memeluk tote bag merah terang yang banyak dijual-belikan, aku melangkah menuruni tangga.
Kamar papa di lantai satu dan aku bersyukur tidak ada yang menghalangiku sampai di sini.
Terlihat jelas tampilan kamar papa yang sederhana itu saat aku membukanya.
“Kenapa mejanya tambah berantakan?” kesal aku mendapati meja papa yang semakin kacau semakin hari.
__ADS_1
Padahal di rumah yang di sana, di ruang kerjanya sendiri, dia tidak pernah ‘menghancurkan’ tempatnya sendiri. Apakah papa sedang terburu-buru?
Bicara tentang buru-buru, papa sungguh bisa menyembunyikan jejaknya sampai paman kehilangan. Mobilnya saja tidak tahu ada dimana. Orangnya tidak di rumah sejak sore kemarin.
Kursi itu aku duduki, “Mmm mm!!” kurenggangkan tubuhku bersiap memulai.
Penelusurannya kita mulai!
Hmm, apa saja yang ada disini~?
Kertas penuh tulisan yang mirip dengan cacing yang ditindas ban mobil. Buku bahasa inggris yang sama membosankannya seperti iklan seminar yang muncul di aplikasi tonton gratis sejuta umat. Gambar acak yang tidak disertai bakat menggambar.
Apa gunanya aku mengecek semua ini… lagi?! Tidak ada bedanya dengan saat aku menyempatkan diri untuk mengintip sedikit rencananya di hari papa sakit!
Bersandar aku di kursi itu, “Duh…, harus gimana…?”
Kotak? Kotak apa yang di bawah meja itu? Tidak pernah ada disini sebelumnya.
Oh, aku pernah melihat kotak ini! Papa membawanya saat pindahan. Sepenting apa kotak kardus yang cukup besar ini? Angkat saja ke meja~!
Pernak-pernik teknologi? Entah apa saja yang dikumpulkan menjadi satu. Bahkan alat-alat seperti solder, baut dan lain-lain berkumpul.
Apa papa sedang membuat sesuatu ya?
Mmm…, rasanya ada yang kelupaan. Namun, aku tidak bisa menggapainya.
“Haah!” aku memang dianugerahi otak Sekar yang sudah dewasa, tapi bukan berarti aku jenius⏤ups! “Aduh!! Kenapa jadi jatuh semua sih?! Aaargh!”
Dengan berat hati aku mengumpulkan segala macam yang berjatuhan itu. Kekesalanku yang hampir menarikku menyerah untuk mencari tahu.
“Hah?”
Bagaimana aku tidak menyadarinya? Pasti karena meja yang berantakan dan tertutup banyak kertas.
Rizki meninggalkan ponselnya!
Ah, apa papa buru-buru sampai sebegininya? Jarang sekali papa sampai melupakannya. Berarti Rizki ‘pergi sebentar’ tanpa persiapan dong?
Itu sangat mengkhawatirkan. Papa selalu ada rencana dengan berbagai macam kejadian. Meskipun memang ada yang di luar rencana, dia bisa berimprovisasi dengan mudahnya. Namun kalau dilihat seperti ini, papa sungguh ditangkap dengan tiba-tiba di waktu yang sangat tidak tepat.
Duduk aku kembali ke kursi nyaman itu, “Papa…,” mengambil benda kecil yang mahal itu.
Sepertinya menyala, tapi aku tidak bisa melakukan apapun karena papa menggunakan password…⏤langsung kembali aku matikan ponsel itu.
Kenapa bisa aku buka begitu saja?
Layarnya sih tidak ada yang mencurigakan. Jariku benar membukanya. Apa papa melepas keamanan ponselnya? Namun, untuk apa papa melakukan hal seperti itu? Kalau aku memintanya melepas keamanannya, papa pasti mengatakan ‘kerjakan sendiri’ atau semacamnya. Hanya karena tidak peduli!
Sengaja? Bila memang sengaja, berarti papa berharap setidaknya aku mengamati isinya.
“Haa… huu…,” kutarik nafas dan keluarkan memberanikan diri.
Kenapa aku ketakutan seperti ini sih?! Let’s go saja dong!
Jari telunjuk mengetuk layarnya dua kali. Perhatikan apapun yang bisa aku perhatikan. Mmm…, tidak ada panggilan masuk atau chat. Seharusnya banyak dari paman tapi tidak masuk meski tidak dimatikan. Loh? Tidak ada sinyal? Papa mencabut kartu sim-nya kah?!
Ini bukan lagi buru-buru! Papa pasti sengaja!
__ADS_1
“Sekarang…, apa isinya?” kuberanikan mengusap kembali layarnya dan membuka kuncinya.
Loh? Aplikasi rekaman suara? Ponsel sepertinya ditinggalkan terkunci di aplikasi ini. Hanya satu rekaman. Judulnya ‘Rasyi’? Waktunya… kemarin sore. Rizki memintaku untuk mengecek ini?
“Baiklah,” kutekan bar hasil rekaman itu.
[“Rasyi.”]
Ya, ada apa?
[“Kalau sudah selesai dengar ini, langsung hapus dari HP papa. Mengerti?”]
Heeh?!
[“Sebentar lagi papa ketemu kakekmu.”]
Papa….
[“Orang itu sudah tidak sabar mau ambil warisannya. Dia juga mungkin jemput Rasyi sebentar lagi.”]
Benar, seperti catatan itu katakan….
[“Tidak tahu pakai surat, telpon, atau pesan. Mungkin juga dia pakai event besar supaya Rasyi tertarik. Entah, tabrakan atau kebakaran. Yang pasti dia pasti suruh Rasyi bawa kalung liontin foto.”]
Rizki sungguh memprediksi itu terjadi.
[“Jangan bawa kalung itu.”]
Hah?
[“Papa sudah tanam chip pelacak di balik fotonya. Dia sudah tahu. Mereka mau pakai itu untuk awasi Rasyi. Tinggal kalungnya. Pergi. Pastikan Rasyi tidak sendirian. Jangan ikut campur!”]
Apa maksudnya itu?!
[“Hapus rekamannya. Kasih HP-nya ke paman Hendra. Biar dia yang urus sisanya.”]
Dia masih saja⏤
“Rasyi?”
Hah?!
“Belum tidur?”
[“Papa tegaskan lagi, Rasyi, kalau⏤”]
PIP!
Aku langsung menghentikan putaran ulang rekaman itu, “Kak Fares?! Kak Fares kok belum tidur?!”
“Baru saja kebangun. Rasyi?”
Duh! Gawat! Harus aku segera melarikan diri, “Sama~ Rasyi baru saja kebangun tadi. Ini mau balik,” kutinggalkan barang-barang itu di meja papa. Aku tidak mau dia semakin curiga, “Yuk. Ke atas bareng~”
Pasrah dia aku dorong keluar kamar, “Iya….”
Kututup pintu kamar itu membiarkannya dalam gelap.
__ADS_1